Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Mencari Makna Cinta 7


__ADS_3

Kay berhasil memaksa Violet untuk ikut satu mobil dengannya.


"Lain kali aku tidak mau kamu memaksaku seperti ini lagi."


"Kenapa Vi?"


"Kenapa? Apa masih ada yang harus dibahas dan diperjelas?" Violet menatap nyalang.


"Violet maafkan aku. Aku tau jika aku salah. Tapi semua tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Aku tidak ingin membahasnya lagi. Susah payah aku bangkit dan berusaha melupakan semuanya. Tolong bantu aku agar tidak terluka lagi."


"Tapi Violet tidak adil jika kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya!" Kay berusaha kukuh memohon kesempatan untuk menjelaskan.


"Aku tidak mau penjelasan apapun. Tolong jangan ungkit lagi. Itu hanya menyakitiku. Sekarang kita bersikap profesional saja. Aku tidak mau lagi bermain hati, karena sangat menyakitkan! Aku takut merasakannya lagi."


Kay menghela nafas mendengar ucapan Violet. Percuma memaksa dia mendengarkan penjelasannya untuk saat ini.


"Apa kamu ingin melupakanku dengan dekat dengan Chandra?" tanya Kay dengan tetap menatap lurus kedepan.


"Iya! Setidaknya aku benar-benar tau jika dia berjuang untukku dari awal sampai saat ini. Dia berjuang tanpa menyakitiku, dan dia bahkan rela kehilangan ketenarannya sebagai penyanyi karena mengejarku disaat aku menjadi orang bodoh yang jauh-jauh mengejarmu dulu!" sindir Violet dengan tajam.


Kay menarik nafas berat, rongga paru-parunya terasa menyempit,


"Violet, apa kamu merasa akan bahagia jika bersamanya? Jika kamu merasa lebih bahagia jika bersamanya maka aku akan melepaskanmu untuk bahagia. Aku berjanji tidak akan mengejar dan menganggumu lagi. Aku akan menghilang dari hidupmu." Kay memilih menyerah daripada menyakiti Violet semakin dalam dengan memaksakan kehendaknya.


Terasa perih disudut hati Violet mendengarkan jawaban dari Kay. Entah bagaimana Violet harus bersikap. Hatinya berharap Kay memperjuangkannya, dan bisa bersama dengan Kay selamanya, namun ingatannya pada perjodohan Kay dengan Putri Xie membuat hatinya sakit. Disisi lain keegoisan juga mendominasi untuk secepatnya menjauh dan move on dari Kay. Lidah Violet terasa sangat kelu untuk menanggapi ucapan terakhir Kay, ada ketidak relaan di hatinya jika dirinya tidak akan lagi bertemu dengan Kay.


Kay memarkirkan mobilnya dibahu jalan.


"Vi, apa kamu akan bahagia jika aku pergi? Aku pergi tanpa kamu injinkan untuk menjelaskan yang terjadi?"


"Pergilah! Aku yakin penjelasanmu hanya berisi alasan dan kebohongan seperti yang sudah-sudah. Entah permainan apa lagi yang ingin kamu mainkan denganku. Apapun itu aku mohon hentikan. Aku hanya ingin hidupku tenang seperti dulu. Aku juga tidak ingin menjadi penghalang antara dirimu dan Putri Xie."


"Begitu bencinya kamu padaku Vi?" tanya Kay putus asa.


"Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, aku juga tidak pernah berharap tentang sebuah hubungan. Aku sempat menyesal karena kesalahanku dulu membuatku kehilanganmu. Lalu aku mendapatkan kesempatan untuk memperjuangkan perasaanku. Aku berhasil, perjuangan serta impianku untuk selamanya bersamamu telah kuterbangkan dengan sangat tinggi. Tapi dalam sekejap aku terhempas oleh kenyataan dan kebohongan, perjuanganku yang berulang kali hampir membuat nyawaku melayang sia-sia. Apa salah jika aku takut pada hal yang sama? Aku takut merasakan sakitnya lagi!" ucap Violet dengan derai air matanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Vi, akulah penyebab kekacauan dalam hidupmu. Temani aku makan dan menghabiskan sisa waktu hari ini hingga tengah malam nanti. Anggap saja ini syarat dari yang terjadi ditoilet tadi. Boleh juga kamu menganggapnya sebagai salam perpisahan dariku. Aku berjanji tidak akan membahas masa lalu ataupun memaksamu menerimaku. Temani aku sebagai seorang teman. Setelah tengah malam nanti kita berpisah aku berjanji tidak akan menganggumu lagi, tidak akan mendekatimu lagi kecuali jika kamu yang memintanya. Meskipun ku tau mustahil kamu memintanya tapi aku akan selalu ada kapanpun kamu membutuhkanku." Ucap Kay memohon.


"Bisakah jangan banyak bicara? Ayo kita makan. Aku juga sudah lapar." Ucap Violet dengan tenang dan tersenyum. Ketenangan dan senyuman yang ia kumpulkan dari serpihan kekuatan yang ada, juga menekan sekuat mungkin rasa nyeri didalam ulu hatinya.


Kay menganggukkan kepalanya. Menggunakan kesempatan dan waktu yang tersisa untuk bersama dengan satu-satunya cinta didalam hidupnya.


"Kamu ingin makan dimana?" tanya Kay berusaha bersikap sebiasa mungkin dengan Violet.


"Direstoran tempat pertama kali kita bertemu."


"Kenapa disana? Tidak ingin mencoba tempat lain?"


"Disana ada menu-menu favoritku, dan,-"


"Jus sirsak juga." sambung Kay melanjutkan ucapan Violet.


Violey hanya melirik Kay dan tersenyum.


Drrrttt... drrrttt... drrrtt... Suara ponsel Violet bergetar. Tampak nama Chandra dilayarnya.


"Siapa? Chandra?" tanya Kay berusaha bersikap tenang meski cemburu membara didadanya.


Kay tersenyum senang dengan keputusan Violet setidaknya saat ini tidak ada yang akan menganggu waktu mereka berdua.


"Yakin tidak ingin mengangkatnya?" tanya Kay berbasa-basi.


"Bukankah sekarang waktu untukmu?" tanya Violet.


Kay hanya tersenyum lebar mendengarnya. Setidaknya Violet masih sudi memperioritaskanny Meskipun setelah beberapa jam mendatang dia harus menepati janjinya pada Violet untuk pergi sejauh mungkin, sekaligus janjinya pada rakyat Neptunus untuk segera memimpin mereka kembali.


"Sudah sampai. Ayo turun." Kay selesai memarkirikan mobilnya.


"Kay, aku ingin kamu menggendongku sampai dimeja kita." ucap Violet.


Kay memandang Violet, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.


Violet menganggukkan kepalanya, memberi kepastian jika yang Kay dengar tidak salah.

__ADS_1


"Kamu yakin? Bagaimana jika banyak yang mengambil foto kita?"


"Jadi kamu tidak mau?"


"Tentu saja akan ku lakukan dengan senang hati tuan putri." jawab Kay dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ini di Bumi jadi jangan panggil aku Tuan Putri."


"Justru karena di Bumi jadi panggilanmu Tuan Putri, jika di Neptunus maka panggilanmu permaisuri." kalimat Kay lolos begitu saja.


Violet tersenyum getir mendengar sebutan Permaisuri untuknya, bagaimana tidak itu adalah impian yang pernah Kay janjikan namun pada akhirnya hanyalah menjadikan penderitaan dalam hidupnya.


"Bukankah sudah ada permaisuri disana?" tanya Violet membuat suasana yang telah mencair kembali menegang.


"Maaf Violet, bukan maksudku mengungkit. Aku tadi mengatakannya dengan tidak sengaja." Kay gugup tersadar dengan sindiran Violet.


"Tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita turun!" ajak Violet.


"Tunggu! Jangan keluar. Aku yang akan membuka pintunya!" cegah Kay yang dituruti Violet.


Kay membuka pintu mobil untuk Violet. Setelah menekan tombol kuncinya Kay langsung menggendong Violet ala bridal style.


"Kay!" pekik Violet yang kaget dengan ulah Kay yeng begitu tiba-tiba.


"Ssttt... Aku akan menggendongmu begini sampai dilantai tiga. Diam dan berpeganglah!"


Violet tersenyum kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Kay.


Dada Violet berdebar didalam gendongan Kay.


"Aku ingin waktu berjalan melambat untuk saat ini. Aku ingin menikmati ini sebelum dia kembali pada wanita itu. Aku memang sangat ingin egois saat ini. Putri Xie maafkan aku. Aku pun ingin bahagia dengannya disaat terakhir ini. Setelah ini dia hanya akan menjadi milikmu seutuhnya." batin Violet kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kay.


"Apa aku tidak berat?" tanya Violet begitu Kay naik kedalam lift menuju lantai tiga.


"Tidak! Aku mampu terus menggendongmu diseumur hidupku jika kamu mau."


"Itu akan sangat lama. Jika kamu tua apa kamu masih bisa menggendongku?"

__ADS_1


"Jika kamu menginginkannya aku akan melakukannya sampai diujung nyawaku."


Violey tersenyum mendengar jawaban Kay yang membuat hatinya berbunga-bunga. Meskipun dengan perjanjian hanya untuk sesaat tapi Violet tersanjung.


__ADS_2