Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Kaisar Neptunus II


__ADS_3

"Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi saat pertemuan keduaku dengannya dia sempat seperti terkena serangan jantung. Lalu,-"


Violet tidak melanjutkan ucapannya. Terlalu memalukan membahas hal yang dulu pernah dia lalui dengan Kay.


"Lalu apa?" Lisa, Mark, dan Gia bertanya serempak tanpa aba-aba dengan ekspresi penasaran level atas.


Sejenak Violet menatap mereka satu persatu.Rasa bimbang dan malu didalam hatinya belum mampu sepenuhnya dia kuasai.


"Emm... Lalu saat itu aku panik. Aku mau meminta pertolongan tapi dia menahanku. Setelah itu,-"


Mereka bertiga sudah tegang mendengarkan kelanjutan cerita Violet. Bahkan Lisa sampai menahan nafasnya.


"Setelah itu, dia memintaku membuka bajunya."


"Apa? Dia memintamu membuka baju? Hanya berdua? Cukup! Jangan diteruskan! Aku tidak mau mendengarnya. Keterlaluan. Dia benar-benar memiliki otak mesum." Lisa berteriak karena tidak sanggup jika ternyata Violet melakukan sesuatu yang buruk seperti yang ada dalam pikirannya.


Dan justru teriakan Lisa yang mengagetkan Mark dan Gia.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan. Kecilkan suaramu. Biarkan Violet menceritakannya sampai selesai."


Lisa memandang Violet dengan mendelikkan matanya.


"Katakan apa kamu mau membuka pakaiannya?"


Dengan ragu Violet menganggukkan kepalanya.


"Bodoh! Kenapa kamu mau! Kamu baru dua kali bertemu dengannya kenapa sudah mau membuka baju haaah?" suara Lisa tidak kalah keras.

__ADS_1


"Yang terjadi tidak seperti yang kakak pikirkan."


"Lalu?" Lisa memelankan suaranya.


"Biarkan Violet bicara dulu." Gia menengahi.


"Lanjutkan ceritamu Vi!"


"Setelah membuka bajunya aku melihat ada gambar seperti tato berwarna merah di dada kirinya. Saat itu bibirnya sudah membiru, tubuhnya sangat dingin tapi dia berkeringat. Kemudian dia meminta untuk merangkulku dan meminta tanganku untuk diletakkan diatas dadanya. Aku merasakan ada rasa dingin merayap di tanganku. Beberapa saat kemudian dia pingsan, dan saat bangun suhu tubuhnya kembali normal juga dia seperti tidak habis sakit." Violet mengakhiri ceritanya.


"Jadi tidak terjadi apa-apa antara kamu dengan dia?" tanya Lisa masih belum yakin.


"Tidak ada."


"Tu kan sayang. Mr. Kay tidak mungkin melakukan hal itu. Pikiran kamu saja yang justru sangat mesum." Mark menggoda Lisa.


Wajah Lisa berbalik yang memerah menahan Malu.


"Selanjutnya bagaimana rencanamu pangeran Mark?" tanya Gia.


"Pangeran? Sayang, kamu seorang pangeran?" tanya Lisa sambil membelalakkan matanya menatap Mark tidak percaya.


"Bisa dikatakan seperti itu. Aku adalah saudara sepupu kaisar. Jadi aku masih berdarah bangsawan istana." jawab Mark dengan santai.


"Whaaa pacarku seorang pangeran. Aku akan menjadi princess." Lisa mengedip-kedipkan kedua matanya, bersikap layaknya anak kecil yang manja.


"Sayang, kita seriuslah dulu. Selesaikan dulu masalah Violet dan kaisar. Setelah itu nanti kamu akan membicarakan apapun aku akan siap mendengarkan dan menjawab."

__ADS_1


"Maaf. Baiklah, mari kita lanjutkan."


"Bagaimana menurutmu Vi? Jika kamu tidak keberatan maka kita coba mengobati kasiar. Kami akan mencari cara untuk membawamu kesana. Tapi planet kami tidak bisa membawa seseorang dengan pikiran dan hati yang kotor. Karena pikiran dan hati manusia yang buruk bisa kami ketahui hanya dengan bau keringatnya atau bunyi detak jantungnya saja."


"Apa penciuman dan pendengaran kalian sesensitif itu?"


"Benar. Karena begitu bangsa kami lahir maka didalam tubuh kami akan ditanam alat yang akan mempengaruhi kinerja sel dan syaraf untuk mempertajam semua indera kami." jawab Gia, karena kakek buyutnyalah yang menemukan alat tersebut.


"Jadi teknologi kalian sudah sangat canggih?"


"Jauh dibandingkan teknologi yang dibumi. Bahkan beberapa teknologi dibumi ini diadaptasi dari teknologi kuno kami."


"Jadi bagaimana Vi?" tanya Mark memutuskan obrolan Lisa dan Gia yang menyimpang dari topik utama.


"Aku takut kak. Aku bahkan jujur saja memiliki sedikit keraguan dengan semua kebenaran cerita kalian. Setauku saat belajar dulu, planet Neptunus tidak berpenghuni, planet itu bahkan berada jauh letaknya dari bumi ini. Dan, akh- sangat sulit aku merimanya."


"Kami mengerti Violet. Memang tidak mudah menerima sesuatu yang tidak pernah kita ketahui dan juga sulit menerima hal yang selama ini dianggap mitos atau suatu yang mustahil." Gia mendekat, kemudian mengusap bahu Violet.


"Kami juga tidak bisa memaksamu Vi. Kami memang sulit untuk dimengerti oleh kalian, hanya sedikit dari manusia yang bisa memahami dan percaya bahwa kami memang bukan manusia bumi."


"Tolong jawab satu pertanyaanku. Jika memang kalian datang dari tempat sejauh itu. Bagaimana kaliam bisa datang dan pergi dari sini dengan bebas dan leluasa?"


"Jauh diatas bumi sana, ada pesawat induk kami. Pesawat kami memiliki radar yang bisa membuat pesawat kami tidak terlihat ataupun terdeteksi oleh alat manusia."


"Tidak masuk akal."


"Bukankah penemuan teknologi di Bumi dulu dianggap tidak masuk akal? Contohnya saja ponsel ini," Gia mengambil sebuah ponsel yang ada diatas meja.

__ADS_1


"Dulu pasti hal yang mustahil dengan kemampuan manusia yang terbatas bisa berbicara dan mendengar suara atau bahkan melihat jelas Visualnya dengan jarak yang sangah jauh. Bahkan bisa ribuan mil. Tapi coba sekarang kamu hubungi kedua orang tuamu dengan panggilan Video. Kamu akan melihat jelas Visualnya, suaranya, bahkan garis halus keriput orang tuamu akan kamu lihat dengan jelas seakan-akan kamu berhadapan langsung dengannya."


Violet diam mencerna setiap penjelasan Gia yang sederhana tapi mudah dia pahami.


__ADS_2