
***
Setelah gus Fahmi berlalu pergi kini hanya tertinggal Khalifah, Jenny dan Fadil. Jenny tanpa di perintah pun bergegas menutup pintu, dan berbalik menatap Khalifah. setelah memberi anggukan kepala pada Jenny, kedua nya pun bergegas naik ke lantai atas. sedang kan Fadil hanya seperti anak ayam yang selalu mengikuti sang induk tanpa bertanya.
Ketiga nya kini telah memasuki kamar Khalifah. ketika berada di dalam, Khalifah segera membuka sebuah brangkas rahasia yang ada di balik foto dinding kamar nya. ketika brangkas itu terbuka, Fadil sungguh sangat terkejut dengan isi dari brangkas itu. bukan gepokan uang yang di lihat nya atau pun surat - surat penting yang biasa di simpan pada brangkas. akan tetapi, barang yang ada pada brangkas Khalifah adalah berbagai jenis senjata api berserta amunisi.
Sungguh Fadil di buat terkejut dengan hal itu, apa mungkin yang di fikirnya nya selama ini benar. bahwa adik nya adalah seorang agen atau mafia. karna Fadil mengerti, walaupun Khalifah adalah seorang abdi Negara, diri nya hanya boleh memiliki senjata yang sudah memiliki izin kepemilikan.
Apa yang Fadil lihat saat ini, sungguh benar - benar di luar logika seorang Fadil. karna apa yang ada dalam brangkas Khalifah, tidak hanya berbagai senjata api saja, akan tetapi berbagai alat yang tak pernah di lihat oleh Fadil pun ada.
" Neng apa eneng mafia ?." ujar Fadil bertanya pada Khalifah, di saat kedua gadis itu sibuk memasukan amunisi pada senjata yang akan di gunakan kedua nya.
" Emang kalo kita mafia, kenapa ?." ujar Jenny jengah mendengar pertanyaan Fadil, dengan terus memasang earpiece pada telinga nya serta alat pada jam tangan nya.
" Asstagfirullah ... neng jadi benar, enang sama gadis tarsan ini mafia ? ." Fadil sangat terkejut dengan apa yang di kata kan oleh Jenny.
" Iss ... brisik." dengan mata yang tajam, Jenny menatap ke arah Fadil. sedangkan Fadil langsung memundurkan langkah nya.
Ini adalah kali kedua bagi Fadil melihat sorot mata tajam Jenny dengan memegang senjata. diri nya sedikit takut dengan perkataan Jenny yang selalu ingin melubangi kepala nya dengan peluru senjata milik diri nya.
" A'a .. apa yang a'a Fadil lihat hari ini, eneng harap ini hanya akan menjadi rahasia kita bertiga saja. dua hal yang neng ingin kata kan. eneng bukan mafia, dan tolong jangan pernah bertanya apa pun. a'a percaya sama eneng kan ?." tanpa ingin berlama - lama Khalifah segera membuka pintu balkon kamar nya yang mengarah langsung pada pagar tembok pembatas asrama putra.
Fadil yang memang mengetahui seperti apa seorang Khalifah, diri nya pun lebih memilih untuk diam. karna Fadil sangat mempercayai Khalifah sebagai mana Fadil mempercayai kedua orang tua nya. setelah mendengar perkataan dari sang adik, Fadil hanya menganggukan kepala nya saja.dan tanpa ada niat untuk bertanya kembali.
Khalifah tanpa banyak berfikir, langsung saja melompat dari pagar balkon ke arah tembok pembatas yang tinggi nya hampir sejajar dengan pagar balkon milik Khalifah. melihat itu, Jenny pun langsung melakukan aksi yang sama. sedang kan Fadil diri nya di buat melongo sekaligus shock dengan apa yang di lakukan kedua gadis di depan nya itu.
" Ehh ...pe'a cepetan lompat .. ! ngapain lo masih diam .. !." ujar Jenny memberi perintah pada Fadil dengan suara yang agak dipelan kan. setelah melihat Fadil yang masih terdiam di pinggir balkon dengan memegang pagar pembatas pada balkon.
" bagai mana saya bisa lompat, saya pakai sarung Jenn ..." ujar Fadil dengan suara memelas, dan ini kali pertama diri nya menyebut nama Jenny dengan benar.
" Ehh dodol .. ! lo bisa angkat tuch sarung, ribet amat sich .. ! lagian tuch burung kaga terbang, meski lo angkat sarung lo." ujar Jenny yang benar - benar jengah melihat tingkah Fadil.
" Saya lewat pintu depan pesantren aja yah ..."
ujar Fadil mengajukan penawaran pada Jenny.
" Lo lompat ... ! atau peluru ini melubangi kepala burung lo .. !." ujar Jenny.
__ADS_1
Dengan menodongkan pistol yang di miliki nya ke arah sarung milik Fadil. diri nya sudah tidak sabar dengan tingkah Fadil yang menurut nya membuang banyak waktu, karna sejak tadi Khalifah telah terlebih dulu pergi.
" I i iya ... saya lompat sekarang." ujar Fadil dengan terbata - bata, apa lagi saat diri nya melihat Jenny mengarahkan senjata nya, tepat pada burung kakak tua nya.
Dan tanpa pikir panjang, Fadil pun mengangkat sarung nya tinggi - tinggi, untuk bersiap melompat ke arah Jenny yang saat ini masih menodongkan senjata nya.
" Bissmillah ... hupp." Fadil pun melompat, dan mendarat tepat di samping Jenny.
" Allhamdulilah ... ya Allah, selamat."
" Cepetan turun .. ! miss sudah sejak tadi menunggu, ingat .. ! waktu kita cuma lima belas menit." ujar Jenny pada Fadil dan bergegas turun melalui pohon besar yang sengaja di tanam, untuk menghalau arah pandang menuju balkon kediaman Khalifah.
Kedua nya pun bergegas turun dan langsung mengikuti Khalifah yang memberikan isyarat leser ke arah ke dua nya. setelah sampai tempat persembunyian Khalifah, tepat di area belakang bangunan yang di guna kan buronan untuk menyandera para santri.
Jenny yang telah mengerti tugas nya langsung menyalakan ponsel nya, diri bertugas untuk mematikan cctv pesantren yang mengarah ke arah bangunan yang akan menjadi terget ke dua nya. setelah menyelesai kan tugas nya, Jenny memberikan anggukan kepala pada Khalifah.
Dengan pergerakan perlahan ketiga nya mulai mendekati arah depan bangun, dengan posisi Fadil yang masih seperti anak ayam mengekor di belakang Jenny dan Khalifah. setelah mencari tempat aman Khalifah mengintip pergerakan kedua buronan tersebut.
Khalifah dengan cepat memberikan intruksi pada Jenny, melalui isyarat jari nya. Jenny yang mengerti pun langsung menganggukan kepala nya bersaman dengan Fadil yang ada di belakang nya.
Akan tetapi Fadil dengan mudah nya menganggu kan kepala nya, apa memang kecerdasaan otak Fadil di atas rata - rata.
" Apa lo ngerti apa yang di isyarat kan oleh miss ?." Jenny yang penasaran pun bertanya pada Fadil dengan suara berbisik.
Fadil yang mendengar jelas apa yang di bisikan Jenny pada nya, langsung saja menggelangkan kepala nya. sedang kan Jenny yang melihat gelengan kepala Fadil, langsung menghela nafas nya. dalam fikir nya untuk apa bertanya pada orang yang otak nya sudah kontaminasi. sungguh sangat membuang waktu.
" klontang ..." Jenny melempar kan suatu benda, untuk mengalihkan perhatian kedua buronan di depan nya.
Dan benar saja perhatian kedua nya pun langsung teralih kan, Khalifah yang melihat itu langsung mengambil kesempatan untuk bergerak. masuk melalui jendela samping yang tak terkunci.
" Ada apa bos ?." ujar salah satu buronan itu pada kawan yang di panggil bos.
" Entah lah .. mungkin kucing." ujar sang kawan.
" bos, mau sampai kapan kita bersembunyi di sini, di luar kita sudah di kepung oleh polisi." rekan nya kembali bertanya pada si bos.
" Aku juga tidak tau, yang jelas bos besar meminta kita menunggu selama dua puluh menit. karna bos besar saat ini tengah berada di kota B, sedang melakukan persiapan menunggu barang yang akan sampai di dermaga pada malam ini. bos besar tidak ingin pengiriman kali ini, gagal seperti beberapa bulan lalu." ujar pria yang di panggil bos oleh rekan nya.
__ADS_1
Mendengar apa yang kedua nya bicarakan Khalifah sempat tertegun, jika benar apa yang di fikirkan nya saat ini. berarti bos besar keduanya adalah terget black tim sejak beberapa bulan yang lalu.
" Cklek." bunyi ongkangan pada pistol milik Khalifah yang sengaja keluar dari persembunyian nya.
Mendengar suara itu, kedua nya pun langsung menoleh ke arah Khalifah. kedua nya sangat terkejut ketika Khalifah tengah berdiri di hadapan kedua nya dengan menodongkan pistol ke arah si bos.
" Siapa kamu ?." ujar rekan si bos mengarah kan senjata nya pada Khalifah.
" Bukan siapa - siapa ." ujar Khalifah menjawab dengan tenang.
" Bedebah ... ! siapa kamu sebenar nya ?." rekan si bos pun mulai naik pitam setelah mendengar jawaban Khalifah.
" Pergi lah .. jika kalian tidak ingin tertangkap, karna pesantren ini telah di kepung oleh polisi. " masih dengan suara yang tenang.
" Siapa kamu .. ! berani sekali memerintah ..! ujar rekan si bos. sedang kan si bos sejak tadi hanya terdiam. tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" tidak ada waktu untuk bertanya, jika ingin bebas maka ikuti aku. aku akan membawa kalian keluar melalui pintu belakang pesantren. jika tidak, dalam lima menit polisi akan menerobos masuk." ujar Khalifah dengan santai, bahkan diri saja sudah tidak lagi menodongkan pistol nya.
" Apa jaminin nya bahwa kamu tidak menipu kami ? bisa saja kamu menjebak kami, dengan berpura - pura menolong kami bisa bebas dari penangkapan polisi." kali ini si bos lah yang angkat bicara.
" Tak ada jaminan apa pun, hanya jika kalian tidak percaya ya sudah, aku tidak akan memaksa. tapi, jika kalian ingin menggunakan para santri ini sebagai jaminan kalian untuk bebas, maka aku tidak akan membiarkan nya begitu saja." ujar Khalifah dengan nada tegas dan sorot mata yang tajam di arah kan pada kedua pria di hadapan nya saat ini.
" Donat ... " ujar Khalifah memanggil Jenny.
Keluar lah Jenny dengan membawa dua senjata di kedua tangan nya dari balik pintu. yang di arahkan Jenny pada kedua pria di hadapan nya. sedangkan Fadil masih saja mengikuti di belakang Jenny, meski ada ketakutan dalam diri Fadil. akan tetapi diri nya memang harus mengikuti kedua gadis yang sejak tadi mengikut serta kan diri nya.
" Silah kan pilih, aku beri waktu satu menit." ujar Khalifah.
Kedua nya sangat terpojok saat ini, setelah melirik satu sama lain kedua nya pun menganggukan kepala nya. menandakan kedua nya setuju dengan penawaran yang di berikan oleh gadis di depan mereka saat ini.
Kedua nya memang langsung menyadari, bahwa kedua gadis di depan mereka saat ini bukan lah gadis biasa. terbukti dari Khalifah yang mampu menyelinap masuk, tanpa di sadari ke dua nya. bahkan gadis yang sedang menodongkan dua senjata pada arah yang berbeda pun sungguh sangat berbahaya. dengan postur tubuh yang tegap sempurna, membuat kedua nya mengerti bahwa gadis itu ahli dalam menembak. tak ada keraguan dari sorot mata ke dua gadis di hadapan mereka saat ini. insting kedua nya mengatakan bahwa kedua gadis di hadapan mereka adalah gadis yang sangat berbahaya.
Khalifah yang melihat anggukan kepala kedua nya langsung mengerti. Khalifah pun langsung memberikan isyarat kepada dua nya untuk mengikuti diri nya. saat berhadapan dengan Fadil, Khalifah membisik kan sesuatu pada Fadil dan memberikan isyarat melalui kedua mata nya.
Fadil yang memahami apa yang di katakan Khalifah hanya menganggukan kepala saja, tanpa berani banyak bertanya. diri nya mengerti saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. walau pun ada rasa kekhawatiran padanke dua gadis itu, tapi apa boleh buat. diri nya hanya bisa memenuhi permintaan sang adik yang sudah berlalu pergi dengan kedua buronan polisi.
***
__ADS_1