
"Jangan pergi." cegah Violet tanpa mau melepaskan tangannya dari Kaisar.
Kaisar diam, tidak bergeming.
"Aku mendengar semuanya. Aku juga ingin bersamamu setidaknya malam ini saja."
"Bukankah dulu,-"
"Aku memperbaharui permintaanku yang dulu dengan permintaanku yang sekarang. Sekarang aku memintamu untuk bersamaku disini."
"Tapi,-" Kaisar ragu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Kamu takut dia mengetahui? Baiklah jika begitu pergilah!" Violet melepaskan tangan Kay.
Kay membalikkan badannya dan mendekat pada Violet. Menatapnya dengan sangat intens.
"Apakah kamu juga memiliki rasa rindu padaku?" tanya Kaisar.
"Tidak!" sungut Violet.
"Maaf, aku terlalu berharap." Kaisar membuang matanya kearah lain karena tak ingin Violet mengatahui seberapa dalam rasa kecewa didalam.hatinya.
"Bodoh!"
Kaisar kembali menatap Violet namun berubah menjadi sendu.
"Aku memang bodoh. Sejak bertemu denganmu, sejak mencintaimu, dan sejak kamu selalu berlalu lalang didalam pikiranku."
"Bukan itu maksudku bodoh! Mestinya kau tidak perlu bertanya apakah aku punya rasa rindu padamu atau tidak. Kau pikir untuk apa aku tanpa sadar tiba-tiba masuk kedalam kamarmu, kemudian memintamu tetap tinggal malam ini?" jelas Violet dengan wajah kesal.
"Jadi, kamu benar merindukanku?" mata Kaisar berubah berbinar dan senyumnya mulai menghiasi wajah tampannya.
Violet tersenyum senang melihat ekspresi kaisar yang seperti ini, sangat lama tidak pernah ia lihat.
"Aku sangat senang." ucap Kaisar penuh kejujuran.
"Aku tau. Wajahmu memperlihatkan semuanya."
"Hahahaaa..." mereka tertawa berdua.
"Apa sekarang kamu sudah sehat?"
"Emm... Sudah. Obatnya sudah disini." jawab Violet malu-malu.
"Oh ya? Apakah Virgia yang memberikan obatnya?"
"Bukan. Kamu adalah obatnya." jawab Violet mengeluarkan gombalannya.
"Sekarang kamu pandai merayu heemmm?" Kaisar mengusap pucuk kepala Violet dengan gemas.
"Oh ya bagaimana kabar Putri Xie?" tanya Violet tiba-tiba yang membuat seketika wajah Kaisar berubah, dan membuat mereka kembali canggung.
"Emm. Kurasa dia baik."
" Oh... Aku tadi tidak melihatnya saat pesta kakakku di aula Istana."
"Dia akan datang besok."
__ADS_1
"Oh... Besok pagi aku harus kembali bersama kakakku sebelum dia datang."
"Tidak perlu. Tetaplah tinggal sampai kamu benar-benar pulih."
"Hahaa tidak masalah. Aku sudah sehat. Terima kasih sudah mau menjadi obat untukku malam ini." ucap Violet sembari melirik Kaisar.
"Malam ini seluruh waktuku untukmu."
"Aku senang sekali. Tapi,-"
"Tapi apa Vi?"
"Tapi akan menyenangkan jika kita berada di saung tempat favorit kita."
"Tapi ini sudah larut malam. Udara diluar sangat dingin. Apa belum cukup aku disini menemanimu sampai pagi?"
"Belum."
"Lalu kamu ingin apa? Selain keluar dari sini."
"Aku ingin dilukis olehmu. Bukankah kau pandai melukis? Aku akan membawa lukisan itu pulang. Bagaimana?"
"Yakin mau dilukis diwaktu selarut ini?" tanya Kaisar sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Iya. Dan harus selesai besok pagi."
"Baiklah ayo! Aku akan mempersiapkan alat-alatnya dan kamu silahkan ambil posisi terbaik dan paling nyaman untukmu."
Malam ini berlalu sangat cepat bagi Kaisar dan Violet. Bahkan ketika Violet tidak mampu menahan rasa kantuknya, Kaisar tetap melanjutkan melukis. Melukis Violet yang sedang tertidur.
Menjelang pagi Kaisar telah menyelesaikan lukisannya. Kemudian Kaisar mengendong Violet dan membaringkannya diranjang agar bisa tidur dengan nyaman. Kaisar menggulung hasil lukisannya dan memasukkannya kedalam tabung kaca yang pajang. Kemudian diletakkan dinakas sebelah ranjang. Tidak lupa Kaisar menuliskan note disebelah tabung lukisan tersebut.
"Ling, jam berapa sekarang?"
"Nona, sekarang sudah sangat siang. Lihatlah bukit Cahaya sudah membuka gerbang cahayanya dan sekarang sudah 90° ketinggiannya."
"Oh ya ampuun... apakah aku kesiangan?"
"Bisa dikatakan begitu."
"Apakah pesta kakakku sudah dimulai?"
"Sudah sejak tadi nona. Putri Xie juga sudah datang." ucap Ling.
"Oh dia sudah datang?" bisik Violet dan diangguki kepala Ling.
"Pantas saja dia langsung pergi. Calon istrinya sudah datang rupanya." batin Violet.
"Nona, kau baik-baik saja?"
Violet menganggukkan kepalanya.
"Tapi kenapa wajah nona seperti itu?"
"Tidak apa-apa aku hanya lelah dan masih ngantuk." jawab Violet beralasan.
"Nona apa ini? Dan ada pesannya untukmu." Ling mengambil tabung lukisan Kaisar dan kertas kecil berisi pesan untuk Violet.
__ADS_1
Violet menerima tabung kaca dari tangan Ling dan membuka tutupnya, tampak lukisan Violet yang tengah tertidur namun tetap terlihat cantik.
Seketika senyum tersungging di bibir Violet, dirinya merasa puas dan senang dengan hasil lukisan Kaisar.
"Kembali masukkan kedalam dan letakkan ditempat yang aman." pinta Violet sembari menyerahkan lukisan dirinya pada Ling. Sementara Ling merapikan lukisannya, Violet membuka kertas kecil itu dan membacanya.
"Selamat pagi gadis impian. Maaf aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Tidurmu sangat lelap aku tidak ingin menganggu mimpi indahmu. Aku telah mengabulkan keinginanmu, melukismu dan menyelesaikannya sebelum pagi hari. Apa kamu menyukainya? Jika tidak suka buang saja! Aku akan melukismu lagi jika kau ijinkan.
Gadis impian, tetaplah istirahat disini. Tidak perlu mengikuti pesta Mark dan Lisa. Aku akan menemuimu sore hari nanti. Jika kau inginkan sesuatu mintalah pada Ling-Ling. Katakan padanya bahwa perintahku adalah, dia harus memenuhi semua keinginanmu."
Selesai membaca pesan tersebut Violet tersipu malu, pipinya memerah yang tidak luput dari pengamatan Ling.
"Nona, kau sedang bahagia rupanya. Ceritakan padaku apa isinya?"
"Kepo ah! Ayo mandi!" ucap Violet kemudian berdiri dan beranjak dari ranjang empuknya.
"Nona, kepo itu apa?" tanya Ling sembari berjalan mengikuti langkah cepat Violet yang sedang bersemangat.
Violet berhenti mendadak dan membalikkan badannya, membuat Ling nyaris menabraknya.
"Kepo adalah keingin tahuan yang berlebihan terhadap urusan orang lain. Mengerti?"
"Maafkan aku nona. Aku sudah lancang." Ling menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah. Kau sahabatku..Hanya saja aku tidak ingin memberi tahumu. Hahahaaa..." Violet tertawa kecil dan kembali melanjutkan jalannya.
"Na.. Nana... Nanananaaaa..." suara Violet bernyanyi riang sepanjang jalan hingga mandi.
Setelah selesai dengan segala ritual mandi beserta mempercantik diri dengan riasan serta pakaiannya Violet mengajak Ling berjalan-jalan mengelilingi Istana.
"Nona, sebentar lagi Pangeran Mark dan Putri Lisa akan menemui rakyat Neptunus." Ling memberitahu Violet.
"Maksudmu suara riuh diluar tembok Istana itu?" tanya Violet yang mendengar jelas suara riuh dibalik tembok kokoh istana.
"Benar nona. Rakyat Neptunus telah berdatangan sejak kemarin. Apa nona ingin ikut menyapa rakyat Neptunus mendampingi Putri Lisa?"
"Ahh tidak. Ayo kita kesana." Ling menunjuk gazebo yang berada ditengah taman Istana yang dipenuhinl dengan berbagai macam dan warna bunga.
"Nona, aku akan mengambilkanmu air minum. Tunggu aku disini." pinta Ling.
"Emm..." Violet menganggukkan kepalanya.
Sementara Ling pergi, Violet memainkan game dari ponselnya.
"Salam Putri Violet." suara yang tidak asing ditelinga Violet terdengar menyapanya dari arah samping.
Violet menghentikan jarinya, dan perlahan menoleh pada sumber suara tersebut. Sesuai dengan firasatnya dalam beberapa detik lalu bahwa pemilik suara itu adalah Putri Xie. Orang yang sangat ingin dihindari Violet.
"Emm... Salam Putri Xie. Maaf aku tidak melihat kedatanganmu." ucap Violet gugup.
"Tidak apa Putri Violet. Bagaimana kabarmu?"
"A-aku baik." jawab Violet masih dengan gugup karena belum mampu mengendalikan dirinya.
"Putri Violet tidak ikut serta dalam perayaan pernikahan Pangeran Mark dan Putri Lisa untuk menyapa rakyat Neptunus?"
"Ah tidak. Aku ingin menikmati suasana taman ini."
__ADS_1
"Aku mencarimu ternyata disini." Feng datang sembari merangkul pundak Putri Xie, dibalas dengan anggukan dan senyuman hangat Putri Xie pada Feng.
Sedangkan Violet menjadi binggung menyaksikan kemesraan mereka. Dalam hitungan detik banyak pertanyaan dan prasangka bermunculan didalam pikiran Violet.