Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Pencarian VIII


__ADS_3

"Bagaimana? Sudah kamu dapatkan kemana saja tujuan dia pergi?" tanya Chandra pada Boy melalui telfonnya.


"Bos, tidak ada perjalanan keluar negeri atas namanya. Paspornya juga tidak terlacak dimanapun. Kurasa dia masih di dalam kota."


"Terus cari dengan teliti mungkin kamu salah."


"Oke bos."


Chandra mengakhiri panggilannya dengan Boy lalu melempar ponselnya keatas tempat tidurnya kemudian berjalan ke jendela kamarnya menatap kota yang padat dari atas lantai gedung tinggi.


"Dimana kamu Violet. Aku bersumpah jika aku menemukanmu aku akan mengurungmu di kamar ini. Kamu berani menyiksaku dengan bayang-bayangmu saja. Aku bisa gila jika terus begini." Chanda kemudan mengusap kasar wajahnya.


Drrtt.. drrtt... bunyi getar ponsel Chandra.


"Hallo."


....


"Aku tidak bisa. Aku sakit, batalkan semua konser yang ada." Chandra beralasan.


....


"Aku tidak mau tau. Itu urusanmu. Aku tidak perduli pada karirku sebagai penyanyi." jawab Chandra dengan emosi.


Kemudian kembali melempar ponselnya.


"Violet. Kamu keterlaluan membuatku frustasi seperti ini. Lisa! Aku harus menemuinya lagi. Pasti saat itu dia berbohong padaku" ucapnya sambil kembali menyambar ponselnya dan mengetik pesan.


***Chandra:


"Bisa bertemu?"


Lisa:


"Bisa. Kapan?"


Chandra:


"Sekarang?"


Lisa:


"Maaf aku sedang ada pekerjaan. Selesai sore jam 3."


Chandra:


"Baiklah. Aku jemput sekalian saja bagaimana?"


Lisa:


"Tidak perlu. Kirimkan alamatnya***."


_ * * * _


"Hai aku disini." Chandra melambaikan tangannya kepada Lisa.


Lisa membalas lambaian tangan Chandra sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya kemeja Chandra berada.


"Maaf lama nunggu."


"Nggak papa. Untuk model sekelas kamu, aku harus bisa memakluminya."


"Bisa aja. Well ada apa nih?"


"To the point banget? Nggak nyantai dulu sambil pesan minum?"


"Boleh."


"Waiters!" Chandra mengangkat tangannya sambil menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya untuk memanggil pelayan.


"Silahkan." pelayan itu memberikan buku menu pada Lisa.

__ADS_1


"Jus Jambu sama french


fries aja."


"Baik. Ada lagi?"


"Cukup itu aja."


Pelayan itu menganggukkan kepala dan tersenyum ramah lalu pergi.


"Jadi, apa soal Violet lagi?"


"Benar. Sebenarnya dia ada dimana?"


"Aku belum mendapatkan kabar darinya. Jadi aku sendiri tidak tau."


"Bagaimana bisa dia tidak mengabarimu?"


"Entahlah. Kenyataannya begitu."


"Tapi,-"


Drrrttt... drrrtt... ponsel Chandra berbunyi menjeda ucapannya, nama Boy tampak dilayarnya.


"Tunggu sebentar ya."


Lisa menganggukkan kepalanya.


"Ada apa?"


"Maaf Bos ganggu. Aku sudah periksa ulang. Paspor Violet tercatat melintasi beberapa negara. Dan negara terakhir adalah Paris."


"Kamu yakin di Paris?"


"Benar bos. Tapi ada yang aneh. Kenapa datanya baru muncul 1 jam yang lalu?"


"Coba kamu selidiki."


Chandra mematikan panggilan telfonnya lalu kembali kemeja.


"Lisa, apa Violet sudah punya someone?"


Lisa mengangkat bahunya kemudian menyesap jus pesanannya.


"Bukannya dia pernah dekat dengan CEO Neptunecorps?"


"Itu gosip."


"Apa benar kalau Violet tidak tertarik dengan Mr. Kay yang selain tampan dia juga memiliki kekayaan yang tidak akan habis 17 turunan?"


"Kamu pikir Violet mata duitan? Kamu salah." jawab Lisa dengan raut wajah tersinggung.


"Maaf bukan itu maksudku. Aku tau dia berbeda."


"Jadi kamu naksir adikku?"


"Jika Iya bagaimana?"


"Setauku dia sudah jatuh cinta pada seseorang. Tapi dia belum memiliki hubungan khusus dengan orang itu."


"Oh ya? Siapa?"


"Aku dan dia memang kakak adik. Tapi kami saling menghormati privacy masing-masing. Dia tidak pernah kepo dengan urusanku dan sebaliknya akupun begitu. Jadi kamu salah orang kalau mau mencari informasi apapun tentang adikku padaku."


Chandra menganggukkan kepalanya.


"Kalau hal-hal sederhana atau kebiasaannya kamu tau?"


"Tergantung."


"Apa makanan favoritnya?"

__ADS_1


"Seafood."


"Minuman?"


"Jus Sirsak."


"Hobi?"


"Rebahan."


"Yang dia sukai?"


"Menyendiri."


"Brand pakaian, tas, sendal, perhiasan?"


"Hahahahaaa..." Lisa tiba-tiba tertawa nyaring, seketika mereka berdua menjadi bahan perhatian pengunjung lain.


"Sssttt... Kenapa malah tertawa?" tanya Chandra berbisik sambil berusaha melempar senyum pada pengunjung lain yang memperhatikan mereka.


"Sorry. Nggak papa." Lisa menyeka air mata yang keluar karena tertawa terlalu keras.


"Nih minum." Chandra menyodorkan gelas jus milik Lisa.


"Pertanyaanmu itu membuatku ingat pada kejadian beberapa tahun lalu."


"Apa itu?"


FLASH BACK ON


"Vi, ayo naik itu." Lisa menunjuk komedi putar.


"Nggak mau. Itu untuk anak kecil."


"Ayolah Vi."


"No!"


"Ayooo..." Lisa memohon dengan wajah memelas dan menakupkan kedua tangannya. Kebiasaannya jika memaksa Violet.


"Yaa baiklah." jawab Violet malas yang disambut dengan teriakan girang dari Lisa.


Mereka berdua naik komedi putar bersama dengan anak kecil yang duduk dipangkuan orang tuanya juga ABG yang dimabuk asmara.


Hooooeeekkk... hoooeeekk.... Lisa ingin memuntahkan isi perutnya tapi tidak bisa sambil terhuyung setelah turun dari komedi putar. Seketika mereka menjadi bahan perhatian orang yang berlalu lalang, bahkan beberapa anak kecil menertawakan Lisa.


"Aku sudah bilang gak mau. Sama artinya dengan jangan. Ngeyel sih." gerutu Violet sambil memijat-mijat pundak Lisa yang lemas.


"Cari tempat duduk dulu yuk." Violet memapah kakaknya menuju tempat lesehan.


"Ada teh hangat pak?"


"Ada."


"Pesan satu ya pak."


"siap non."


Violet kembali duduk didekat Lisa.


"Gimana?"


"Buseet Vi pusing banget. Sampai mual perutku."


"Makanya jangan iseng. Nggak sekalian naik itu?" Violet menunjuk kincir angin yang sedang berputar.


"Bisa pingsan diatas aku Vi."


"Ini non teh hangatnya."


"Terima kasih pak."

__ADS_1


__ADS_2