Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Pembicaraan tentang perjodohan


__ADS_3

***


Sudah hampir satu minggu Khalifah berada dirumah utama, sejak berakhir nya masa tugas di perbatasan. Khalifah benar - benar memanfaat kan waktu istirahat nya sebelum Khalifah kembali bertugas di PUSKESAD (pusat kesehatan angkatan darat) di daerah yang biasa di sebut KESDAM (kesehatan daerah militer).


Khalifah lebih memilih menghabiskan waktu nya dengan cara mengurung diri di dalam kamar, diri nya sudah seperti beruang yang sedang berhibernasi saat ini. bahkan hanya untuk makan saja Khalifah harus ingatkan, dan untungnya saja untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, Khalifah tidak pernah sampai harus di ingatkan karna dengan sendiri nya Khalifah selalu menjalankan kewajiban nya.


" Tok .. tok .. " terdengar suara pintu kamar di ketok.


" Neng ... bunda boleh masuk ?." suara sang bunda yang meminta izin untuk masuk ke kamar putri nya.


" Masuk aja bun, pintu nya juga di kunci kok." ujar Khalifah dari dalam kamar.


" Cklek ... " pintu kamar terbuka, dan muncul lah sang bunda dari balik pintu.


" Lagi ngapain ? apa bunda ganggu tidur eneng ?." ujar bunda yang melihat putri nya sedang selonjoran di atas tempat tidur, dan diri nya pun langsung memposisikan diri untuk duduk di hadapan sang putri


" Engga kok bun, ini eneng baru aja bangun. memang nya ada apa ya bun ? kok tumben, biasa nya juga kan, eneng yang di suruh turun sama bunda kalo ada apa - apa. karna bunda paling males kalo naik tangga." ujar Khalifah, saat melihat sang bunda masuk dalam kamar nya.


" Ada yang ingin bunda bicarakan sama eneng." ujar bunda sambil mengelus lembut tangan putri nya, dan menatap wajah sang putri dengan tatapan penuh kasih sayang.


" Bicara apa bun, kok serius banget ? ayah sama bunda baik - baik aja kan ?." Khalifah yang mendengar nada bicara sang bunda mulai serius menjadi sangat khawatir, diri nya takut terjadi sesuatu pada ayah dan bunda nya itu.


Mendengar nada khawatir dari putri nya bunda pun langsung tersenyum.


" Bunda sama ayah baik - baik saja, justru ayah dan bunda sedang mengkhawatirkan eneng saat ini." ujar bunda sambil mengelus pipi sang putri.

__ADS_1


" Lho .. kok jadi khawatirin eneng sich, eneng kan baik - baik aja bun, kenapa jadi khawatirin eneng ? apa bunda engga lihat putri bunda ini sehat wal'afiat masih cantik pula ? masih imut juga kok he .. he .." sambil menunjukan cengiran nya pada sang bunda. tak salah apa yang di katakan sang putri, karna Khalifah memang gadis yang cantik dan imut untuk gadis seusia nya.


Bunda pun kembali tersenyum melihat tingkah dan kenarsisan sang putri yang menggemas kan meski sudah berumur, akan tetapi untuk Khalifah yang memiliki wajah baby face tak akan ada yang percaya bahwa Khalifah sudah memasuki usia kepala tiga. bahkan tingkah kekanak - kanakan serta sikap manja nya pada keluarga tak pernah berubah.


" Iya bunda tau, karna bunda juga cantik itu sebab nya eneng dapat wajah yang kaya gitu. harus nya eneng terima kasih sama bunda dong, kan bunda yang sudah menurunkan wajah cantik bunda untuk eneng. " ujar bunda yang tak mau kalah narsis dengan putri nya.


Karna apa yang di katakan bunda memang benar ada nya, bunda yang saat ini berumur lima puluh enam tahun masih terlihat cantik untuk ukuran ibu - ibu paruh baya pada umum nya.


" Iya - iya pokok nya kecantikan bunda cetar membahana udah kaya bidadari he .. he .. maksud nya bidadari untuk ayah." ujar Khalifah cengengesan sambil memeluk sang bunda.


" Terima kasih bunda sudah menjadi bunda yang terbaik untuk eneng. maafin eneng, kalo selama ini banyak salah sama bunda, maaf juga karna belum bisa membahagiakan bunda sama ayah." sambil terus memeluk erat tubuh sang bunda.


" Iya neng, bunda juga minta maaf kalo selama ini ada salah sama eneng." bunda pun melerai pelukan nya. sambil memandang wajah putri nya.


" Neng , uwa (kakak laki - laki ibu dalam bahasa sunda) ada telpon bunda saat beberapa bulan yang lalu, dan uwa bertanya tentang eneng ?." bunda menjeda ucapan nya sambil melihat reaksi putri nya.


Melihat kebingungan sang putri bunda pun mulai menjelaskan.


" Uwa bertanya apa eneng sudah ada yang mengkhitbah, atau eneng sedang berta'aruf dengan seorang laki - laki ? dan jika belum, apakah eneng bersedia untuk menjalankan amanah dari almarhum aki, untuk di jodohkan dengan cucu dari sahabat aki ?."


Bunda kembali terdiam untuk melihat respon dari putri nya. karna ini kali pertama nya bunda membicarakan tentang perjodohan, karna selama ini ayah dan bunda memang membebaskan anak - anak nya untuk memilih jodoh mereka masing - masing. selama anak bahagia dan tak keluar dari syariat islam, maka ayah dan bunda akan merestui tanpa embel - embel perjodohan.


Khalifah hanya mampu tertunduk, saat ini Khalifah betul - betul bingung, apa kah harus menerima atau menolak perjodohan yang di tawarkan sang uwa. melihat sang putri tertunduk diam, bunda pun langsung kembali memeluk putri nya itu.


" Bunda dan uwa tidak memaksa neng, kalo eneng tidak bersedia juga tidak apa - apa, masih ada teh Arum yang mungkin nanti akan menjalankan amanah dari Aki. karna di sini bunda sama uwa hanya menjalankan amanah dari almarhum aki. "

__ADS_1


" Bukan nya teh Arum masih di kairo kan bun ?." ujar Khalifah membuka suara nya untuk bertanya.


" Iya teh Arum memang masih di kairo, kemungkinan besar bulan depan sudah kembali ke tanah air. karna pendidikan nya sudah selesai. oleh karna itu, sebelum kepulangan teh Arum, uwa ingin membicarakan tentang perjodohan ini. apa bila eneng bersedia, maka teh Arum akan uwa jodohkan dengan anak sahabat uwa." ujar bunda menjelaskan perihal perjodohan.


" Iiss, uwa kenapa sich masih main jodoh - jodohin aja. gimana kalo teh Arum sudah punya pilihan sendiri, kan kasihan bun. itu nama nya melanggar perundang - udangan anak gadis." dengan kesal Khalifah langsung memprotes ketidak sukaan nya pada keputusan sang uwa.


Mendengar protesan putri nya bunda pun terkekeh geli.


" He .. he .. neng .. neng, ada - ada aja. lagian mana ada perundang - undangan anak gadis. emang eneng dapat dari mana undang - undang kaya gitu ." dengan terkekeh geli mendengar perkataan putri nya itu.


" Lagian eneng kesel sama uwa, masih kaya jaman siti nurbayah, main jodoh - jodohin segala. kalo di generasi aki mungkin masih okey lah, masih bisa diterima kalo di jodoh - jodohin. tapi kalo sudah generasi uwa, kaya nya udah kurang etis aja untuk anak - anak jaman sekarang. apa lagi sekarang rata - rata anak - anak nya sudah menjadi kaum milenial.


memang sich, orang tua ingin anak nya bahagia dengan mendapatkan jodoh yang baik, tapi bukan berarti baik menurut orang tua juga. jodoh itu kan rahasia Allah, jadi tanpa harus di jodohin juga kalo emang udah Allah berkendak pasti ketemu dengan cara nya yang kita engga duga. " ujar Khalifah mengungkapkan pendapat nya.


" Iya bunda ngerti neng, tapi kan pemikiran setiap orang tua berbeda. mungkin bagi sebagian orang, dengan cara perjodohan adalah suatu usaha atau ikhtiar untuk mendapat kan jodoh. bukan nya Allah berfirman : ' aku tidak akan mengubah nasib kaum ku kecuali jika kaum itu sendiri yang mengubah nya. ' bukan nya sudah jelas, kalo kita di suruh untuk berusaha dan berdo'a. anggap saja dengan perjodohan ini, adalah usaha kita untuk mendapatkan jodoh, dan sisa nya biarlah Allah yang berkehendak. '' panjang lebar sang bunda menjelaskan pada putri nya.


" bun .. apa yang bunda katakan itu memang benar, tapi belum tentu sesuai dengan mindset berfikir anak - anak jaman now. maksud eneng gini, apa bila ada orang tua yang mengatakan ingin menjodohkan anak nya. dengan kata - kata menjodoh kan saja, anak nya tentu sudah berfikir bahwa keputusan menikah sudah ada di tangan orang tua nya. jadi si anak pasti hanya mampu menuruti pendapat orang tua nya, tanpa mampu mengutarakan pendapat nya sendiri. bukankah itu sama saja orang tua memaksakan kehendak pada si anak. tapi akan berbeda, jika orang tua nya mengatakan akan memperkenalkan yang biasa di kenal dengan ta'aruf itu lebih efektif. karna dengan ada nya proses ini, tentu membantu kita mengetahui apa saja tentang calon suami dan calon istri. jika sama - sama cocok maka akan di lanjutkan ke tahap selanjut nya. akan tetapi, jika tidak cocok maka akan di batal. yang pasti, cara ta'aruf nya harus benar - benar sesuai syariat islam, dan tidak melanggar adap dan aturan dari ta'aruf itu sendiri." Khalifah pun mengemukakan pendapat nya dengan panjang lebar.


" Aahh .. baik lah bunda menyerah jika harus berdebat dengan kaum milenial. tapi bukan nya bunda kolot lho. kan, selama ini bunda sama ayah engga pernah jodoh - jodohin. aa ilham, teteh fatimah, sama abang rizky, mereka semua mendapatkan jodoh sendiri tanpa harus bunda jodohin. lagian ini juga, pertama kali nya bunda bicara perjodohan kan ? bunda juga kan engga maksa eneng buat nerima, karna bunda hanya menawarkan saja. jadi, keputusan masih ada sama eneng. cuma pesan bunda fikirin baik - baik, dan jangan lupa sholat istiqoroh dulu. libat kan Allah dalam mengambil keputusan, eneng ngertikan maksud bunda ? ." sambil mengelus rambut panjang putri nya.


" Insya Allah bun, tolong beri waktu buat eneng berfikir. nanti, apa bila eneng sudah mendapatkan keputusan, eneng sendiri yang langsung memberi tahu kepada uwa, bersedia atau tidak nya." dengan perasaan yang masih ragu Khalifah meminta waktu untuk berfikir pada sang bunda.


" Baiklah neng, apa pun keputusan eneng nanti, bunda akan menerima nya. bunda mendukung penuh keputusan eneng, bunda hanya mampu mendoa kan kebahagian serta kebaikan untuk eneng. " ujar sang bunda dengan memberikan pelukan nya.


" Terima kasih bun, bunda adalah pelita eneng, yang mampu menerangi gelap nya hidup eneng. bunda air bagi eneng, yang mampu menghilangkan dahaga eneng. bunda your are everything to me." sambil memeluk erat sang bunda tercinta.

__ADS_1


Jodoh merupakan ketentuan atau takdir yang telah Allah tetapkan. kapan akan datang ? dengan siapa ? dan bagai mana dia akan datang ? tak ada yang mengetahui nya karna itu adalah rahasia Allah. cukup berdoa dan pasrah kan semua nya pada Allah.


***


__ADS_2