Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Pencarian IX


__ADS_3

Lisa menghabiskan teh hangatnya. Setelah selesai dan membayar tehnya mereka kembali berjalan mengitari keramaian tempat tersebut.


"Vi tunggu." Lisa memegangi perutnya.


"Kenapa?"


"Vi, Hoeeeekk...." Lisa memutahkan isi perutnya dibaju Violet.


"Hiiiiihhh... jorok banget si. Bauuuu..." teriak Violet kesal.


"Sorry Vi. Aku gak kuat nahan lagi."


"Udah kotor dan bau. Gimana nih."


"Kita bersihkan ditoilet dulu deh."


Kemudian mereka pergi ketoilet. Lisa merasa sangat bersalah karena membuat baju adiknya kotor. Sementara Violet membersihkan bajunya Lisa pergi membelikan baju untuk Violet.


Tok took toook...


"Vi buka pintunya. Ganti bajumu dengan ini."


Violet membuka pintu toilet kemudian mengeluarkan tangannya mengambil baju dari Lisa.


"Loh kok samaan?" Violet terkejut karena Lisa sudah memakai baju yang sama dengannya. Kaos warna pink dengan gambar karakter anak memegang gambar hati serta panah bertulis TERLOVE.


"Hehee... aku tadi beli disitu." Lisa menunjuk lapak pakaian yang masih terlihat dari tempat mereka berdiri.


"Lucu iiih..."


"Murah kok, 40 ribu. 2 dapat diskon jadi 70 ribu." sahut Lisa sambil sibuk merapikan rambutnya.


"35 ribu?"


"Iyaa..."


"Sorry Vi adanya hanya ini yang mudah didapat."


"Aku suka. Aku malah nggak nyangka harganya 35 ribu. Makasih." Violet memeluk Lisa.


"Ayo beli lagi. Aku mau warna yang lain."


"Serius Vi beli lagi?"


"Iyalah. Kita sering-sering beli baju couple gini."


"Bagaimana kalau kita dikira L*sbi?"


"Menjijikkan. Aku bahkan belum pernah tau rasanya dicium laki-laki. Dan pasti dicium laki-laki lebih menyenangkan daripada dicium sesama perempuan."


FLASH BACK OFF

__ADS_1


"Baju 35 ribu dan dia memborongnya?" tanya Chandra dengan air muka tidak percaya, kemudian tersenyum manis membayangkan tingkah Violet. Model berkelas yang tidak gengsi untuk memakai baju dengan harga sangat murah.


"Benar. Violet membeli 10 baju sekaligus. Makanya aku hanya bisa tertawa jika kamu berpikir akan menarik perhatian adikku dengan brand. Dia sudah terbiasa memakai barang dengan brand ternama saat menjadi model. Tidak semua perempuan bahagia dengan materi saja."


"Tapi bukannya semua perempuan suka dengan barang bagus dan mahal?"


"Tentu saja. Itu naluri. Tapi terkadang bahagia itu tidak selalu tentang harga dan brand."


"Lalu bagaimana cara mendekati dia? Hobinya rebahan. Tentu tidak mungkin ku ajak dia rebahan bersama. Dan kebiasaannya saja tidak kalah aneh, Menyendiri. Kalau dia suka menyendiri trus bagaimana aku mendekatinya, yang ada aku lagi-lagi diusir sama dia."


"Pikir saja sendiri."


"Tapi tunggu Lis, emang bener Violet belum pernah mendapatkan ciuman dari seorang laki-laki?"


"Dulu sih Iya. Tapi sekarang aku gak yakin. Hahahaa.."


"Jadi dia dia sudah punya seseorang? Siapa?"


"Aku tidak bilang IYA. Aku cuma bilang kalau aku tidak yakin." ucap Lisa sambil mengingat Violet dan Kay.


"Oh ya, berapa lama kamu sudah mengenal Violet? Sampai sepertinya kamu begitu tergila-gila padanya."


"Belum lama. Aku baru baru bertemu dengannya 2 kali."


"What? 2 kali?"


Chandra menganggukkan kepalanya dengan raut wajah serius.


"Kenapa Violet seberuntung itu. Dulu Kay yang mengejarnya padahal belum pernah bertemu. Sekarang Chandra yang juga tergila-gila padanya padahal baru 2 Kali bertemu." batin Lisa.


"Emm... Cantik sudah pasti. Dia galak dan suka sulit ditaklukkan. Untuk menaklukkannya harus ada pengorbanan atau perdebatan. Tapi dibalik sikapnya itu ada sifat yang lembut didalam hatinya."


Lisa menganggukkan kepalanya, mengerti alasan Chandra memang benar adanya.


_ * * * _


"Nona Violet ayo bangun..." Ling datang bersama beberapa pelayan wanita lain untuk membersihkan kamar.


Tidak ada respon Ling mendekat menyentuh punggung Violet untuk membangunkannya.


Tapi Ling merasakan sesuatu yang aneh kemudian menarik selimut Violet pelan.


"Nona, apa yang terjadi?" Ling gugup sambil membetulkan posisi tidur Violet yang tadinya meringkuk.


"Minum dulu nona." Ling dengan tangan gemetar membimbing Violet minum air yang dia ambil dari nakas sebelah ranjang Violet.


"Kalian laporkan pada yang mulia kaisar ataupun pangeran Mark!" teriak Ling pada para pelayan lain.


"Tolong Panggilkan dokter dan beritahukan Nona Violet tubuhnya sangat panas." perintahnya kemudian pada dayang lain yang masin berdiri didekatnya.


Kemudian pelayan itu juga segera pergi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Gia datang bersama dengan seorang temannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Gia sambil memeriksa Violet hanya dengan sebuah alat yang ia pasang ditangan Violet dan tersambung dengan sebuah layar monitor.


"Saya tidak tau. Saya masuk untuk membangunkannya. Dan tiba-tiba sudah seperti ini."


"Jantungnya berdetak sangat cepat. Bisa berbahaya jika tidak segera diatasi. Panggilkan kaisar!" perintahnya sambil memegang kening dan leher Violet.


"Sudah dipanggil." jawab Ling.


"Dia kenapa?" tanya Kaisar yang tiba-tiba sudah sampai diruangan itu dengan mimik panik.


"Kaisar, hanya anda yang bisa menolongnya."


"Bagaimana caranya?" Kaisar mendekat dan mengambil alih posisi Ling.


"Ambillah energi panasnya. Ini bisa sekaligus membantu anda. Sepertinya dia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini."


"Bagaimana aku melakukannya?"


Gia diam sebentar berpikir. Bukan dia tidak tau caranya. Hanya saja dia binggung cara mengatakannya.


"Peluk dan letakkan tangannya di dada kiri anda. Anda harus melakukannya dengan kulit kalian saling menyentuh." suara Gia terdengar bergetar.


"Aku? Melakukannya? Tidak masuk akal!" Kaisar menatap Gia dengan murka.


"Jika tidak dia tidak akan tertolong."


Mendapat jawaban dari Gia Kaisar langsung membuka pakaian atasnya mendekat pada Violet. Ia memegang tangan Violet dan meletakkan di dadanya.


Beberapa saat berlalu tidak ada perubahan. Justru tubuh Violet menjadi bergetar dan mulai menggigau.


"Tidak berhasil. Lalukan apapun untuk menyelamatkan dia. Jika tidak kau juga akan menerima hukuman dokter Gia!"


Air muka Virgia berubah pucat mendengar murka Kaisar.


"Maaf yang mulia. Mungkin ada sesuatu yang menghalangi."


"Lalu bagaimana cepat katakan."


Virgia maju mendekati Kaisar dan berbisik.


"Keluar kalian semua.." teriak Kaisar.


Meskipun dengan rasa bimbang dan khawatir mereka tetap harus taat pada perintah Kaisar mereka. Mereka semua akhirnya meninggalkan kamar tersebut. Hanya tersisa Violet dan Kaisar.


"Violet, Buka matamu!"


Kaisar memandangi wajah Violet yang semakin basah oleh keringat. Juga mulutnya tidak berhenti menggigau dengan ucapan yang sulit untuk dimengerti.


"Maafkan aku Violet."

__ADS_1


Kemudian Kaisar merapatkan pelukannya dengan tubuh Violet dan meletakkan tangan Violet di dada kirinya sembari mencium Violet dengan tubuhnya yang gemetar.


Dalam ingatannya inilah saat pertama dia berbuat hal sedekat dan seintim ini dengan seorang wanita. Perlahan rasa hangat mengalir kedalam dadanya. Pola yang ada di dadanya perlahan memudar. Berganti dengan semakin jelasnya pola yang ada di kening Violet.


__ADS_2