Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Suami Polos


__ADS_3

***


Setelah pernikahan Jenny dan ustadz Fadil di laksanakan, kini tak terasa dua hari sudah pernikahan kedua nya telah berjalan. selama itu, Jenny masih menjalani perawatan di klinik. selama menjalani perawatan dua hari ini, ustadz Fadil pun selalu menemani sang istri.


" Dek, mau pulang ke mana ?." ujar ustadz Fadil bertanya, ketika diri nya tengah membereskan barang - barang sang istri.


" Ya pulang ke rumah lah .. emang mau pulang ke mana lagi." ujar Jenny dengan santai, bahkan perhatian nya sejak tadi masih saja asyik pada ponsel di tangan nya.


" Maksud nya mau pulang ke rumah daddy atau gimana? bisa juga kok kalo mau pulang ke hati saya he .. he .." ujar ustadz Fadil terkekeh.


Mendengar perkataan ustadz Fadil, sejenak Jenny tertegun. diri nya sedikit bingung ke mana arah pembicaraan sang suami saat ini.


" Ngapain ke rumah daddy ? bukannya Jenny saat ini istri ustadz Fadil ya .. lagi pula, istri memang harus pulang ke rumah suami nya kan ? dan kemana pun suami nya membawa nya, maka istri wajib mengikuti. atau apa mungkin, ustadz tidak ingin tinggal Bersama dengan Jenny ?."


" Eh .. bukan itu maksud saya. saya hanya khawatir kamu justru menolak, jika saya mengajak untuk ikut tinggal di area pesantren. " ujar ustadz Fadil yang merasa bersalah dengan pertanyaan yang di ajukan nya pada sang istri.


Sebenar nya ustadz Fadil memang ingin mengajak Jenny untuk tinggal di pesantren. mengingat jika diri nya mempunyai tanggung jawab yang besar pada pesantren. akan tetapi, diri nya takut jika Jenny akan menolak ajakan nya.


Mengingat jika Jenny yang terlahir dari keluarga yang berada, membuat ustadz Fadil ragu, diri nya faham jika mungkin Jenny tak akan mau tinggal di lingkungan sederhana.


" Ya jelas mau lah .. jangankan tinggal bareng, bobo bareng juga Jenny engga bakalan nolak kok. lagian ustadz kan lebih faham agama dari pada Jenny. jadi, kenapa mesti harus bertanya lagi."


" Ehh .. kk kamu tadi bilang apa ? bbb .. bobo bareng ?." ujar ustadz Fadil dengan terbata, diri nya terkejut dengan apa yang di katakan sang istri. bahkan kini degup jantung nya sudah berdetak tak beraturan.


" Iya, emang kenapa ?" dengan mengerutkan kening nya.


" Mana boleh .. kk kamu kan lagi ha ha ham ..."


" Hamil maksud nya ... " ujar Jenny menyela perkataan suami nya itu.


Mendengar perkataan Jenny, ustadz Fadil hanya mampu menundukan kepala nya. diri nya merasa bersalah pada sang istri dengan perkataan yang baru saja di lontarkan nya.


Sedangkan Jenny yang melihat kepala ustadz Fadil yang tertunduk, membuat diri nya menghela nafas nya. dan kini dengan berlahan Jenny pun menghampiri sang suami yang tengah duduk di sofa.

__ADS_1


" Memang kenapa ?." dengan berlahan Jenny duduk di pangkuan ustadz Fadil, dengan kedua tangan yang di lingkarkan di leher suami nya itu.


Glek ..


Melihat apa yang di lakukan Jenny saat ini, membuat ustadz Fadil meneguk salivah nya dengan kasar. bahkan saat ini, seluruh bulu yang ada di tubuh ustadz Fadil terasa merinding. diri nya benar - benar tak yakin akan mampu bertahan, jika sang istri saja justru menggoda nya seperti saat ini.


" Katakan !! apa Jenny tak boleh, jika ingin bermanja dengan suami Jenny seperti ini ?." ujar Jenny masih dengan posisi yang sama.


' Ya Allah .. kenapa engkau ciptakan wanita penggoda secantik ini ? ternoda sudah tubuh hamba ya Allah, hamba masih polos hu .. hu..' Jeritan hati ustadz Fadil.


" Jj .. Jenn, ii .. ini klinik. nanti ada yang lihat." ujar ustadz fadil dengan berusaha mengendalikan gejolak yang ada pada tubuh nya, bahkan saat ini tubuh nya terasa gemetar.


Melihat reaksi tubuh sang suami, justru membuat Jenny semakin ingin menggoda suami polos nya itu. bahkan dengan berani Jenny mendekatkan wajah nya ke arah wajah sang suami.


" Memang kenapa ? Jenny kan istri ustadz, lalu apa yang salah ?." masih pada posisi yang sama, Jenny tak bergeming dengan apa yang dikatakan suami nya itu.


Baru saja ustadz Fadil ingin mengeluarkan suara nya, dari arah pintu ruang rawat terdengar suara ketokan.


" Tok .. tok .."


Pintu kamar pun terbuka, kini terlihat jelas bahwa sang adik sepupu saat ini tengah berkunjung bersama Arum, gus Fahmi, dan ustadz Reyhan.


" Wa'alaikumus salam ..."


" Wah, wah ... adegan 21+ akan segera di mulai yah ? sorry kalo kita ganggu." ujar Khalifah dengan santai, bahkan diri nya tidak merasa sungkan saat melihat posisi kedua pengantin baru yang terlihat sangat intim.


" Asstagfirullah ..." kini ada tiga pasang mata yang justru beristigfar saat melihat adegan yang tersaji di hadapan mereka.


Saat ini Khalifah memang tidak sendiri ketika diri nya memasuki ruang rawat Jenny. ada ustadz Reyhan, Arum, dan gus Fahmi yang menemani nya saat ini. akan tetapi, melihat apa yang di lakukan Jenny dan ustadz Fadil, ketiga nya pun langsung reflek membalikan badan nya, kecuali Khalifah yang justru menatap kedua nya dengan santai.


" Neng ..." ujar ustadz Fadil menarik pelan tangan sang istri untuk membalikan pandangan nya.


" Kenapa mas ? lagian kita udah pernah melakukan yang lebih dari itu kan ?." ujar Khalifah dengan tatapan polos nya pada sang suami.

__ADS_1


" Ehem .."


Ustadz Reyhan langsung berdehem untuk mengalihkan rasa malu nya. bahkan kini justru ustadz Reyhan yang di buat salah tingkah dengan perkataan sang istri.


Sedangkan Jenny dan ustadz Fadil langsung beranjak dari sova, ustadz Fadil menjadi kecanggungan dan salah tingkah. bahkan dirinya merasa seperti pencuri yang kepergok warga.


Lain hal nya dengan Arum dan sang suami, kedua nya justru salah tingkah dengan perkataan Khalifah barusan. hingga membuat kedua nya tersenyum geli mendengar nya.


" Ck .. si teteh pakai di pamerin segala lagi." ujar Jenny berdecak mendengar perkataan Khalifah.


" Emang kenapa ? tapi, teteh jadi ingat dengan perkataan kamu saat pernikahan Arum dan gus fahmi, bahwa adegan 21+ emang butuh patner yang label nya halal. pantas aja waktu kamu main geret teteh keluar dari kamar Arum, kalo adegan nya hhmmm ...." dengan cepat Jenny menutup mulut Khalifah, diri nya tak ingin jika sang teteh akan berbicara hal yang ekstrim.


" Teh .. jangan bikin malu napa ?." ujar Jenny berbisik pada teteh nya itu.


Sungguh ustadz Reyhan di buat tertegun dengan pembicaraan absurd sang istri. sedangkan Arum dan gus Fahmi hanya menundukan kepala nya tersenyum menahan malu.


" Kenapa pada malu - malu sich, kaya abg aja dech. ingat umur donk !! udah pada nikah juga. jadi, engga mungkin kalo kalian engga ngerti masalah ibadah yang itu kan ?." ujar Khalifah dengan lugas.


" Maaf ya neng, aa Fadil memang sudah menikah. tapi sempai sekarang aa Fadil masih tersegel dengan rapi, aa Fadil juga masih polos." kali ini ustadz Fadil langsung menyela perkataan sang adik. bagaimana pun juga, otak nya masih belum terkontaminasi dengan virus mesum.


" Okey, mungkin sekarang eneng percaya, karna sebentar lagi, eneng yakin. kalo Jenny yang bakal polosin dan buka segel aa Fadil, iya kan Jenn ? dan jangan lupa dengan janji


Jenn, karna teteh akan terus tagih itu." dengan menggerakan kedua alis nya, Khalifah menggoda Jenny.


" Huh ... " Jenny menghela nafas nya. " it's okey. Jenny akan tepati."


Mendengar perkataan Jenny dan Khalifah membuat semua nya menjadi penasaran dengan janji Jenny pada Khalifah. janji yang hingga saat ini menjadi rahasia kedua nya.


Setelah di rasa semua nya telah selesai, ketiga pasang suami istri itu segera pergi dari klinik pesantren menuju kediaman abah Asep. karna rencana nya malam ini,keluarga abah akan mengadakan syukuran di rumah nya.


Abah sekeluarga memang telah mengetahui apa yang terjadi pada Jenny, karna sebelum ijab qobul di gelar, Khalifah telah terlebih dahulu menjelaskan pada sang uwa hingga membuat uwa Asep pun mengerti dan menyetujui pernikahan kedua nya.


Tapi lain hal nya dengan ustadz Fadil dan keluarga dari Jenny, karna hingga saat ini mereka memang masih mengira jika Jenny memang tengah mengandung.

__ADS_1


***


__ADS_2