
"Kemari!" pinta kaisar sambil menepuk tempat kosong disebelahnya.
Meskipun ragu Violet memutuskan untuk menuruti perintahnya. Tidak ada salahnya mencoba saran Ling-ling supaya mempermudah dirinya.
Kaisar kemudian menarik Violet untuk bersandar di tangan kirinya yang sudah bertumpu dengan lututnya. Pandangan mereka saling bertemu dan terkunci.
Tanpa sadar tangan Violet membelai wajah Kaisar dengan lembutnya. Violet lupa dengan posisinya, lupa dengan berapa banyak pasang mata pelayan juga penjaga ditempat itu.
"Belum cukup kamu mengagumi ketampananku hemmm?"
Seketika Violet tersadar dan mencoba bangkit dari sandarannya tapi Kaisar kembali menarik dan memposisikan dirinya seperti diposisi sebelumnya.
"Aku belum selesai."
"Kita disini bukannya untuk makan? Jadi ayo makan. Aku sudah lapar." Violet mencoba mengalihkan perhatian Kaisar.
"Diamlah aku yang akan menyuapimu."
"Tidak perlu aku bisa makan sendiri." Violet kembali mencoba bangkit tapi kembali gagal.
"Diam! Jika kamu terus bergerak aku akan menyuapimu dengan bibirku." ucap Kaisar tanpa menghiraukan ekspresi wajah Violet , kemudian mengambil sebuah anggur.
"Buka mulutmu." perintahnya.
"Aku akan memakannya sendiri." Violet bersikeras mengambil anggur itu dari tangan Kaisar.
Tapi dengan cepatnya tangan Kaisar menghindari tangan Violet dan memasukkan anggur itu kedalam mulutnya. Kemudian dengan cepat pula bibirnya menempel pada bibir merah milik Violet dan menyuapkan anggur yang ada di mulutnya kedalam mulut Violet. Violet yang tidak siap, mau tidak mau menerima anggur tersebut dengan gelagapan."
Kaisar mengipaskan tangan kanannya memberi isyarat pada semua pelayan dan penjaga untuk pergi meninggalkan keduanya.
Kaisar tidak melepaskan pautan bibir mereka. Justru membuatnya semakin dalam. Bibirnya mengikuti gerak bibir Violet yang mengunyah anggur.
Setelah Violet dengan susah payah berhasil menelan anggur itu, lidah Kaisar beralih menyeruak masuk kedalam dan menguasai mulutnya. Bertukar Silva dengan lidah dan bibir mereka.
"Eeemmmmppphhh..." Violet mulai kehabisan nafas dan tidak mampu mengimbangi ciuman Kaisar yang tanpa jeda.
Kaisar melepaskan tautan bibirnya, menatap Violet dengan penuh cinta.
"Menikahlah denganku." bisiknya lembut sambil membelai wajah cantik milik Violet yang sudah bersemu merah.
"Buatlah aku memiliki sesorang yang akan kujaga dengan sepenuh hati dan diriku." lanjutnya kemudian.
"Tapi aku."
"Aku tidak menerima penolakanmu."
"Bagaimana dengan orang tua dan kakakku yang berada jauh disana?"
__ADS_1
"Kita akan datang kepada mereka dan meminta restunya." ucap Kaisar tenang tapi tampak jelas keseriusan diwajahnya.
"Bagaimana? Kamu menerimaku?"
"Tunggu, aku ingin menunjukkan sesuatu." Violet bangkit dari sandaran dipangkuan Kaisar kemudian mengambil sebuah kantong kain dengan sampul dibalik jubahnya.
"Apa itu?"
Violet tidak menjawab pertanyaan kaisar, hanya meliriknya sesaat kemudian mengeluarkan isinya.
1 set perhiasan dengan permata biru yang dulu pernah Kay berikan kepadanya.
Kay melihat perhiasan itu memandang binggung wajah Violet.
"Bagaimana bisa ada padamu?"
"Aku tau kamu melupakannya. Kamu yang memberikannya padaku."
"Kapan? Aku mencarinya sebelum kau datang kesini."
"Kamu memberikannya sebelum aku datang kesini."
"Jadi-?"
"Benar! Kita pernah bertemu sebelum pertemuan kita ditempat ini. Dan kamu memberikannya padaku disaat pertama kali kita bertemu."
"Benarkah?" Kaisar memandang Violet penuh tanda tanya besar. Sungguh kepalanya sedikitpun belum mampu mengingat semuanya.
"Kamu memasangkannya di jariku, di tanganku, dan di leherku."
"Apa dulu kamu begitu spesial bagiku sampai aku memberikan benda berharga peninggalan ibuku?"
"Emmm... Mungkin benar begitu." jawab Violet sambil tersenyum malu-malu.
"Aku masih menyimpannya. Setiap aku merindukanmu aku selalu memandangnya. Tapi takut memakainya. Aku takut hilang dan tidak bisa menemukannya."
"Jadi kamu dulu sudah menerimanya?"
"Benar. Meskipun kamu juga yang memaksaku menerimanya."
"Aku? Memaksamu?"
"Iya. Kamu lupa bagaimana pertama kali kita bertemu. Aku bisa menceritakannya."
"Ceritakan padaku." Pinta kaisar dengan tidak sabar.
"Ada syaratnya."
__ADS_1
"Apa?"
"Kejar aku. Jika kamu bisa menangkapku aku akan menceritakan kisah kita. Jika kamu gagal menangkapku maka aku menolak lamaran yang kau ajukan tadi."
"Baiklah. Aku pasti mendapatkanmu." Kaisar menyetujui syarat Violet.
Violet langsung berdiri dan berlari, berkejaran dengan kaisar.
_ * * * _
Rumah.
"Sayang bagaimana kabar Violet disana?" tanya Lisa saat Mark mendatangi kekasih tercinta dirumahnya.
"Baik. Dia mengalami beberapa kesulitan tapi bisa diatasi."
"Suzu sudah mengatasi Chandra. Tapi sepertinya dia begitu terobsesi dengan Violet." Lisa memberikan laporannya terkait Chandra yang mencari Violet.
Mark menganggukkan kepalanya.
"Jangan khawatir. Suzu dan Mike sudah lebih dari cukup untuk menghadapinya. Kamu ikuti saja dia dan tetap bersikaplah tenang seakan kamu tidak mengetahui apapun."
"Baiklah. Tenang saja. Sayang aku merasa lelah." Lisa bergelayut manja di pundak Mark.
"Apa kamu ingin tidur?"
"Tidak. Bukan itu maksudku. Tapi-" Lisa tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?"
"Ayo kita menikah." Lisa mengatakannya dengan ragu, kemudian mengigit bibir bawahnya.
"Baiklah. Kita akan menikah, tapi kita tunggu masalah Violet sampai selesai dulu. Bagaimana?"
"Serius sayang?" tanya Lisa tidak percaya Mark akan menyetujui ajakannya dengan begitu mudah.
"Kenapa tidak? Aku juga ingin segera memilikimu, dan mengurungmu setidap saat didalam pelukanku." sahut Mark dengan lirikan nakalnya.
"Tapi aku harus menyelesaikan tanggung jawabku pada Mr. Kay dan Violet." lanjutnya.
"Cepat bantu dia menyelesaikannya. Aku tidak sabar untuk menikah. Aku tidak mau lagi berpisah lama denganmu seperti ini. Aku kesepian, Violet disana, kamupun tidak ada."
"Apa kamu juga ingin kesana hemm?"
"Memang bisa?"
"Beri aku waktu untuk memikirkannya. Jika memang memungkinkan aku akan membawamu kesana. Dan bertemu dengan Violet disana."
__ADS_1
"Benarkah? Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu melebihi cintamu padaku." balas Mark sambil memeluk posesif kekasihnya.