
Saat Boy berdansa dengan Suzu mata Boy tanpa sengaja melihat liontin kecil yang dipakai oleh Suzu.
"Hey aku seperti pernah melihat liontin ini." ucap Boy sambil terus memperhatikan liontin kecil berbentuk angel dengan permata biru dibagian dadanya.
Suzu menghentikan gerakan tubuhnya dan menatap lekat mata Boy.
"Dimana kamu melihatnya?"
"Entahlah mungkin hanya perasaanku saja!"
Suzu menghela nafas lega mendapat jawaban Boy.
"Mungkinkah dia mengetahui identitasku?" batin Suzu.
"Nanti mau ku antar pulang?"
"Ah tidak, aku datang bersama dengan temanku Mike." Suzu mengarahkan pandangannya pada Mike yang tengah berbincang dengan tamu lain.
"Kamu mengenal Lisa?"
"Tentu saja. Dia kakak iparku sekarang."
"Jadi kamu adalah adiknya Mark?" tanya Boy sembari mengeryitkan keningnya.
"Benar. Kanapa?"
"Tidak apa. Kamu kuliah dimana?"
"Aku tidak melanjutkan studiku. Aku lebih memilih untuk bekerja."
"Kenapa? Bukankah memiliki gelar pendidikan akan membuatmu lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang bergengsi?"
"Akh tidak, tidak! Aku lebih yakin dengan kemampuanku daripada pendidikanku."
"Kamu terlalu percaya diri gadis kecil!"
"Hey! Jangan panggil aku seperti itu, aku sudah cukup dewasa!"
"Hahaa baiklah... Boleh meminta contacmu?"
"Boleh. Tapi jika kita sudah bertemu sebanyak tiga kali. Dan dipertemuan ketiga itu aku akan memberikannya padamu."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak suka berbasa basi dengan seseorang yang hanya akan mengenalku dan berlalu begitu saja."
"Kamu kecil-kecil menantang dan misterius."
"Maafkan aku, aku harus kembali pada temanku. Senang mengenalmu Boy. Sampai jumpa."
Suzu melepaskan tangannya dari Boy dan meninggalkannya. Boy hanya terdiam menatap kepergian Suzu dengan sejuta rasa penasaran didalam hatinya.
_ * * * _
Pagi hari.
"Good morning my wife." Mark mengecup kening Lisa yang masih tertidur memeluknya.
"Emmmhhh... Aku masih ngantuk, biarkan aku diposisi ini."
"Sudah jam 7 pagi sayang. Bangun dan ayo kita sarapan."
"Aku lelah sekali." Lisa masih enggan membuka matanya.
__ADS_1
Mark tersenyum senang melihat istrinya begitu manja didalam dekapannya.
"Bagaimana jika aku memaksamu untuk bangun?"
"Apa maksudmu?" tanya Lisa dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Mark tidak menjawab pertanyaan Lisa, justru terbangun dan menindih tubuh istrinya yang membuat Lisa terkejut dan segera membuka matanya.
"Aku menginginkannya. Bolehkah?"
"A-aku lapar. Aku akan mandi." jawab Lisa sambil mendorong tubuh Mark dan langsung berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
"Bukankah dia bilang lapar? Kenapa justru mau mandi, bukankah mestinya dia ingin sarapan?" gumam Mark sembari menggelengkan kepalanya.
Sementara itu didalam kamar mandi, nafas Lisa terenggah-enggah, dadanya berdebar,
"Huuft, apaan sih Mark meminta hal itu disaat bangun tidur? Mana bisa? Tubuhku, mulutku, pasti bau, iiiiiihhhh...!!!" Lisa menghentakkan kakinya merasa belum mempersiapkan dirinya dengan baik untuk melayani suaminya untuk pertama kali. Kemudian membersihkan dirinya dengan berendam di bathup.
Ketika hendak mengakhiri ritual mandinya Lisa baru sadar jika dirinya lupa membawa pakaian untuk ganti.
"Bagaimana ini? Aku lupa membawa baju ganti. Bodoh! Kenapa bisa lupa sih!" Lisa memukul pelan keningnya.
"Apa aku memakai ini saja?" Lisa memandang dirinya yang hanya berbalut handuk kimono dengan rambut disanggul sederhana melalui cermin.
Lisa mengambil nafas panjang dan perlahan menghembuskannya,
"Baiklah aku sudah siap. Lagipula dia suamiku, dia berhak jika menginginkan diriku kapanpun."
Lisa perlahan membuka pintu kamar mandi, namun tidak mendapati Mark didalam kamarnya.
"Kemana dia?" pikir Lisa.
Drrrrtt... drrtt... Suara notifikasi pesan masuk pada ponsel lisa di atas nakas.
Lovely Hubby
Lisa langsung menghempaskan tubuhnya kembali keatas ranjang.
"Aaaarrrrgggghhh... Kepentingan apa sih sampai harus meninggalkanku? Padahal kita masih pengantin baru. Belah duren juga belum, giliran udah siap malah pergi. Haaawww..." Lisa memukul-mukul bantal yang ada disebelahnya.
Tok... tookk... tokkk... Suara pintu kamarnya diketuk dari luar, Lisa bangkit dan membuka pintu.
"Selamat pagi nyonya Lisa, saya Dian membawakan pesanan atas nama Mr. Mark."
Lisa menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan pelayan tersebut membawa sarapanya masuk kedalam kamar.
"Ada yang nyonya perlukan lagi?"
"Tidak."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat menikmati makan paginya." ucap pelayan itu dengan ramah.
"Makasih." jawab Lisa sembari tersenyum ramah dan menutup pintunya.
Lisa kembali tertegun melijat banyaknya makanan yang tersedia diatas mejanya.
"Ini Mark ingin aku mendadak gendut atau bagaimana memesankan makanan sebanyak ini untukku?"
Tok took tokkk... kembali suara pintu kamarnya diketuk.
"Apa lagi sih!" Lisa dengan malas kembali membuka pintu.
"Kak Lisaaaaa!" teriak Violet begitu pintu kamar Lisa dibuka.
__ADS_1
"Kamu ngapain kesini?"
"Mau sarapan?"
"Bukannya kamu dapat menu sarapan pagi dari hotel?"
"Kak Lisa sayang, tadi suami tercintamu mengirimkan pesan padaku. Katanya dia sudah memesan banyak makanan untukmu. Jadi dia memintaku untuk membantumu menghabiskannya."
"Apa? Mark bicara begitu?"
"Benar! Aku masuk ya." Violet langsung nyelonong masuk tanpa perintah lagi dari Lisa.
"Waaaaahhh... kamar pengantin baru wangi banget. Eh kak kemari..." Violet membimbing Lisa untuk duduk dikursi.
Lisa menurut saja meskipun agak kikuk dengan sikap adiknya.
"Kak bagaimana rasanya?"
"Rasa apa? Sarapan ini? Aku belum mencobanya!"
"Haah? Makanan ini? Kak, pliss deh ya kakak udah dewasa pasti tau dong maksudku."
"Apa Vi? Jangan berbelit-belit!"
"Huuuft..." sejenak Violet menghela nafas kasar.
"Maksudku bagaimana malam pengantin kalian?"
Wajah Lisa yang sebelumnya cemberut semakin menjadi.
"Malam pengantin apanya? Kami belum sempat melakukannya."
"Oh ya? Kenapa?"
"Ya karena tadi malam kami sudah lelah Vi. Dan tadi pagi,.." Lisa tidak melanjutkan ucapannya.
"Tadi pagi kenapa?"
"Aku yang belum siap. Giliran aku sudah selesai mandi dia justru malah pergi."
"Bbb-bbuahahahahaaa..." Seketika Violet menyemburkan tawanya dihadapan Lisa tanpa perduli rasa kecewa yang dialami kakaknya.
Violet memuaskan dirinya untuk tertawa, dan Lisa membiarkan Violet menuntaskan tawanya.
"Memangnya kak Mark kemana?"
Lisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ketidak tahuannya.
"Kak Lisa jangan sedih gitu. Tetap optimis. Sekarang kita makan dulu ya." hibur Violet kemudian memasukkan sandwich tuna kedalam mulutnya.
"Violet, apa kamu akan serius dengan Chandra?"
Violet mengentikan aktifitas mulutnya sesaat,
"Kenapa?"
"Violet, apapun keputusanmu aku akan menghargainya. Kamu sekarang sudah dewasa Vi. Hanya saja aku berpesan jangan gegabah mengambil keputusan."
"Kak, tidak ada pria yang mencintaiku melebihi Chandra mencintaiku. Dia bahkan rela mengorbankan semuanya tanpa mengharap balasan dariku atas perasaannya."
"Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri Vi? Jangan menyakiti dirimu jika memang tidak cinta."
"Aku akan belajar untuk mencintainya kak." Violet meyakinkan Lisa dari kekhawatirannya.
__ADS_1
"Violet, dua minggu lagi kami akan menggelar pesta pernikahan di Neptunus. Kaisar menyiapkan pesta untuk kami selama tiga hari berturut-turut. Aku tidak mungkin mengajak ayah dan bunda. Apalagi orang lain. Tapi aku juga tidak ingin kesama sendiri. Vi, mau nggak kamu menemaniku disana?"
Seketika air muka Violet berubah, ingatannya pada kenangan menyakitkan dan menakutkan diplanet itu berputar dikepalanya.