Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Kedatangan Ustadzah Nurul


__ADS_3

***


Setelah menempuh hampir setengah jam perjalanan, maka di sinilah kedua nya berada. di sebuah rumah minimalis yang selama beberapa bulan ini menjadi tempat tinggal Khalifah.


Khalifah serta ustadz Reyhan pun keluar dari dalam mobi yang kedua nya tumpangi, sesaat mobil yang di tumpangi kedua nya berhenti tepat di halaman rumah.


" Silahkan Ustadz." ujar Khalifah mempersilahkan ustadz Reyhan untuk masuk ke dalam rumah, saat Khalifah telah berhasil membuka pintu utama.


" Apa tidak apa - apa saya masuk ? apa tidak sebaik nya saya ke asrama pengajar saja ?." ujar ustadz Reyhan ragu, saat Khalifah mempersilahkan diri nya untuk memasuki rumah milik sang istri.


Mendengar perkataan sang suami Khalifah pun tersenyum, dan tanpa banyak berkata. tangan kanan Khalifah langsung meraih tangan ustad Reyhan dan membawa nya masuk ke dalam rumah. sedangkan ustad Reyhan, diri nya hanya mengikuti saja keinginan sang istri.


Khalifah langsung membawa sang suami menuju kamar nya yang ada di lantai dua.


" Cklek. " suara pintu kamar yang terbuka.


Khalifah langsung menuju sebuah lemari yang ada di dalam kamar nya, mengambil lipatan handuk dan menyerakan nya pada suami nya itu.


" Sekarang ustadz bersihkan diri dulu, nanti eneng siapkan baju untuk ganti. eem ... apa ustadz mau eneng bikin kan minum dulu ?."


" eehh .. tidak usah, saya mandi saja dulu." ujar ustadz Reyhan dengan kiku.


" Baiklah, itu kamar mandi nya." dengan menunjuk ke arah kamar mandi.


Tanpa banyak kata ustadz Reyhan langsung bergegas masuk ke kamar mandi, walau pun sejak memasuki kamar tadi, jantung nya hampir saja copot menahan debaran.


" Huh .. kenapa jantung ini tidak bisa di kondisikan, dan kenapa juga si eneng selalu bisa membuat aku salah tingkah. sebenar nya si eneng dokter bedah apa dokter cinta yah ...


gombalan nya bikin a'a meleleh ... untuk ini hati dan jantung ciptaan Allah, coba kalo ciptaan manusia auto bisa ganti terus .." ujar ustadz Reyhan bergumam.


Setelah menyelesaikan ritual mandi nya ustadz Reyhan pun sedikit ragu untuk keluar. pasal nya saat ini diri nya hanya berbalut kan handuk di pinggang dan tanpa mengenakan baju.


" Cklek " pintu kamar mandi pun terbuka, dengan sedikit mengeluarkan kepala nya, ustadz Reyhan mengamati keadaan kamar. diri nya hanya ingin meminta tolong pada sang istri untuk mengambilkan baju ganti.


" Ehh .. kok sepi, si eneng ke mana ?." akan tetapi, ustadz Reyhan langsung tersenyum saat melihat baju ganti nya telah di siapkan sang istri yang di letakan di atas tempat tidur.


" Ternyata gini rasa nya punya istri, habis mandi udah ada yang nyiapin baju buat ganti." dengan bibir yang terus tersenyum.


Setelah selesai berpakaian ustadz Reyhan pun, beranjak dari kamar untuk mencari keberadaan sang istri saat ini.


" Si eneng ke mana yah ?." dengan terus berjalan menuruni anak tangga.


Dari arah dapur ustadz Reyhan dapat mencium bau masakan, hingga menuntun diri untuk menuju ke arah dapur. di lihat nya saat ini, seorang gadis yang saat ini telah sah menjadi istri nya itu tengah sibuk dengan penggorengan yang ada di atas kompor.


" Ehem .. masak apa neng ?." dengan berdiri di samping sang istri.


" Asstagfirullah .. ustadz bikin kaget eneng aja." ujar Khalifah dengan mengelus dada nya, akibat terkejut dengan kedatangan sang suami di samping nya saat ini.


" He .. he .. maaf kalo kaget, eneng masak apa ? butuh bantuan ?." dengan senyuman ustadz Reyhan menawarkan diri untuk membantu sang istri.


" Tidak usah usah ustadz, ini sudah selesai kok. tapi emang ustadz bisa masak ?." dengan mematikan kompor, Khalifah bertanya tentang kemampuan suami nya itu, karna kurang yakin.


" Insya Allah bisa, soal nya dulu waktu di kairo kan saya kos. jadi, masak nya ya sendiri." ustadz Reyhan pun berujar.


" Ustadz, kalo eneng engga bisa masak, ustadz engga marah kan ?." kali ini Khalifah mulai mengungkap kekurangan nya sebagai seorang istri.


Selama ini Khalifah memang hampir tak memasak, karna sendari kecil Khalifah hidup di ponpes. dan hingga masa perkuliahan pun Khalifah selalu tinggal di asrama. itu lah yang menyebabkan Khalifah kurang mengerti dengan pekerjaan dapur yang satu ini.


" Lho .. terus ini ngapain kalo bukan nya masak. kata nya engga bisa masak ?." dengan menunjuk pada penggorengan yang saat ini Khalifah gunakan untuk menggoreng telor.

__ADS_1


" Iya, ini memang masak, hanya saja eneng cuma bisa masak yang simple saja. selebih nya eneng harus belajar lagi. jadi, untuk saat ini eneng minta maaf, kalo cuma bisa menyajikan masakan yang seribu umat tahu cara nya." dengan menundukan kepala nya, merasa bersalah pada suami nya itu.


Melihat itu ustadz Reyhan pun tersenyum, tanpa di sadari nya tangan kanan nya pun terangkat, dan mengelus rambut Khalifah yang masih tertutup dengan hijab yang di kenakan nya.


" Iya engga apa - apa, bukankah suami adalah pakaian untuk istri, yang arti kita saling menutupi kekurangan masing - masing. Allah satu kan kita dalam kekurangan, agar kekurangan itu mempu menjadi sebuah kesempurnaan." dengan menatap lembut sang istri.


" Mungkin eneng bukan istri yang ustadz ingin kan. tapi neng akan berusaha menjadi istri yang ustadz butuhkan." ujar Khalifah yang saat ini memandang ke arah suami nya itu.


" Insya Allah, eneng adalah istri yang saya inginkan sekaligus istri yang saya butuhkan."


" So swett .. boleh peluk ?." dengan merentangkan kedua tangan nya.


" Ehh .. "


Mendengar permintaan sang istri membuat ustadz Reyhan kembali menjadi salah tingkah.


" Boleh tidak ?."


" Bbboleh ..." dengan terbata ustadz Reyhan mengiyakan permintaan sang istri.


Dengan perlahan ustadz Reyhan mendekat pada Khalifah, bahkan terlihat jelas bahwa tubuh nya gemetar saat ini. dengan ragu ustadz Reyhan merentangkan kedua tangan nya dan mulai memeluk tubuh sang istri.


" Ustadz gemetar yach ? jantung ustadz juga tidak normal." ujar Khalifah saat menyadari apa yang di rasakan ustadz Reyhan.


" Maaf, karna eneng adalah wanita pertama yang saya sentuh selain ummi dan adik perempuan saya."


" Benarkah ?." dengan mendongak kan kepala nya ke atas. dan hal itu justru membuat wajah kedua nya sangat dekat. bahkan deru nafas ustadz Reyhan pun terasa di wajah Khalifah.


" Neng, jangan membuat jantung saya berhenti berdetak ." ujar ustadz Reyhan, dengan memalingkan wajah nya ke arah lain. diri nya sungguh tak sanggup jika harus beradu pandang dengan wajah sang istri.


Mendengar perkataan ustadz Reyhan, Khalifah langsung tersenyum.


" Hhmm ..." ustadz Reyhan berdehem, mengiyakan perkataan sang istri.


Dan tak lama terdengar suara azan magrib berkumandang dari mesjid pesantren, yang menandakan bahwa waktu nya kaum muslim untuk beribadah menunjukan ketaatan kepada Allah.


Begitu pula dengan sepasang suami istri yang baru saja bersama setelah sempat di pisahkan oleh jarak dan waktu di antara kedua nya. setelah membereskan peralatan memasak, Khalifah pun segera memasuki ke kamar nya untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat magrib bersama sang suami.


Kedua nya pun kini sholat magrib dengan Khusuk dengan ustadz Reyhan sebagai imam sholat, hal ini membuat Khalifah sempat meneteskan air mata nya. ini lah yang di impikan nya sejak dahulu, ketika diri nya bersuami, maka suami nya lah yang menjadi iman dalam sholat nya.


Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, ustadz Reyhan pun berbalik menghadap sang istri dan mendekat. Khalifah pun langsung meraih tangan sang suami nya dan mencium punggung tangan ustadz Reyhan untuk pertama kali nya dengan takzim.


Sedangkan ustadz Reyhan meletakan tangan kiri nya di atas kepala Khalifah, serta memanjatkan doa untuk kebaikan diri nya dan sang istri. dan tak lupa pula ustadz Reyhan mencium kening sang istri untuk pertama kali.


" Terimakasih telah menerimaku untuk hidup bersamamu, kau adalah pernyempurna ibadahku, dan pelengkap hidupku. karna cinta bukanlah yang ku cari. tapi cinta ada, saat aku menemukanmu dan hidup bersama mu." ujar ustadz Reyhan membisikan di telinga sang istri.


" Ya Allah .. so sweet dech." ujar Khalifah yang justru menggoda suami nya itu, bahkan dengan mengedipkan mata nya.


" Mata nya di kondisikan neng, jangan bikin jantung saya engga karuan. tapi .. boleh saya minta sesuatu ?." dengan menatap sang istri serius.


" Boleh, ustadz mau minta apa ?."


" Bisakah eneng mulai saat ini, panggilan nya di ganti. maksud nya saya kurang nyaman kalo di pangggil ustadz." ujar ustadz Reyhan mengungkapkan keinginan nya.


" Baik lah, ustadz mau di panggil apa ? sayang, honey, baby, zauji. atau ..."


" Mas saja, itu lebih enak di dengar." dengan cepat ustadz Reyhan memotong perkataan istri nya itu. diri nya tidak ingin mendengar pilihan yang membuat bulu kuduk nya merinding.


" Baik lah, Mas Reyhan sayang. mulai saat ini eneng panggil Mas ustadz brondong. he .. he ." ujar Khalifah dengan terus saja menggoda suami nya itu.

__ADS_1


Baru saja ustadz Reyhan akan mengeluarkan suara nya, suara ponsel yang berada di atas nakas berbunyi.


" Dret .. dret .. dret .." terdengar bunyi ponsel milik Khalifah bergetar, menandakan saat ini ada yang menghubungi diri nya.


Mendengar ponsel nya berbunyi, Khalifah pun segera berdiri dengan masih mengenakan mukena, dan menekan tombol hijau pada ponsel nya.


" Assalamualaikum ..."


" Wa' alaikumus salam .. "


" Iya, ada apa uwa ?." ternyata sang uwa lah yang menghubungi Khalifah saat ini.


" Neng, apakah bisa eneng dan ustadz Reyhan ke tempat uwa sekarang ?." ujar iwa Asep.


" Iya, eneng akan ke sana sekarang." walau sempat bingung dan juga penasaran, Khalifah segera mengiyakan perkataan uwa Asep tanpa bertanya apa alasan sang uwa meminta nya dan suami untuk datang.


" Ya sudah kalo begitu, uwa tutup dulu telpon nya. Assalamualaikum .. "


" Wa'alaikumus salam ..."


Dengan mengerutkan kening nya Khalifah kembali meletakan ponsel di atas nakas, dan bergegas melepaskan mukena yang di pakai nya.


" Ada apa neng ?." ujar ustadz Reyhan, saat melihat sang istri dengan cepat merapikan mukena nya.


" Kita di minta untuk datang ke rumah uwa sekarang Mas " ujar Khalifah memberitahu kan pada sang suami.


" Oohh .. baiklah."


Tanpa banyak kata kedua nya pun kini bergegas menuju kediaman uwa Asep. saat kedua nya tiba di kediaman abah, Khalifah sempat mengerutkan kening nya. saat diri nya melihat ada dua mobil mewah yang tengah terpakir di halaman rumah sang uwa.


" Assalamualaikum .." Khalifah dan ustadz Reyhan memberikan salam, saat kedua nya memasuki rumah abah.


" Wa'alaikumus salam ..." jawaban salam pun serentak terdengar dari dalam rumah.


" Sudah datang neng." dengan memberikan isyarat pada kedua nya untuk duduk di samping abah.


Melihat isyarat dari abah kedua nya langsung mendekati abah, dan duduk dengan tenang berdampingan dengan abah. ada rasa kurang nyaman yang di rasakan Khalifah saat ini, apalagi dari kedatangan nya bersama sang suami, ada sepasang mata yang selalu memandang kagum ke arah ustadz Reyhan.


Hal itu jelas membuat Khalifah kesal, sebab sepasang mata yang sejak tadi memandang ke arah suami nya adalah sosok wanita cantik.


" Neng perkenal kan, ini bapak Cahyono beliau adalah seorang Sekda dan ini istri beliu ibu Tati, serta ini putri beliu ustadzah Nurul yang sudah satu tahun ini mengajar di ponpes." ujar abah memperkenalkan tamu yang datang di kediaman abah.


Mendengar uwa Asep memperkenalkan tamu nya Khalifah pun menundukan sedikit kepala nya sebagai tanda perkenalan.


" Maaf sebelum nya, ada perlu apa bapak sekeluarga datang ke mari ?." kali ini Khalifah langsung membuka suara bertanya. sebab diri nya benar - benar jengah dengan sikap wanita yang bergelar ustadzah itu terus saja memandang ke arah suami nya, tanpa ada perasaan malu.


" Begini Nak Khalifah, kami datang ke mari atas permintaan putri kami Nurul. dia ingin menjadikan ustadz Reyhan menjadi suami nya." ujar pak Cahyono menjelaskan maksud dan tujuan keluarga nya datang ke kediaman abah.


Deg


Deg


Deg


' Alamak ... aku aja yang istri pertama nya masih belum di sentuh. lah ini .. udah pengen dapat lagi yang kedua. cek .. cek ..' monolog Khalifah dalam hati.


Jika ustadz Reyham begitu terkejut dengan perkataan pak Cahyono, lain hal nya dengan Khalifah. diri nya justru terlihat santai dengan perkataan lelaki paruh baya yang ada di hadapan nya saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2