
***
Di tempat yang berbeda Khalifah dan Jenny kini telah memasuki area perkebunan pondok pesantren. dan kedua buronan itu pun masih berada dalam pengawasan Jenny sepenuh nya, karna sampai saat ini Jenny masih menodongkan senjata ke arah dua nya.
Sedang Khalifah masih berjalan santai di samping ke dua buronan itu, sejak keluar dari area pesantren tak ada pembicaraan di antara ke empat orang tersebut. hanya ada keheningan yang menyelimuti kegelapan malam saat ini.
Setelah sampai di penghujung area perkebunan. Khalifah yang saat ini berada di samping sang bos pun, langsung tanpa aba - aba memukul belakang kepala nya hingga tubuh pria itu terjerembab ke arah depan.
" Bedebah ... apa yang kau lakukan ?." ujar rekan si bos yang langsung menodongkan senjata milik nya pada Khalifah. saat melihat rekan nya terjerembab ke arah depan.
Sedang si bos langsung menatap Khalifah dengan tajam, bahkan diri nya langsung berdiri dan hampir saja menyerang Khalifah jika Jenny tidak menghentikan nya. kedua nya tidak menyadari bahwa pukulan yang Khalifah berikan pada sang bos, adalah untuk menempel kan sebuah chip pada selah - selah rambut di area belakang kepala si bos.
Chip ini merupakan alat pelacak pada manusia, yang dapat menempel sempurna pada kulit tanpa di sadari. chip pelacak ini juga dapat di tanam pada tubuh manusia, karna saat ini Khalifah dan Jenny pun menggunakan nya. tidak hanya Khalifah dan Jenny saja, akan tetapi seluruh anggota black tim pun menggunakan chip pelacak pada tubuh mereka.
" Dor .." satu tembakan Jenny lepas kan ke arah rekan si bos yang menodongkan senjata nya pada Khalifah. tembakan itu tepat mengenai tangan yang memegang senjata, sehingga senjata itu pun terjatuh.
" Aaahhh .... dasar bedabah." ujar si pria yang mengerang menahan rasa sakit akibat luka tembak yang di lakukan Jenny.
Sedang kan si bos langsung menghentikan langkah kaki nya, saat mendengar suara tembakan dan di susul dengan suara erangan kesakitan dari rekan nya. diri nya tak pernah menduga bahwa Jenny dengan sangat mudah melepaskan tembakan.
Kedua nya memang mengetahui bahwa kedua gadis di depan nya memang lah bukan gadis sembarangan. akan tetapi, melepaskan tembakan dengan mudah. sungguh di luar ekspetasi kedua nya, bahkan tembakan yang di lakukan Jenny tepat mengenai sasaran, walau pun dalam keadaan cahaya yang remang. sungguh kedua nya sangat salah telah berurusan dengan kedua gadis psikopat di depan nya.
" Apa yang kalian ingin kan ? apa kalian ingin membunuh kami ? bukan kah kalian berjanji akan membebaskan kami dari penangkapan polisi ?." ujar si bos dengan nada yang sedikit gemetar.
Setelah melihat aksi Jenny yang menembak tangan dari rekan nya. membuat si bos merasa takut jika kedua gadis di depan nya saat ini membunuh dirinya. sedang kan rekan di samping nya sampai saat ini, masih saja meringis menahan sakit pada tangan nya. tangan yang tembus terkena peluru senjata milik Jenny, mengeluarkan begitu banyak darah yang mengalir deras dari luka tembak itu.
" Siapa yang berjanji membebaskan kalian dari penangkapan polisi ? saya tak pernah menjanjikan hal itu." ujar Khalifah santai.
" Lantas apakah kalian berdua ingin membunuh kami di sini ?." ujar si bos, ada rasa takut yang menjalar di tubuh nya saat mendengar perkataan dari Khalifah yang sangat santai.
Diri nya merasa bahwa saat ini, nyawa nya ada di penghujung kematian. diri nya tak mengira jika lepas dari penangkapan polisi membuat diri nya harus menukar dengan nyawa nya. jika dari awal diri nya tau bahwa kedua gadis di hadapan nya adalah psikopat, maka diri nya akan lebih memilih untuk tertangkap polisi saja. dari pada harus berurusan dengan ke dua gadis di depan nya saat ini.
__ADS_1
" Engga ada guna nya saya membunuh kalian. sebaik nya kalian cepat pergi dari sini, sebelum teman saya itu, berubah pikiran dan merubah arah tembakan nya menuju jantung kalian." dengan nada sedikit mengancam kedua nya.
" Jjjadi .. kami boleh pergi." ujar rekan si bos dengan suara terbata menahan sakit, serta terlihat ada binar di kedua mata nya saat mendengar Khalifah menyuruh bos serta diri nya untuk pergi.
" hhmm ..." Khalifah hanya berdehem untuk mengiyakan perkataan rekan si bos.
" Pergi lah ... waktu lo berdua cuma tiga menit dari sekarang, jika dalam waktu tiga menit lo berdua masih terlihat oleh gue. jangan salah kan gue, kalo tembakan yang kedua gue menembus jantung lo berdua. " kali ini Jenny lah yang membuka suara nya, yang terdengar sangat menyeramkan ditelinga kedua pria itu.
" Bbbaik lah ... kami akan segera pergi."
Tanpa di perintahkan dua kali, kedua nya pun langsung bergegas pergi dari hadapan Khalifah dan Jenny. sedangkan Jenny dan Khalifah hanya tersenyum melihat tingkah kedua buronan yang lari terbirit - birit dari hadapan kedua nya.
" Jenn .. aktif kan sekarang. " ujar Khalifah memberi perintah pada Jenny.
" Okey .. " dengan senang Jenny pun melaksanakan perintah.
Jenny langsung mengeluarkan ponsel dari balik kantong baju yang di kenakan nya. entah apa yang di lakukan Jenny saat ini, yang jelas jemari nya tengah bermain pada ponsel pintar milik nya. tak berapa lama Jenny pun telah menyelesaikan tugas nya.
" Clear miss. "
" Ok."
Kedua nya pun langsung berbalik arah menuju kediaman Khalifah dengan berjalan santai. seolah - olah apa yang terjadi barusan bukan lah apa - apa bagi kedua nya. tak berapa lama ke dua nya pun sampai di kediaman yang selama beberapa bulan ini menjadi tempat bernaung ke dua nya.
" Miss .. apa rencana miss selanjut nya ?."
saat kedua nya tengah bersantai di meja makan dengan meminum air putih dingin.
" Dia akan menjadi target kita saat ini jenn, apa bila benar apa yang aku fikir kan. target akan membawa kita pada bos besar, yang menjadi incaran black tim sejak beberapa bulan yang lalu."
" Apa miss yakin ?."
" Aku yakin Jenn .. dari pembicaraan kedua nya, yang tak sengaja terdengar sesaat setelah aku berhasil memasuki ruangan aula tadi."
__ADS_1
" Okey, gue akan bertanggung jawab mengawasi pergerakan dari target mulai saat ini."
" Good." dengan acungan jempol yang Khalifah berikan pada Jenny.
Saat keduan nya tengah berbicara serius terdengar suara ponsel Jenny bergetar. " dret .. dret .. dret ... " mendengar ponsel nya yang bergetar Jenny pun melihat, kontak siapa yang menghubungi diri nya hampir tangah malam begini.
Saat melihat nama kontak yang ada pada layar ponsel nya, Jenny pun langsung menghela nafas nya. bagai mana tidak, nama yang tertera pada layar ponsel nya adalah si ustadz gesrek. dengan gaya malas nya Jenny pun terpaksa mengangkat telpon yang masuk pada ponsel nya.
" Hallo ..."
" Assalamualaikum .. gadis tarsan, kalian di mana ?." ujar Fadil yang terdengar sangat khawatir.
" Di rumah." ujar Jenny singkat.
" Baik lah .. Assalamualaikum. tut ..tut .." tanda ponsel yang di matikan secara sepihak oleh Fadil, bahkan sebelum Jenny sempat bertanya kembali.
" Iss ... dasar gesrek." Jenny pun mengumpat kesal dengan Fadil yang memutuskan sambungan telpon nya begitu saja.
Sedangkan Khalifah sudah sangat khatam dengan raut wajah Jenny. dan sudah pasti bahwa yang menghubungi Jenny tadi adalah sang kakak. siapa lagi yang mampu membuat wajah cantik Jenny berubah menjadi kesal apabila bukan sang kakak.
" Apa yang di katakan a'a Fadil ?."
" Entah lah, diri nya hanya bertanya kita berada di mana. setelah itu langsung mematikan ponsel nya begitu saja." dengan raut wajah yang sangat kesal.
" Jenn, apa yang akan kamu lakukan jika a'a Fadil adalah jodoh mu." ujar khalifah bertanya, dan kali ini dengan nada yang terdengar serius.
" Gue janji gue bakal mandi kembang tujuh rupa di depan pesantren, dan gue juga bakal teriak di depan pesantren kalo gue cinta mati sama si ustadz gesrek itu." ujar Jenny bernada serius di depan Khalifah.
" Okey, aku bakal tagih janji kamu jenn suatu saat nanti. dan ingat .. ! jangan coba - coba mengingkari nya apa lagi menyesalin nya jenn ..."
" Engga akan pernah, karna itu engga akan terjadi."
" Okey, kita lihat seberapa besar kamu untuk menghindari atau mengingkari nya. jika Allah yang telah menetap kan jodoh mu."
__ADS_1
Mendengar itu nyali Jenny langsung menciut, jika tadi diri nya merasa yakin dengan perkataan nya. tapi kali ini, diri nya seolah ragu akan janji yang di ucapakan nya pada Khalifah, jika itu menyangkut kuasa Allah. karna jika sudah Allah berkehendak tak ada yang mustahil bagi Allah.
***