
***
Masih dengan bunda, yang saat ini tengah memandangi beberapa kertas yang ada di hadapan nya saat ini. sudah tiga hari bunda masih saja melakukan hal sama, yaitu memandangi dan membaca dengan teliti kata demi kata yang tertulis pada kertas putih itu. tak ada satu kata pun yang terlewatkan oleh bunda, bahkan dalam tiga hari ini bunda sudah melakukan nya puluhan kali.
Jika awal nya bunda sangat bersemangat dalam rencana nya. tapi saat ini entah kenapa, timbul keraguan pada diri bunda.
keraguan akan pilihan nya, serta keraguan akan putri kecil nya. diri nya ragu apakah pilihan nya akan membuat kebahagian pada kehidupan masa depan putri nya.
Karna apa yang bunda lakukan saat ini, adalah babak penentu dari masa depan sang putri. apa lagi setelah diri nya mengetahui tentang penolakan yang gus Fahmi berikan pada sang putri, membuat hati bunda seakan hancur berkeping - keping. bunda sadar mungkin memang Fahmi bukan lah jodoh yang di siapkan Allah untuk sang putri. akan tetapi, sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan putri nya, sungguh bunda tidak terima dan sakit hati. saat sang putri di tolak secara kejam, bahkan sebelum kedua bertemu.
Ada ketakutan dalam diri bunda, jika hal serupa akan terjadi kembali pada sang putri. apa lagi kali ini bunda masih melakukan perjodohan yang sama. bunda hanya khawatir dengan sang putri, yang hingga saat ini tidak pernah memiliki waktu untuk memikirkan tentang kehidupan pribadinya.
" Huh .. " bunda menghela nafas nya saat kegiatannya selesai.
" Gini amat yah .. mau cari mantu." ujar bunda dengan mengumpul kan dan membereskan semua kertas yang ada di meja.
Baru saja bunda akan beranjak dari tempat duduk nya di ruang tamu, dari arah luar terdengar seseorang mengucapkan salam. saat ini bunda memang tengah sendiri di rumah, karna abah dan ummi Halimah sedang melakukan kunjungan keluarga yang saat ini tengah terkena musibah. sedang Fadil, saat ini pemuda itu tengah mengajar di ponpes.
" Assalamualaikum ... "
" Wa'alaikumus salam ..."
Dengan berjalan ke arah pintu utama rumah di kediaman sang a'a, bunda menjawab salam.
" Ehh .. cari siapa yah ?." ujar bunda bertanya pada sosok pemuda dengan setelan gamis serta sarung, dan tak lupa peci hitam yang bertengger di kepala nya.
Melihat sosok pemuda di depan nya saat ini, bunda sepertinya tidak asing, bunda pun memandangi pemuda di depan nya itu tanpa berkedip. apa lagi dengan wajah yang di miliki pemudah di depan nya saat ini, sungguh ciptaan Allah yang sempurna.
" Punten bu, saya di suruh ustadz Fadil untuk mengantarkan data pribadi pada ibu." ujar pemuda itu.
Dengan kepala yang menunduk pemuda itu membuka suara nya , apa lagi saat ini bunda sedang memandangi diri nya dengan tanpa berkedip. membuat pemuda itu sedikit tidak nyaman.
" Ohh .. iya ." mendengar suara dari pemuda di hadapan nya, membuat bunda langsung tersadar.
" Ini bu ... " ujar nya dengan memberikan kertas yang berisikan data diri nya pada bunda.
" Iya, terimakasih. siapa nama mu ?." ujar bunda bertanya, dengan menerima kertas yang sodorkan pemuda itu pada nya.
" Muhammad Reyhan bu .."
__ADS_1
" Apa kita pernah bertemu, saya seperti tidak asing dengan wajah mu." kembali bunda bertanya pada Rayhan, tapi kali ini pandangan bunda tertuju pada kertas yang ada di tangan nya saat ini.
" Pernah bu, sewaktu saya menghadiri pernikahan dek Arum." ujar Reyhan yang mengingat tentang bunda.
Reyhan memang mengenali siapa wanita paruh baya yang saat ini ada di hadapan nya. karna Reyhan pernah bertemu, saat menghadiri pernikahan Arum dua bulan yang lalu.
" Benarkah ? Reyhan .. Reyhan .. ahh saya ingat, kamu putra dari a'a Didin kan ?." ujar bunda sumringah saat mengingat pemuda di hadapan nya saat ini.
" Iya bu, saya Reyhan putra almarhum abah Didin."
" Ahh .. iya, saya baru tau dari a'a Asep kalo a'a Didin sudah meninggal. apa kamu pengajar di pesantren ?." entah kenapa ada semangat dalam diri bunda saat melihat Reyhan, putra dari Didin laki - laki yang sempat menjadi pusat perhatian bunda di masa lalu.
" Iya bu, saya pengajar di pesantren. baru sekitar satu bulan." ujar Rayhan pada bunda.
" Ohh .. baiklah kalo begitu, kamu bisa kembali. dan terimakasih atas data nya." ujar bunda pada Reyhan dengan tersenyum.
" Kalo begitu saya permisi bu, Assalamualaikum ..."
" Wa'alaikumus salam .."
Setelah mengucapkan salam Reyhan pun kembali menuju pesantren. sedang kan bunda sendiri kini tengah tersenyum - senyum melihat kepergian Reyhan. entah apa yang bunda fikirkan saat ini, yang jelas raut wajah bunda terlihat sumringah.
Setelah kepergian Reyhan, bunda pun kini kembali masuk ke dalam rumah dengan masih tersenyum. kali ini bunda memutuskan untuk menghubungi sang putri, yang kini tengah berada di paris.
" Assalamualaikum bun ..."
" Wa'alaikumus salam neng .."
" Bunda sehat kan bun ?."
" Allahamdulilah bunda sehat, neng sibuk.?."
" Engga bun, ada apa bun ?."
" Neng, kalo seandai nya bunda jodohin eneng gimana ?." tanpa banyak basa - basi bunda langsung menyapaikan tujuan nya menelpon sang putri.
" Wah .. bunda bener - bener udah lelang eneng yah .. emang sama siapa bun ? dan kalo emang menurut ayah sama bunda itu adalah yang terbaik buat eneng, insya Allah eneng ridho dan ikhlas menjalani nya bun. eneng akan ikut apa kata ayah dan bunda saja. asal jangan di tolak lagi kaya sebelum nya bun .. heh .. he .." ujar Khalifah pada sang bunda dengan kekehan di akhir perkataan nya. saat ini diri nya hanya pasrah dengan semua keputusan kedua orang tua nya.
" Eneng yakin, menyerahkan semua nya pada ayah dan bunda ?." kali ini bunda bertanya dengan keyakinan putri nya itu.
__ADS_1
" Insya Allah bun, eneng yakin." ujar Khalifah mantap.
" Insya Allah, Mungkin ini adalah jodoh terbaik yang telah Allah persiapkan untuk eneng. dan mungkin ini lah jawaban doa bunda selama ini. baiklah kalo begitu, bunda akan bicarakan hal ini dengan ayah dan uwa." ujar bunda.
" Bun .. boleh eneng minta sesuatu ?."
" katakan apa yang eneng minta."
" Jika pria yang di jodohkan dengan eneng menerima perjodohan ini, maka eneng minta pada bunda. nikah kan lah eneng saat itu juga, karna eneng tidak ingin ada proses khitbah seperti sebelum nya." entah kenapa, kegagalan pada proses khitbah membuat Khalifah trauma dengan proses yang satu itu.
" Baik lah jika itu permintaan eneng, bunda akan usahakan. kali begitu bunda tutup dulu telpon nya, eneng baik - baik di sana jangan lupa sholat. Jenny juga jangan lupa untuk di ingatkan. kalo begitu sudah dulu neng Assalamualaikum ..."
Setelah mengucapkan salam, dan mendengar jawaban dari sang putri. bunda pun langsung memutuskan telpon nya dengan putri nya itu. setelah mendengar perkataan sang putri, membuat bunda merasa lega. saat ini bunda pun harus membicarakan nya terlebih dahulu dengan abah.
Hari pun kini telah berganti, siang pun kini telah menjadi malam, sesaat setelah acara makan malam selesai, saat ini di ruang keluaraga tengah terjadi obrolan serius. hal ini mengenai tentang calon mantu yang di dapat kan bunda.
" a'a Asep, Nissa sudah dapatkan calon mantu." ujar bunda terseyum sumringah.
" Siapa ? kaya seneng bener." ujar abah pada adik nya itu.
" Muhammad Reyhan, putra dari almarhum a'a Didin. jika dulu Nissa tidak bisa mendapatkan ayah nya, maka kali ini Nissa harus mendapatkan putra nya .. he .. he .. " ujar bunda dengan kekehan nya.
" Assatagfirullah bun, istigfar bun. bunda mau poliandri ? hukum dalam islam haram bun, lagian masa bunda tega ngeduain ayah Fariz. cuma buat dapatin brondong cantik." ujar Fadil yang menyela. saat diri nya keluar kamar, diri nya hanya mendengar pembicaran terakhir bunda. itu sebab nya Fadil mengira jika bunda Nissa akan menikahi Reyhan.
" Plak '.. Huss .. kalo ngomong suka ngawaur aja." kali ini keplakan tangan pun di berikan ummi Halimah pada Fadil, saat mendengar perkataan sang putra.
" Lah ...tadi apa maksud nya kalo bunda tidak bisa mendapatkan ayah nya, maka bunda harus mendapatkan putra nya." ujar Fadil yang masih kekeh dengan pendapat nya.
" Maksud bunda mu itu untuk eneng, bukan untuk bunda Nissa. maka nya kalo punya telinga di dengar dengan baik. karna sekali saja kita salah mendengar, maka semua perkataan kita pun akan ikut salah. " masih dengan ummi Halimah, yang dengan sabar memberi pengertiam pada sang putra.
Sedangkan bunda Nissa dan abah, hanya diam saja menyaksikan pembicaraan kedua nya. setelah kedua nya menyelesaikan perdebatan nya, akhir nya bunda kembali bertanya pada kakak kekaki nya itu.
" Bagaimana kalo menurut a'a ?." kali ini bunda membuka suara nya.
" Sebenar nya dulu sebelum Didin meninggal, kita sempat merancanakan perjodohan antara anak - anak. dan jika saat itu, gus Fahmi tidak menolak eneng. maka saat ini Arum sudah a'a jodohkan dengan Reyhan. Reyhan pria yang sholeh dan bertanggung jawab, a'a beri jamin akan hal itu. dan jika memang Nissa ingin menjodohkan kedua nya, maka a'a sangat setuju. tapi bagai mana dengan eneng ?."
" Insya Allah eneng setuju, jika ayah nya dan Nissa setuju. bahkan eneng memiliki permintaan, jika pria yang di jodohkan dengan nya menerima, maka eneng minta saat itu juga untuk di nikah kan. karna eneng tidak ingin ada proses khitbah.dan untuk ayah nya anak - anak sudah setuju, selama eneng juga setuju." ujar bunda menjelaskan pada abah.
" Baiklah kalo begitu, besok a'a akan bicarakan masalah ini langsung dengan Reyhan. dan semoga saja kedua nya memang berjodoh, dan ini merupakan jodoh yang telah Allah persiapkan untuk kedua nya."
__ADS_1
Dengan semangat abah pun langsung menyetujui ide sang adik, diri nya memang berharap bahwa rencana diri nya dan sahabat nya itu akan terwujud.
***