Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Di Sandera


__ADS_3

***


Setelah mendengar intruksi dari sang adik, a'a Ahmad pun langsung berlalu pergi dengan di ikuti ketiga pengajar yang sejak tadi berdiri mematung di depan teras. sedang kan khalifah, Jenny, Fadil , dan gus Fahmi masih berdiri mematung di depan teras. entah apa yang di pikirkan ke empat orang itu, hingga sampai menit ke sepuluh baru lah Khalifah memandang ke arah Jenny.


Jenny yang di pandang pun langsung mengerti, kemudian diri nya langsung menganggukan kepala nya. sedangkan a'a Fadil dan gus Fahmi yang tak begitu mengerti arti pandangan Khalifah hanya binggung, dengan apa yang di maksud kedua nya. Khalifah langsung memberikan kode pada ketiga nya untuk mengikuti dirinya.


Tanpa banyak bicara Jenny, Fadil dan gus Fahmi pun mengikuti Khalifah. setelah sampai pada tempat yang di tuju, yang lebih tepatnya kediaman Khalifah. Jenny langsung masuk ke dalam kamar nya, dan tak berapa lama jenny pun keluar dengan menenteng sebuah leptop di tangan nya.


" Kita ngapain di sini neng ?." Fadil yang sejak tadi bingung pun akhirnya bertanya pada Khalifah.


" Lagi bikin rencana buat nangkap ikan. " ujar Jenny asal, sambil sibuk memainkan jari - jemari nya pada keyboard leptop di depan nya.


" Eeh ... gadis tarsan, kalo mau nangkap ikan yang tinggal pakai jaring atau pancing, ngapain susah - susah harus buat rencana segala. lagian, masa malam - malam kaya gini pengen nangkap ikan." ujar Fadil yang tak mengerti maksud perkataan Jenny.


" lo .. bisa diam engga sich .. ! gue sumpel juga tuch mulut .. !" kali ini Jenny mulai geram, karna saat ini diri nya perlu konsentrasi.


" Iss .. galak nya macam ka rose lah ini." dengan gaya bicara macam ipin upin.


Mendengar itu Jenny pun langsung mendelik pada Fadil, melihat itu Fadil pun hanya tersenyum tanpa dosa. sedang kan Khalifah, diri nya sejak tadi hanya terdiam. entah apa yang di fikirkan nya saat ini, diri nya hanya duduk tenang di sofa single yang ada di ruang tamu. begitu pula dengan gus Fahmi, diri nya yang masih bingung sejak tadi, dan hanya mampu terdiam tanpa berani mengeluarkan suara.


" Yes ... clear miss." ujar Jenny dengan mengangkat kedua tangan nya dari keyboard leptop di depan nya. dan mengalih kan layar leptop itu ke arah Khalifah.


Mendengar itu Khalifah langsung melihat ke arah leptop di depan nya. di sana jelas terlihat bahwa kedua buronan tersebut, tengah menyandra dua santri di sebuah ruangan dengan menggunakan senjata.


" A'a Fadil tau ini ruangan apa ? dan arah nya di mana ?." ujar Khalifah dengan sedikit menyodorkan arah layar leptop ke arah Fadil.


Fadil dan gus Fahmi pun langsung melihat ke arah layar leptop yang Khalifah arahkan. kedua nya yang melihal hal itu, langsung secara bersamaan mengucap kan istighfar.


" Asstagfirullah ..." ujar kedua nya secara bersaman.


" Ini kan ruang rapat para pengajar neng, dan ini tempat nya di sebelah barat, yang bersebelahan langsung dengan asrama santri putra. " ujar Fadil menjelaskan setelah memperhatikan keadaan ruangan yang di gunakan para buronan untuk menyandra santri.


" Asrama santri putra ? bukan kah itu berada bersebelahan dengan rumah ini ?." ujar Khalifah setelah menyadari, jika rumah nya memang bersebelahan dengan asrama santri putra yang hanya di batasi dinding beton yang kokok dan menjulang tinggi.

__ADS_1


" Iya neng. " Fadil membenarkan perkataan sang adik.


Mendengar itu, Khalifah kembali terdiam beberapa saat. diri nya tengah memikirkan sesuatu, dan kini pandangan Khalifah di arahkan nya pada kedua pria yang saat ini memandang ke arah diri nya. lama pandang itu Khalifah arah kan kepada kedua nya, hingga membuat gus Fahmi langsung tertunduk. tapi hal itu tidak berlaku untuk Fadil.


" Neng ... apa sekarang kita sedang adu pandang ?." ujar Fadil yang terus memandang ke arah Khalifah membalas pandangan sang adik.


" Neng .. kalo saja eneng bukan adek a'a, maka a'a bisa langsung jatuh cinta kalo di pandang eneng kaya gini." kembali Fadil bersuara, sebelum Khalifah membalas perkataan nya.


" Iiss .. lagian biar miss bukan adek lo, gue jamin, miss akan mikir seribu kali buat suka sama lo." ujar Jenny dengan nada sinis.


" Emang ada yang salah sama penampilan saya ? saya ganteng plus seorang pengajar pula di ponpes. terus kenapa harus mikir seribu kali buat suka sama saya." dengan mengarahkan pandangan nya ke arah Jenny.


" Penampilan lo emang engga salah, pekerjaan lo juga engga ada yang salah. tapi, yang salah itu otak lo yang rada gesrek." ujar Jenny.


" A' a mau bantu eneng ?." belum sempat Fadil membalas perkataan Jenny yang akan menimbukan perdebatan antara kedua nya, khalifah memotong terlebih dahulu.


" Bantu apa ?." ujar Fadil dengan bingung.


" Buat nangkap ikan." ujar Khalifah.


" Buat kita goreng, terus entar kita penyet itu ikan di sambel terasi."


" Okey, a'a siap .. ! eeh .. tapi neng, masa santri kita di sandera sama penjahat kita malah mau nangkap ikan ?". kembali Fadil memberikan pertanyaan.


Khalifah dan Jenny pun langsung berdiri dari tempat duduk nya, tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Fadil. kedua nya bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersiap, untuk melakukan penangkapan ikan. melihat itu Fadil justru mengarahkan pandangan nya pada gus Fahmi.


" Gus, emang kita mau nangkap ikan pakai sarung yaa .. ?."


" Mungkin ..." ujar gus Fahmi singkat.


Gus Fahmi yang sedikit mengerti dengan pembicaraan Khalifah. tentu saja tau bahwa penangkapan ikan kali ini, bukan lah ikan yang ada di pikiran Fadil. karna jelas terlihat sorot mata dan raut wajah khalifah yang sangat tajam dan sangat serius. Fahmi yang sejak tadi terdiam, justru diri nya lebih banyak memperhatikan gerak - gerik Khalifah. dan saat ini Fahmi melihat sosok lain dalam diri Khalifah, sosok yang sangat berbahaya dan misterius.


Jenny dan Khalifah kini sudah bersiap, dengan setelan hoodie hitam lengkap dengan sepatu kets dan kerudung hitam, tak lupa topi pun kini bertengger di kepala Khalifah. kedua nya kini berjalan menuju ke ruang tamu.

__ADS_1


Kedatangan kedua nya tentu saja membuat Fadil mengerutkan kening, yang ada dalam fikiran Fadil. apakah harus memakai serba hitam jika hanya ingin menangkap ikan. sedang kan yang ada dalam fikiran gus Fahmi, bahwa yang akan di lakukan Khalifah kali ini sangat lah berbahaya.


" Apa yang akan neng Khalifah lakukan ?." untuk pertama kali nya gus Fahmi membuka suara, diri nya tak ingin jika kedua gadis di hadapan nya itu melakukan hal yang justru bisa membahaya kan kedua nya.


" Kok masih tanya sich gus, ya jelas eneng ngajak kita nangkap ikan. kan tadi eneng sudah bilang. " Fadil yang masih belum mengerti pun, tetap mengira bahwa mereka akan ke kolam pesantren untuk menangkap ikan.


Khalifah yang bisa membaca raut wajah dari gus Fahmi pun, langsung mengerti apa yang di maksud oleh gus Fahmi.


" Seperti yang gus Fahmi fikir kan." ujar Khalifah singkat dengan nada suara yang tegas, yang menandakan diri nya tak ingin di bantah. dan dengan sorot mata yang tajam, yang menandakan bahwa saat ini diri nya sangat serius.


" Apa tidak sebaik nya cukup polisi saja yang bertindak ? ini terlalu berbahaya neng, saya hanya khawatir terjadi sesuatu pada eneng." ujar Fahmi yang mengungkap kan rasa kekhawatiran nya pada Khalifah.


Mendengar itu Khalifah dan Jenny pun sama - sama saling mengerutkan kening, jika Khalifah bingung dengan arah pembicaraan Fahmi. tapi tidak untuk Jenny, diri nya mengerti apa maksud dari perkataan Fahmi pada Khalifah. dengan senyum mengejek kini Jenny arah kan pada gus Fahmi.


" hello ... suka kan, lo sama teteh gue, sok - sok an pakai acara nolak segala. sekarang aja baru tau kan lo .." ejek Jenny dalam hati.


" Emang apa yang ada di fikiran gus saat ini ?." ujar Fadil yang bingung dengan pembicaraan kedua orang yang ada di depan nya saat ini.


" Itu lah kesalahan lo, karna lo punya otak yang sudah terkontiminasi. jadi, udah kaga normal kaya manusia umum nya. " ujar Jenny mengejek Fadil.


" kalo ngomong itu yang jelas, engga usah sok sok an bilang otak saya terkontiminasi segala. bilang aja, kalo saya ini engga waras." ujar Fadil dengan raut wajah kesal pada Jenny.


" ha .. ha .. ha.. gue kaga ngomong gitu yah .. lo sendiri yang nyadar .. ha ..ha .." Jenny pun tak henti tertawa melihat raut wajah kesal yang di perlihatkan Fadil, dan menurut Jenny itu sangat lah lucu.


" Stop Jenn ..." ujar Khalifah menghentikan Jenny.


Mendengar itu Jenny pun langsung menghentikan tawa nya. dan langsung mengganti raut wajah nya dengan mode serius.


" Gus ... saat ini saya tidak punya banyak waktu, tapi saya mohon bantuan gus kali ini. tolong cegah pihak polisi untuk masuk area pesantren, Khusus nya area asrama putra. tolong bawa bukti yang ada, dan tolong tahan mereka selama lima belas menit. " ujar Khalifah dengan raut wajah memohon pada gus Fatih.


" Baik lah ... saya akan lakukan tugas saya dengan baik. tapi saya juga mohon, jaga diri neng khalifah baik - baik. jangan melakukan hal yang berbahaya, yang dapat membahayakan diri neng Khalifah." ujar gus Fahmi, dengan berlalu pergi menuju area depan pesantren, setelah pamit dan mengucap kan salam.


Kini ketiga nya pun mulai beraksi, maaf ... ralat maksud nya Jenny dan Khalifah saja. sedang kan Fadil, diri nya yang masih belum mengerti apa - apa hanya sekedar mengikuti dari belakang. akan tetapi diri nya sangat shock saat melihat aksi Jenny dan Khalifah yang dengan mudah nya melompat dari balkon ke dinding pagar beton pesantren. dan bagai mana dengan Fadil ? mampu kah Fadil mengikuti aksi kedua nya dengan menggunakan sarung ?

__ADS_1


***


" Tunggu kelanjutan nya yaa ...☺️


__ADS_2