
***
Di salah satu mesjid yang ada di pesantren seorang pria paruh baya tengah duduk sambil terus berzikir kepada Allah. entah apa yang tengah di rasakan nya saat ini tapi sejak pukul 01.00 dini hari, setelah selesai menunaikan sholat malam nya pria itu duduk dengan khusuk dengan bibir yang tak henti nya terus berzikir kepada Allah, bahkan diri nya seperti enggan untuk berdiri. setelah memasuki waktu subuh baru lah pria paruh baya itu bangkit dari duduk nya dan keluar untuk berdiri di teras mesjid dengan pandangan yang mengarah ke atas langit yang masih di selimuti kegelapan.
Ya Allah ada apa dengan perasaan hamba kenapa sejak semalam perasaan ini tidak bisa tenang. jika memang tengah terjadi sesuatu yang tidak hamba ketahui hamba hanya bermohon kepada Mu ya Allah yang maha mengetahui, berikannlah yang terbaik menurut Engkau, karna hamba yakin Engkau maha mengetahui apa yang terbaik untuk umat Mu. dan tenangkan lah hati dan perasaan hamba. Amin .. Amin .. ya Allah.
Dengan masih memandang langit yang gelap pria paruh baya itu berdoa di dalam hati, meminta ketenangan kepada sang Ilahi, dengan apa pun yang terjadi, dirinya pasrah dan siap untuk menghadapi.
" Assalamualikum abah ..." seorang santri datang dari arah belakang langsung memberikan salam dan mencium punggung tangan abah.
" waalaikumus sallam ... sendiri jang ? yang lain pada ke mana ? " ujar abah bertanya pada santri nya yang bertugas untuk mempersiap kan sholat subuh berjamaah.
" Ada abah yang lain bagi tugas, ada yang pembangun kan para santri, jadi tugas saya yang mempersiap kan sholat subuh berjamaah kali ini. " ujar santri yang di panggil ujang oleh abah, diri nya sedikit membungkukan badan dengan kepala menunduk di hadapan sang guru.
" Oh ya sudah kalo begitu, cepat di persiapkan dan setelah nya langsung azan karna waktu subuh sebentar lagi. " ujar abah pada santri nya.
" njeh abah ... kalo begitu saya permisi. Assalamualaikum ". sambil kembali mencium punggung tangan abah dan tanpa membalikan badan santri itu pun berjalan mundur agar tidak memunggungi sang guru.
" walaikumus sallam ... " abah pun menjawab salam dari santri nya itu. waktu subuh pun tiba para santri mulai berdatangan satu persatu memasuki area mesjid untuk sholat subuh berjamaah. sedang kan abah yang melihat santri nya mulai berdatangan diri nya memilih segera pergi dari teras mesjid, karna abah tau para santri nya akan merasa sungkan apa bila melihat diri nya berdiri di tempat itu.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, abah pun kembali ke rumah nya "assalamualikum ... " abah memberikan salam saat akan memasuki rumah, setelah masuk abah kembali duduk si kursi ruang tengah. dengan raut yang tidak banyak berubah dari semalam saat abah meninggalkan rumah izin untuk pergi ke mesjid untuk menenangkan diri.
Dari arah dapur ummi Halimah pun menjawab salam sang suami " walaikumus sallam ... " sambil berjalan menemui sang suami dengan membawa nampan yang berisi teh hangat serta pisang goreng hangat yang sempat di buat nya tadi sebelum sang suami datang.
Ummi Halimah pun mendekati sang suami yang tengah duduk santai di ruang tangah dengan raut wajah tidak jauh berbeda. ummi pun langsung meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan nya, dan kemudian meletakan gelas yang berisi teh hangat serta piring yang berisi pisang goreng hangat di depan sang suami. " di minum dulu abah, biar agak segeran. " tanpa banyak kata abah pun segera meminum teh yang di berikan oleh sang istri.
"Ummi sudah menghubungi keluarga kita bah, dan allhamdulilah mereka semua dalam keadaan baik - baik saja, ummi juga sudah menghubungi anak - anak Annisa kata nya mereka juga baik - baik saja. " ujar ummi yang berinisiatif menghubungi seluruh keluarga untuk membantu menenang kan perasaan sang suami, yang entah kenapa sejak semalam perasaan suami nya itu betul - betul tidak tenang. bahkan sampai meminta izin pada diri nya untuk pergi ke mesjid melaksanakan sholat malam.
Mendengar penuturan ummi Halimah abah pun menghela nafas nya, sebenarnya kini perasaan abah memang jauh lebih tenang akan tetapi tidak dapat di pungkiri hingga kini perasaan gelisah itu masih tetap saja ada. " semoga saja ini cuma perasaan abah saja ummi, dan semoga saja seluruh keluarga kita baik - baik saja." ujar abah pada ummi Halimah.
" Iya bah, ummi juga berdoa untuk keselamatan seluruh keluarga kita." ujar ummi Halimah.
Di saat keluarga di landa kecemasan di tempat lain nya pun tidak kalah cemas nya. bagai mana tidak dengan kondisi ketiga nya saat ini yang sama - sama membutuhkan pertolongan kedua rekan Khalifah masih berusaha terus berjalan di jalanan yang sepi dengan harapan ada seseorang yang datang dan menolong ketiga nya. benar saja tidak berapa lama saat kedua nya berjalan di jalanan yang sepi, dari arah belakang ada sebuah kendaraan hitam yang akan melalui ke dua nya. walau pun sempat waspada karna takut kendaraan yang menuju kedua nya adalah kendaraan musuh. akan tetapi saat sang supir membunyikan klakson mereka yakin itu adalah tim batuan. saat sampai di depan ke dua nya mobil itu pun berhenti dan dari balik pintu mobil keluarlah dua pria bertubuh kekar dengan setelan kemeja berwarna hitam.
" semua nya cepat masuk dalam mobil ...! Ton ... cepat cari rumah sakit terdekat atau apa pun itu yang penting bisa menyelamatkan nyawa nya. " ujar pria itu dengan nada panik. diri nya dengan cepat memeriksa seluruh tubuh Khalifah untuk mengetahui di mana letak luka tembak pada Khalifah. karna diri nya yakin Khalifah pasti terluka, dan benar saja saat diri nya melihat ke arah pinggul Khalifah darah segar terus mengalir, diri nya memberani kan diri untuk menyingkap sedikit hoodie yang di kenakan Khalifah saat ini. terlihat jelas luka yang di sebab kan oleh sebuah peluru yang mengenai pinggul Khalifah.
" Donat tolong cepat tekan luka nya .." ujar pria itu memerintah rekan wanita nya untuk menekan luka tembak pada Khalifah. " Ton .. bisakah kau cepat sedikit kenapa mobil ini pelan sekali ... ! ujar si pria membentak sang supir.
" yes sir .. " hanya itu yang mampu keluar dari sang supir, diri nya juga bingung laju mobil yang di kendarainya saat ini benar - benar sudah di atas rata - rata.
__ADS_1
" sir ... denyut nadi nya sudah tidak ada. " ujar rekan wanita nya yang terus sejak awal selalu memeriksa denyut nadi Khalifah.
Mendengar apa yang di kata kan rekan wanita nya, diri nya langsung memeriksa kembali untuk memastikan." Tidak ... tidak mungkin" ketika apa yang di katakan rekan wanita nya benar. diri nya pun langsung panik, dan langsung membuka jilbab yang dikenakan Khalifah untuk memeriksa kembali. " jangan ada yang berani menoleh ke belakang ... ! " diri nya tau Khalifah sangat menjaga diri nya, setidak hanya diri nya sendiri lah yang melihat walau pun sebenarnya itu pun tak boleh. akan tetapi keadaan lah yang memaksakan diri nya melakukan hal itu.
" Ayo de ... bertahan abang mohon kasihan ayah sama bunda , abang yakin ade pasti kuat. abang mohon de .. abang mohon .. ya Allah, hamba mohon ya Allah tolong selamat kan adik hamba ... hamba mohon." dengan air mata yang terus keluar dari mata sang kapten.
Bukan air mata sebagai kapten tapi air mata sebagai seorang kakak sepupu yang saat ini melihat adik kebanggaan nya tengah berjuang hidup dan mati. hancur sudah reputasi yang selama ini di perlihatkan sang kapten pada anggota nya, dan terbongkar sudah jati diri nya dan Khalifah.
Semua yang ada di dalam mobil pun merasakan sedih bahkan mereka pun tertunduk. ketika mobil memasuki area klinik sang kapten langsung mengangkat tubuh Khalifah bergegas menuju ruang UGD untuk menyelamat kan nyawa sang adik.
" Tolong sus ... cepat tolong adik saya,.. " melihat keadaan pasien yang benar - benar dalam kondisi kritis, seluru tenaga medis pun langsung bertindak. " Ton ... lo kan dokter cepat bantu mereka dan pasti kan ade gue selamat, kalo engga ... ! nyawa kalian taruhan nya. " dengan nada yang membentak dan mata yang memerah serta rahang yang mengeras. diri nya sudah tidak peduli apa pun, yang saat ini di pikiran nya hanya ingin sang adik selamat.
Belum sempat anggota nya masuk untuk membantu seorang perawat telah keluar terlebih dulu dari ruang UGD dan langsung menjelaskan keadaan sang adik yang harus segera menjalani operasi pengangkatan peluru yang masih bersarang si area pinggul Khalifah. untuk menyelamatkan nyawa nya operasi harus segera di lakukan jika tidak maka nyawa sang adik tidak selamat. tapi perawat itu juga menjelaskan bahwa saat ini dokter bedah yang bertugas di klinik sedang cuti, jadi tak ada yang bisa mengoprasi Khalifah saat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari perawat diri nya langsung mendekati salah satu anggota nya. " Ton ... gue tau kemampuan lo sebagai dokter bedah. jadi gue serahin keselamatan nyawa adik gue sama lo. lo ingat kan kata - kata gue tadi." tak ada kata - kata memohon yang keluar dari mulut sang kapten hanya sebuah ancaman yang mengharuskan sang bawahan menyelamatkan sang adik.
" Yes sir ." jawaban yang singkat padat dan jelas dari sang bawahan, pasrah hanya itu yang dapat di lakukan nya saat ini. diri nya saat ini tengah mempertaruhkan nyawa nya di ruang operasi dengan kemampuan nya sebagai dokter bedah untuk menyelamatkan adik dari atasan nya.
Tepat saat azan subuh di kumandangkan Khalifah memasuki ruangan operasi. dengan para tenaga medis yang siap membantu sang dokter bedah dadakan, walau pun diri nya tau operasi kali ini hanya dengan tingkat keberhasilan 40% saja. saat ini diri nya hanya perlu berusaha dan sisa nya biarlah kuasa Allah yang bekerja. saat operasi berlanjut rangkaian doa pun selalu di panjat kan karna mereka yakin pasti ada keajaiban dalam setiap doa, dan saat ini hanya doa lah yang mampu mereka lakukan.
__ADS_1
Saat ini waktu telah menunjukan pukul 06.00 pagi dan operasi pun di nyatakan selesai, barkat doa dan kerja keras tim dokter operasi Khalifah pun berjalan lancar. saat ini Khalifah memasuki ruangan NICU, walau pun operasi di nyatakan berhasil oleh tim dokter tapi kondisi Khaifah masih belum menunjukan tanda - tanda stabil. akan tetapi tingkat keselamatan Khalifah meningkat menjadi 50% setelah operasi di lakukan. karna jika melihat keadaan Khalifah sebelum nya sungguh mustahil bagi Khalifah akan selamat bahkan mampu keluar dari ruang operasi sungguh suatu keajaiban bagi dokter yang mengetahui keadaan nya.
***