
Lisa sudah bersiap dengan gaun indah yang membalut tubuh mungil dan ramping miliknya. Begitupun dengan riasan di wajah yang tampak natural namun menambah kecantikannya berlipat ganda.
Lisa menatap bayangan dirinya dibalik cermin, memeriksa kembali riasan dan pakaiannya untuk penampilan yang sempurna dihari bahagianya bersama dengan Mark.
"Bagaimana beb sudah siap?" tanya Uci begitu masuk kedalam kamar hotel tempat Lisa dirias.
"Udah, bagaimana menurutmu?" Lisa membalikkan badannya dan menunjukkan pakaian serta riasan wajahnya pada Uci.
"Amazing! Sangat cantik!" Uci melebarkan kelopak matanya sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terpesona.
"Mbak Uci serius?"
"Tentu saja! Pengantin pria sudah siap, kamu sudah siap?"
"Dimana Violet? Kenapa tidak menemuiku?"
"Violet udah disana temui tamu undangan yang sudah datang."
Lisa menganggukkan kepalanya.
"Are you ready beb?" tanya Uci dengan semangat.
"Yeah.." Lisa menganggukkan kepalanya setelah menghembuskan nafas panjang.
Kemudian Uci mengajak Lisa untuk keluar kamar dan melakukan seluruh rangkaian prosesi pernikahannya dengan hikmat.
Lisa dan Mark menggelar acara resepsi saat malam hari di ballroom hotel yang telah disewa untuk acara pernikahan mereka. Acara resepsi juga berjalan dengan lancar dan meriah, beberapa artis dan penyanyi ternama turut menyumbangkan suara emas mereka.
Ditengah sorak dan kebahagiaan semua orang di aula besar itu tiba-tiba seorang wanita yang berada ditengah-tengah ruangan tersebut menarik perhatian semua orang karena menggelepar-gelepar dan terus berputar, seketika sorak bahagia berubah menjadi teriakan ketakutan dan mereka menjauh dari wakita tersebut. Semua tamu panik hampir saja meninggalkan lokasi tersebut, namun tiba-tiba suara dentuman musik kembali membuat mereka semua terkejut. Sesaat kemudian wanita yang awalnya menggelepar tadi tiba-tiba berdiri dan langsung menari dengan apik. Beberapa detik kemudian sedikit demi sedikit tamu yang tadinya seakan ikut panik tiba-tiba berjalan ketengah dan menggerakkan tubuh mereka dengan gerakan yang sama. Rasa ketakutan dan teriakan berubah kembali menjadi sorak semangat dan tepuk tangan meriah untuk para dancer. Flashmob tersebut berlangsung kurang lebih sepuluh menit, diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah.
Belum reda tepuk tangannya suara Chandra diatas panggung kembali mengagetkan mereka dan sontak membuat mereka mengarahkan pandangan mereka keatas panggung. Chandra menyanyikan lagu romantis dan sesekali diselingi dengan puisi dengan bait-bait yang tidak kalah romantis. Diakhir lagunya Chandra berdiri dengan penuh percaya diri melangkah menghampiri Violet yang berdiri dibarisan depan dekat panggung, kemudian menggandengnya keatas panggung.
"Selamat malam semuanya. Sebelumnya maafkan saya karena telah menyela waktu dan kebahagiaan kalian semua terutama untuk Lisa dan Mark. Ijinkan saya disini untuk membagikan sedikit kisah." Chandra menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan untuk menetralisir rasa gugup yang menyelimuti dirinya sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.
"Dulu sebagai seorang penyanyi aku memiliki begitu banyak penggemar dan mereka begitu memujaku. Dimanapun tempat saat aku konser akan bisa dengan mudah mendapatkan cinta serta pujian dari mereka. Kehidupanku penuh dengan kesenangan, aku bisa mengikuti keinginanku dengan bebas tanpa beban. Hingga suatu saat aku bertemu dengan seorang seorang gadis yang sama sekali tidak tertarik padaku, dia sama sekali tidak memujaku apalagi menginginkanku. Pertama kali dalam hidupku aku merasa menjadi seorang pria biasa. Ya! Naluriku sebagai seorang pria yang merasa tertantang dan harus memperjuangkan sesuatu yang ingin di dapatkan. Pertama kali dalam hidupku aku sudi sibuk mencari tau tentang seorang gadis, dan aku bahkan dengan senang hati mengikutinya secara diam-diam karena gadis itu selalu menolak kehadiranku. Bahkan kalian harus tau jika dia tidak pernah sekalipun dia berbicara manis padaku."
"Hahahaaa..." Suara tawa tamu undangan merespon cerita Chandra yang mengenaskan tapi karena disampaikan dengan santai dan sedikit humor maka menjadikan kesan lucu.
"Tapi aku menyukainya! Aku menyukai sikapnya yang sangat galak. Hingga suatu ketika dia menghilang tanpa jejak, aku merasa gila karena tidak bisa menemukannya. Aku tidak lagi perduli dengan karirku, akupun tidak perduli dengan hidupku. Namun aku memiliki kesempatan kedua dan kembali menemukannya. Sejak itu aku berjanji, tidak perduli dia akan menerima cintaku atau tidak aku akan tetap ada bersamanya. Aku tidak akan pernah memintanya untuk selalu bersikap manis padaku, karena sikap galaknya yang justru membuatku merasakan cinta pertama. Malam ini, dihadapan kalian semua aku akan melamarnya, aku tidak akan memaksanya menerimaku sebagai kekasihnya tapi jika dia menolakku sebagai kekasihnya aku akan memaksanya untuk menjadi sahabatku. Dengan begitu aku akan bisa terus menjaganya, aku bisa terus menjadi tempat yang menjadi tujuannya ketika merasa membutuhkan seseorang. Xing Arshine Violet aku ingin kau malam ini memilih, kau ingin menjadi kekasihku atau sahabatku. Kau harus memilih salah satunya! Dan aku akan menghormati apapun keputusanmu. Mereka semua menjadi saksinya." Chadra berlutut dihadapan Violet dengan membawa sebuah boneka kecil yang lucu dan sebuah kota cincin.
"Jika Sahabat ambillah boneka ini dan simpan. Jika Kekasih ambillah cincin ini dan akan kupasangkan dijari manismu." ucap Chandra dengan tenang meskipun dadanya berdebar menunggu jawaban dari Violet.
Suara riuh ballroom kembali menggema,
Puluhan ponsel dan kamera wartawan berebut untuk mengabadikan moment tersebut.
"Cincin, cincin, cincin,.." suara riuh itu terus menggema membuat Violet yang sendari tadi tidak berbicara sepatah katapun menjadi semakin gugup Hanya beberapa orang yang tidak ikut serta terhanyut dalam suasana riuh tersebut, yaitu, Mark, orang tua Mark, Mike, serta Suzu. Mereka hanya saling melempar pandangan dengan ekspresi wajah tegang serta kecewa dengan yang terjadi dihadapannya. Bagaimana tidak, karena mereka tau bahwa dibalik kehebohan yang terjadi dihadapannya ada seorang yang masih belum bisa menyembuhkan lukanya, Kaisar Ri Kay Ray.
__ADS_1
Kedua mata Vioet memendung, dadanya terasa begitu sakit, ingatannya kembali kepada cinta pertamanya, Ri Kay Ray yang kini tidak mungkin lagi bisa ia temui. Namun ia juga ingin terlepas dari bayang-bayang cinta Kay, terlebih dia telah berjanji untuk memberikan kesempatan pada Chandra dan belajar untuk mencintainya.
Violet menghembuskan nafas kasar untuk membuang rasa sesak didadanya, tangan Violet meraih kotak cincin yang berada ditangan kanan Chandra.
Semua tamu bertepuk tangan dan Chandra segera memasangkan cincin dengan mutiara kecil diatasnya itu ke jari manis milik Violet. Chandra kemudian bangkit dan memeluk serta mencium pucuk rambut Violet.
"Terima kasih Vi atas kesempatan yang kamu berikan padaku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Chandra kembali mempererat pelukannya, Violet hanya terdiam dalam pelukan Chandra, ada rasa perih didalam hatinya hanya dirinya yang tau rasa sakit itu. Setetes air disudut matanya lolos dari bendungannya yang menggambarkan rasa sakit itu.
Chandra mengurai pelukan mereka,
"Baiklah ayo kita lanjutkan acara pesta malam ini. Sekali lagi terima kasih untuk Lisa dan Mark, juga pada tamu undangan semuanya." Chandra kembali menggandeng tangan Violet dan mengajaknya berdansa bersama dengan yang lainnya.
Sementara itu diatas pelaminan Mari berbisik,
"Apa tadi semua melalui persetujuanmu?"
"Tentu saja!"
"Kamu tidak membicarakan masalah ini sebelumnya denganku. Kamu berhutang penjelasan!" tegas Mark dengan suara penuh penekanan.
Lisa terdiam memahami kesalahannya.
Mark kemudian menuntun Lisa untuk ikut serta berdansa bersama dengan yang lainnya. Setelah beberapa saat Mark mendekati Chandra dan Violet.
"Boleh ganti denganku?" tanya Mark sambil mengulurkan tangannya pada Violet.
"Sekarang dia juga adikku!"
"Sudah-sudah kak Mark hanya ingin berdansa denganku. kenapa harus ribut. Berganti sebentar saja." Violet menegahi membuat Chandra mengalah dan bergantian berpasangan dengan Lisa.
"Kamu benar-benar sudah melupakannya Vi?" tanya Mark tanpa menghentikan gerakannya.
"Aku harus melanjutkan hidupku kak."
"Kamu menyukai Chandra sekarang?"
"Kak, aku sedang belajar menerima dan mencintainya."
"Kamu yakin tidak sedang menyakiti dirimu sendiri Vi?"
"Chandra tidak pernah menyakitiku kak. Dia mencintaiku dengan perjuangan dan tanpa menyakitiku."
"Ku harap suatu saat kamu akan mengerti dan disaat kamu mengerti kebenarannya kamu tidak akan pernah menyesal seperti dulu."
Violet menghentikan gerakannya dan menatap mata Mark menyelidik,
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Maaf Violet. Aku tidak diijinkan menjelaskan padamu. Jika kamu beruntung waktu yang akan memberitahumu siapakah yang berjuang sesungguhnya." Mark kemudian melepaskan Violet dan meninggalkannya mematung untuk kembali pada Lisa.
Chandra menghampiri Violet,
"Apa semua baik-baik saja? Apa yang dia katakan padamu?" tanya Chandra curiga.
"Tidak ada. Dia hanya memberiku ucapan selamat. Aku lelah ingin istirahat. Antar aku kekamar." pinta Violet.
Mereka berdua meninggalkan pesta yang belum selesai itu menuju kamar Violet.
Violet merebahkan dirinya disandaran sofa, sedangkan Chandra duduk disampingnya dengan khawatir.
"Mau minum atau sesuatu?"
"Aku ingin memelukmu. Boleh?" tanya Violet dengan mata sayu.
"Tentu saja. Aku kekasihmu, kamu boleh memelukku sepuasmu."
Violet kemudian memeluk Chandra dengan erat.
"Apa yang sudah terjadi tadi Vi? Kanapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa membutuhkan pelukanmu."
"Baiklah." Chandra memilih menyerah bertanya pada Violet daripada memaksanya yang pasti akan membuat Violet semakin sedih.
_ * * * _
Sementara itu diruang pesta Suzu tengah berdiri menimati pesta dengan gelas wine ditangan kanannya.
"Hai!" suara sapaan pria yang berdiri dihadapannya membuyarkan kesenangan matanya.
"Yaa."
"Mau dansa denganku?"
"Maaf ya aku tidak suka berdansa dengan orang yang tidak ku kenal!" tolak Suzu sembari memaligkan wajahnya.
"Baiklah. Namaku Boy, kamu?" Boy mengulurkan tangannya.
Sejenak Sudu melirik tangan Boy dan menelisik wajahnya sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Boy.
"Suzu."
"Namamu unik. Dansa?"
"Baiklah!"
__ADS_1
Akhirnya Suzu menyetujui ajakan Boy.