
***
Kadang jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan apa kah sebagai manusia kita tidak boleh kecewa ?.
Jawaban nya tentu saja boleh, karna itu manusiawi. yang tak boleh adalah menyalahkan, apa pun yang terjadi dalam hidup kita baik itu kebahagian dan kesedihan itu semua adalah kehendak Allah.
Daun saja tak akan mampu jatuh ke tanah jika tidak kehendak Allah, lalu kenpa kita yang hanya hamba Allah berani menyalahkan. sedang kan itu semua adalah ketentuan yang Allah atur.
Allah maha tau, maka Allah akan memberikan apa yang di butuhkan oleh hamba nya, bukan apa yang di inginkan oleh hamba nya.
Begitu pula yang di rasakan oleh Khalifah ketika apa yang di harapkan nya tidak sesuai dengan kenyataan. maka Khalifah berusaha untuk tidak menyalahkan siapa pun dengan apa yang terjadi pada diri nya karna Khalifah tau semua atas kehendak Allah. Setiap apa yang terjadi dengan diri kita, jangan lah terbiasa untuk menyalahkan hanya untuk mencari sebuah pembenaran.
Tidak ingin terlalu berlarut - larut mengingat masa lalu, Khalifah lebih memilih untuk melakukan hal yang bermanfaat.
" Assalamualikum bu letnan .. " sapa dokter Radit yang melihat Khalifah sedang membersihkan dan merapikan kembali beberapa peralatan medis yang telah di pakai. tanpa banyak bicara setelah mengucapkan salam Radit langsung membantu Khalifah.
" Wa'alaikumus sallam .. " Khalifah langsung menjawab salam dari dokter Radit dan setelah nya Khalifah membuka pembicara nya dengan dokter Radit. " dokter Radit, saya ingin mengucapkan terimakasih dan sekaligus meminta maaf. mungkin malam tadi, tindakan saya terkesan egois karna demi keselamatan pasien saya mengabaikan perasaan rekan - rekan medis yang lain. "
Mendengar sang atasan mengucap kan terima kasih dan meminta maaf pada diri nya. Radit pun terkejut, dan langsung mengubah posisi tubuh nya menjadi siap. " Siap, melaksanakan perintah apa pun dan dalam kondisi di mana pun. " ujar Radit dengan posisi badan tegak dan hormat pada sang atasan.
" Yakin siap melaksanakan perintah apa pun ?kalo saya suruh kamu nyebur dalam sumur, apa kamu siap ?. " ujar Khalifah dengan ikut berdiri tegap sambil memandang tajam pada Radit.
" Satu hal lagi, apa kamu yakin kamu seorang prajurit dan seorang dokter ? tapi kenapa saya justru ragu, karna bahkan kamu langsung pingsan setelah operasi. untung saja kamu pingsan di luar ruang operasi, coba saja seandainya kamu pingsan masih dalam ruang operasi.karna saya paling susah membedakan pasien, apa lagi jika ada seseorang yang tidak sadar kan diri dalam ruang itu. bisa saja kan pisau bedah saya beralih. " ujar Khalifah dengan raut wajah yang serius. Khalifah memang sudah mengetahui keadaan Radit yang tidak sadarkan diri saat setelah tindakan operasi di lakukan, karna tanpa sengaja mendengar pembicaraan ketiga nya tadi pagi.
Mendengar kata - kata sang atasan dengan tatapan yang sangat serius membuat tubuh Radit sedikit gemetar dan bergidik ngeri.
__ADS_1
" Siap menerima hukuman. " Radit sangat sadar bahwa sudah melakukan kesalahan yang fatal bagi seorang dokter. jadi, wajar saja jika Khalifah meragukan kemampuan nya sebagai seorang dokter.
" Saya tidak akan memberi hukuman apa pun, dan ini peringatan untuk kamu. kita di tuntut harus siap dalam keadaan apa pun dan dalam kondisi di mana pun. tidak hanya pada kekuatan fisik saja, akan tetapi kekuatan mental juga. karna satu kesalahan saja, maka akan berakibat fatal. seharus nya sebagai seorang dokter meliter kamu faham betul tentang itu, saya harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali ke depan nya, kamu fahamkan maksud saya ?." ujar Khalifah memberikan sebuah peringatan tegas kepada dokter Radit, dan berlalu pergi setelah kegiatan nya selesai.
Sedangkan Radit hanya terpaku di tempat setelah sang atasan pergi dari hadapan nya. Radit betul - betul menyadari sepenuh nya kesalahan nya, karna apa yang di katakan sang atasan adalah sebuah kebenaran. bagaimana nasib pasien yang di tangani nya jika sebagai dokter saja Radit tidak siap.
" bro ... " ujar dokter Angga sambil menepuk bahu dokter Radit yang sedang termenung.
Dokter Angga tadi tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan atasan nya dengan dokter Radit dari teras saat kembali dari luar. mendengar sang atasan sedang berbicara dengan dokter Radit, Angga pun memutuskan untuk menunggu di luar sampai pembicaraan itu selesai.
" eehh .. " dokter Radit pun terkejut saat ada tangan yang menepuk bahu nya.
" Bro, kira - kira dokter kaya gue masih bisa engga sich, tugas di medan pertempuran untuk nyelamatin pasien ? kok gue jadi ragu yach, karna cuma ikutan operasi pasien yang bunting aja gue langsung tepar. gimana kalo gue ikutan di medan tempur ? bukan nya nyelamatin pasien, malah bisa gue yang bakal jadi pasien duluan ." ujar dokter Radit dengan nada yang lemah.
Mendengar hal itu Angga hanya tersenyum,
" Gue ngerti kok bro maksud dari bu letnan, gue akan belajar lagi agar ke depan nya gue engga melakukan kesalahan yang sama lagi. tapi gue aneh bro, kenapa para prajurit yang jadi pasien gue, pasti keluhan nya engga jauh - jauh dari penyakit kulit sich ?. engga yang kudisan, gatal - gatal , kutu air, sama alergi paling mentok juga ngerawat pasien malaria."
ujar dokter Radit bingung karna selama menjadi seorang dokter, Radit belum pernah menangani pasien yang benar - benar dalam kondisi darurat.
" udalah bro .. mau gimana keadaan pasien tugas kita cuma satu, yaitu menolong pasien udah selesai. gue mau istrahat dulu bro badan gue lemas. " ujar dokter Angga sambil merebahkan diri di teras base camp kesehatan dan langsung di ikuti oleh Radit.
Meninggal kan kedua dokter yang sedang beristirahat. di lain tempat seorang pria sedang termenung di sebuah mesjid yang beberapa tahun yang lalu menjadi saksi seorang Fahri bertemu pertama kali dengan seorang wanita yang di kagumi nya bahkan sampai mengkhitbah wanita tersebut di mesjid yang sama pula.
Tetapi di mesjid ini pula lah Fahri harus merelakan wanita yang di cintai nya yang tak dapat di miliki. bahkan sampai sekarang sosok itu tidak pernah hilang dari hati nya.
__ADS_1
Sejak pagi tadi di mana untuk yang pertama kalinya sang wanita menghubungi nya untuk meminta bantuan. hati nya kembali merasakan debaran yang sama saat pertama kali Fahri melihat sosok wanita itu di mesjid yang sama.
Seorang wanita yang biasa datang ke mesjid di awal waktu zuhur hanya untuk mengaji dan menunggu waktu zuhur tiba. awal nya Fahri tidak mengetahui bahwa sang wanita yang mencuri perhatian nya adalah dokter yang sering menjadi buah bibir dan idola para tenaga medis di rumah sakit tempat Fahri bertugas sebagai dokter bedah.
Beberapa hari setelah Fahri di tugaskan di rumah sakit militer setelah mendapat kan gelar dokter spealis bedah.
" Suster dini, boleh tau siapa itu dokter Khalifah ? kenapa tentang nya selalu ramai jadi pembicaraan ?. " ujar dokter Fahri bertanya pada suster dini. suster dini sendiri adalah asisten dokter Fahri pada saat itu.
" Dokter Fahri belum pernah bertemu dengan dokter Khalifah ?. " bukan nya menjawab pertanyaaan dokter Fahri suster dini justru balik bertanya.
" Saya bertanya karna saya butuh jawaban, bukan nya pertanyaan saya malah di balas pertanyaan. lagian kalo saya sudah ketemu, saya engga mungkin tanya sama suster. " jawab dokter Fahri dengan sedikit ketus.
" he ... he ... maaf dok. " cengiran dari suster dini karna mendengar nada ketus dari sang dokter, suster dini pun mulai menjelaskan semua yang di ketahui nya tentang dokter Khalifah.
" Dokter Khalifah adalah dokter umum, diri nya bertugas di rumah sakit ini sudah hampir tiga tahun lebih. walau pun sudah menjadi penduduk lama di rumah sakit ini, tapi pesona dokter Khalifah betul - betul luar biasa. seorang dokter yang cerdas, cantik, sholehah, tangguh, intinya perfek dech dok. selain kaku, pendiam, dan cuek ."
" Ohhh ... gitu yach, tapi kenapa saya engga pernah lihat selama saya tugas di sini kalo dia dokter umum di rumah sakit ini ?. " ujar Fahri yang begitu penasaran dengan sosok Khalifah. karna hampir dua minggu Fahri bertugas di rumah sakit, belum pernah diri nya bertemu secara langsung dengan dokter yang di maksud.
" Ohh ... kalo itu saya bisa jelaskan, karna dokter Khalifah merupakan dokter yang sangat cerdas. jadi, tak heran kalo diri nya jarang terlihat di rumah sakit. dokter Khalifah kerap menjadi dokter relawan, tidak hanya di dalam negri, bahkan dokter Khalifah juga pernah menjadi ketua tim dokter militer di suriah saat terjadi genjatan senjata di daerah itu. dalam masa tugas nya selama tiga tahun di rumah sakit ini, dokter khalifah hanya dua sampai dengan tiga bulan saja berada di rumah sakit. sisa nya, dokter Khalifah akan bertugas di luar rumah sakit. dan sekarang saja dokter Khalifah sedang masa pengajuan untuk melanjutkan pendidikan nya menjadi dokter spealis bedah. " panjang dan lebar suster dini menjelaskan tentang keberadaan dokter Khalifah.
Sejak saat itu Fahri mulai menaruh kekaguman nya pada sosok Khalifah yang belum pernah di temui nya. dan saat di parkiran rumah sakit lah Fahri baru mengetahui bahwa wanita yang di kagumi nya adalah orang yang sama.
Fahri pun memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu. hingga saat di mana seorang Fahri nekat mengajak bertemu untuk mengkhitbah dokter Khalifah saat itu. akan tetapi tepat saat satu hari sebelum jawaban dari Khalifah dia dengar, sebuah insiden terjadi dia harus terpaksa menikahi putri dari sahabat sang ayah yang saat itu mengalami kecelakaan dan dalam kondisi kritis, meminta Fahri untuk menikahi putri nya.
Melihat itu Fahri pun tidak kuasa untuk menolak dan akhirnya terjadi lah pernikahan Fahri. walau pun hati nya mencintai sosok Khalifah tapi apa daya jika Allah berkehendak lain, maka Fahri hanya berusaha menerima apa yang di takdirkan untuk nya. karna cinta tak harus memiliki, cukup Allah saja yang tahu bagaiman hati seorang Fahri. dia hanya mampu mendo'akan yang terbaik serta kebahagian untuk seorang Khalifah, seorang wanita yang masih mengisi di hati hingga saat ini.
__ADS_1
***