
***
waktu pun terus berjalan hari berganti hari dan minggu berganti dengan minggu, dan tak terasa satu bulan sudah Khalifah pergi meninggalkan sang suami.
Satu bulan pula ustadz Reyhan menahan kerinduan pada sang istri. ya meski kedua nya selalu berkomunikasi melalui vidio call, akan tetapi tetap saja bagi ustadz Reyhan itu saja tak cukup. jika memungkinkan saat ini diri nya ingin sekali memeluk erat tubuh sang istri dalam dekapan nya dan memandangi wajah cantik sang istri.
Puk
Tepukan tangan yang mendarat di bahu kiri ustadz Reyhan, mampu membuat ustadz Reyhan tersadar dari lamunan nya.
" Asstagfirullah ..." ustadz Reyhan terpejerat.
" He .. he .. afwan ustadz, afwan jika Ana membuat antum terkejut. bagaimana apa masih belum ada kabar dari istri antum?." ujar ustadz zafrullah yang saat ini mendekat dan duduk di samping ustadz Reyhan yang saat ini sedang termenung diteras mesjid.
Saat ini ustadz Reyhan memang memilih untuk berzikir di teras mesjid pesantren setelah melaksanakan sholat isya. hampir satu minggu sudah sang istri memang tak memberikan kabar apa pun pada ustadz Reyhan, bahkan ponsel sang istri pun tak dapat di hubungi.
Jika sebelum nya kedua nya selalu melakukan vidio call atau setidak nya berbalas pesan singkat untuk melepas rindu, tapi justru saat ini sang istri tak mengirimkan kabar apa pun pada dirinya.
Sebab itulah ustadz Reyhan merasakan gelisah dan Khawatir dengan keadaan sang istri. dan untuk menghilangkan kegelisahan nya itu, ustadz Reyhan memilih untuk menghabiskan waktu malam nya di mesjid dengan berzikir, tadarus, dan sholat malam. dirinya akan kembali ke rumah jika waktu menjelang larut malam atau bahkan setelah sholat subuh.
" Belum ustadz." ujar ustadz Reyhan dengan nada yang lirih, bahkan raut wajah nya pun telihat gusar dan gelisah.
" Apa sudah berikhtiar dengan mencoba menghubungi rekan kerja istri antum yang ikut bertugas saat ini ?." ujar ustadz Zafrullah mencoba bertanya.
" Ana tak tau harus menghubungi siapa ustadz, semua rekan kerja nya pun ana tak tau. ana harus bagaimana ustadz ? ana bingung." jelas nya, dengan kepala yang tertunduk lemah.
" Apa keluarga besar sudah tau ? dan bagaimana dengan istri ustadz Fadil, bukan kan beliu juga termasuk rekan kerja istri antum, bagaimana jika antum bertanya pada beliu ?." kembali ustadz Zafrullah bertanya.
Mendengar pertanyaan ustadz Zafrullah, ustadz Reyhan hanya mampu menggeleng lemah.
" Ana memang sempat bertanya pada Jenny ustadz. tetapi Jenny mengatakan bahwa hal seperti ini adalah hal yang biasa terjadi bagi seorang anggota militer dalam bertugas. karna selain kesibukan dari seorang dokter militer dalam tugas nya, medan yang menjadi tempat bertugas pun kadang menjadi kendala. ana sebenar nya faham ustadz dengan kondisi istri ana, hanya saja rasa gelisah dan khawatir ini tak mampu ana tepis, apalagi ana sempat bermimpi buruk yang selalu menghantui ana beberapa malam belakangan ini."
" Ada baik nya ustadz Reyhan berkhusnuzon dengan segala ketentuan Allah. dan mungkin apa yang di katakan istri dari ustadz Fadil memanglah benar, bahwa saat ini kondisi istri antum memang tak memungkin kan diri nya untuk memberikan kabar pada antum. jadi antum bersabar saja, doa kan istri antum agar selalu dalam lindungan Allah. ingat ustadz ! kita hanya lah makhluk yang tiada daya dan upaya tanpa kuasa Allah, jadi berserah lah pada sang maha pemilik hidup." ujar ustadz Zafrullah mengingatkan ustadz Reyhan.
Mendengar perkataan dari ustadz zafrullah membuat ustadz Reyhan langsung beristigfar dalam hati. dirinya seolah tak meyakini dengan segala ketentuan dan rencana yang Allah berikan pada nya. dan memang seharus nya dirinya lebih berserah diri kepada Allah saat ini.
Ustadz Reyhan memang tipe pria pendiam yang jarang ingin berbagi masalah dengan orang lain, diri nya akan memilih untuk memendam perasaan nya sendiri. hanya pada ustadz Zafrullah lah terkadang ustadz Reyhan bisa meminta pendapat dan saran. selain kedua nya berteman dekat, ustadz Zafrullah memang memiliki pemikiran yang bijak dalam memberikan solusi dan saran.
__ADS_1
" Syukron ustadz ." ujar nya dengan tersenyum.
**
Sedangkan saat ini di kediaman abah Asep, ustadz Fadil justru sedang merengek seperti anak kecil pada sang istri, bahkan diri nya selalu mengekor di belakang Jenny bak anak ayam yang tak ingin lepas dari sang induk.
" Yank .. sayannnggg .." ujar nya dengan menarik - narik pelan jilbab bagian belakang sang istri.
" Iiss .. apaan sich mas ! kaya anak kecil dech !." kesal Jenny dengan tingkah sang suami.
" Jangan pergiii .. besok aja pergi nya." masih dengan mengekori sang istri yang sedang bersiap - siap akan pergi.
Ya sore tadi Jenny memang meminta izin pada sang suami dan kedua mertua nya untuk pergi keluar kota beberapa hari. dengan alasan jika perusahaan cabang milik sang daddy yang berada di luar kota bermasalah, diri nya pun menjelaskan bahwa sebagai perwakilan pemilik perusahaan maka Jenny lah yang harus menyelesaikan nya, apalagi saat ini kedua orang tua Jenny sedang berada di luar Negeri.
" Ya Allah mas, lagian Jenny pergi cuma beberapa hari, engga satu tahun." dengan menatap tajam sang suami yang saat ini bertingkah sangat menjengkelkan.
Jenny memang tipe wanita yang memiliki kesabaran setipis tisu, jadi jangan heran jika tingkah sang suami membuat diri nya geram.
" Iya, mas tau. tapi kan adek minta izin nya mendadak, adek juga pergi nya mendadak. mas belum ada persiapan apa pun." ustadz Fadil berujar dengan nada yang lirih serta kepala yang menunduk saat melihat tatapan tajam sang istri.
Mendengar perkataan sang suami membuat Jenny justru mengerutkan kening nya.
" Apa maksud mas Fadil dengan persiapan ? kan Jenny yang pergi, kenapa yang butuh persiapan justru mas Fadil ?." ujar nya dengan kening yang berkerut.
" Mas belum siap di tinggal yank, mas juga butuh persiapan, persiapan untuk menahan rindu." ujar nya dengan masih menundukan kepala nya.
Setelah mendengar perkataan sang suami Jenny hanya mampu menghela nafas nya dengan kasar, entah dosa apa yang di lakukan Jenny nya di masa lalu, hingga dirinya mendapatkan suami yang justru membuat kesabaran nya semakin di uji.
" Kemarilah .." Jenny pun merentangkan kedua tangan nya pada sang suami.
Melihat apa yang di lakukan sang istri tanpa Ba Bi Bu ustadz Reyhan pun langsung memeluk erat tubuh sang istri, tubuh seorang wanita yang sudah mampu memberikan kenyamanan sekaligus ketenangan pada nya selain sang ummi. tubuh seorang wanita yang telah halal bagi nya dengan ada nya pernikahan, inilah tubuh istri galak nya tubuh singa betina nya.
" Dengerin Jenny baik - baik, saat ini Jenny memang harus pergi dan tak bisa menunda lebih lama lagi. Jenny harap mas Fadil mengerti dengan kondisi Jenny saat ini, bukankah sebelum nya Jenny sudah menjelaskan semua nya ? jadi doa kan saja Jenny, agar cepat menyelesaikan masalah yang terjadi di sana dan segera kembali ke sini dengan selamat, okey." dengan nada yang lembut dan halus Jenny memberikan pengertian pada suami nya itu.
" Hmmm ... tapi janji ya .. sering kasih kabar buat mas, dan cepat kembali jika masalah di sana selesai." ucapnya dengan suara yang lirih bahkan hampir tak terdengar. tapi syukur lah pendengaran Jenny masih berfungsi dengan baik, hingga diri nya mampu mendengar apa yang di katakan ustadz Fadil barusan.
" Hmmm .."
__ADS_1
Setelah mampu menenangkan sang suami, Jenny pun segera meleraikan pelukan nya dan segera bersiap untuk pergi. karna saat ini waktu adalah segala bagi nya, diri nya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Di teras rumah kini kedua mertua Jenny beserta kakak ipar nya telah menunggu kedua nya. apalagi dengan ustadz Fadil yang sejak sore tadi selalu menempel pada sang istri, membuat abah, ummi, serta aa Ahmad hanya mampu menggelengkan kepala.
" Dek, engga sekalian aja si aa nya di masukin tas aja biar ikut. udah kaya anak ayam yang ngekor induk nya he .. he .." bahkan istri dari aa Ahmad sudah mampu menahan kekehan nya melihat tingkah dari adik ipar nya itu.
Jenny pun hanya tersenyum mendengar perkataan kakak ipar nya itu, dan segera bersalaman untuk pamit segera pergi.
" Nak Jenny hati - hati di jalan, jaga diri baik - baik, jaga kesehatan juga. sering - sering beri kabar." sekali lagi ummi Halimah mengingatkan.
Tadi sore setelah mendapatkan izin pergi, Jenny pun sempat mendapatkan kultum singkat dari kedua mertua nya itu. dan hal itu tentu saja mampu membuat perasaan Jenny menghangat. selama ini Jenny memang belum pernah mendapatkan perhatian serta kasih sayang dari kedua orang tua nya, dan saat ini justru Jenny mendapatkan hal tersebut dari kedua mertua nya.
Semenjak diri nya mengenal dan masuk ke dalam keluarga besar sang atasan, Jenny memang mendapatkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari mereka. bahkan tak pernah sekalipun mereka membedakan kasih sayang di antara diri nya, sang teteh dan Arum yang merupakan keluarga yang sebenarnya. sebab itulah Jenny tak akan rela dan tak sanggup jika sampai terjadi sesuatu pada keluarga nya itu.
" Insya Allah ummi, Jenny akan jaga diri baik - baik. Assalamulaikum .."
" Wa'alaikumus salam warohmatullahi wabarakatu .."
Jenny pun segera memasuki mobil yang akan di kendarai nya dan langsung sibuk memasang sabuk pengaman nya, akan tetapi seolah ada yang aneh yang terjadi saat ini. dan tepat saat Jenny menoleh ke samping, saat itu pula lah ustadz Fadil tersenyum manis tanpa dosa pada sang istri.
" Assatagfirullah .." Jenny hanya mampu mengusap kasar wajah nya, menahan kesal sekaligus geram.
"ikutttt ..." masih dengan senyuman yang tak luntur dari wajah tanpa dosa nya.
Melihat tingkah sang suami membuat amarah Jenny saat ini bagaikan sebuah tabung gas yang bocor dan mungkin sebentar lagi akan meledak.
' Nich laki berasa pengen gue karungin terus gue buang aja ke kali, dosa kaga yach gue sebagai bini.' Jenny bermonolog dalam hati.
Sedangkan di sisi lain reaksi yang sama pun tak jauh berbeda dari Jenny.
' Apa jangan - jangan anak abah ketuker yaa waktu di rumah sakit.' abah Asep hanya mampu membantin.
' Berasa pengen ummi telen lagi biar masuk ke dalam perut tuch anak.' kali ini ummi Halimah pun terlihat kesal saat melihat tingkah putra nya itu.
Hanya aa Ahmad dan sang istri lah yang sejak tadi mencoba menahan tawa dengan menutup mulut dengan tangan, agar tawa kedua nya tak lepas saat melihat tingkah sang adik yang sangat menjengkelkan.
***
__ADS_1