
"Lama banget sih. Untung belum tumbuh akar ni kakiku." gerutu Uci ketika Violet sudah sampai dihadapannya.
"Huufftt..." Violet menghela nafas malas menanggapi Uci.
"Kenapa sih kok jadi nggak semangat gini? Kalo capek atau malas nggak papa, nggak usah pergi."
"Nggak papa kok. Ayo... Aku mau makan, lapar..!" Violet langsung melangkahkan kakinya keluar.
"Vi jalan kaki aja yuk. Sambil menikmati suasana kota. Jarang-jarang kita bisa jalan-jalan begini."
"Humm... ikut aja."
Mereka berdua menikmati malam dengan kuliner diwarung seafood kaki lima setelah lelah berjalan-jalan dam belanja dimalioboro.
"Mbak Uci, pernah dengar berita soal Kay nggak?" tanya Violet sambil menunggu pesanan mereka.
"Mana aku tau Vi. Aku bukan kelasnya untuk tau."
"Yeee pake kelas segala macam lagi sekolah."
"Tapi waktu kamu lagi promo di Bandung aku dengar seseorang ngobrol kalau Kay itu sakit."
"Sakit apa?"
"Aku gak tau soalnya aku gak tertarik buat nguping pembicaraan mereka. Apa untungnya buatku."
"Apa dia punya sakit jantung?" Violet mencoba menerka penyakit Kay, teringat saat di kantornya Kay pernah sakit sampai bibirnya membiru.
"Mana aku tau, aku bukan ibunya Vi. Lagipula kamu kenapa kepo banget sama dia?"
"Bukan begitu mbak. Cuma kok sejak kasus itu dan dia pers konferens dia tidak pernah terlihat lagi. Dan tadi aku bertemu sekretaris Mark."
"Apa? Mark pacarnya-" Uci tidak melanjutkan ucapannya.
"Pacarnya siapa mbak?"
"Bukan aku sepertinya salah maksud seseorang. Memangnya dia disini sedang apa? Dan kamu bertemu dimana? Bukannya dari tadi sore kamu di dalam kamar hotel terus?"
"Aku menemuinya di kamarnya."
"Apaaaa..? Dikamarnya? Maksudmu kamu masuk kedalam kamarnya?" tanya Uci dengan setengah berteriak karena terkejut.
__ADS_1
Violet menganggukkan kepalanya.
"Duh mau cari perkara apa lagi ni anak masuk ke kamar Mark. Jangan-jangan dia sudah curiga kalau Mark adalah pacar kakaknya." batin Uci.
"Trus kalian ngapain di dalam kamar?"
"Kita ngobrol."
" Ngobrolin apaan?" Uci bertanya dengan dada berdebar was-was menunggu jawaban Violet.
Violet menatap Uci penuh selidik,
"Kenapa mbak Uci jadi begitu panik dan ingin tau? Aku jadi curiga."
"Ehemmm..." Uci berdehem menenangkan dirinya,
"Aku hanya ingin tau apakah kamu dengan orang andalan CEO Neptunecorps itu memiliki hubungan yang disembunyikan."
"Hahahaaaa... Mbak Uci kocak." Violet justru tertawa nyaring.
Pesanan mereka datang dan mereka menyantapnya.
_ * * * _
Sebelum kembali kejakarta Violet mencoba mengetuk pintu kamar Mark. Tapi tidak ada jawaban. Di meja resepsionis,
"Maaf apakah tamu yang menginap di kamar 433 sudah check out?"
Pegawai itu mengecek data pelanggan dari layar komputer dimejanya.
"Tamu kamar 433 atas nama tuam Mark belum check out nona. Tapi beliau sedang tidak ada di hotel."
Violet menganggukkan kepalanya,
"Boleh saya minta kertas dan bolpoin? Saya mau menulis pesan."
"Boleh, Silakan." ucap pegawai itu sambil menyerahkan kertas.
Violet menulis pesan tersebut dan melipat kertasnya.
"Tolong jika tamu kamar 433 datang berikan ini padanya." Violet menyerahkan kertas terlipat tersebut.
__ADS_1
"Baik nona, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak. Terima kasih."
"Baik, terima kasih atas kunjugannya ke hotel kami. Selamat datang kembali." ucap pegawai tersebut dengan sopan.
Violet menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan menghampiri Uci yang sudah berada di depan pintu lobby hotel.
_ * * * _
2 Hari setelah itu
Hari ini Violet tidak memiliki jadwal job apapun. Hanya Lisa yang memiliki jadwal syuting Iklah salah satu produk mie instan.
Violet merasa jenuh di rumah, Violet kemudian memasak dan diam-diam menyusul Lisa kelokasi syuting iklan tersebut untuk memberi surprise.
"Mbak Uci, kak Lisa dimana?" tanya Violet yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Uci.
Uci terkejut dengan kedatangan Violet menjadi gugup.
"Vio, ngapain kamu disini?"
"Sssttt... pelan-pelan, aku mau kasih surprise untuk kak Lisa." Lisa mengangkat tas kecil berisi kotak makanan.
"Tapi Vi, kenapa nggak kabarin dulu?"
"Hahaa mbak Uci kocak, ya kali mau kasih surprise tapi ngomong dulu. Nggak jadi surprise dong. Oh ya dimana kak Lisa?"
"Dia, ada di-" Uci belum menyelesaikan ucapannya Violet langsung nyelonong pergi ke dalam tenda sambil tersenyum senang.
"Duuh...! Kacau..." Uci mencoba menyusul Violet tapi Violet keburu membuka pintu tenda tersebut.
Deg... deg... deg...
Jantung Violet terasa berhenti seketika melihat yang ada dihadapannya.
"Ka Lisa, apa yang kalian lakukan?" ucapan Violet membuat Lisa terkejut.
Kaki Violet terasa lemas, bahkan tidak bisa lagi menopang tubuhnya melihat adegan kakaknya dengan seorang laki-laki yang dia kenal. Seketika tubuhnya terjatuh, terduduk.
"Vi, kamu kenapa disini?" tanya Lisa panik dengan kedatangan Violet yang tiba-tiba.
__ADS_1
Mata Violet tiba-tiba terasa begitu panas, sampai air matanya mengalir tanpa mampu dia tahan. Shock dan kecewa adalah rasa yang menguasai dirinya saat ini.