
***
Masih dengan Khalifah yang berada di dalam kamar yang merebahkan diri di atas tempat tidur. tak lama terdengar bunyi ketokan di pintu kamar.
" Tok ... tok ... tok .., cklek " pintu kamar pun terbuka dan muncul uwa Halimah di balik pintu kamar sambil membawa nampan yang berisi teh hangat dan cemilan buatan nya.
Melihat Khalifah yang sedang merebahkan diri di tempat tidur, uwa Halimah pun meletak kan nampan yang di bawa nya tadi di atas meja di sebelah tempat tidur dan duduk di samping Khalifah sambil tersenyum.
" Ya Allah uwa, kenapa pakai bikinin minum segala untuk eneng, kan eneng sudah bilang nanti eneng bisa bikin sendiri ke dapur. terus kenapa juga pakai di bawa ke kamar segala . " Khalifah langsung duduk ketika uwa Halimah masuk ke dalam kamar dan melihat sang uwa membawa sebuah nampan yang berisi air minum dan cemilan.
" Udah engga apa - apa, lagian uwa juga engga lagi ngapa - ngapain. cape yaa neng itu muka sampai kelihatan pucat gitu ?. " sambil meraba dahi keponakan nya itu, khawatir sang keponakan terserang demam.
Melihat kecemasan uwa Halimah Khalifah pun tersenyum. " eneng baik - baik aja uwa, cuma kecapean aja, tadi habis ada kegiatan. paling juga di bawa istirahat bentar udah baikan kok. " ujar Khalifah menjelaskan agar uwa Halimah tidak terlalu cemas dengan keadaan nya saat ini.
" Ya udah kalo gitu eneng istirahat aja dulu, uwa juga mau ke belakang. tapi kalo nanti butuh sesuatu, bilang sama uwa ya ... itu di minum dulu teh hangat nya biar lebih segeran. " ujar uwa Halimah yang bangkit dari duduk nya dan keluar dari kamar.
Sebelum sang uwa bangkit dari duduk nya. " iya uwa, terima kasih teh hangat sama cemilan nya. " Khalifah langsung mengucapkan terima kasih dengan rasa sungkan pada uwa Halimah. sedang kan uwa Halimah yang mendengar keponakan nya mengucap kan terima kasih pada nya langsung tersenyum serta menganggukan kepala nya.
" brumm ... brumm ... " sekitar pukul 17:00 sore suara mobil yang berhenti di depan rumah. dari dalam mobil keluar lah lelaki paruh baya yang usia nya sekitar enam puluh tahun yang biasa Khalifah panggil dengan uwa, dan begitu pula dengan ke dua anak nya Fadil dan Arum mereka adalah sepupu dari Khalifah.
" Assalamualikum ... " ke tiga nya pun serempak memberikan salam ketika akan memasuki rumah.
" wa'alaikumus sallam ... " terdengar jawaban salam dari dalam rumah yang lebih tepat nya adalah dapur, sedang kan Khalifah sendiri saat ini tertidur karna tubuh nya yang lelah hingga tak sadar jika diri nya tertidur.
Ketiga nya memilih untuk duduk di ruang tamu, sambil bersantai sebentar sebelum waktu magrib. dari arah dapur uwa Halimah datang sambil membawa nampan yang berisi teh hangat untuk sang suami.
" Abah baru pulang ?. " ujar uwa Hamilah sambil meletakan nampan yang berisi teh hangat dan tak lupa mencium tangan sang suami dengan takzim. dan bergantian dengan kedua anak nya yang mencium tangan sang ummi.
__ADS_1
" iya mi , apa si eneng belum datang ?. " tanya abah pada istri nya yang melihat keadaan rumah yang masih sepi seperti tidak ada penghuni lain selain istri nya.
" Sudah bah, si eneng lagi istirahat, itu di kamar Arum. " ujar ummi menjelaskan sambil menunjuk salah satu kamar.
" Eh ... beneran si eneng sudah datang mi ?. " tanya sang putri dengan wajah yang sangat antusias.
Melihat putri yang akan berdiri dari duduknya.
" mau kemana rum ? jangan di ganggu dulu si eneng nya kasihan, tadi saja muka nya pucet. ummi sampai kuatir melihat nya. terlihat benar - benar kelelahan, ummi engga tega lihat nya. " ujar ummi yang menjelaskan kondisi Khalifah.
" Abah emang kalo jadi dokter militer itu gimana sich ? kenapa kesibukan eneng kaya engga ada berhenti nya ?. " ujar
Arum bertanya pada abah nya.
Tadi nya niat hati ingin segera bertemu dengan adik sepupu nya itu yang hampir tiga tahun lebih tidak pernah bertemu kecuali sambungan telpon saja. akan tetapi mendengar penjelasan dari ummi nya, mengurungkan niat nya untuk menemui Khalifah.
Selama empat tahun terakhir, sangat jarang di temui nya tidak hanya itu kepribadian sang keponakan ikut berubah menjadi sosok yang misterius menurut sang uwa. namun uwa Asep tak berani menanyakan langsung pada Khalifah dia hanya menanyakan nya melalui sang adik.
Sebenar nya apa yang terjadi pada Khalifah bukan hanya sang uwa saja yang menyadari nya. akan tetapi bunda dan ayah pun sangat tahu putri bungsu nya itu berubah menjadi sosok yang misterius, walau pun Khalifah terlihat ceria, manja , dan sedikit kekanak - kanakan di depan mereka, akan tetapi perasaan ke dua nya sangatlah kuat terlebih sang bunda yang mengandung dan melahirkan nya.
Empat tahun terakhir Khalifah menjadi sosok yang lebih tertutup, lebih pendiam, dan waktu tugas serta latihan yang tak bisa di mengerti oleh keluarga. bunda pun pernah mencoba bertanya pada putri nya, akan tetapi sang putri mengatakan bahwa semua nya baik - baik saja.
" Iya bah, setahu Fadil juga kalo eneng memang dulu tak sesibuk saat ini. walau pun eneng sebagai perwira TNI, dan juga sekaligus sebagai dokter. bahkan dulu eneng sering menghubungi Fadil, hanya untuk menanyakan keluarga dan perkembangan ponpes. tidak seperti saat ini, Fadil rasa eneng lebih tertutup dan misterius, seperti kaya agen - agen rahasia gitu. " ujar Fadil yang setuju dengan abah nya.
" Itu karna A'a Fadil emang suka nonton film james bond, mangka nya apa - apa mesti agen rahasia di bawa - bawa. " ujar Arum yang langsung mencibir sang kakak.
" Eehh dek, lagian apa nya yang salah sama agen rahasia. keren lho ,jadi mata - mata musuh, penembak jitu , ahli dalam bela diri, bahkan punya banyak kemampuan lain. lah ... dari pada kamu suka nya sama opa - opa. masa iya, sama aki - aki masih juga suka. " Fadil pun tak kalah mencibir sang adik.
__ADS_1
" Iiihhh, A'a Fadil. kan, sudah Arum bilang oppa - oppa korea itu beda sama opa - opa indo. beda arti nya beda juga sama bentukan nya. A'a jadi agen rahasia sana, kaya james bond sekalian. jadi sebelum A'a menembak, A'a duluan yang kena tembak." Mendengar sang kakak mengatakan bahwa diri nya menyukai aki - aki Arum tak terima dan langsung kesal.
" Ehh dek, jangan kan mau jadi agen, jadi polisi sama TNI aja A'a sudah gugur duluan. engga lihat ini badan, dari dulu engga tinggi - tinggi. ini gara - gara ummi, engga kasih susu Anline waktu A'a dalam masa pertumbuhan. coba aja kalo di kasih, tulang nya tumbuh ke atas engga ke samping. " ujar Fadil yang justru menyalah kan ummi nya karna badan nya yang pendek.
" Lho ... lho ... kok ummi yang salah sich, ya emang tinggi nya kamu aja yang udah mentok segitu, mau di kasih minum susu apa aja juga, tetap kaya gitu. lihat aja yang cetak, tinggi apa engga ?. " ujar ummi yang tidak ingin di salah kan dan justru kini menyalah kan sang suami.
"Assatagfirullah, ini sebenar nya ngomong apa'an sich, kok sampai tukang cetak segala di bawa - bawa. lagian kalo susu buat anak - anak itu Milo, bukan nya Anline. sudah - sudah waktu nya hampir magrib, cepat siap - siap.ndan sakalian bangun kan si eneng untuk sholat magrib. " ujar abah langsung menghentikan obrolan pada sore itu dan langsung memasuki kamar untuk bersiap - siap berangkat ke mesjid.
Pada malam hari tepat nya setelah acara makan malam, mereka kembali berkumpul di ruangan keluarga dengan formasi lengkap dengan kedatangan A'a Ahmad beserta anak dan istri nya dan tak lupa pula dengan Khalifah karna malam ini rencana nya uwa Asep ingin berbicara penting dengan nya.
" Neng, gimana keadaan eneng udah baikan ?." uwa Asep bertanya keadaan Khalifah sebelum ke inti pembicaraan, uwa hanya tidak ingin kesehatan sang keponakan bertambah tidak baik.
" Allhamdulilah uwa, setelah beristirahat eneng sudah merasa lebih baik. " apa yang di katakan Khalifah memang benar ada nya, setelah beristirahat sore tadi di tambah saat setelah sholat magrib uwa Halimah sempat membuatkan nya wedang jahe. jadi tubuh nya pun sudah lebih fres.
" Allhamdulilah kalo begitu. neng, uwa meminta eneng untuk datang kemari, karna ada hal penting yang ingin uwa sampai kan.
ini masalah amanah almarhum aki sebelum meninggal. aki berpesan pada uwa untuk menikah kan salah satu cucu perempuan aki dengan cucu dari sahabat nya. dan masalah ini sudah pernah uwa bicarakan sebelum nya dengan bunda eneng, jadi sekarang uwa tanya, siapa yang akan menjalan kan amanah dari aki ?." uwa akhir nya menjelaskan perihal tentang tujuan nya meminta Khalifah untuk datang secara langsung, dan ternyata ini adalah masalah perjodohan.
Khalifah dan Arum pun terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan dari pria paru baya di depan mereka. Khalifah dan Arum pun sama - sama bingung dan entah apa yang di pikir kan ke dua nya yang jelas hanya keheningan dari ke dua nya bahkan suara nafas pun hampir tak terdengar.
" Neng, apa eneng masih belum bisa memutus kan juga ? bukan kah bunda eneng sudah mengatakan nya sebulan yang lalu, apa masih belum cukup untuk berfikir ?. " uwa kembali menambah kan perkataan.
" Apakah perjodohon ini melakukan ta'aruf terlebih dahulu.? maksud eneng perkenalan lebih dulu baru jika cocok di lanjutkan, dan apa bila tidak ada kecocokan maka akan di batal kan. " ujar eneng bertanya serta mengutara kan pendapat nya.
" Tidak neng, mereka akan langsung mengkhitbah dan itu akan di lakukan dua minggu lagi." ujar uwa yang langsung membuat Khalifah shoch. bagai mana tidak, bahkan diri nya saja tidak tau siapa nama colon nya tersebut dan tiba - tiba langsung di khitbah sungguh drama yang membuat nya pusing.
Khalifah kembali terdiam diri nya bingung untuk mengambil keputusan, di lirik nya Arum yang hanya menunduk kan kepala nya. jangan kan membantu nya untuk mengatakan pendapat tentang perjodohan ini, gadis itu bahkan tidak berani untuk sekedar mengangkat kepala benar - benar membuat Khalifah frustasi. bagai mana tidak, jika diri nya menolak maka Arum lah yang harus menggantikan nya, akan tetapi jika diri nya menerima diri nya pun masih belum yakin.sungguh sebuah keputusan yang sulit.
__ADS_1
***