
"Violet!"
Uci masuk kedalam tenda menyusul Violet dan mendapati Violet sudah hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Mbak Uci bagaimana dia bisa disini tanpa kamu memberitahuku?" tanya Lisa hendak menyalahkan Uci.
"Kenapa? Ini bukan salahnya. Ini memang kemauanku sendiri datang kesini. Awalnya aku mau membawakan makan siang untukmu dan mau menghabiskan sisa waktumu hari ini untuk bersenang-senang berdua." ucap Violet membela Uci.
Lisa diam mendengarkan penjelasan Violet, sedangkan laki-laki itu masih duduk dengan santai di tempatnya.
Violet menatap mereka secara bergantian,
"Aku kesini untuk memberimu surprise, nggak taunya sampai disini akulah yang mendapat surprise."
"Vio, maaf yaa aku yang salah. Harusnya aku-"
"Kalian tidak bersalah kepadaku. Kalian sudah dewasa. Aku harusnya tidak begitu memikirkan hal ini. Maaf aku sudah menganggu kalian." Violet memotong ucapan Lisa.
"Ini aku masak tadi buatmu, 2 porsi. Tadinya untuk kita makan berdua, tapi sepertinya yang satu bagian sebaiknya untuknya. Aku pergi dulu." Violet menyerahkan tas kecil berisi kotak makanan itu ketangan Lisa, kemudian keluar.
"Aku sudah sejak kemarin-kemarin mengingatkan akan kejadian ini. Tapi kamu mengabaikan nasihatku." Uci menekan Lisa kemudian berlalu meninggalkan Lisa dan menyusul Violet.
"Huuuffhh..." Lisa menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya disofa.
"Mungkin sudah saatnya kita memberi tahu dia. Daripada kesalah pahaman diantara kalian berlanjut. Dia pasti sangat shock melihat kita." ucap Mark sambil mendekatkan duduknya pada Lisa.
"Tapi bagaimana dengan dirinya dan Kay?"
"Aku belum sempat cerita padamu kalau 2 hari lalu kami bertemu di J,ogja. Sangat kebetulan kami bertemu dan dia menanyakan keberadaan Mr. Kay." Mark merentangkan tangan kanannya merangkul pundak Lisa.
"Oh ya?"
__ADS_1
Mark menganggukkan kepalanya,
"Dia beralasan ingin mengembalikan perhiasan permata yang pernah diberikan Mr. Kay padanya. Padahal terlihat jelas ada perasaan yang entah belum dia sadari atau sengaja dia pendam."
"Benarkah?" rona wajah Lisa seketika berubah berbinar mendengar penjelasan kekasihnya.
"Benar sayang. Untuk apa aku berbohong. Jadi misalkan dia membahas atau perlu penjelasan tentang hubungan kita kamu jelaskan saja. Karena kurasa sampai saat ini dia menahan dirinya karena masih berpikir bahwa kamu menyukai Mr. Kay."
"Dasar gadis bodoh adikku itu." Lisa tersenyum mengetahui kenyataan bahwa selama ini Violet benar2 tenggelam dengan kesalah pahaman terhadap dirinya dengan Kay.
"Lalu bagaimana dengan Kay sendiri?"
Mark menarik tangannya dan menyatukan kedua telapak tangannya didepan hidungnya,
"Dia besar kemungkinannya tidak bisa kembali kesini Lisa."
"Apa separah itu?"
"Dia tidak akan cukup memiliki energi untuk berada disini. Bahkan untuk bertahan hidup lebih lamapun dia harus terus menerus mendapatkan suntikan."
"Benar. Tapi jika kelainan genetiknya itu bisa dinetralisir. Jika dia terus menerus disini maka dia akan membeku."
"Aneh. Disini bukankah sangat panas. Kenapa justru membeku?"
"Karena panas disini mengandung banyak partikel berbahaya. Tempat ini sudah terlalu banyak tercemar Lisa."
"Lalu untuk apa aku jelaskan padanya? Itu nanti hanya akan membuatnya semakin bersedih jika tidak bisa menemuinya."
"Dia bisa menolong Mr. Kay Lisa."
"Oh ya? Bagaimana caranya? Apa harus dengan ciuman seperti cerita dongeng putri salju tapi dengan versi pangeran salju?"
__ADS_1
"Hahaha.. Kamu lucu sekali sayang." Mark mencubit hidung Lisa dengan gemas.
"Katakan bagaimana dia bisa menolong Kay?"
"Maaf sayang, itu tidak bisa kuberi tahu. Yang pasti dia harus melakukannya dengan suka rela. Bukan dengan perintah apalagi paksaan karena jika dipaksa hasilnya percuma."
Lisa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, tapi bagaimana jika kita membuka jalan untuk dia menolongnya tanpa kita perintah atau paksa?"
"Hemm..." Mark menganggukkan kepalanya.
"Baiklah sekarang ayo kita pikirkan rencananya." Lisa bersemangat.
Mark tersenyum melihat semangat kekasihnya,
"Aku benar-benar beruntung mendapatkan cintamu." ucap Mark penuh syukur.
"Eekhh..." Lisa menoleh kepada Mark dengan pipinya yang merona tersanjung.
"Dan kamu semakin membuatku tergila-gila dengan debaran jantungmu yang seperti itu, membuat wajahmu memerah, dan semakin menggemaskan."
"Ka-kamu gombal." Lisa gugup mendapat sanjungan bertubi-tubi dari Mark.
"Aku tidak sedang mengobalimu. Tapi aku sedang mengatakan kejujuran pada kekasihku. Dan harus kamu tau sayang, jika ini-" Mark memberi jeda ucapannya dan menempelkan jari telunjuknya dibibir Lisa.
"Ini adalah canduku. Aku selalu merindukan ini ketika jauh, dan aku selalu ingin menempelkannya ketika dekat. Dan ini sangat segar juga menyenangkan." kemudian Mark menutup kalimatnya dengan kecupan kecil.
"Sayang, sudah cukup." Lisa menahan bibir mark dengan jari telunjuknya.
"Belum. Aku masih merasa kurang. Berikan padaku untuk bekalku kembali." pinta Mark yang langsung menyambar bibir mungil milik Lisa.
__ADS_1
Mereka menikmati getaran demi getaran yang mengalir dari detak jantung yang terpacu dengan kencang seiring dengan ciuman yang semakin lembut dan dalam.
Sejenak mereka melepaskan pautan bibir mereka untuk mengambil nafas. Kemudian melanjutkannya, Kay menghisap lembut lidah Lisa dan Lisa mengimbanginya dengan remasan lembut dirambut lebat milik Mark.