
Violet membuka matanya. Tubuhnya terasa sulit untuk bergerak. Violet membalikkan tubuhnya dan mendapati Kaisar tengah memeluknya posesif .
"Aaaaaaaaaaaaaaa..." teriakan Violet menggema, dirinya terkejut melihat kaisar tidur diatas ranjangnya.
"Kamu selalu saja berteriak!" Kaisar ikut melonjak terbangun mendengar teriakan keras Violet.
"Apa yang kau lakukan!" tanya Violet sambil menarik selimutnya. Menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka.
"Memelukmu sampai tertidur."
"Kau! Kaisar mesum. Kamu mengambil keuntungan dariku!"
"Keuntungan apa? Harusnya kamu berterima kasih padaku. Bukan justru teriak dan memakiku." jelas Kaisar dengan senyum semangat membuat Violet malu.
"A-aku berterima kasih untuk apa? Untuk kelancanganmu membuka- aaaaaagggrrrrrhhh.... Pergi..!" Violet tidak melanjutkan ucapannya karena ia tau itu hanya akan semakin membuatnya semakin malu.
"Kamu ingin aku pergi kemana. Kamu lupa ini kamarku? Dan berani sekali kamu mengusirku!"
Violet menatap sebentar ruangan itu, tersadar dirinyalah yang bersalah. Tapi bukan wanita PMS namanya jika gengsi dan ego tidak lebih tinggi dari kenyataan.
Kaisar tersenyum jahil melihat air muka Violet yang mendadak berubah.
"A-apa yang terjadi?" tanya Violet kemudian dengan suara lebih pelan.
Kaisar menarik nafas panjang, lalu perlahan menceritakan pada Violet,
"Tubuhmu sangat panas. Dan kamu memintaku membuka pakaianmu, setelah itu kamu membuka pakaianku, dan kemudian kita berpelukan, aku menciummu, dan-"
"CUKUP!! HENTIKAN!!! Aku tidak mau mendengarnya lagi." teriak Violet sambil menutup kedua telinganya.
"Aku belum menyelesaikan bicaraku. Kemudian kita-"
"CUKUP!!! Atau aku akan memukulmu sampai mati!" teriakan Violet lagi-lagi meotong ucapan Kaisar.
__ADS_1
Kaisar yang mendapat ancaman bukannya marah justru tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Violet untuk kembali membuat ulah jahil padanya.
"Mulai nanti malam. Kita tidur diranjang yang sama. Ranjangmu sangat sempit dan tubuhku sakit."
"A-apa? Tidur bersama?" Violet kembali berteriak mendengar keputusan Kaisar.
"Benar. Kita sudah tidur dalam 1 ranjang dengan pakaian terbuka. Secara hukum disini kita sudah dikatakan setengah menikah. Jadi tinggal meresmikannya saja. Jika kamu tidak sabar untuk menjadi permaisuriku, aku akan melaksanakannya dengan segera." ucap Kaisar dengan santai sambil menurunkan kakinya dari ranjang.
"Menikah? Tidak, tidak mau!"
"Kamu tidak punya hak menolak. Kamu hanya memiliki kewajiban untuk menyetujui dan menerimanya dengan senang hati." Kaisar meninggalkan kamar untuk membersihkan tubuhnya dengan senyum kemenangan berhasil mengelabuhi Violet untuk menjadi miliknya seutuhnya.
Mata Violet berkaca-kaca.
"Andai saja kamu adalah Kay yang dulu. Yang menginginkanku, yang akan menikahiku dibumi, dihadiri oleh kedua orang tuaku, kakakku, dan orang-orang yang ku cintai pasti aku akan sangat bahagia dan beruntung. Tapi kau adalah Kay yang berbeda dengan Kay yang dulu." batin Violet sendu.
_ * * * _
Sore hari Violet memutuskan untuk pergi berjalan-jalan seorang diri menyusuri istana besar milik Kaisar Ri Kay Ray.
"Aku tidak mungkin menolak lamaranmu lagi jika saja kita tidak berada diposisi seperti ini. Bagaimana bisa aku menikah denganmu ditempat ini? Menikah tanpa orang tua dan keluarga. Aku tidak sanggup melakukannya." batin Violet meronta.
"Vi, Violet." seseorang memanggil namanya, Violet menoleh mencari sumber suara.
"Kak Gia." ucap Violet ketika melihat seseorang melangkah cepat kepadanya.
"Kak Gia kemana saja baru menemuiku." tanya Violet setelah mereka saling berpelukan.
"Maafkan aku Vi. Aku sedang sibuk dengan teamku mencari penawar untuk Kaisar."
"Bukankah kata kak Gia akulah yang bisa membantunya?"
__ADS_1
"Benar Vi, tapi kita juga harus mempersiapkan segala sesuatu untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi."
"Aku ingin kembali pulang kak."
Gia merangkul pundak Violet.
"Sebentar lagi Vi. Tinggal 1 lagkah lagi kamu akan selesai menolongnya."
"Tapi aku tidak mau menikah dengannya disini. Tanpa orang tua dan keluargaku kak."
"Menikah?"
Violet menganggukkan kepalanya. Wajahnya kembali murung mengingat Kaisar.
"Ayo ikut aku. Kita bicara disana."
"Kemana?"
"Ayolah ikut saja." Gia menarik tangan Violet, dan Violet pasrah saja mengikuti langkah Gia.
_ * * * _
Sementara itu di aula Istana.
"Yang mulia Kaisar, kami sudah menunggu sekian waktu undangan dari anda tapi tidak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan untuk datang dan membicarakan ini dengan anda." ucap ketua tetua wilayah Xierus.
"Aku sedang mengurus banyak hal. Silahkan!" Kaisar mempersilahkan para tetua Xierus menyampaikan maksud dan tujuan mereka.
"Yang mulia kaisar. Negeri planet Neptunus berkembang denyan sangat baik dalam kepemimpiman anda. Dan kami berterima kasih atas kebijaksanaan serta keadilan anda terhadap kami. Tapi semua itu belum terasa sempurna karena belum ada Permaisuri sebagai ibu bagi semua rakyat diplanet ini. Belum ada juga calon penerus untuk tahta Kekaisaran Neptunus selanjutnya. Tentu semua harus segera dipersiapkan karena calon Kaisar untuk masa mendatang harus belajar dan ditempa untuk kesiapannya memimpin Neptunus kelak. Untuk itu kami memiliki saran beberapa kandidat untuk yang mulia Kaisar agar memilih mereka menjadi Permaisuri."
Kaisar dengan kharismanya tetap tenang meskipun dadanya gemuruh ingin segera menolek siapapun kandidat yang mereka ajukan.
"Silahkan kalian rundingkan untuk memilih 1 calon. Jika aku menyukainya aku akan menerimanya. Jika aku ragu akan mengujinya. Dan jika aku tidak suka aku berharap para tetua Xierus menerima keputusanku dengan senang hati."
__ADS_1
"Baik, laksanakan titah yang mulia."
Kemudian mereka merundingkan bersama kepada siapakah pilihan mereka akan dijatuhkan untuk gelar Permaisuri.