
Ling berlari menuju istana utama menemui Kaisar. Nafasnya tersegal-segal.
"Laporkan aku ingin menemui yang mulia Kaisar!" pinta Ling pada salah seorang penjaga depan pintu.
Penjaga itu kemudian kembali keluar setelah melapor pada Kaisar atas kedatangan Ling.
"Masuklah!" perintahnya.
Ling berjalan perlahan. Jantungnya bergetak kencang. Diujung dari tempatnya berdiri tampak Kaisar sedang duduk disinggasananya. Dan dihadapannya berdiri anggun seorang wanita yang hanya bisa dilihat Ling dari bagian belakangnya saja.
"Salam yang mulia Kaisar." Ling membungkukkan badannya memberi hormat pada Kaisar.
"Katakan! Ada apa?"
Ling tidak lagi berani menatap wajah Kaisar. Hanya menundukkan wajahnya itu adalah aturan mutlak baginya sebagai pelayan jika dihadapan Kaisar.
"Nona Violet yang mulia." Ling memberi petunjuk utama alasannya datang.
"Putri Xie. Pergilah kekamarmu dan istirahatlah. Nanti malam kita bertemu kembali. Persiapkan dirimu dengan baik."
Tanpa menjawan Putri tersebut membungkukkan badannya kumudian memutar badannya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Katakan kenapa dengan dirinya?" tanya Kaisar sambil berdiri setelah Putri Xie pergi.
"Maafkan hamba yang mulia Kaisar. Nona, Nona Violet tidak sadarkan diri." jawab Ling terbata-bata.
"Apa? Bagaimana bisa terjadi?"
"Nona Violet sudah dua hari tidak berselera makan dan tidak keluar dari dalam kamarnya. Kemudian saya mengajak nona berjalan-jalan supaya tidak bosan. Tapi setelah kembali dan membersihkan diri tiba-tiba tubuhnya terjatuh dan tidak sadarkan diri."
"Panggilkan dokter Gia!" Kaisar memberi perintah kepada kasim yang berada disebelahnya, kemudian disambut dengan hormat oleh kasim atas titahnya.
Kaisar bergegas pergi untuk melihat Violet diikuti Ling dibelakangnya.
_ * * * _
Kaisar dengan langkah lebar bergegas ke ranjang besar yang diatasnya terdapat Violet berbaring tidak sadarkan diri.
"Violet, bangun, sadarlah!" Kaisar menepuk-nepuk lembut pipi Violet.
"Ambilkan air dan kain. Cepat!" titahnya.
Selang beberapa saat seorang pelayan membawa air dan kain yang ia minta.
__ADS_1
Dengan cepat Kaisar mengompres kening Violet yang sedang pingsan.
Virgia datang segera menghampiri Violet kemudian memeriksa tubuhnya.
"Apa ini?" tanya Gia sambil mengangkat kain yang digunakan untuk mengompres kening Violet.
"Itu, supaya dia cepat sadar." jawab Kaisar dengan cepat dan gugup.
"Bagaimana keadaannya?" lanjutnya kemudian.
"Apa tadi dia demam?" tanya Gua sambil menatap Ling dan kaisar bergantian.
"Tidak." selesai dengan jawabannya tiba-tiba kepala Kaisar terasa sangat nyeri. Tangannya menekan-nekan pelipisnya. Beberapa bayangan memori berkelebat cepat dalam ingatannya. (Bayangan dirinya dan sekretarisnya Sindy saat dulu dirinya menolong Violet saat pingsan). Kejadian yang hampir serupa dengan yang dia alami sekarang. Keringat mulai mengalir diwajahnya.
"Yang mulia, kenapa?" berbalik sekarang Gia yang panik karena melihat keadaan Kaisar yang tiba-tiba kesakitan.
Kaisar mengatur nafasnya beberapa saat, kemudian dengan cepat dirinya merasa sudah lebih baik.
"Yang mulia, sakit? Biar saya periksa."
"Tidak. Tadi hanya tiba-tiba kepalaku sangat sakit. Sekarang sudah tidak." jawabnya kemudian matanya kembali menatap Violet yang masih belum sadar.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Setelah sadar nanti suruh dia makan dengan teratur."
"Tugas saya sudah selesai disini. Yang mulia saya ijin kembali bekerja."
"Hemmm" Kaisar menganggukkan kepalanya.
"Kalian juga keluarlah. Jangan ada yang masuk kecuali aku yang menyuruhnya."
Semua yang berada didalam ruangan itu tertib keluar semua, hanya tinggal Kaisar dan kekasihnya. Violet!.
Kaisar terus memandang wajah cantik Violet.
"Eeemmmhh..." rintih Violet merasakan tenggorokannya kering begitu ia sadar.
"Kamu sudah sadar?"
"Ling, aku haus." mata Violet yang masih belum jelas mengira Kaisar adalah Ling.
Kaisar langsung mengambil gelas yang ada dinakas sebelah ranjang.
__ADS_1
"Minumlah." Kaisar membantu Violet minum.
"Kau? Maaf ku kira Ling-ling." Violet kemudian memaksakan diri untuk bangun meskipun kepalanya masih terasa sangat berat dan sakit.
"Tidurlah. Jangan memaksakan dirimu untuk bangun." cegah Kaisar sambil menyentuh tangan Violet.
Tapi Violet berusaha menepisnya.
"Kenapa?" tanya Kaisar sambil menatap Violet dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Aku ingin istirahat sendiri. Tolong tinggalkan aku." jawab Violet menundukkan kepalanya, enggan menatap Kaisar.
"Kamu lupa ini kamarku?"
Violet menatap lemah Kaisar.
Kemudian berusaha bangun dari ranjang tapi terhuyung dan kembali jatuh.
"Ssshhh... Awww..." Violet memijat pelipisnya perlahan.
"Istirahatlah. Aku akan menyuapimu." Kaisar membetulkan letak kaki Violet dan mengambil bubur yang telah disiapkan oleh pelayan istana tadi.
"Makanlah." ucap Kaisar sambil mengarahkan sendok kemulut Violet.
Tapi Violet diam, tidak tertarik membuka mulutnya.
"Kata Virgia kamu harus cukup makan untuk mengisi energimu. Jadi buka mulutmu." pinta Kaisar kembali.
Violet tetap tidak bergeming. Wajahnya menunduk.
"Ayo, makanlah sedikit hmm.." Kaisar menarik dagu Violet.
Violet menatap nanar Kaisar, sekejap kemudian ia memalingkan wajahnya.
"Aku ingin tidur. Tubuhku lemah." ucapnya sambil menidurkan kembali tubuhnya membakangi Kaisar.
"Tidurlah. Aku akan menunggumu disini."
Violet menulikan telinganya dari ucapan Kaisar. Airmatanya mengalir, hatinya sakit,
"Aku baru saja merasakan bahagia dengan rencana pernikahan kita. Tapi dalam sekejap aku terhempas dan sakit. Biarkan aku begini, dengan diam aku mungkin akan lebih tenang." Violet.
__ADS_1