
Mataku terasa panas melihat mereka, jantung didalam dadaku berdetak sangat cepat, bahkan otot-otot tanganku seakan tidak lagi mampu kutahan untuk menghajar lelaki itu sampai patah seluruh tulang tubuhnya.
Tepukan pelan tangan Mark di pundakku menyadarkanku. Tidak ada satu kata pun terlontar dari mulutnya namun terlihat jelas makna tatapan matanya padaku.
"Mark kita pulang saja sekarang." ucapku sambil dengan cepat kubalikkan badanku meninggalkan tempat itu. Mark menyusulku.
"Sayang mau kemana?" tanya Lisa pada Mark yang berada dibelakangku, saat aku melewatinya dengan langkah panjangku.
"Sayang maaf kami harus pergi." jawab Mark, Hanya itu yang bisa kudengar karena rasanya bukan hanya mata dan hatiku yang panas. Tapi seluruh tubuhku pun ikut memanas.
* * *
"Mark, benarkah dia akan lebih bahagia jika tanpa aku?" tanyaku ketika didalam mobil.
"Pikiran waita tidak bisa dibandingkan dengan pria. Wanita terkadang melihat kenyataan dengan matanya, sedangkan pria melihat kenyataan dengan mata, telinga, dan pikirannya. Wanita mempertimbangkan suatu masalah dengan perasaannya, sedangkan pria mempertimbangkan masalah dengan akal pikirannya. Wanita hanya takhluk dengan tiga hal, pertama kemewahan dan penampilan, kedua perasaan, dan ketiga dengan kesabaran. Untuk masalah ini Violet tidak bisa ditakhlukkan dengan kemewahan dan wajahmu yang menawan, dan Violet juga ragu untuk mempercayai perasaanmu karena terlalu seringnya dia kecewa dengan banyak hal yang telah dia ketahui selama ini. Satu-satunya yang tersisa adalah kesabaran. Masalahnya bisakah kau bersabar lagi untuk menakhlukkannya?"
Jawaban Mark sangat benar. Dan kenyataannya rasanya sangat sakit! Tapi mungkin ini adalah hukuman bagiku karena seperti inilah sakit yang telah dua kali ku torehkan di hati Violet. Dibandingkan dengan penderitaannya selama ini apalah arti perasaan yang aku rasakan saat ini.
"Maafkan aku Vi. Aku terlambat menyadari rasa sakitmu selama ini." batinku sebelum air mataku akhirnya jatuh. Violet, dia adalah wanita kedua yang mampu menjatuhkan air mataku setelah ibundaku.
KAY POV END
_ * * * _
Sementara itu setelah kepergian Kay dan Mark Lisa menyusul Violet ke kolam renang. Lisa melihat Chandra sedang memeluk Violet sambil mengusap punggungnya.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Lisa ketika telah sampai disisi kola.
Mereka berdua mengurai pelukannya dan Chandra menuntun Violet ke tepi kolam.
Tidak ada jawaban dari Chandra maupun Violet. Violet menyudahi kesenangannya dikolam renang itu dan memilih pergi meninggalkan Lisa dan Mark tanpa kata.
"Bajumu basah. Bagaimana jika memakai baju ayah? Nanti kucarikan yang cocok untukmu, yang penting kamu tidak sakit."
"Thanks Lis."
Lisa menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam rumah diikuti oleh Chandra.
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Chandra Lisa menghampiri Violet kedalam kamarnya.
Tokk tok tookk...
"Vi kakak masuk ya."
Tidak ada jawaban. Lisa membuka pintu kamar yang tidak dikunci dan masuk.
Lisa melihat Violet sudah duduk ditepi ranjangnya sambil memeluk guling.
__ADS_1
"Violet, kenapa?"
Violet menghapus sisa air mata yang masih mengalir dipipi dan ujung matanya.
"Aku tau Vi pasti sulit untuk kamu memaafkan Kay. Tapi kamu jangan terpuruk dengan semua ini. Kakak yakin kamu lebih kuat dari yang bisa ku bayangkan."
"Hatiku sakit setiap melihatnya. Aku takut mendengarkan semua ucapannya. Aku takut itu hanya akan memberikan harapan lagi dalam diriku lalu aku kembali dihempaskan dengan keras pada rasa sakit yang sulit ku obati. Tapi jika tidak melihatnya aku sangat rindu padanya." Violet tenggelam dalam isak tangisnya. Lisa menghampiri Violet dan memeluknya erat.
"Kakak ingin sekali membantumu sayang, tapi aku takut justru membuatmu seperti ini lagi. Aku tidak ingin lagi mencampuri urusan pribadimu, semua keputusanmu akan aku dukung, dan jika kamu membutuhkanku maka katakanlah."
"Kak, Chandra sudah pulang?"
"Belum."
"Aku terlalu jahat padanya. Aku memanfaatkannya untuk membuat Kay cemburu."
"Dia akan mengerti. Jika boleh jujur aku lebih tenang jika kamu bersama dengan Chandra. Tapi aku tau hatimu untuk Kay. Terserah kamu mau memilih siapa. Yang penting kamu bahagia."
"Aku ingin memberikan kesempatan pada Chandra untuk membuka hatiku. Menggantikan posisi Kay."
"Apa keputusanmu tidak terlalu terburu-buru?"
Violet menggelengkan kepalanya,
"Lebih cepat lebih baik. Jika berhasil maka aku juga akan cepat mengubur perasaanku pada Kay."
"Vi, apa kamu tidak curiga pada Kay?"
"Jika benar dia menikah dengan gadis itu, kenapa dia justru menyusulmu kemari?"
Violet tersenyum getir,
"Dia kesini bukan menyusulku. Tapi mengurus bisnisnya. Dan sikapnya padaku itu hanyalah mungkin dia merasa bersalah atau cemburu sesaat dengan Chandra."
Lisa menganggukkan kepalanya, alasan Violet sangat masuk akal.
_ * * * _
Di Neptunus.
"Putri Xie aku mendapatkan pesan dari baginda Kaisar jika kita tidak bisa melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Karena kakak angkatku, Pangeran Mark juga akan menikah. Aku diijinkan menikah sekurang-kurangnya seminggu setelah pernikahannya." ucap Feng saat mengunjungi Putri Xie di Istana Xierus.
"Itu tidak masalah bagiku. Yang terpenting Pangeran Feng tetap bersedia menikahiku." jawab Putri Xie malu-malu.
Feng tersenyum dan menganggukkan kepalanya,
"Bagaimana jika aku tidak sanggup menunggu selama itu?"
__ADS_1
"Apa maksud ucapan Pangeran Feng?" tiba-tiba air muka Putri Xie berubah menjadi memerah.
"Kemarilah aku akan membisikkannya padamu!"
Putri Xie kemudian merubah duduknya menjadi dekat dengan Feng. Feng menarik lengan tangan putri Xie dan membuatnya terjatuh kedalam pelukan Feng.
"Maksudku, aku tidak sabar untuk segera menjadikanmu istriku." ucap Feng sambil menata rambut Putri Xie yang menutupi wajahnya karena terkena terpaan angin.
Seketika pipi Putri Xie merona oleh rayuan Feng,
"Aku baru mengetahui ternyata Pangeran Feng pandai merayu. Berapa banyak gadis telah Pangeran patahkan hatinya karena rayuan itu?"
"Aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Sungguh."
"Tapi bagaimana bisa pandai merayu jika tidak ada pengalaman?"
"Itu karena aku membaca sebuah buku yang dibawa adikku Suzu dari Bumi."
"Apakah pria di Bumi suka sekali merayu wanita?"
"Begitulah yang tertulis. Tapi mereka selaku merubah-rubah cara merayu wanita."
"Oh ya?"
"Emm benar." Feng menganggukkan kepalanya meyakinkan Putri Xie atas ucapannya.
"Ada yang merayu dengan ucapan, ada yang merayu dengan bentuk tubuhnya, ada yang merayu dengan suaranya, ada yang merayu dengan hartanya."
"Lalu apa wanita di Bumi pandai merayu pria?"
"Benar. Wanita di Bumi merayu Pria dengan ucapan yang mendayu-dayu juga kecantikan dan bentuk tubuhnya."
"Aku ingin sekali membaca buku itu. Maukah Pangeran meminjamkannya untukku?"
"Tentu saja. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Ini." Feng menunjuk bibir Putri Xie.
Putri Xie menundukkan pandangannya dari mata Feng.
Feng menundukkan kepalanya untuk mengecap bibir Putri Xie, namun telapak tangan Putri Xie lebih cepat menutup bibirnya membuat Feng mengurungkan niatnya.
"Emm... Se-sebaiknya menunggu sampai kita sudah menikah." ucap Putri Xie gugup.
Feng tersenyum senang dengan penolakan Putri Xie,
__ADS_1
"Baiklah. Tapi jika disini bolehkan?" Feng menunjuk kening.
Putri Xie tidak menjawab pertanyaan Feng, hanya semburat merah yang kembali tampak di pipinya sebagai jawabannya.