Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Di Rawat


__ADS_3

***


Masih di rumah yang sama dan ruangan yang sama. tepat nya di ruang tamu, setelah mendengarkan penuturan dari gus Fahmi, semua yang berada di ruang tersebut masih terdiam dengan pikiran dan perasaan masing - masing.


Begitu pula dengan abah, diri nya sungguh merasa sedih, menyesal, sekaligus merasa bersalah pada sang keponakan. diri nya hanya mampu menghela nafas, untuk meredam perasaan yang saat ini di rasakan nya. di arahkan nya pandangan pada sang putri, yang saat ini menunduk dengan tubuh sedikit gemetar.


Sedangkan Khalifah yang saat ini berada di dalam kamar, hanya mampu terdiam dengan lelehan air mata yang mengalir deras dari sudut mata nya. saat ini diri nya merasakan kepedihan dan kekecewa, diri nya memang tidak menyalakan siapa - siapa dalam hal ini, hanya saja entah mengapa hal serupa dengan masa lalu nya kembali terulang.


Jika dulu diri nya di tinggal kan, saat sebelum memberi kan jawaban pada pria yang mengkhitbah nya. tetapi saat ini, diri nya bahkan di tolak secara terang - terangan oleh pria yang akan mengkhitbah nya. tak henti bibir mungil nya berzikir kepada Allah, memohon kekuatan dan kesabaran.


' Ya Allah jika ini adalah takdir yang yang harus hamba jalani, maka hamba akan sabar menjalani nya. dan apa bila ini adalah ujian untuk hamba, maka hamba akan ikhlas menghadapi nya. hamba yakin, engkau tak akan menguji umat Mu melebihi batas kemampuan hamba Mu.


Kembali ke ruang tamu di mana saat ini keluarga berkumpul, tak ada yang mengeluarkan suara nya saat ini. situasi yang benar - benar membuat canggung sekaligus tegang, setelah beberapa lama terdiam dengan memperhatikan anak gadis nya, akhirnya abah pun mengeluarkan suara nya.


" Arum, apa jawaban mu atas Khitbah yang di ajukan gus Fahmi pada mu ?. " ujar abah dengan suara yang terdengar lirih, suara itu jelas menandakan bahwa saat ini sang abah tengah merasa kesedihan.


Mendengar hal itu Arum justru semakin menundukan kepala nya, jangan kan untuk menjawab pertanyaan sang abah. untuk sekedar mengangkat kapala nya pun Arum tak berani, apa lagi setelah mendengar suara lirih dari sang abah, membuat hati nya pun sakit.


Melihat keterdiaman Arum, ummi Halimah pun beranjak dari tempat duduk nya, dan langsung menghampiri sang putri.


" Nak .. saat ini abah bertanya pada Arum, jawab pertanyaan abah." ujar ummi sambil dengan mengelus lembut tangan sang putri.


" ummi .. " dengan memandang wajah sang ummi, tak ada kata - kata yang mampu keluar dari bibir nya.


" Arum, gus Fahmi sendiri yang telah memilih mu, jadi mau tidak mau kau lah yang harus menjalankan amanah aki." ujar abah dengan hati yang begitu berat, apa lagi saat ini kesehatan keponakan yang tidak baik, membuat diri merasa menjadi uwa yang begitu kejam.

__ADS_1


" Tapi abah ... eneng ... " belum sempat Arum meneruskan kata - kata nya, seseorang telah lebih dulu menyela.


" Eneng tidah apa - apa teh. " ujar seorang gadis yang telah berdiri di ruang tamu, dengan di papah seorang wanita bercadar.


Mendengar suara yang menyela, maka semua mata pun terarah pada nya. begitu pula dengan gus Fahmi, diri nya sempat tertegun dengan wajah cantik serta imut yang di miliki gadis di depan nya. walaupun terlihat pucat, namun kecantikan nya tidak bisa di tutupi begitu saja. melihat wajah pucat pada gadis yang di tolak nya, membuat rasa bersalah di hati gus Fahmi pun timbul begitu saja. penolakan yang di rasa nya sangat kejam, karna secara terang - terangan di hadapan sang gadis.


" Neng .. kenapa eneng bangun, harus nya eneng istirahat, wajah eneng semakin pucat. " ujar ummi Halimah yang sejak tadi memperhatikan wajah sang keponakan, dan langsung bangkit dari duduk nya untuk menghampiri sang keponakan.


Diri nya sangat khawatir melihat keadaan keponakan nya itu, apa lagi di tambah dengan kejadian yang sungguh tak terduga, sungguh membuat diri nya merasa bersalah pada keponakan nya itu. hal itu juga di rasakan seluruh keluarga, tak terkecuali abah. diri nya bahkan hanya mampu memandang sang keponakan dengan tatapan sendu, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. apa lagi setelah melihat wajah sang keponakan yang tampak pucat, dada nya tiba - tiba merasakan sesak.


" Eneng tidak apa - apa uwa, jadi tidak usah terlalu khawatir. " ujar Khalifah pada uwa Halimah yang saat ini ada di hadapan nya.


" Teh, apa yang di kata kan uwa benar. karna gus Fahmi sendiri yang memilih teteh, maka eneng serah kan amanah aki pada teteh. teteh lah yang harus menjalankan amanah aki sekarang. " ujar Khalifah dengan nada suara yang sangat lirih, bahkan seluruh tubuh nya sedikit gemetar.


Tanpa kata Arum pun bangkit dari duduk nya, dan langsung memeluk sang adik. bahkan saat ini diri nya sudah menangis dengan seseguk kan dengan memeluk erat tubuh sang adik.


" Memang nya eneng mau pergi ke mana ? dengan keadaan seperti ini ?." Arum pun bertanya pada Khalifah dengan berbisik pula. kedua nya masih berpelukan agar tak ada yang curiga.


" Eneng akan kembali ke rumah sakit, untuk menjalani perawatan pasca operasi yang eneng lakukan. tapi tolong, jangan katakan apa - apa pada uwa, eneng tak ingin uwa khawatir." Khalifah pun melepaskan pelukan nya pada Arum setelah mengatakan keinginan nya.


Arum pun langsung menelisik ke arah wajah Khalifah, mencari kebenaran melalui sorot mata sang adik. setelah melihat beberapa saat wajah sang adik, Arum langsung mengaggukan kepala nya. walaupun sempat ragu, tapi saat ini kesehatan Khalifah sangat lah penting dari pada harus mengurusi masalah Khitbah.


" Pergi lah neng, cepat pergi sekarang juga." ujar Arum pada Khalifah. bahkan diri nya langsung menuntun Khalifah menuju keluar rumah.


"Neng, bagai mana eneng akan pergi dalam keadaan seperti ini ? hik .. hik ..." ujar ummi Halimah dengan derai air mata yang membasahi pipi nya. sungguh, diri nya tidak sanggup melihat keadaan sang keponakan. tidak hanya ummi, tapi seluruh penghuni ruang tamu pun hanya memandang penuh kesedihan pada Khalifah.

__ADS_1


Melihat semua mata yang masih terarah pada nya dengan tatapan sedih, sungguh membuat Khalifah sudah tidak mampu lagi untuk menopang beban tubuh nya, bahkan padangan nya pun kini mulai buram. tak ingin semua keluarga menjadi lebih khawatir diri nya, Khalifah memilih segera pergi dari tempat itu.


" Jenn, tolong cepat bawa aku pergi dari sini bagai mana pun cara nya, aku sungguh tak tahan." ujar Khalifah dengan menopangkan berat tubuh nya pada Jenny.


Jenny sangat sadar kondisi Khalifah saat ini, dan diri nya harus segera membawa Khalifah kembali ke rumah sakit saat ini juga untuk menjalani perawatan. ini lah yang sebenar nya tak di ingin kan oleh Jenny, karna sedikit saja Khalifah merasa tertekan, maka kemungkinan tubuh nya akan drop pun sangar besar. karna sejak awal kondisi tubuh Khalifah memang belum pulih.


" Baik lah, kita pergi sekarang miss. " ujar Jenny yang tak banyak bicara langsung memapah tubuh Khalifah dan menopang kan pada tubuh nya.


" neng, mau pergi ke mana ?. " ujar A'a fadil yang akan mendekat, saat di lihat nya Khalifah dengan berjalan tertatih dengan di bantu Jenny dan Arum.


" Iya neng, eneng mau ke mana ?. " kini ummi Halimah lah yang menimpali perkataan sang putra, dengan air mata yang terus mengalir dari sudut mata nya, serta mencoba mendekat ke arah Khalifah.


Melihat semua keluarga ingin mendekat ke arah nya, Khlifah langsung memandang ke arah Jennya. dan Jenny tanpa di perintah pun sudah faham apa yang harus di lakukan nya.


" Jangan mendekat .. !! " ujar Jenny dengan nada yang tegas.


" Kau tidak waras yaa .. dia adik ku, bagai mana bisa aku tidak boleh mendekat. " ujar A'a fadil yang kesal terhadap Jenny.


" Baik lah kalo begitu, mendekat saja, jika kepala mu ingin aku lubangi dengan senjata ini. " ujar Jenny dengan menodong kan senjata milik nya ke arah Fadil.


Melihat senjata yang di keluarkan Jenny dari saku gamis nya, membuat semua penghuni rumah menjadi sangat terkejut dan ketakutan. apa lagi senjata itu di todongkan ke arah Fadil, ummi Halimah bahkan sampai Shock melihat senjata yang di arahkan pada sang putra.


" A'a fadil, ummi, tolong biar kan eneng pergi saat ini, jika kalian sangat menyayangi nya." ujar Arum pada A'a Fadil yang saat ini justru ketakutan saat diri nya di todong senjata oleh Jenny.


" Cepat bawa eneng pergi dari sini." ujar Arum pada Jenny.

__ADS_1


Mendengar perkataan Arum, Jennya pun langsung pergi dengan memepah Khalifah menuju mobil yang telah terparkir di depan rumah. yang akan membawa kedua nya ke rumah sakit. dan saat ke dua ny memasuki mobil, kendaraan itu langsung pergi meninggal kan kediaman uwa Asep.


***


__ADS_2