
"Heeemmmmhh..." Violet mengeliat ketika telinganya terasa geli terkena gelitikan bulu.halus.
"Haaa... Haaaacchhhiiiimmm..." Bersamaan dengan bersinnya Violet melonjak bangun dari tidurnya.
Pandangannya langsung tertuju pada sumber suara yang sedang ceikikan tertawa.
"Kau!" Violet terkejut melihat kaisar Kay yang sedang duduk ditepi ranjangnya tertawa sambil memegang sebuah bulu.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Violet kesal.
"Kenapa berani berteriak pada tuanmu? Kau itu pelayanku. Mana ada pelayan yang bangunnya lebih siang dari tuannnya?"
Violet bersungut mendengar ucapan Kay.
"Kamu tidur seperti kerbau. Sulit untuk bangun!"
"Jadi kamu membangunkanku dengan bulu itu?" tanya Violet dengan senyum smirknya.
"Benar. Dan berhasil."
"Aku akan menghukummu Kaisar jail."
Setelah selesai dengan ucapannya Violet meraih tubuh Kaisar dan menggelitiknya. Kaisar menghindar dan terus dikejar Violet. Mereka berlarian sambil berusaha saling mengelitik satu sama lain. Suara tawa mereka terdengar sampai diluar kamar membuat para pelayan dan penjaga yang ada disekitar saling memandang dengan rasa penasaran.
"Ada apa dengan Kaisar? Tumben sekali tertawa sekeras itu?" tanya pelayan yang mendengar suara mereka.
"Sepertinya kita akan memperoleh anugerah besar karena pertama kalinya kaisar tertawa sebahagia itu." sahut yang lain.
"Benar. Aku sudah melihat gadis Bumi itu sangat cantik. Seperti mendiang permaisuri, ibunda Kaisar."
"Beruntung sekali gadis-gadis Bumi selalu dicintai oleh Pangeran dan Kaisar."
Mereka saling berbicara satu sama lain. Memuji dan menyanjung Kaisar adalah kesenangan mereka. Karena rasa bangga dan cintanya kepada sang pemimpin.
"Hentikan. Aku lelah." ucap Violet dengan nafas tersegal-segal.
Sedangkan kaisar tersenyum sangat sanang. Dalam ingatannya hal ini adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya.
"Violet, kemari aku memiliki sesuatu untukmu." Kaisar memberi isyarat untuk Violet mendekat.
"Apa itu?" Violet penasaran dengan nampan panjang yang tertutup kain kuning diatasnya
"Buka dan lihatlah!"
Violet melirik kaisar sebentar lalu membuka kain penutup itu. Matanya terbelalak melihat isi nampan itu. Beberapa tumpuk kain berbagai warna dan perhiasan.
"Apa ini?"
"Untukmu. Jika kamu keluar dari ruangan ini kamu harus memakainya. Sekarang mandi dan pakailah. Ling akan membantumu memakainya. Aku akan menunggumu ditempat pertama kali kita bertemu. Kamu ingat?"
Violet menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Violet sudah selesai mandi dan dibantu oleh Ling memakai pakaian pemberian Kaisar. Lalu menemuinya disaung.
"Eheemm." Violet berdehem, dirinya masih merasa canggung sekaligus binggung memanggil Kaisar dengan dengan panggilan apa.
Kaisar menoleh pada Violet.
Kembali Kaisar mengagumi gadis Bumi yang ia lupakan. Yang dulu begitu membuatnya rela mengorbankan segalanya. Bahkan sampai hampir kehilangan nyawanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat buruk memakai ini?" tanya Violet gugup mendapat tatapan yang begitu lekat dari Kaisar.
"Kamu terlihat lebih cantik." puji Kaisar tulus.
Pipi Violet merona seketika mendapat pujian dari Kaisar.
"Tapi aku merasa tidak bebas bergerak dan pakaian ini terlalu banyak lapisannya." protes Violet.
"Kamu harus membiasakan dirimu memakai pakaian seperti ini."
"Hemm..." Violet menganggukkan kepalanya.
"Kamu belum sarapan, Makanlah." Kaisar menunjukkan berbagai macam hidangan diatas meja.
"Untukku?"
"Benar. Untuk siapa lagi?"
"Bukankah aku disini pelayan? Kenapa mendapat jamuan seperti ini?"
"Kamu menjadi pelayanku saja. Dan bagi selain aku kamu adalah tuan Putri."
"Haaaaa? Putri apanya?"
"Pelankan suaramu. Apa di Bumi kamu selalu berteriak seperti itu?"
Violet menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
"Benar. Aku menjadikanmu sebagai Putri disini supaya tidak ada yang berani menganggu atau mengancam keselamatanmu."
"Benarkah? Kenapa?"
"Karena kamu harus mengajariku mantra dan obat sihirmu."
"Apaaaa?" Violet kembali teriak.
"Sudah kukatakan jangan teriak. Tidak ada Putri yang berani berteriak sepertimu dihadapan Kaisar."
"Maaf. Aku lepas kendali." Violet berbisik.
"Tapi apa maksudmu dengan belajar sihir? Aku bukan nenek sihir. Apa wajahku terlihat berkeriput dan jahat?" tanya Violet mendelikkan matanya kesal.
"Kamu tidak keriput, juga wajahmu terlalu lemah untuk menjadi jahat. Tapi kamu benar-benar memiliki sihir. Tunggu dan lihatlah!"
__ADS_1
Kaisar kemudian mengambil nafas dalam. Jari telunjuk dan jari tenganya ia satukan lalu ia putar-putar didepan wajah Violet.
Beberapa saat kemudian dari dahi Violet timbul warna merah berpola seperti api.
"Nona, kening anda ada,-" seru Ling yang masih terngangga melihat tanda yang baru saja muncul dikening Violet.
"Coba ambilkan cermin." pinta Violet penasaran.
Ling buru-buru mengambil cerimin yang ia letakkan dikantung bajunya.
Violet melihat keningnya dibalik kaca, dan benar saja tanda api merah tiba-tiba ada di keningnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Violet lemah karena shock dengan tanda yang tiba-tiba muncul di dahinya.
Kaisar mengibaskan tangannya, isyarat jika pelayan dan penjaga yang ada didekatnya untuk menjauh.
"Tidak ada. Aku hanya menimbulkan pola yang tersembunyi."
"Apa maksudnya ini?"
"Kamu memiliki energi yang sangat kuat. Bahkan kamu bisa menghangatkan jantungku yang hampir membeku." ucap kaisar.
"Jadi benar yang dikatakan oleh kak Gia?"
"Dokter Virgia? Kamu mengenalnya?"
Violet menganggukkan kepalanya.
"Aku pernah bertemu dengannya."
Kaisar menganggukkan kepalanya.
"Apa dia pernah mengatakan sesuatu padamu?"
"Dia mengatakan aku memiliki aroma tubuh dan detak jantung yang berbeda."
"Dia berbicara benar. Dan mungkin karena hal itulah yang membuatmu memiliki pola itu." jelas Kaisar.
"Dulu saat berada disini kenapa kamu lakukan itu?" sambung kaisar kemudian.
Violet gugup mendapat pertanyaan mendapat pertanyaan Kaisar.
"Lakukan apa?" Violet pura-pura tidak paham dengan arah pertanyaan Kaisar.
"Apa aku harus mengatakannya atau aku harus mempraktikannya padamu?"
"Tidak apa-apa. Aku tidak mau menjawab."
"Jawablah aku ingin tau."
__ADS_1
"Akh kenapa selalu memaksa. Menyebalkan. Aku tidak mau bicara lagi. Aku mau pergi jalan-jalan." ucap Violet kemudian pergi meninggalkan Kaisar yang masih dengan senyuman menggodanya.