
***
Masih dengan Fadil yang saat ini berada di aula rapat para pengajar, bersama para santri yang sempat menjadi korban penyanderaan para buronan. Fadil meminta kepada kedua santri nya itu, untuk merahasia kan semua yang terjadi. saat Fadil datang bersama ke dua gadis yang membawa kedua buronan itu pergi. apa yang di lihat dan di dengar kedua nya harus menjadi rahasia.
" Jang, nanti kalo pak polisi bertanya, kalian bilang saja, lagi mogok melihat sama mogok mendengar. jadi, kalian engga tau apa - apa. " Fadil memberi ide absurd pada kedua santri nya itu. jika nanti polisi sampai bertanya, tentang apa yang terjadi pada kedua nya, serta tentang bagai mana bisa ke dua buronan itu lolos kembali dari penangkapan polisi.
" Ehh .. emang ngelihat sama mendengar bisa di buat mogok ya ... tadz ?." ujar salah seorang santri pada Fadil, dengan raut wajah yang terlihat bingung.
" Bisa lah .. kalian bilang aja, mogok mendengar karna habis di tolak sama gebetan. kalo mogok melihat, kalian bilang aja, karna melihat gebetan jalan sama yang laki - laki lain." Fadil memberi alasan pada ke dua nya.
" tadz, ustadz habis di tolak ya ? terus ustadz juga habis lihat gebetan nya lagi jalan sama yang lain ?." santri itu yang justru mengira jika ustadz nya saat ini telah di tolak oleh seorang gadis.
' ehh .. kok jadi kena sama saya yah .. Fadil bermonolog dalam hati, setelah mendengar pertanyaan santri nya itu.
" Bukan saya juga yang saya maksud, lagian mana ada laki - laki tampan kaya saya di tolak sama perempuan. lagian bagi saya jadi jomblo itu adalah pilihan bukan keinginan. karna saya mau jadi jomblo yang berkualitas sebelum ada nya lebel halal." ujar Fadil.
Ketika mereka sedang merencanakan sebuah ide untuk memberi kan alasan pada polisi. terdengar bunyi dobrakan pada pintu masuk ruangan.
" brak .. jangan bergerak .. !! " ujar beberapa polisi yang menerobos masuk kedalam ruangan tersebut.
Ketiga nya yang mendengar bunyi dobrakan pintu serta todongan pistol pun langsung terkejut dan mematung di tempat, tangan ketiga nya pun secara bersamaan terangkat ke atas. bagi Fadil ini kali kedua diri nya di todong oleh senjata, sungguh sangat malang nasib seorang Fadil yang selalu saja berurusan dengan senjata. begitu pula bagi kedua santri, jika tadi kedua nya di todong senjata oleh penjahat dan kali ini kedua nya kembali di todong senjata oleh polisi.
__ADS_1
Sedang para polisi yang melihat ketiga nya langsung mengerutkan kening, kemana para borunan itu pergi. para polisi itu pun langsung memeriksa seluruh area pesantren. akan tetapi, tidak ada di temukan nya jejak kedua borunan itu. dan pihak kepolisian pun kembali menyatakan bahwa borunan nya kembali lolos.
" Apa kalian baik - baik saja ?." salah seorang anggota polisi itu menghampiri dan bertanya pada ketiga nya.
" Kami baik - baik saja pak, tapi kami kurang baik, kalo melihat senjata bapak yang masih di arah kan pada kami." ujar Fadil yang bergedik ngeri ketika pistol itu masih mengarah pada ketiga nya. bahkan ketiga nya masih saja diam mematung tanpa merubah posisi awal, ketika polisi itu mendobrak pintu ruangan.
" Ahh .. maaf ." dengan gerakan cepat, polisi itu kembali menyarungkan senjata milik nya di pinggang.
" Mari .. kita keluar dari sini." salah seorang polisi pun mengajak ketiga nya untuk keluar dari aula gedung.
Ketiga nya pun akhirnya keluar dari dalam aula gedung, menuju depan area pesantren. yang saaat ini di depan area pesantren telah banyak berkumpul para santri, para pengajar, dan puluhan anggota dari pihak kepolisian.
Sedang kan gus Fahmi dan a'a Ahmad menjadi bingung saat melihat Fadil yang ke luar dari area pesantren beserta para santri yang menjadi korban sandera. jika a'a Ahmad bingung bagai mana sang adik bisa masuk ke dalam pesantren dan ikut menjadi korban sandera. lain hal nya dengan gus Fahmi, diri nya bingung mengapa hanya Fadil saja yang terlihat. sedang kedua gadis dan borunan itu tak terlihat oleh nya. hal itu menjadi kan gus Fahmi menjadi sangat khawatir dengan kondisi kedua gadis itu.
" Bagai mana kejadian nya ustadz bisa jadi sandera para buronan itu ?." salah satu polisi bertanya pada Fadil.
" Saya bukan jadi sandera pak, tapi saya sengaja menjadi sandera untuk menemani mereka. " Ujar Fadil dengan nada santai.
" Maksud ustadz sengaja bagai mana ?." ujar polisi itu bingung.
" Iya sengaja pak, saya sengaja masuk menjadi sandera sementara, sampai kedua buronan itu di bawa kabur." ujar Fadil dengan santai.
__ADS_1
" Berarti ada yang membawa kabur buronan itu ?." polisi itu kembali bertanya.
" hah .. emang saya tadi bilang apa pak ?." Fadil bingung sendiri dengan perkataan nya.
" Anda tadi bilang kalo anda sengaja menjadi sandera, sampai kedua buronan itu di bawa kabur. nah ... saya bertanya, siapa yang membawa kabur buronan itu ? dan apa anda mengenali ciri - ciri fisik nya ?." polisi itu menjelaskan ulang jawab Fadil, serta kembali bertanya pada Fadil.
" Ohh ... kalo begitu ralat pak, mereka bukan di bawa kabur, tapi kabur sendiri - sendiri. ehh ... bukan pak, maksud nya mereka kabur berdua pak. kalo sendiri - sendiri itu kan, yang satu ke kiri dan yang satu nya lagi ke kanan. nah, kalo arah nya sama, berarti kabur nya bersamaan. iya kan pak ?." ujar Fadik menjelas kan pada pak polisi yang meminta ke terangan dari nya.
Mendengar penjelasan dari Fadil membuat polisi itu mengerutkan kening nya, bukan mendapatkan penjelasan. diri nya justru di buat bingung dengan jawaban yang di berikan Fadil pada nya. tidak hanya polisi yang bingung dengan keterangan Fadil, bahkan a'a Ahmad dan gus Fahmi pun di buat bingung.
Laih hal nya dengan kedua polisi yang meminta keterangan dari kedua santri yang menjadi korban penyanderaan. kedua nya bingung apakah kedua pemuda di depan nya ini adalah korban penolakan oleh seorang gadis, atau korban sandera.
Jika keterangan Fadil yang di anggap pihak polisi selalu berputar - putar tidak ada kejelasan nya dan ujung nya. maka keterangan kedua santri nya pun tidak kalah membuat bingung. karna sebelum pak polisi menanyakan apa - apa kedua sudah dengan jelas dan tegas mengatakan, bahwa kedua nya tengah mogok melihat dan mendengar. dengan alasan yang sama persis yang perintah kan oleh ustadz keduanya.
Setelah mendengar keterangan dari ketiga nya, pihak kepolisian pun langsung mendekati tim medis dan menanyakan ulang tentang kondisi ketiga korban.
" Apa dokter yakin, ketiga nya dalam keadaan yang baik - baik saja ?." sang pimpinan kepolisian pun langsung bertanya pada dokter yang bertanggung jawab atas ketiga pasien yang sempat di tangani nya.
" Saya yakin pak, dan saya sudah memeriksa nya. tak ada yang salah pada fisik serta mental ketiga nya. memang nya kenapa pak ?." dokter pun merasa bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh pimpinan kepolisian itu pada nya.
" Saya rasa ke tiga nya sedang tidak baik -baik saja. mungkin kejadian tadi membuat ketiga nya merasa tertekan, hingga membuat metal ketiga nya sedikit terganggu. sebaik nya kita tunda saja dulu, untuk memintai keterangan dari korban. biar kan ketiga nya tenang terlebih dahulu, setelah itu baru lah kita kembali memanggil ketiga nya untuk memintai keterangan." ujar sang atasan pada anggota kepolisian yang lain.
__ADS_1
Mendengar intruksi dari sang atasan para anggota polisi pun langsung menghentikan seluruh kegiatan mereka, dan langsung bersiap - siap untuk pergi dari area pesantren setelah mengucapkan terimakasih serta memohon maaf karna telah mengganggu ketenangan di lingkungan area pesantren. setelah selesai berpamitan pada pimpinan pondok pesantren, seluruh anggota kepolisian pun langsung undur diri dan pergi dari pesantren.
***