
***
Jika saat ini Khalifah dan Jenny harus kembali ke rumah sakit untuk menjalani perawatan kembali. lain hal nya dengan kondisi di rumah sang uwa, yang beberapa saat yang lalu di tinggal kan oleh Khalifah begitu saja. tanpa pamit dan tanpa penjelasan atas kepergian nya, bahkan dalam keadaan yang sedang tidak baik - bak saja.
Saat ini di rumah uwa Asep, setelah kepergian Khalifah. suasana masih terasa tegang, takut serta khawatir yang masih menyelimuti penghuni rumah. begitu pula yang di rasakan ketiga tamu yang saat ini masih berada di rumah abah. ada rasa bersalah yang di rasakan ketiga nya, karna secara tidak langsung, kedatangan ketiga nya lah yang membuat hal kurang menyenakan itu pun terjadi.
Sedang uwa Asep masih mematung di tempat nya, dengan terus memandang ke arah di mana kendaraan yang membawa Khalifah pergi. sungguh, rasa sakit di dada nya semakin terasa, jika bukan karna diri nya yang mengusul pada sang adik tentang perjodohan pada sang keponakan, tentu hal ini tidak akan terjadi. sungguh rencana Allah tak dapat di tembak oleh akal dan fikiran manusia yang dangkal.
Melihat abah yang masih mematung, kiai Fatur pun menghampiri. bukan hanya abah saja yang merasakan rasa bersalah, tapi kiai Fatur pun merasakan hal yang sama, jika saja putra nya mau mengetahui identitas sang gadis, maka mungkin kejadian nya tidak seperti ini. penolakan kejam sang putra lah yang sangat membuat kiai Fatur merasa bersalah dan kecewa pada sang putra.
" Abah .. saya benar - benar minta maaf, atas kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi di rumah antum." ujar kiai Fatur setelah berada di sebelah abah, dengan pandangan yang di arahkan nya pada arah yang sama.
Mendengar permintaan maaf dari sang tamu sekaligus sahabat, membuat abah menghela nafas yang sejak tadi terasa berat di rasakan nya. setelah terdiam beberapa saat abah pun mengalihkan pandangan nya.
" Ini lah rencana Allah yang tidak pernah kita duga dan kita ketahui sebelum nya, jika saja kita mengetahui nya, tentu saja hal ini tidak akan terjadi. jadi, tidak perlu untuk meminta maaf atas kejadian malam ini." ujar abah dengan lirih sambil memandang ke arah sahabat yang ada di samping diri nya saat ini.
Tanpa ada kata - kata kiai Fatur pun langsung memeluk sahabat nya itu, karna apa yang di kata kan oleh abah memang benar, tak ada yang salah dalam hal ini. karna semua nya terjadi, memang atas kehendak Allah. kita sebagai hamba nya hanya mampu ikhlas dan sabar menjalani nya.
__ADS_1
Setelah di rasa sedikit lebih tenang, abah dan kiai Fatur pun kembali masuk ke dalam rumah. agar dapat menenangkan penghuni rumah yang lain. tapi tidak untuk Arum, saat ini Arum lebih memilih masuk ke dalam kamar setelah kepergian Khalifah dari rumah nya. diri nya saat ini justru sangat khawatir dengan keadaan sang adik, apa lagi saat diri nya mengetahui jika sang adik telah melakukan tindakan operasi. entah apa yang di pikir kan Arum, yang jelas diri nya tidak dapat berbuat banyak, karna sang adik lah yang meminta untuk merahasia kan nya.
" Abah, ummi saya minta maaf, atas kejadian malam ini. " ujar gus Fahmi tertunduk.
" Iya kamu memang salah gus.. !! dan semoga saja kamu tidak merasakan apa yang saat ini saya rasa kan .. ! melihat ke dua adik perempuan nya di sakiti oleh pria yang sama, tapi justru saya tidak berdaya." ujar A'a Fadil dengan nada yang tinggi, dan berlalu begitu saja.
Melihat hal itu abah hanya tertunduk, diri nya pun merasakan apa yang di rasakan oleh sang putra. sedangkan gus Fahmi semakin tertunduk, diri nya bahkan tak mampu untuk mengangkat kepala nya. sungguh, tak ada niat sedikit pun di hati Fahmi untuk menyakiti gadis yang di jodoh kan dengan nya atau pun Arum. bahkan sampai saat ini, bayangan wajah pucat sang gadis pun masih mampu terlihat dengan jelas di pelupuk mata nya.
" Sudah lah gus, tidak apa - apa. semua adalah kehendak Allah, tak ada yang tau seperti apa rencana nya. jadi, jangan menyalahkan diri sendiri. abah minta maaf, atas perkataan putra abah yang kurang sopan pada mu. " masih dengan nada yang lirih, suara yang mampu abah keluarkan saat ini.
Jika sejak tadi ummi Fatimah hanya diam saja. tapi, tidak untuk kali ini. diri nya sudah merasa tidak memiliki muka di hadapan abah Asep dan ummi Halimah. kejadian malam ini sungguh membuat jantung ummi Fatimah ketar - ketir. bagai mana tidak, dari aksi penolakan sang putra, dan sampai penodongan sebuah senjata.
" Ummi benar, memang sebaik nya kita pulang saja. keadaan saat ini betul - betul di luar dugaan, jadi biar lah kita menenang kan diri terlebih dahulu. abah dan ummi Halimah, saya benar - benar meminta maaf yang sebesar - besar nya, atas kejadian yang tidak menyenangkan kan malam ini. dan terima kasih banyak atas jamuan nya malam ini, dan semoga Allah membalas semua kebaikan abah dan ummi Halimah. " ujar kiai Fatur yang langsung berdiri dari duduk nya dan langsung bersalaman dengan abah untuk berpamitan.
" Saya juga minta maaf kiai, jika ada kata - kata dari keluarga saya yang tidak berkenan di hati kiai, ummi Fatimah, dan gus Fahmi. " ujar abah yang juga beranjak dari duduk nya untuk mengantarkan ke tiga tamu nya tersebut untuk pulang.
Setelah berpamitan, keluarga kiai Fatur pun segera pergi dari kediaman abah. setelah kepergian keluarga kiai Fatur, tinggal lah abah yang terduduk lesu di ruang tamu, setelah sang anak sulung pun ikut pamit pulang setelah mencoba menenang kan sang abah, yang saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik - baik saja. abah kembali termenung memikir kan kejadian yang baru saja terjadi.
__ADS_1
" Bah .. ini sudah malam, apa tidak sebaik nya abah istirahat ? agar abah bisa lebih tenang. ujar Ummi Halimah saat menghampiri sang suami yang sedang duduk termenung di ruang tamu.
" Bagai mana kondisi eneng saat ini yang mi ? apakah saat ini eneng baik - baik saja ? apa yang harus abah lakukan terhadapat eneng mi ?. " bukan nya mengiyakan perkataan ummi Halimah, diri nya justru mempertanya kan kondisi sang keponakan yang entah di mana keberadaan nya saat ini. apa lagi saat ini ponsel Khalifah pun tidak bisa di hubungi.
" Bah .. serah kan semuan nya kepada Allah, bukan kita masih ada Allah ? yang maha tau dari segala nya. jadi, saat ini cukup kita berdoa saja kepada Allah, untuk memberikan yang terbaik ke depan nya. biar lah mengalir apa ada nya, dan kita hanya mengikuti alur nya saja bah .. " ujar ummi Halimah pada sang suami.
" Tapi mi .. jika bukan karna abah yang meminta pada Annisa. tentu, eneng tidak tidak akan mengalami hal memalukan seperti ini." abah kini mulai menyalah kan diri nya.
" Assatagfirullah .. abah ngomong apa ? jangan terbiasa untuk menyalah kan, atas apa yang terjadi pada diri kita. baik itu menyalah kan diri sendiri atau pun orang lain, karna itu sama saja kita menyalah kan ketentuan yang sudah Allah tetap kan untuk kita." ummi Halimah menimpali perkataan sang suami.
" Ummi benar, hanya saja abah ..." belum sempat abah melanjutkan perkataan nya ummi sudah lebih dulu menyela.
" abah .. sebaik nya abah istirahat, kita doa kan saja eneng, semoga saat ini diri nya baik - baik saja. kalo abah terus seperti ini, kesehatan abah bisa terganggu. ummi mohon bah .. ayo kita istirahat. kita berdoa, semoga kesedihan yang Allah berikan hari ini, akan menjadi kebahagiaan hari esok. " ujar ummi Halimah sambil menuntun tangan sang suami agar mau mengikuti nya masuk ke dalam kamar.
Mendengar permohonan sang istri, abah pun langsung mengikuti, tak ada penolakan dari abah. karna apa yang di katakan ummi Halimah semua nya benar. diri nya masih ada Allah, kenapa harus bingung. berdoa dan berserah akan jauh lebih bermanfaat dari pada sibuk mencari - cari kesalahan.
***
__ADS_1