
"Vi kamu ingat saat kemarin kamu tiba-tiba tidak sadarkan diri?" tanya kak Gia sambil membetulkan duduknya agar lebih dekat denganku.
Aku mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu.
"Kenapa?"
"Apa terjadi sesuatu?"
"A-apa maksud kak Gia?" tanyaku gugup.
"Semua itu ada hubungannya Vi. Saat itu tubuhmu demam sangat panas, Kaisar yang menyerap energi panasmu itu. Dengan cara seperti itulah."
(Gia menekankan kalimat terakhirnya dengan kata "Seperti itulah" untuk menjaga hati Violet dari maksud yang sebenarnya.)
"Dengan energimu itu sampai saat ini Kaisar masih mampu bertahan tanpa bantuan menambahkan suntikan energi. Jika kamu bisa menyerap semua sisa energi yang ada dalam tubuhnya maka dia akan pulih sepenuhnya." lanjut kak Gia kemudian.
"Apa ada resikonya?"
"Entanlah Vi aku tidak tau. Belum pernah terjadi hal seperti ini. Jadi lupakan jika kamu memiliki niat untuk menuntaskannya. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
"Hanya itu?" tanyaku pemasaran.
"Benar Vi. Aku mewakili seluruh bangsa Neptunus mengucapkan terima kasih padamu."
"Jangan bicara seperti itu. Aku melakukannya karena kemauanku juga."
Kak Gia memelukku, kubalas pelukannya.
"Setidaknya banyak yang tulus menyayangiku." Violet.
Violet pov End
_***_
Seperti janjinya kepada Ling jika Violet akan kambali siang harinya.
Dia melihat ramai sekali didepan kamarnya. Banyak pelayan dan prajurit disana.
Hati Violet mulai tidak tenang, dadanya berdebar bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Violet berjalan masuk kedalam kamarnya.
Sudah ada Kaisar berdiri membelakanginya.
__ADS_1
"Nona," Ling memanggil dan menghampiri Violet begitu melihatnya.
Kaisar membalikkan badannya dan menatap dengan dengan penuh amarah.
"Keluar kalian semua kecuali kau dan Ling-ling." titah Kaisar pada para pelayan dan penjaga.
"Kemari!" Kaisar menatap tajam Violet.
Violet tidak bergeming, sementara tangan Ling sudah gemetar mengenggam tangan Violet.
"Nona mendekatlah pada yang mulia." bisik Ling. Tapi percuma, Violet mengabaikannya.
"Kemari kau!!" titah Kaisar dengan suara lebih meninggi.
"Nona," Ling yang ketakutan telapak tangannya mulai dingin, wajahnyapun sudah berkeringat.
Violet tidak tega dengan Ling-ling yang ketakutan luar biasa itu akhirnya mendekat pada Kaisar.
Begitu dekat Kaisar langsung meraih dan menggenggam erat pergelangan tangan Violet, mata mereka beradu.
"Darimana saja kamu? Sudah ku katakan jika keluar dari ruangan ini ganti pakaianmu ini!"
"Aku mau pergi kemanapun itu urusanku. Dan aku memakai ini karena memang inilah yang kumiliki." jawab Violet dengan santai.
"Ling bakar semua bajunya yang seperti ini. Aku tidak mau lagi memberinya toleransi yang justru membuatnya semakin menjadi tidak tau aturan!"
"Kenapa membakar milikku? Kamu tidak bisa melakukannya!" protes Violet tidak kalah sengit.
"Bisa! Aku bisa melakukan apa saja. Semua adalah milikku dan semua dalam kekuasaanku termasuk kamu!"
"Aku bukan milikmu!" sarkas Violet dengan mata memerah penuh kebencian.
"Kau!" Kaisar mengeratkan genggaman tangannya membuat Violet meringis kesakitan.
"Lepaskan, sakit!" rintih Violet.
Kaisar melepaskan genggamannya.
"Ling bantu dia mengganti pakaiannya."
"Tidak! aku tidak mau!" kembali Violet menolak keras perintah Kaisar.
"Ling, keluarlah!"
__ADS_1
Ling dengan tubuh yang masih gemetar meninggalkan Violet dan Kaisar yang sedang bertengkar.
"Aku sudah meminta Ling membantumu melepasnya dengan baik. Tapi kamu memang selalu membantahku. Sekarang lepas dan ganti pakaianmu ini. Aku tidak mau orang kain melihat dan menikmati pahamu itu! Itu milikku! Hanya milikku!" tegas Kaisar.
"Aku bukan milikmu!"
"Terserah apa katamu. Cepat lepaskan dan ganti pakaianmu!"
"Aku menolaknya. Aku bukan pelayanmu, aku bukan rakyatmu yang harus selalu tunduk pada perintahmu."
"Baiklah. Kamu memang keras kepala. Jika kamu tidak mau melepasnya maka aku yang akan melepaskannya!" kemudian Kasiar menarik pinggang Violet. Membuatnya tanpa jarak.
"Jangan salahkan aku jika caraku akan sedikit menyakitimu. Karena kamu yang memintanya." Kaisar kemudian menarik paksa outer Violet dan membuatnya sobek.
"Jangan. Aku akan melepaskanya." ucap Violet yang tiba-tiba bergidik ngeri jika Kaisar benar-benar memaksa membuka semua pakaiannya.
Kaisar menghentikan perbuatannya lalu melepaskan tangan dan membalikkan badannya membelakangi Violet.
Violet mengambil pakaian yang akan dia gunakan untuk ganti, kemudian naik keatas ranjang kemudian menutup tirai ranjangnya untuk menghindari pandangan Kaisar.
Air matanya kembali jatuh saat berganti pakaian.
"Setelah kemarin dia seperti itu dengan Putri Xie, tanpa meminta maaf sekarang dia datang dan marah. Kak Lisa aku ingin pulang sekarang." Violet berbisik disela-sela tangisannya.
"Sudah selesai? Keluar dari situ!" suara keras Kaisar kembali membuat dadanya semakin nyeri.
Violet mengusap air matanya kemudian membuka tirai yang menutupi ranjangnya.
Kaisar melihat sisa-sisa air mata diwajah cantik Violet, hatinya terasa sakit melihat Violet seperti itu. Tapi Kaisar tidak punya pilihan lain, Kaisar kemudian mendekat.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Kaisar dengan suara berubah lembut.
Violet diam tidak menjawab.
"Maafkan aku jika aku menyakitimu." Kaisar mengangkat dagu Violet agar menatapnya.
"Kamu harus tau ada saat dimana aku tidak bisa bersikap seperti ini kepadamu." lanjutnya.
"Terserah padamu. Aku tidak perduli!" Violet membuang pandangannya dari wajah Kaisar.
"Tolong percayalah padaku." Kaisar mengusap lembut rambut Violet. Tapi justru terasa seperti Kaisar sedang menancapkan puluhan duri kedalam hati Violet.
__ADS_1