
"Mbak, kosongkan jobku untuk 1 bulan." pinta Violet ketika mereka sama-sama didalam mobil menuju lokasi event pameran sebuah brand kosmetik yang mengontrak Violet menjadi salah satu modelnya.
"Apa Vi? 1 bulan? Kamu nggak salah?" tanya Uci kaget dengan permintaan Violet yang mendadak.
Violet menggelengkan kepalanya.
"Apa karena masalahmu dengan Lisa?"
"Bukan. Tapi aku merasa lelah. Aku pengen liburan."
"Jika masalahmu dengan Lisa aku bisa bantu kamu untuk memperbaiki semua ini Vi."
"Tidak perlu. Kami baik-baik saja, hanya saja aku jujur masih kecewa dengan sikapnya."
"Vi, kalian hanya salah paham."
"Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan dia mau menjalin hubungan dengan siapapun. Aku hanya kecewa kenapa dia begitu memuja Kay sampai dia takut menolak untuk diner dan memintaku menggantikan dia. Dan sekarang dia justru bersama dengan Mark, sekretarisnya Kay. Bayangkan mbak Uci bagaimana jika Kay tau? Bukankah dia akan kecewa dengan sikap kak Lisa?"
"Hemmmm... Violet, kamu sudah berapa lama jadi adiknya Lisa?"
"Pertanyaan macam apa itu mbak Uci?" sungut Violet mendapat pertanyaan yang menurutnya tidak perlu jawaban.
"Sudah, jawab saja!"
"Sejak aku lahirlah." jawab Violet malas.
"Tepatnya sudah berapa tahun?"
"23 tahun." Violet sambil memainkan kuku jari tangannya.
"Selama ini siapa yang mengurus semua urusanmu, selama orang tuamu tidak ada." pertanyaan Uci berhasil membungkam Violet, menyadarkannya dengan telak.
Ingatannya kembali kemasa mereka masih kecil bersama, setiap Violet mengalami kesulitan kakaknyalah yang selalu membantunya, setiap dirinya menginginkan sesuatu kakaknyalah yang selalu berusaha mendapatkan untuknya.
Sebutir air matanya lolos dari bendungan kelopak matanya.
"Memang dialah yang selalu mengerti dan berkorban untukku." ucap Violet lirih.
"Dan tidak ada yang mengenal dia dengan sangat baik lebih dari kamu mengenalnya. Apa menurutmu dia memiliki sifat seperti yang kamu sebutkan tadi?"
Violet menggelengkan kepalanya,
"Aku tidak yakin."
"Kalaupun benar Vi, kamu tidak bisa menghakimi dia begitu saja tanpa memberi dia kesempatan untuk menjelaskan. Meskipun terkadang Lisa terkesan mengatur, memaksa, bahkan bersikap lebih kekanakan tapi dia memiliki keperduian yang besar kepada orang-orang yang dia cintai. Kamu tau tidak, terkadang dia bersikap manja itu disebabkan dia juga ingin merasakan perhatian dan kasih sayang sebagaimana dia memberikannya pada orang-orang disekitarnya." penjelasan Uci menghantam dengan keras keegoisan Violet.
Violet menganggukkan kepalanya, mengerti kesalahannya.
"Tapi aku tetap ingin break 1 bulan mbak."
"Kenapa Vi?" suara Uci sekarang lebih lembut.
__ADS_1
"Aku lelah mbak. Aku pengen memiliki waktu menikmati hidupku, seperti kebanyakan orang. Ya walaupun aku menyukai pekerjaanku, tapi aku merasa benar-benar ingin istirahat dan memanjakan diriku sendiri."
"Tapi 1 bulan lama banget Vi."
"Atur mbak Uci lah bagaimana caranya selama 1 bulan aku bisa libur."
"Bagaimana dengan kontrakmu dengan event-event besar?"
"Batalkan! Kalau cuma pemotretan iklan dan sebagainya jika memang bisa dimajuin jadwalnya, majuin aja. Aku mau libur mulai minggu depan."
"Kamu yakin dengan keputusanmu?"
"Yakin mbak. Jadi atur semua mulai besok."
"Meskipun sangat disayangkan, dan kamu tau aku terpaksa melakukannya." Uci mengenggam hangat tangan Violet.
"Hahahaa... aku tau. Terima kasih mbak Uci. Kamu yang terbaik."
"Aku tau. Dan aku memang selalu bisa diandalkan." jawab Uci dengan percaya diri.
"Hahahaa..." mereka tertawa berdua.
_ * * * _
21:30 pm
Tok tok tok...
"Kak aku masuk ya.."
Sepi, tidak ada jawaban dari dalam.
Violet membuka pintu kamar Lisa, wajahnya menoleh celingak-celinguk tidak tampak keberadaan kakaknya.
"Kemana dia? Apa belum pulang." pikir Violet sambil duduk disisi ranjang kakaknya.
Ceklek...
Tampak Lisa keluar dari pintu kamar mandi.
"Sejak kapan masuk kekamarku?" tanya Lisa yang terkejut melihat Violet didalam kamarnya.
"Baru semenit yang lalu. Tadi aku ketuk pintu dan ijin nggak ada jawaban dari dalam. Jadi aku masuk. Maaf ya."
Lisa menganggukkan kepalanya,
"Aku di kamar mandi pake ini." jawab Lisa sambil menunjukkan headset di telinganya.
"Ada apa?" tanyanya kemudian sambil duduk di sisi lain ranjangnya.
"Kak aku minta maaf ya untuk sikapku beberapa hari ini." Violet sambil mendekat kakaknya.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah apapun padaku."
"Tapi dua hari aku tidak menyapa dan menghindari kamu."
"Ku pikir kamu butuh waktu sendiri Vi. Aku paham kamu mungkin memiliki rasa kecewa padaku karena menyembunyikan hubunganku dengan Mark."
"Aku memang sangat terkejut. Tapi setelah ku pikir-pikir itu semua adalah keputusanmu. Dan aku yakin kamu tidak akan memilih dia tanpa mempertimbangkan banyak hal."
"Thanks Vio, kamu sudah mengerti dan menerima pilihanku." ucap Lisa sambil memeluk Violet yang berada di sisinya.
"Tentu saja. Hanya saja aku binggung bagaimana bisa dengan sekretaris Mark? Bukankah kakak begitu memuja Kay?" Violet membalas pelukan kakaknya.
Lisa tersenyum mendapat pertanyaan adiknya. Lisa paham dibalik pertanyaan Violet itu ada niat untuk mengetahui banyak hal tentang Kay.
"Sepertinya dalam kisah ini kalian akan bertukar kesempatan untuk menjadi bucin." batin Lisa.
"Aku awalnya memang begitu mengagumi Kay. Coba pikir Vi, wanita mana yang bisa menolak pesona Kay? Tapi aku sadar bahwa aku bukan yang diinginkan Kay, dan mengenal Mark justru membuatku sangat nyaman. Aku tidak pernah merasa senyaman ini dalam menjalin hubungan. Bahkan disaat LDR dan menahan rindu dia berhasil membuatku begitu percaya pada kesetiaannya."
"Semudah itu?"
"Vi, dalam cinta kita tidak perlu banyak waktu untuk memahaminya. Disaat kita nyaman dan yakin itu pilihan yang terbaik, sebaiknya jangan disia-siakan dengan mengulur waktu. Apalagi memakai alasan kuno seperti, kita butuh waktu untuk mengenal satu sama lain, kita belum lama kenal, atau belum percaya dan takut kecewa. Ketika kita menyia-nyiakan waktu dan kesempatan maka di masa depan kita hanya memiliki sedikit waktu untuk memperjuangkan. Jadi begitu yakin langsung perjuangkan. Supaya jangan menyesal." Lisa menasehati adiknya.
"Tapi bukankah mengambil keputusan buru-buru juga tidak baik?"
"Bukannya tadi sudah kubilang jika kita sudah merasa nyaman dan hati yakin bahwa itu pilihan yang terbaik. Jika belum yakin ya tidak berlaku."
"Tapi bukankah perempuan harus jual mahal ya?"
"Jual mahal bukan berarti kamu membuat seorang laki-laki menunggu untuk kamu menurunkan hargamu dengan tanpa kepastian. Laki-laki itu wajib berjuang BUKAN wajib menunggu harapan yang tidak jelas."
"Benar juga. Pantas saja waktu Kay memperkenalkan calon istrinya di pers komferens itu kakak terlihat biasa saja dan tidak sedih." Violet menyenggolkan bahunya di bahu kakaknya sambil mengedipkan matanya mengoda Lisa.
"Lalu apa Kay sudah mengerti hubungan kalian?" lanjut Violet kemudian.
Lisa berdiri, berpindah duduk ke kursi di meja riasnya.
"Aku rasa belum."
"Apa Mark takut memberi tahu Kay?"
"Tidak takut. Tapi lebih tepatnya bukan waktu yang tepat."
"Kenapa?"
"Aku tidak tau pasti Vi, Mark tidak menjelaskannya secara terperinci."
"Memangnya sekarang Kay ada dimana? Kenapa tiba-tiba menghilang?"
"Aku juga tidak tau dia ada dimana. Saat aku tanya Mark hanya mengatakan bahwa Kay berada ditempat yang sangat jauh dari sini. Dan dia sedang fokus-" Lisa menahan dirinya untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Fokus mempersiapkan pernikahannya ya?" tanya Violet dengan dada berdebar tidak karuan.
__ADS_1