Jodoh Kaisar Neptunus

Jodoh Kaisar Neptunus
Rahasia Yang Terungkap II


__ADS_3

"Bagaimana keadaan yang mulia?"


"Dia mendapat serangan dari energi dingin itu lagi."


"Apakah kamu sudah menemukan cara untuk mengatasinya?"


"Kami terus melakukan penelitian, tapi sudah sekian lama tidak mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Hampir semua elemen yang mengeluarkan energi panas kita gunakan tapi tidak ada satupun yang cocok dan aman untuk yang mulia."


"Mungkin benar mitos itu bahwa hanya pertalian dengan seorang wanita yang memiliki energi yang cocok dan besar saja yang bisa menyembuhkannya."


"Dokter, bukankah kamu sudah berkeliling ke berbagai planet, sudah banyak hal kamu temukan solusinya. Tapi kenapa kamu sekarang begitu pesimis sampai harus mempercayai mitos dan kutukan?"


"Pangeran, Jangan lupakan budaya leluhur kita. Benar dunia kita mengalami banyak perubahan dan kemajuan. Setiap planet saling berlomba mengembangkan tekhologi dan membangun peradaban. Tapi ada hal-hal yang mengikat masa depan dengan masa lalu yang tidak boleh diputuskan. Yaitu adat dan budaya. Mungkin dirimu terlalu lama dibumi sampai-sampai pikiranmu sudah seperti mereka."


"Maaf aku bersalah. Aku sudah hampir putus asa, semakin lama yang mulia semakin lemah. Sedangkan kita belum menemukan solusinya meskipun sudah banyak usaha yang kita lakukan."


"Pangeran, apakah kamu ingat bahwa sempat ada yang menyerap energi dingin dari tubuh yang mulia kaisar?"


Ingatan pangeran kembali pada saat Kaisar berada dalam ruang XU. Kaisar sendiri yang mengatakan bahwa dia mendapatkan energi dari seorang gadis yang saat itu dia perjuangkan.


"Violet?" ucap sang pangeran begitu berhasil mengingat semuanya.


"Benar. Sepertinya gadis itulah solusi yang bisa kita usahakan sekarang."


"Tapi bagaimana caranya? Kaisar bahkan sudah tidak lagi mengingat apapun tentang dia. Dan pasti tidak akan mudah membawanya kesini."


"Jika begitu, buatlah dia yang mau kesini dengan kemauannya sendiri."


"Akan berresiko besar. Bagaimanapun dia memiliki keluarga yang tidak akan membiarkannya pergi kesini. Dan jika terjadi sesuatu bagaimana kita bertanggung jawab nanti."


"Benar juga. Tanpa ijin kaisar kita juga tidak bisa membawa manusia kesini. Akan sangat berresiko jika ternyata dia bukan manusia yang bisa dipercaya."


"Justru soal bisa dipercaya atau tidak itu bukan masalah besar. Kulit kita saja bisa mendeteksi kejujurannya jika berada disini."


"Hahahaa... Kamu benar pangeran."


"Apa sebaiknya kita adakan pertemuan untuk membahas hal ini? Tapi bagaimana kita harus memberitahukan ini pada yang mulia kaisar?"


"Kita diskusikan ini bersama dengan menteri dan penasihat istana. Kita harus memperjuangkannya demi kaisar dan bangsa kita."


Dokter muda itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


_ * * * _


1 Minggu kemudian.


Seminggu berlalu setelah Violet mengetahui kebenaran yang selama ini tidak ia duga sama sekali.


Hari ini adalah hari terakhir dia bekerja sebelum libur panjangnya.

__ADS_1


Violet sedang berada direstoran duduk sendiri dimeja tempat pertama kali dia bertemu dengan Kay. Menurutnya tempat ini spesial, tempat ini adalah saksi bisu dimana untuk pertama kalinya dia merasakan jantung berdebar, dan disini ada kenangan dimana seorang pria yang dulu dia sebut dengan musang ataupun singa liar mencuri ciuman pertamanya.


Tanpa disadari Violet terasenyum sendiri mengingat kenangan pertemuan pertamanya dengan Kay.


"Dulu aku merasa begitu marah dan terhina dengan sikap kurang ajarmu itu. Disaat itu, aku merasa ingin sekali menghajarmu tapi takut. Aku bahkan tidak menyangka hal yang dulu membuatku begitu marah justru terasa manis untuk kukenang sekarang. Kay... Dimana kamu sekarang? Apa disana kamu merindukanku seperti aku saat ini? Ataukah kamu melupakanku dengan semua amarahmu? Maafkan aku..." Violet berbisik sendiri di tempat itu. Kebetulan disitu tidak ada tamu lain.


Dadanya tiba-tiba begitu sakit, nafasnya begitu sesak.


"Kay, katakan padaku. Apakah sesak di dadaku ini adalah rasa rindu? Dan rasa sakit ini apakah rasa cinta?" Violet menangis tersedu-sedu.


"Kay apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali kesini? Beri aku kesempatan memperbaiki semua ini, memperbaiki kebodohanku, atau setidaknya beri aku kesempatan meminta maaf padamu." ucapnya diantara tangisannya.


"Hai... Kenapa menangis disini?" suara seorang laki-laki menyapa Violet dari belakangnya.


Violet mengacuhkannya dan menikmati waktunya menumpahkan semua kekesalan didalam hatinya dengan tangisannya.


"Hey nona, suaramu menangis itu berisik sekali kamu nanti bisa menganggu selera makanku." ucap pria itu sambil berjalan ke kursi yang ada di depan Violet.


Violet yang merasa terganggu tidak tinggal diam,


"Kalau kamu merasa terganggu kamu pergi saja dari sini!" ucap Violet sambil mengangkat wajahnya menatap pria yang ada dihadapannya.


Laki-laki itu terpana dengan wajah Violet.


Kemudian tersenyum,


"Nona emm... Siapa namamu?" tanya pria itu dengan modus.


"Baiklah, nona noname (tanpa nama) mungkin kamu lupa kalau kamu sedang menangis ditempat umum."


Violet akhirnya tersadar bahwa dirinya terbawa perasaannya sampai lupa tempat dimana dia berada sekarang.


Violet kemudian berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Nona noname, sepertinya kamu melupakan sesuatu."


Violet menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pria itu sedang memainkan kunci mobilnya. Violet kembali dan menengadahkan tangan kanannya meminta kunci tersebut.


"Maaf nona noname, kamu tadi meninggalkannya dan aku yang menemukannya. Aku tidak mau memberikan barang yang sudah aku temukan ini dengan cuma-cuma." ucapnya sambil terus memainkan kunci itu dengan memutar-mutar dijari telunjuknya.


"Itu milikku. Kembalikan!" pinta Violet.


"No! no! no! kamu bisa mengambilnya tapi dengan syarat."


"Aku bisa mengambil milikku tanpa syarat." sarkas Violet.


"Coba jika memang mampu." tantang pria itu.


Violet mencoba mengambil kunci mobilnya tapi pria itu bisa dengan lincahnya menghindari tangan Violet tanpa menggeser tubuhnya.

__ADS_1


"BERIKAN PADAKU !!" teriak Violet kesal.


"Aku akan memberikannya kalau kamu setuju dengan syaratku."


"Apa? Katakan!"


"2 syarat. Pertama, siapa namamu?"


"Violet." jawab Violet singkat dengan wajah memerah menahan amarah.


Pria itu tersenyum,


"Kedua, aku ingin teman makan. Temani aku, setelah aku selesai makan akan aku berikan ini padamu."


"Apa? menemanimu makan? TIDAK SUDI!!" Violet menekankan nada keras sebagai penolakan diakhir kalimatnya.


"Ayolah, hanya duduk temani aku makan, sambil ngobrol, dan setelah suapan terakhirku aku akan memberikan ini padamu."


"Berikan padaku!!" Violet kembali berusaha merebut kunci itu tapi gagal.


"Jika memaksa aku akan memasukkan ini kedalam celanaku." ancam pria itu.


Violet melotot mendengar ucapannya,


"Apa? Dasar jorok!! Menjijikkan!!" umpatnya sambil bergidik.


"Hahahaa... Makanya temani aku makan. Ayolah, aku ingin makan tapi kalau sendiri kurang asyik."


"Ya sudah. Tapi jangan lama dan janji berikan kunci mobilku secepatnya."


"Tenang aku bukan type orang yang suka ingkar janji kok."


"Whatever.!!" ucap Violet malas sambil memutar bola matanya.


.


.


.


.


.


.


Teruntuk para pembacaku yang tercinta,


Didalam cerita ini mungkin akan ada yang binggung dengan alurnya atau istilah-istilah yang tidak sesuai. Itu memang sengaja karena aku membuatnya menjadi 2 dunia dalam 1 masa. Ikuti terus ya ceritanya supaya nanti pada akhirnya akan mengerti alur cerita ini dengan sempurna...

__ADS_1


Salam terlove untuk kalian 😘


__ADS_2