Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Musibah Membawa Berkah


__ADS_3

***


Setelah Khalifah menghubungi suami nya melalui telpon, kini ustadz Reyhan dengan di temani ustadz Ahmad langsung menuju ke arah gudang yang berada di samping kediaman abah Asep.


Saat sampai di depan pintu gudang ustadz Reyhan pun langsung mencoba membuka pintu gudang. akan tetapi, saat ustadz Reyhan akan membuka pintu, ternyata pintu gudang masih dalam kondisi terkunci dari dalam. dan tanpa banyak kata, ustadz Reyhan pun langsung mencoba mendobrak pintu dengan di bantu oleh ustadz Ahmad.


" Brak .." terdengar suara dobrakan pintu gudang dari arah luar.


" Asstagfirullah ... neng." ujar ustadz Reyhan dan ustadz Ahmad secara bersamaan.


Setelah memasuki gudang, kedua nya di kejutkan dengan kondisi Jenny dan Khalifah. bagaimana tidak, saat ini kedua nya tak sadarkan diri dengan wajah dan tubuh penuh memar serta darah segar yang masih mengalir dari mulut dan hidung kedua nya.


Tanpa menunggu lama kedua nya pun langsung bergegas menghampiri Jenny dan Khalifah, sedangkan pihak medis yang ada di belakang kedua nya pun langsung bertindak melakukan pertolongan pertama.


" Ya Allah neng ..." ujar ustadz Reyhan dengan nada yang sangat lirih, bahkan tanpa terasa air mata nya pun ikut menetes saat melihat kondisi sang istri saat ini.


Sungguh saat melihat kondisi sang istri saat ini, membuat ustadz Reyhan membeku, dada nya terasa sesak, tubuh nya gemetar apa lagi saat menyaksikan mata indah sang istri yang tertutup dengan rapat, bahkan darah segar pun masih mengalir dari bibir sang istri.


" Nnneng ... sadar neng, bbbuka mata eneng. eneng masih punya tanggung jawab besar sama mas, jadi mas mohon sssadar neng ... jangan tinggalin mas hik .. hik .." dengan terbata ustadz Reyhan berucap dengan memeluk tubuh Khalifah, bahkan air mata nya kini semakin deras mengalir dari kedua sudut mata nya.


" Mas ... eneng masih hidup kok. jadi engga usah nangis, lagian eneng masih belum ikhlas kalo mas jadi duren sekarang. entar aja kalo mas Reyhan udah tua eneng baru ikhlas."


Sebenar nya Khalifah tidak sepenuh nya tak sadarkan diri, hanya saja saat ini tenaga nya terkuras habis saat menjadikan tubuh nya sebagai samsak pelampiasan amarah Jenny. jadi, Khalifah masih mendengar dengan jelas semua perkataan suami nya itu.


" Allhamdulilah ya Allah .. neng sudah sadar ?." walaupun masih terlihat raut wajah kekhawatiran dari ustadz Reyhan, namun saat melihat sang istri yang tersadar membuat ustadz Reyhan sedikit lega.


" Iya eneng masih sadar sejak tadi. mas .. bisa eneng minta tolong ? tolong mas Reyhan bawa eneng pulang ke rumah aja yah .."


" Tapi neng ... eneng harus di obati dulu. kita harus ke klinik sekarang."


" Mas lupa yach kalo eneng dokter, jadi eneng bisa ngobati luka eneng sendiri."


" Mas tau eneng seorang dokter, tapi saat ini eneng adalah pasien, dan mas adalah wali dari pasien. jadi eneng yang harus nurut sama mas kali ini."


Kali ini dengan suara yang tegas, ustadz Reyhan berujar pada Khalifah. bahkan dengan berlahan ustadz Reyhan pun mengangkat tubuh sang istri, dan membawa nya menuju arah klinik pesantren.


Khalifah yang mendengar perkataan ustadz Reyhan pun hanya mampu menuruti apa yang di katakan suami nya itu. tanpa berani untuk menyela atau pun membatah perkataan dari suami nya itu.


Kini kedua nya pun telah tiba di ruangan UGD klinik yayasan Darul Istiqomah, dan saat itu juga Khalifah langsung mendapatkan penanganan dari pihak medis yang bertugas. begitu pula dengan Jenny, karna justru keadaan Jenny lah yang lebih mengenaskan jika di bandingkan dengan kondisi Khalifah.


Setelah dua jam mendapatkan penanganan dari pihak medis, kini keadaan Khalifah dan Jenny pun jauh lebih membaik. bahkan kini kedua nya telah di pindahkan ke ruangan perawatan, untuk menjalani perawatan lebih lanjut.


Jika saat ini Khalifah di temani suami, uwa Asep, dan aa Ahmad. maka lain hal nya dengan Jenny, yang saat ini justru di ruang perawatan Jenny terlihat sepi tanpa seorang pun yang menemani nya.


Sedangkan tuan Alex, sesaat setelah Jenny di pindahkan ke ruang perawatan. tuan Alex pun pergi dari klinik, dan hanya menugaskan dua bodyguard nya untuk berjaga di depan pintu ruang rawat Jenny.


" Bagaimana keadaan Jenny saat ini ?." ujar Khalifah, karna sejak tadi diri nya memang belum mengetahui keadaan Jenny.

__ADS_1


" Menurut dokter yang menangani Jenny, saat ini kondisi nya jauh lebih baik." kali ini ustadz Ahmad yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh Khalifah.


" Kenapa hanya menurut dokter ? apa tak ada yang melihat kondisi Jenny secara langsung ?." kembali Khalifah berucap, saat mendengar perkataan ustadz Ahmad.


" Sayang nya Kita tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan Jenny neng, bahkan saat ini ruangan nya pun di jaga ketat oleh para bodyguard dari tuan Alex."


Mendengar perkataan aa Ahmad, Khalifah hanya mampu menghela nafas berat nya, sungguh saat ini banyak pertanyaan yang mucul dalam benak Khalifah saat ini. apa lagi keluarga nya pun ikut terlibat dalam masalah yang sebenarnya Khalifah belum mengetahui secara pasti seperti apa kebenaran sesungguh nya.


" Mas, bisa antarkan eneng ke ruangan Jenny ?." setelah terdiam beberapa saat, kini Khalifah mengeluarkan suara nya kembali.


" Tapi neng, kondisi eneng masih lemah. lagi pula di depan ruang rawat Jenny ada bodyguard nya, dan sudah pasti kita bakalan di larang masuk neng." ujar ustadz Reyhan.


" Apa yang di katakan ujang bener neng, kondisi eneng saat ini masih lemah, dan masih butuh istirahat. jadi, lebih baik eneng istirahat dulu." kali ini abah pun langsung ikut menimpali perkataan Ustadz Reyhan.


" Tapi uwa, eneng harus bertemu dengan Jenny saat ini juga. ada hal penting yang harus eneng bicarakan dengan Jenny. semakin cepat masalah ini selesai maka semakin baik. karna apa bila kita menunda nya, maka eneng tidak yakin bahwa keadaan Jenny akan baik - baik aja."


" Maksud eneng ?." kini uwa menatap lekat wajah keponakan nya itu, karna saat ini raut wajah Khalifah mengisyaratkan bahwa akan ada masalah lebih besar yang akan terjadi.


" Eneng tidak bisa menjelaskan nya saat ini, sebelum eneng bertemu dengan Jenny secara langsung."


" Tapi neng, bagaimana eneng akan masuk ? saat pintu ruang rawat Jenny masih di jaga dengan ketat." kali ini ustadz Ahmad kembali membuka suara nya.


" Eneng akan masuk sebagai dokter." ujar Khalifah dengan santai.


" Eneng yakin ? terus bagaimana dengan kondisi eneng ?." kali ini ustadz Reyhan pun ikut membuka suara nya.


Tanpa harus Khalifah mengulang perkataan nya, kini ustadz Ahmad langsung bergegas melakukan permintaan dari adik sepupu nya itu.


Setelah semua berkumpul dalam ruang Khalifah, kini Khalifah langsung menjalankan aksi nya sebagai dokter yang akan memerikasa kondisi Jenny saat ini.


Kini Khalifah pun langsung mengganti konsum penyamaran nya sebagai dokter. bukan penyamaran, karna sejati nya Khalifah memang seorang dokter. hanya mungkin, Khalifah akan meminjam salah satu id card salah satu dokter yang bertugas hari ini.


Dengan seragam dokter yang di kenakan nya, dan tak lupa masker yang menutupi wajah nya. tanpa ada kendala Khalifah masuk ke dalam ruang perawatan jenny.


Saat Khalifah berada dalam ruangan Jenny, kini terlihat Jenny yang tengah terbaring di brankar pasien dengan mata yang masih tertutup rapat.


" Jenn, are you okey ?."ujar Khalifah saat tepat berada di depan brankar yang Jenny gunakan saat ini.


"I'am fine teh .." ujar Jenny dengan lirih, saat diri nya mengetahui saat ini Khalifah yang datang di ruangan nya.


"Okey, syukurlah kalo begitu. apa kamu keberatan jika saat ini menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ? ."


Mendengar perkataan Khalifah, membuat Jenny tertunduk malu, bahkan rasa bersalah pun kini membelenggu fikiran serta seluruh tubuh nya. tanpa berani menatap ke arah wajah Khalifah secara langsung.


" Katakan Jenn, karna ini sangat penting." ujar Khalifah dengan suara tegas.


Saat mendengar suara tegas dari Khalifah, maka Jenny pun menceritakan apa yang sebenar nya terjadi, tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.

__ADS_1


Setelah mendengar apa yang Jenny sampaikan, kini Khalifah pun hanya mampu terdiam. diri nya saat ini tengah memikirkan apa yang seharus nya di lakukan nya ke depan nya.


" Baiklah Jenn, sebaik nya kamu istirahat terlebih dahulu. dan apa pun yang akan terjadi ke depan nya, teteh harap kamu akan siap menerima nya."


" Isya Allah teh .." masih dengan kepala yang menunduk.


" Kalo begitu, teteh akan kembali ke ruangan teteh. sebelum kedua pria plontos itu menyadari keberadaan teteh."


Kini setelah mendapatkan apa yang di ingikan nya, Khalifah pun segera kembali ke ruangan perawatan untuk menemui sang uwa. dan baru saja Khalifah membuka kan pintu Ruangan nya, diri nya langsung membuka suara nya.


" Uwa, hari ini juga kita akan menikahkan aa Fadil dengan Jenny."


" Hah .."


Kali ini tidak hanya uwa Asep saja yang terkejut dengan perkataan Khalifah saat masuk ke dalam ruangan. akan tetapi, ustadz Ahmad dan ustadz Reyhan pun tak kalah terkejut.


" Eneng ngomong apa ?." ujar ustadz Reyhan.


" Neng, itu kepala baik - baik aja kan ?." kali ini justru ustadz Ahmad bertanya tentang kondisi Khalifah.


" Kepala eneng baik - baik aja kok, emang kenapa ?." ujar Khalifah yang justru bingung dengan perkataan Suami dan kakak sepupu nya itu.


" Terus kenapa eneng minta abah untuk nikahin Fadil dengan Jenny ? lagian eneng tau kan, belum nikah aja Fadil udah babak belur. apa lagi kilo sampai beneran nikah sama Jenny, bisa - bisa tuch anak wassalam neng."


" Apa yang di katakan ustadz Ahmad benar neng, itu bapak nya Jenny galak nya ngalahin anjing herder neng. mas aja kena jotos, cuma gara - gara mau pisahin doang." kali ini entah mengapa, perkataan ustadz Reyhan justru terdengar seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibu nya.


" Inilah nama nya musibah membawa berkah, walau pun sempat babak belur, setidaknya Allah memberikan ujian nya terlebih dahulu, dan akan menyiapkan satu kebahagian yang tidak kita sangka - sangka. sama kaya ini .."


Cup


tanpa banyak kata Khalifah langsung memberi sebuah kecupan di pelipis ustadz Reyhan, yang saat ini terlihat memar akibat bogem mentah dari tuan Alex. karna saat ini ustadz Reyhan duduk bersebelahan dengan Khalifah, jadi terlihat jelas ada memar pada wajah ustadz Reyhan.


" Ck .. ck .. bah, kaya nya saat ini kita salah tempat. sebaik nya kita keluar aja bah, dari pada jadi obat nyamuk di ruangan ini." ujar ustadz Ahmad, yang melihat tingkah adik sepupu nya itu.


" Emang di sini ada nyamuk Mad, ini kan masih siang ?." ujar abah yang justru tidak mengerti dengan arah pembicaraan putra nya itu. karna saat Khalifah memberi kecupan pada ustadz Reyhan abah memang tidak terlalu fokus, itu mengapa beliu kurang mengerti dengan perkataan putra nya itu.


Mendengar perkataan abah, membuat Khalifah tersenyum menunduk dengan menahan tawa nya. sedangkan ustadz Ahmad hanya menghela nafas nya saat mendengar perkataan sang abah, yang tak mengerti ke mana arah pembicaraan nya.


Lain hal nya dengan ustadz Reyhan yang saat ini justru tertunduk malu. diri nya benar - benar di buat malu oleh tingkahsang istri.


" Iya bah, ini memang masih siang. tapi entah kenapa, sekarang banyak banget nyamuk gantal yang suka ciplokan di hadapan orang lain tanpa ada rasa malu." kembali ustafz Ahmad memberikan sebuah sindiran pada Khalifah.


Mendengar sindirin dari sang kakak, membuat Khalifah hanya mengerucutkan bibir nya. sedangkan abah Asep hanya tersenyum melihat tingkah sang keponakan.


***


' Maaf ya ..🙏 baru up, soal nya kondisi nya lagi kurang fit. terimakasih ...'

__ADS_1


__ADS_2