
Tiga hari kemudian.
"Bagaimana ini Lisa, Violet belum juga sadar. Bahkan dia selalu mengigau nama Kay. Sebenarnya ada apa diantara mereka? Kenapa mereka bersikap seolah-olah memiliki hubungan?" Chandra menatap lekat mata Lisa ketika mereka berdua menunggu Violet.
"Apa yang harus ku jelaskan. Aku sendiri tidak begitu mengetahui. Yang ku tau kepada Kay lah pertama kali Violet jatuh cinta. Kemudian dua kali Kay mematahkan hati Violet karena dia akan menikahi wanita lain. Dan wanita yang kedua ini aku tidak mengetahuinya."
"Apa? Dua kali?"
"Benar. Yang pertama adalah yang kay kenalkan pada saat konferensi pers dulu. Dan yang kedua aku sendiri tidak tau. Tapi Violet kemarin sempat bercerita jika mereka dijodohkan. Tapi disaat bersamaan Kay juga menjanjikan pernikahan pada Violet. Chandra, aku sendiri binggung dengan semua ini. Semua masalah Violet ini sangat rumit. Hixzz..." Lisa tidak lagi mampu menahan tangisnya.
Tampak jelas gurat kecewa di wajah Chandra mendengar penjelasan Lisa.
"Pantas saja dia menolakku, bahkan tidak ingin aku banyak berharap padanya. Ternyata karena telah ada Kay di dalam hatinya." batin Chandra kemudiam tersenyum kecut menerima kenyataan.
"Wajar kok Lis kalau Violet jatuh cinta pada Kay. Siapa yang tidak kenal Kay? Presiden Amerika pun pasti mengenalnya. Sebagai laki-laki Kay memang sempurna sebagai idaman wanita." ucap Chandra pesimis.
"Chandra, jangan bicara seperti itu! Jika kamu berpikiran seperti itu, tandanya kamu butuh lebih mengenal dia lagi. Dia tidak mencintai kekayaan Kay. Percaya padaku."
"Semoga saja ucapanmu benar. Aku semakin sadar diri untuk tidak terlalu berharap."
"Chandra jika memang Kay sudah menikahi wanita lain, ini adalah kesempatanmu. Jika kamu yakin maka berjuanglah. Bukankah saat ini ku lihat Violet sudah membuka dirinya sama kamu. Tinggal kamu berusaha membuat dia membuka hatinya. Jadi harus optimis, buang rasa pesimismu itu jauh-jauh!" Lisa berusaha menyemangati Chandra.
Chandra mengangguk, mencerna ucapan Lisa.
"Eemmmhhh Kay! Kaisar! Kay, mmmmhh..."
suara Violet mengigaukan nama Kay menghentikan obrolan mereka.
Mereka berdua bangkit dari duduknya dan mendekat pada Violet.
"Violet sayang, bangun!" suara Lisa lembut.
"Kay, Kaisar, Kay, Kay,... mmmmhh..."
Chandra memandang Lisa.
"Bagaimana?" tanya Lisa.
"Lisa, aku tidak suka Violet bertemu dia. Tapi aku lebih tidak suka Violet begini. Lihat bibirnya semakin membiru. Cobalah minta Kay untuk bisa kesini. Siapa tau kedatangannya bisa membuat Violet lebih baik."
"Tapi bagaimana denganmu?"
Chandra menghirup nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku akan berusaha untuk bisa menahan rasa sakitnya cemburu. Demi keselamatan dan kesehatannya, itu yang terpenting sekarang. Rasa sakit dihatiku tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat dia seperti ini. Jadi pergi dan cari dia. Aku yang akan menunggunya."
"Chandra, maaf jika ini terlalu menyakitimu." Lisa merasa bersalah atas keadaan yang mengharuskan Chandra untuk mengorbankan perasaannya.
"Anggap saja saat ini adalah perjuangan dan pengorbanan cintaku untuknya. Aku sadar Lis, cinta yang tulus butuh pengorbanan yang besar." Chandra memaksakan senyuman di bibirnya.
"Terima kasih. Aku pergi mencari Kay dulu."
Chandra menganggukkan kepalanya.
_ * * * _
Drrrttt... drrrttt... drrrttt... Ponsel milik Mark bergetar.
Mark melihat ada nama My Lovely Lisa dilayar ponselnya.
Semenjak Lisa mengetahui kebenaran mengenai Violet, dan Mark yang menurutnya tidak bertanggung jawab atas keselamatan adiknya, Lisa memang enggan menghubungi Mark. Bahkan berkali-kali Mark mencoba menelfonnya tapi dia abaikan, pun begitu dengan pesan yang Mark kirimkan, tidak satupun ada yang dia tanggapi.
"Siapa Mark? Angkat saja jika penting!" ucap Kay sembari memandang kota dari dalam gedung kantornya.
"Lisa."
Kay melempar pandangannya sejenak pada Mark lalu kembali kepemandangan awalnya,
Mark menggeser lencara hijau dilayar ponselnya,
"Hallo"
Mark aku di loby kantor. Aku mau bertemu dengan Kay. Tapi ditahan oleh scurity." suara Lisa.
"Ada apa Lisa? Mr. Kay sedang sibuk."
"Aku harus berbicara langsung padanya. Violet dalam bahaya."
"Apa? Bahaya apa?"
"Cepat kemari atau perintahkan scutity ini melepaskanku!"
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Mark mengakhiri panggilannya.
"Ada apa? Ada bahaya apa?"
__ADS_1
"Lisa ingin bertemu denganmu. Dia mengatakan Violet dalam bahaya."
"Apa?"
"Cepat suruh dia kemari!"
Mark menganggukkan kepalanya dan menghubungi kantor bagian keamanan untuk melepaskan Lisa dan mengantarnya sampai di kantor Kay.
Tok tok tok... Scurity mengetuk pintu ruangan Kay.
"Masuk!" suara Mark dari dalam.
"Silahkan nona. Dan maaf atas kejadian tadi."
"Hemmm.." Lisa menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk.
"Ada apa?" tanya Kay yang telah duduk di kursi mewahnya.
"Semenjak kedatanganmu kemarin Violet langsung sakit. Dokter belum mengetahui apa penyakitnya. Mereka bilang masih akan mempelajari kasus penyakit Violet ini. Aku yakin ini karenamu. Sudah tiga hari dia tidak sadarkan diri, tubuhnya sangat dingin seperti hampir membeku, bibirnya juga sudah membiru, dia sekarat tapi masih saja mengigaukan namamu." Lisa mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa tidak mengatakannya dari awal! Kamu tidak tau seberapa bahayanya itu bagi keselamatan Violet hah?" tanya Kay dengan nada tinggi sambil berdiri dari kursinya.
"Sekarang kamu menyalahkanku? Kamu lupa karena siapa dia sekarang seperti ini? Sejak bertemu denganmu hidupnya menjadi penuh masalah, penuh kesedihan, dan bahaya. Kamu sampai sekarang belum memahami juga?" Lisa menatap nanar Kay dengan air mata mengalir dikedua pipinya.
"Lisa, maksud Mr. Kay bukan seperti itu. Maksudnya kenapa kamu tidak mengatakannya dari kemarin saat hari pertama dia sakit. Mr. Kay khawatir itu akan membahayakan keselamatan adikmu." Mark mencoba menengahi mereka.
"Akh sudahlah. Percuma aku datang kesini. Kalian jangan mentang-mentang memiliki segalanya dan berkuasa bisa selalu menyalahkan orang lain. Maaf aku sudah menganggu kalian. Aku sekarang mengetahui berurusan dengan kalian adalah kesalahan besar dalam hidup kami!" Lisa langsung membalikkan badannya dan berlari meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan didalam hatinya, Lisa mengabaikan teriakan Kay yang memanggil namanya.
"Bagaimana ini Mark? Cari tau cepat dimana lokasi Violet dirawat saat ini. Aku mau kamu dapatkan lokasinya dalam 15 menit."
Mark menganggukkan kepalanya dan menghubungi Suzu.
"Kita pergi sekarang!" Kay melangkah keluar dengan berjalan cepat dan disusul Mark dibelakangnya.
Sementara itu Lisa didalam mobilnya menangis histeris.
"Violet maafkan aku. Aku gagal menjagamu dengan baik. Aku yang menyebabkan semua penderitaanmu saat ini."
"Ayah, bunda, apa yang harus aku katakan pada kalian jika, jika Violet...." Lisa tidak lagi mampu melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis didalam mobilnya.
"Bagaimana aku harus kembali dan mengatakan pada Chandra. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Lisa memukul kesar stir mobilnya untuk meluapkan amarahnya.
"Virgia! Aku harus mencarinya. Tapi kemana aku harus mencarinya aku bahkan tidak memiliki alamat maupun nomer ponselnya. Aaaaaggggrrrhhh...." Lisa mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1