
Satu minggu kemudian.
Hari ini Lisa menjenguk Violet di appartemen Chandra.
Violet sudah tampak lebih sehat dan ceria dari hari-hari sebelumnya.
Mereka bertiga memainkan kartu domino, yang kalah wajahnya dicoret dengan bedak.
Sederhana tapi mengasyikkan dan menjadi kesan yang luar biasa untuk mereka.
Toook toook tooook...
Suara ketukan pintu appartemen Chandra yang berulang-ulang membuyarkan keasyikan mereka.
"Tika buka pintunya! Ada tamu." teriak Chandra pada ARTnya yang sedang memasak di dapur.
Tika berlari membuka pintu, tapi baru selesai membuka kuncinya,
Braaakkk... Suara pintu yang didorong dengan keras membentur tembok.
Dua orang lelaki masuk tanpa dipersilahkan oleh pemiliknya.
Seketika Chandra, Violet dan Lisa yang terkejut menoleh kearah pintu.
Tampak Kay wajahnya memerah melihat Violet duduk berdekatan dengan Chandra.
Mereka bertiga berdiri, Violet yang masih memiliki rasa trauma menyembunyikan dirinya di belakang Chandra sambil memegangi lengan tangannya.
"Kalian masuk area pribadi orang lain tanpa ijin. Aku bisa menuntut kalian." ucap Chandra, karena sudah mengenal siapa yang datang.
"Violet, Kemari!" perintah Kay dengan suara lantang.
Bukannya mendekat tapi Violet justru memeluk lengan Chandra lebih erat.
"Ada perlu apa lagi kalian dengan kami?" tanya Lisa dengan berani.
Kay tidak mengalihkan pandangannya dari Violet dan Chandra. Sedangkan Mark tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.
"Violet lepaskan tanganmu. Atau aku yang akan nekat dan memaksa melepaskannya!" Kay tidak lagi bisa mengontrol emosionalnya.
Violet tidak bergeming, dirinya tetap menempel dengan Chandra. Melihat itu Kay berjalan mendekati mereka dengan wajah penuh amarahnya.
Begitu sampai Kay langsung meraih lengan Violet dan menariknya paksa sampai hampir saja membuatnya terjatuh.
"Lepaskan!" Violet meringgis kesakitan karena Kay mencengkeram tangannya terlalu kuat.
"Jangan kasar dengannya! Kamu pikir kamu bisa berbuat semaumu dengan seorang gadis?"
"Bukan urusanmu!"
"Jelas ini menjadi urusanku karena dia berada di dalam appartemenku. Memang kamu siapanya sampai merasa begitu memiliki kuasa atas dirinya?"
"Ikut denganku!" Kay menarik paksa Violet.
"Hentikan!" teriak Lisa dengan nafas memburu. Kemudian menghampiri Kay yang masih mengenggam erat tangan Violet.
__ADS_1
"Lepaskan!!"
Kay mengabaikan perintah Lisa. Justru tersenyum sinis padanya.
"Lepaskan tangan Violet! Aku yang memiliki.kuasa atas dirinya karena aku adalah kakaknya. Lepaskan atau aku tidak akan pernah memberikan kesempatan sekalipun untuk berbicara dengan baik-baik." sarkasnya.
Kay melepaskan tangan Violet dari genggamannya.
"Bagaimana kau bisa sampai disini?" tanya Violet memandang sayu wajah Kay.
"Kamu tidak akan pernah bisa berlari dariku. Ingat itu hemm?" Kay berubah berbicara lembut dengan Violet sambil mengusap bekas bedak yang ada dipipinya.
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Lisa memandang Kay dan Mark bergantian.
"Tentu saja untuk menjemputnya." Kay tetap mengarahkn pandangannya pada Violet.
"Untuk apa lagi kamu mencari adikku? Apa kurang puas kamu menyakitinya? Sampai dia hampir kehilangan nyawanya hah?"
"Justru karena itu aku mencarinya. Bukankah aku harus membalas perbuatan baiknya padaku? Aku sudah berjanji padanya jika aku akan menikahinya."
"Aku tidak mau!"
"Cih! Sekarang kamu mendengarnya sendiri bukan? Jadi pergilah! Jangan menganggu ketenangan wilayah pribadiku." Chandra kemudian beranjak mendekat pada Violet dan Kay.
"Violet apa yang kamu katakan hemm? Kamu boleh saja marah padaku, tapi kamu tidak bisa merubah kesepakatan kita begitu saja!" Kay kembali meremas tangan Violet.
"Kenapa tidak? Jika kamu bisa, kenapa aku tidak bisa? Aku bukan peliharaanmu yang harus nurut pada semua kemauanmu. Camkan itu!" Violet menatap nanar wajah Kay.
"Tapi aku harus melakukannya,-"
"Pergi! Kataku Pergi! Cepat pergi! hixz..." Teriak Violet dengan histeris mengusir Kay.
Violet menyentakkan tangannya untuk melepaskan genggaman Kay. Setelah berhasil Violet justru langsung memeluk Chandra yang berada didekatnya.
"Beraninya kau peluk dia!" Kay menjadi kembali tersulut emosi melihat Violet memeluk erat pria lain.
"CUKUP!!!" Lisa tidak mau kalah berteriak.
"Kamu sudah mendengar sendiri keinginan Violet. Maka lebih baik pergilah." Lisa menunjuk pintu.
"Sebaiknya kita pergi. Tunggu sampai dia sudah merasa lebih baik baru bicara lagi. Percuma berbicara dengan situasi seperti ini. Ingat kita kesini bukan untuk mencari ribut." Mark menenangkan Kay dan mengajaknya pergi.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi lepaskan pelukan kalian! Mataku sakit melihatnya!" pinta Kay.
"Kemarilah." Lisa menarik tangan Violet dan mengalihkan pelukan Violet dari Chandra kepada dirinya.
"Sudah kamu lihat sekarang dia memelukku?" tanya Lisa tanpa menoleh pada Kay.
Kay akhirnya keluar dari appartemen Chandra diikuti Mark dibelakangnya.
"Mereka sudah pergi Vi. Tenanglah, jangan menangis lagi."
Lisa mengusap sisa air mata diwajah Violet.
"Kak dingin.." ucap Violet dengan bibir bergetar dan badan menggigil.
__ADS_1
"Ya ampun Violet, apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba tubuhmu sedingin ini?" tanya Lisa dengan panik.
Chandra mengecek suhu tubuh Violet dengan punggung tangannya.
"Violet, kenapa bisa begini Lisa?" Chanda ikutan panik.
"Aku tidak tau! Cepat kita bawa ke rumah sakit."
Dengan sigap Chandra mengambil alih tubuh Violet untuk menggendongnya.
"Tika ambilkan selimut dikamar. Cepat!" teriak Chandra.
"Cepat kamu siapkan mobil untuk membawanya!" Chandra memerintah Lisa.
Tika datang membawa selimut tebal kemudian Chandra menutup tubuh Violet dengan selimut itu.
"Dingin sekali." suara Violet semakin lemah.
"Sabar Violet. Bertahanlah. Kita ke rumah sakit sekarang ya." Chandra kemudian berdiri dan menggendong Violet keparkiran dimana Lisa sudah siap diatas mobilnya.
_ * * * _
Rumah Sakit.
Mereka telah sampai satu jam yang lalu. Violet sudah langsung mendapatkan penaganan medis.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter?" tanya Lisa buru-buru ketika dokter keluar dari ruang IGD.
"Ikut kami nona." jawab suster yang berada dibelakang dokter.
Lisa telah duduk di kursi berhadapan dengan dokter yang memeriksa Violet.
Suster menyerahkan sebuah Map dan dokter membacanya sejenak,
"Anda adalah kakak dari pasien?"
"Benar dokter, saya kakaknya."
"Dimana orang tua kalian?"
"Orang tua kami di Belanda. Apa yang terjadi dengan adik saya?" Lisa was-was dengan segala kemungkinan yang terjadi pada adiknya. Terlebih dia tau betul adiknya baru saja datang dari tempat yang jauh dan asing.
"Nona, saya belum bisa memastikan penyakit adik anda. Saya baru menemukan kasus seperti ini. Ini perlu penelitian dan perawatan lebih lanjut."
"Dokter lakukan yang terbaik untuk adik saya."
"Tolong berikan beberapa informasi penting yang terjadi sebelum adik nona sakit seperti ini. Mungkin faktor makanan, atau yang lainnya. Kita cari dulu kemungkinan-kemungkinan penyebabnya yang ada."
"Tadi hanya dia sempat mengalami emosional dan sebelumnya dia sakit karena kelelahan jadi kondisinya sempat drop."
Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah sementara biarkan pasien dirawat dulu. Kami akan memberikan ruangan yang berada disebelah timur supaya jika pagi hari ia mendapatkan hangat dari sinae matahari. Jangan nyalakan AC, dan tetap pakai selimut. Ada yang harus selalu menjaganya."
"Baik dokter. Terima kasih."
__ADS_1
Lisa keluar dari ruangan dokter itu dengan wajah lesu.