Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Pencarian III


__ADS_3

"Dia sekarang berada ditempat yang sangat jauh dari sini nona."


"Apa dia diluar negeri?" tanya Violet penasaran.


Ting... pintu Lift terbuka.


"Maaf nona aku harus segera istirahat. Masih ada perkerjaan yang harus aku kerjakan nanti." Mark berjalan meninggalkan Violet yang masih berdiri dengan rasa penasarannya didalam lift.


"Kenapa dia tidak mau menjawab? Kenapa harus dirahasiakan. Aku kan hanya bertanya supaya aku bisa mengembalikan ini padanya." batin Violet sambil mengusap cincin permata biru yang pernah diberikan padanya.


_* * *_


Jam 19:00 pm


Violet sudah bersiap untuk pergi dengan Uci.


"Mbak aku tunggu dilobby hotel." Violet kemudian mengirimkan pesan melalui aplikasi chat diponselnya.


"Apa aku kekamar Sekretaris Mark dulu ya?" tanya Violet dalam hatinya.


Violet kemudian mengambil dan membuka kotak perhiasannya masih ada kalung dan gelang dengan permata warna biru didalamnya. Segera Violet memasukkannya kedalam tasnya.


Tok tok tok... Violet mengetuk pintu kamar Mark.


Ceklek.. Mark membuka pintu kamarnya.


"Nona Violet." Mark terkejut melihat Violet didepan pintu kamarnya.


"Maaf sekretaris Mark menganggu. Ada yang ingin aku bicarakan. Apa boleh aku masuk sebentar saja?"


Mark tampak terdiam dan berpikir sejenak.


"Silahkan, tapi hanya sebentar. Karena saya juga harus segera pergi masih ada urusan." Mark memberi syarat.


"Iyaa hanya sebentar." Violet menjawab dengan yakin.


Mark mundur beberapa langkah memberi jalan Violet masuk, kemudian menutup pintunya.


"Apa yang ingin anda bicarakan nona?" tanya Mark saat mereka sudah sama-sama duduk disofa hotel tersebut.


"Sekretaris Mark, dimana Kay sekarang berada?" tanya Violet dengan cepat.

__ADS_1


"Kenapa nona menanyakan dimana Mr. Kay sekarang berada? Bukankah anda sendiri yang mengatakan untuk tidak sudi berurusan ataupun melihatnya?" pertanyaan Mark adalah skak mat untuk Violet.


Ingatan Violet kemudian kembali dimana malam itu dia begitu marah dan mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Mark. Bahkan lebih buruk daripada itu.


Violet menundukkan wajahnya, sesaat kemudian dia angkat lagi.


"Saya bukan mencari urusan dengannya. Tapi masih punya urusan dengannya."


"Oh ya? Urusan apa itu? Setau saya Mr. Kay sudah menyelesaikan semua urusan yang berkaitan dengan anda sebelum pergi. Jika mengenai kontrak anda itu bisa diurus dengan pihak perusahaan saja tanpa Mr. Kay pun sudah sah legalitasnya karena beliau memberikan kuasa kepada orang-orang kepercayaannya untuk menangani semua itu."


"Bukan masalah itu. Saya ingin mengembalikan ini." Violet kemudian mengambil kotak perhiasannya, kemudian perlahan melepas cincin biru dijarinya.


Mark menghela nafas,


"Nona, apakah Mr. Kay pernah berpesan sesuatu saat dia memberikan ini padamu?"


Violet menggeleng, berbohong.


"Nona setau saya Mr. Mark sangat tidak suka jika barang yang dia berikan kepada seseorang itu dikembalikan. Dia mengartikan itu sebagai sebuah hinaan yang sangat besar. Apa dia pernah mengatakannya padamu?"


Violet menganggukkan kepalanya,


"Nah untuk itu sebaiknya anda simpan."


"Sekretaris Mark, aku tidak bisa menyimpannya lagi. Aku ingin mengembalikannya."


"Tapi maaf nona untuk masalah seperti ini saya tidak bisa membantu anda. Karena jika saya membantu anda, itu sama artinya saya membantu anda menghina dia. Dan saya akan terkena imbas yang besar untuk amarahnya. Jadi saya minta maaf tidak bisa membantu."


"Tapi, aku selalu tersiksa dan merasa bersalah setiap melihat barang ini." ucap Violet lirih sambil menahan airmata yang sudah mendesak ingin mengalir dipipinya.


Mark justru tersenyum senang melihat Violet.


"Anda tidak menyadari perasaan anda nona muda. Apakah anda bahkan begitu awam dengan rasa rindu? Kenapa rasa gengsi begitu anda bangun dengan tinggi yang justru membuat dirimu semakin tersiksa membendung rasa rindu." batin Mark.


"Nona, anda tersiksa dengan sebuah barang? Atau anda tersiksa oleh hal lain?"


"Apa maksudmu?"


"Menurutku barang itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi mana bisa menyiksa diri anda hanya dengan melihatnya? Mungkin anda tersiksa karena hal lain nona."


"Tapi kenyataannya setiap aku melihat ini aku teringat Kay. Dan aku ingat dengan semua perlakuan buruknya padaku. Itu membuatku marah. Aku ingin melupakan semua hal yang buruk yang pernah aku alami dengannya."

__ADS_1


Mark kembali tersenyum, disaat butiran bening dari mata Violet mengalir lembut dan dengan buru-buru Violet seka.


"Nona, anda tau kenapa terkadang kita memberikan barang kepada seseorang dengan niat sebagai kenang-kenangan?"


Violet menggelengkan kepalanya.


"Karena ketika kita memberikannya, kita ingin kapanpun seseorang itu mengingat sesuatu yang kita berikan itu maka dia akan teringat kepada kita. Jika itu sebuah barang makanya tidak boleh dikembalikan ataupun ditolak, agar jika melihat barang tersebut dia akan teringat kenangan bersama dengan pemberinya. Jika itu sebuah tempat maka dia berharap kapanpun seseorang itu mengingatnya maka dia akan datang ketempat tersebut untuk mengenang dirinya. Dan jika itu sebuah pesan maka dia ingin setiap dia memerlukan seseorang maka dia akan mengingat dirinya bahwa do'a dan dukungan selalu bersama dengan seseorang tersebut." Mark menjeda ucapannya sejenak dan memperhatikan wajah Violet.


"Jadi nona, sebaiknya anda simpan perhiasan tersebut. Mungkin ada niat ataupun pesan yang tersembunyi dari Mr. Kay untuk anda. Hanya saja anda belum mengetahuinya."


"Sekretaris Mark untuk apa aku mengenang orang yang sudah akan menikah? Dia juga telah memberikan harapan palsu pada kakakku."


"Menikah? Siapa yang akan menikah?"


"Tentu saja Kay. Siapa lagi."


Mark tersenyum,


"Lalu harapan apa yang diberikan Mr. Kay pada kakakmu?"


"Dia mengajak kencan kakaku, membuat kakakku begitu mengaguminya. Lalu dia ternyata sudah memiliki calon istri."


"Apa begitu bisa disebut cemburu nona?"


"Tentu saja."


"Bagaimana rasanya cemburu?"


"Tentu saja menyakitkan, dan marah."


"Apa itu yang sedang anda rasakan saat ini?"


"Tentu saja aku- Apaaaaa...?" teriak Violet kemudian begitu tersadar dengan pertanyaan jebakan Mark.


Mark tersenyum lebar melihat ekspresi Violet yang menjadi salah tingkah karena ulahnya.


"Maksudku bukan aku yang cemburu tapi kakakku."


Mark justru semakin terkikik dengan ucapan Violet.


"Sekretaris Mark kamu benar-benar sama dengan Bosmu. Sama-sama menyebalkan. Aku pergi saja, percuma berbicara dengan kalian, sama saja!" Violet justru marah untuk menutupi rasa malunya yang sudah sampai diubun-ubunnya. Tangannya meraih kotak perhiasan yang masih terbuka dan memilih kabur keluar dari kamar Mark.

__ADS_1


__ADS_2