
"Violet, kamu tenangkan dirimu dulu. Kalau sudah tenang aku akan memberi tau apa yang sebenarnya terjadi dari awal."
Violet menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisannya seketika tumpah.
"Aku serasa menjadi orang paling bodoh."
"Vi, kamu jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang berpikir dan menganggapmu seperti itu. Justru karena kami tau kamu akan lebih sulit menerima semua ini jika kamu tau semuanya dari awal."
"Tau apa lagi kak? Jelaskan padaku."
"Baik, aku akan menjelaskannya tapi berjanjilah untuk tenang. Dan dengarkan dengan baik. Bisa?"
Violet menarik nafas panjang, mempersiapkan dirinya untuk mengentahui entah rahasia apa lagi yang akan dia dengar.
"Baiklah. Aku sudah siap."
Lisa memandang wajah Violet yang sembab, sisa-sisa air matanya masih ada disekitar wajah cantiknya.
"Vi, sebenarnya dari awal Kay tidak tertarik padaku. Dia tertarik padamu."
Seperti ledakan nuklir yang sangat dahysat Violet mendengar kalimat pertama yang diucapkan kakaknya. Seketika matanya terbelalak, kembali matanya mulai panas.
Lisa menyentuh bahu adik tersayangnya. Dia sangat tau adiknya pasti shock dengan penjelasannya.
"Apa?" pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut Violet yang seluruh tubuhnya sudah merasa sangat kaku, diiringi sebutir air matanya mengalir.
"Iya Vi, dia dulu mengajakku bertemu pertama kali bukan karena ingin berkencan denganku. Tapi dia ingin mendekatimu, dia binggung bagaimana caranya jadi dia meminta ijin sekaligus bantuanku untuk mendekatimu."
"Kenapa kakak tidak memberi tahuku?" tanya Violet lemah, dirinya mulai menahan desakan amarah yang sudah mengumpul didadanya.
"Karena selama ini kamu sangat acuh dengan semua laki-laki yang mencoba mendekatimu Vi. Kupikir dia adalah laki-laki yang cocok untukmu. Lagipula sangat jarang seorang laki-laki meminta ijin terlebih dulu pada keluarganya untuk mendekati seorang gadis yang dia sukai, kecuali dia laki-laki yang benar-benar memiliki niat baik."
__ADS_1
"Dan sebab itu kak Lisa memintaku menemaninya diner waktu itu dengan alasan sakit?"
"Waktu itu aku memang kebetulan sedang benar-benar sakit. Aku sudah pernah mencoba menjelaskan padamu jika yang Kay sukai itu kamu, bukan aku. Tapi kamu selalu memotong ucapanku. Lain kali buang kebiasan burukmu itu."
Kemudiam ingatan Violet kembali pada saat Kay menyatakan cintanya dan juga meminta Violet menjadi istrinya saat di mansion Kay.
Violet seketika menangis mengetahui kenyataan bahwa dari awal Kay memang selau mengejarnya. Hanya saja kesalah pahaman dan rasa takutnya yang berlebihan yang membuatnya sekarang diposisi yang menyedihkan penuh dengan penyesalan.
"Jadi selama ini Kay selalu menguntitku karena dia ingin mendekatiku?"
"Ya begitulah."
"Kakak kenapa tega sekali. Kenapa tidak mengatakannya dari awal?" teriak Violet dengan frustasi mengguncang bahu Lisa.
"Maaf Vio, kakak takut kamu akan bersikap acuh padanya. Lagipula diusiamu itu tidak masalah jika menjalin hubungan asmara." Lisa tidak bosan memberikan penjelasan agar adiknya bisa mengerti.
"Dan sekarang lihat. Justru dia pergi dan entah ada dimana. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Violet mengusap air matanya dengan kasar.
"Apa kamu menyesal dia sudah pergi? Apa sekarang kamu sudah menyadari perasaanmu?" tanya Lisa lembut sambil mengusap rambut adiknya.
Violet menatap kakaknya,
"Aku tidak tau kak. Aku merasa sangat bersalah sudah bersikap kasar padanya. Dan dia sekarang pergi karena aku juga yang mengusirnya dari hidupku dengan sangat kasar. Mungkin dia juga tidak akan mau memaafkan aku." air mata Violet kembali mengalir deras seiring hatinya yang seakan-akan terus menerus tersayat karena kenyataan.
"Jika dia benar mencintai kamu maka dia tidak memiliki alasan untuk tidak memaafkan kamu."
"Sekarang apa yang bisa kuperbuat? Dia sudah pergi." tangis Violet pecah tenggelam dalam penyesalannya.
Lisa meraih kepala Violet dan meletakkan dipundaknya. Mengusapnya penuh kasih sayang untuk menenangkan adik satu-satunya yang dia miliki.
_ * * * _
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain yang sangat jauh
"Salam kepada yang mulia kaisar." seorang pangeran yang merupakan sepupu sang kaisar memberi salam.
"Kemari dan duduklah!" kaisar tersebut memberi perintah.
Pangeran tersebut segera melaksanakan perintah sang kaisar dengan hormat.
"Berita apa yang kamu bawa setelah perjalananmu?"
"Yang mulia, semua urusan yang ada disana berjalan dengan sangat baik dan lancar."
Kaisar menganggukkan kepalanya mengerti.
"Maafkan yang mulia, apakah anda tidak ingin kembali kesana?"
"Tidak. Untuk apa? Ahli kesehatan mengatakan disana tidak baik untuk kesehatanku. Aku juga merasa semakin lemah." ucap sang kaisar sambil menyesap teh yang ada ditangannya.
"Yang mulia, apakah anda bisa mengingat dimana cincin permata biru milik mendiang permaisuri?"
"Ah iya, aku justru ingin menanyakannya padamu apakah kamu tau aku meletakkannya dimana?"
Pangeran tersebut menggeleng lemah tanpa menjawab sepatah katapun.
Deg.. deg... deg... Kaisar memegang dada kirinya yang berdebar sangat kencang. Seketika peluh sudah membasahi wajahnya.
Pangeran tersebut dan beberapa dayang panik melihatnya.
"Yang mulia.." Pangeran itu menahan tubuh Kaisar yang hampir terjatuh.
"Cepat ambilkan tandu, dan bawa yang mulia kekamarnya!" perintahnya pada para dayang dan penjaga.
__ADS_1
Dengan sigap mereka melaksanakan perintah tersebut.