
"Bagaimana dia bisa tau jika aku tidak mungkin bisa membunuhnya. Mungkinkah dia mengetahui rahasia Planet Ariexus." batin Ariexa.
"Kenapa diam? Bukankah kau tadi mengancamku wanita jelek!"
"Aku terdiam sedang memberimu kesempatan untuk melanjutkan hinaanmu sebelum kamu nanti menyembah kakiku!"
"Oh ya? Kita lihat saja siapa yang akan menyembah kaki siapa!" jawab Violet menatap tajam Ariexa.
Ariexa bergidik merasakan hawa panas milik Violet yang sudah kembali.
"Pergilah! Wajahmu membuat mataku sakit. Lain kali datanglah padaku biar kuajarkan padamu trik make up yang lebih baik agar wajahmu yang jelek itu tidak semakin mengerikan." ejek Violet membuat darah Ariexa semaki terasa mendidih.
"Heeeehh kau selain jelek tuli juga rupanya! Sudahlah, percuma berbicara dengan wanita bodoh, Ayo Ling sebaiknya kita saja yang pergi. Aku sudah menghabiskan beberapa menit waktu dihidupku dengan sia-sia untuk menghadapinya."
Violet membalikkan badannya, tetapi sudah ada Feng yang mendekat pada mereka. Sebenarnya Feng sudah sejak tadi memperhatikan mereka namun Feng khawatir jika Ariexa berbuat sesuatu yang buruk pada Violet jadi memutuskan untuk menemui mereka.
Tapi apa yang Feng lihat dan dengar justru lebih membuat Feng terkejut. Bagaimana tidak, bahkan ayah Kaisar sendiri tidak mampu melawan Ariexa namun Violet justru bahkan berani menghinanya secara langsung.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Feng berpura-pura tidak tau.
"Feng, aku hanya menyapanya tapi dia justru menghinaku. Dia berani menghina Istri dari ayah Kaisar. Dia harus mendapatkan hukuman." ucap Ariexa dengan suara keras.
"Cih! Wanita jahat, jangan berdusta! Kau yang terlebih dulu mengangguku." sahut Violet tak mau kalah.
"Bibi Ariexa apa keperluanmu menyapa Putri Violet?"
"Hah bibi? Siapa bibimu? Aku bukan bibimu. Kau hanyalah saudara angkat dari Pangeran Mark. Kau pikir aku akan menganggapmu sebagai keponakanmu?"
Wajah Feng seketika memerah, begitupun Violet.
"Kau bemar-benar wanita jahat bermulut busuk!" Violet menunjuk wajah Ariexa.
"Sudahlah Putri Violet. Sebaiknya kita pergi."
Feng, Violet, dan Ling kemudian membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Ariexa.
Namun tiba-tiba Violet merasakan tiupan angin dari gerakan Ariexa yang sedang mencoba menyerang dirinya. Violet membalikkan badannya dengan wajah penuh amarah dan menepukkan tangannya. Seketika Ariexa terpental beberapa lagkah sampai menyemburkan darah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" teriak Yuan Lou saat melihat istrinya terkulai tak berdaya.
Ternyata digerbang aula telah berdiri ratusan orang menyaksikan kejadian itu termasuk Kaisar, 'Lisa dan Mark.
"Suamiku, dia telah berusaha mencelakaiku." Airexa berkata dengan sangat manja pada suaminya.
Namun semua tidak ada yang percaya kecuali suaminya. Justru didalam hati mereka semua merasa sangat senang melihat Ariexa kalah telak.dari Violet.
Kaisar menatap Violet sembari mengedipkan kedua matanya memberi isyarat pada Violet.
"Apa yang kau lakukan pada istri ayahku?" tanya Kaisar dengan suara tegas seolah-olah marah dengan Violet.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan tidak menyentuhnya. Jika tidak percaya tanya saja pada Ling dan Pangeran Feng. Justru dia yang sejak tadi menganggu kami." Violet membela diri.
Kaisar mengalihkan pandangannya pada Ariexa,
"Apakah Putri Violet menyentuhmu?" tanya Kaisar.
Ariexa menggelengkan kepalanya,
"Tapi dia menggunakam sihirnya untuk mencelakaiku."
"Aku tidak pernah bertemu dengannya,-"
"Lalu untuk apa dia mencelakaimu? Apa alasannya?" Kaisar menyela ucapan Ariexa.
Ariexa terdiam sempurna.
"Ayah, percayalah bagaimanapun aku akan tetap menghormatimu sebagai oranh tuaku. Gadis itu yang mengajarkanku cara menghargai dan mengormati orang lain meskipun dia pernah menyakitiku. Bawa dia untuk istirahat dan memulihkan dirinya." ucap Kaisar kepada sang ayah.
Kaisar kemudian menghampiri Violet,
"Kamu tidak apa-apa?"
Violet menggelengkan kepalanya.
"Ling bawa dia kembali ke istana dalam ku. Dan kau Pangeran Mark dan Putri Lisa setelah kalian beristirahat datanglah menemuiku."
__ADS_1
Kaisar meninggalkan tempat itu begitupun yang lain ikut serta membubarkan diri mereka dan melanjutkan aktifitas lainnya.
_ * * * _
Di Bumi
Chandra telah selesai dengan konser besarnya. Chandra berkali-kali memeriksa layar ponsel pribadinya namun berkali-kali juga dirinya kecewa karena sudah hampir satu minggu sejak keberangkatan Violet ke belanda tidak juga ada kabar darinya. Bahkan setiap Cahndra mencoba menghubunginya selalu gagal terhubung.
"Kenapa bro?" Erick menepuk bahu Chandra yang tengah duduk bersandar dikursi.
"Violet semenjak ke Belanda untuk ikut serta orang tuanya sampai sekarang belum bisa ku hubungi."
"Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan ortunya disana. Bukankah dia jarang memiliki waktu bersama dengan ortunya. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk quality time mereka."
"Tapi aku ini pacarnya. Apa iya sebentar saja dia tidak bisa meluangkan waktunya untukku?"
"Bro, jadi cowok jangan banyak menuntut ataupun mengekamg cewek. Apalagi kalian baru jadian, jangan sampai kamu terkesan over protektif dan posesif pada pasanganmu. Justru nanti bisa menjadi masalah besar."
"Hai Rick, maaf aku baru datang. Diluar macet banget." suara lembut seorang wanita dari arah samping mereka.
"Sisil...!" Erick langsung beranjak dari duduknya dan memeluk gadis dengan pipi cubby itu.
"Lepaskan. Aku sulit bernapas bodoh!" Sisil melepaskan pelukan Erick kemudian menjitak kepalanya.
"Ku kira kamu gak bakal mau kesini."
"Emang tadinya ogah banget. Tapi terpaksa, cuma kamu harapanku yang bisa menjadi supirku selama disini nanti." jawab sisil merapikan rambut dan pakaiannya.
"Eheeemmmm..." Chandra yang merasa diabaikan kemudian berdehem.
"Oh ya Sil, kenalin ini sahabat rasa saudaraku. Chandra." Erick memperkenalkan keduanya.
"Hai aku Sisil sepupu Erick dan aku suka musikmu." Sisil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Chandra.
"Thanks ya. Bay the way aku kok baru tau Erick punya sepupu cantik?"
"Gue sengaja gak kasih tau elo bro, soalnya kalo elo tau yang ada tar sepupu tercantik gue ini bakal.lo bikin patah hati."
__ADS_1
"Apaan sih lo! Gak lucu! Jangan dengerin dia bohong." Chandra melambaikan tangan pada Sisil supaya tidak mempercayai ucapan Erick.