
***
Hari telah berganti hari dan saat ini tepat sebulan sudah setelah terjadinya peristiwa penyanderaan di pondok pesantren Darul Istiqomah. dan setelah kejadian itu, kini keamanan di ponpes lebih di perketat. bahkan penjagaan kali ini pun berlapis, dari gerbang utama hingga gerbang masuk area ponpes.
Selain itu beberapa cctv pun kini telah terpasang di beberapa tempat di area ponpes dan gerbang utama ponpes. agar kejadian sebelum nya tidak terjadi kembali di ponpes Darul Istiqomah. bahkan Khalifah telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk biaya keamanan pesantren nya saat ini.
Dan hari ini di rumah abah sedang mengadakan pengajian, sekaligus siraman teh Arum. karna esok hari adalah hari pernikahan teh Arum dan gus Fahmi yang akan gelar di kediaman abah. dan sejak beberapa hari yang lalu kediaman abah sudah di sibukan dengan berbagai persiapan pernikahan.
" Wihh ... aura pengaten emang beda ya teh." ujar Jenny yang saat ini masuk ke dalam kamar Arum bersama Khalifah.
" Iss .. mba Jenny apa - apa'an sich, engga lucu tau engga. " Arum pun langsung mengerucut kan bibir nya saat mendengar celotehan dari Jenny.
" Ehh .. engga boleh cemberut gitu donk, entar ilang cantik nya. he .. he .. " Jenny masih saja menggoda Arum, yang terus saja cemberut.
" Neng .. ayo kita nikahin saja mba Jenny dan a'a Fadil, biar kedua nya jadi akur. jadi, engga kaya kucing sama anjing kalo ketemu." kali ini Arum lah yang berganti menggoda Jenny. diri nya tau, bahwa Jenny pasti akan langsung kesal jika berkaitan dengan a'a keduan nya itu.
" Jangan Rum, a'a Fadil kasihan dengan Jenny. jika a'a Fadil menjadi suami nya. " ujar Fadil yang langsung menyahut dari balik pintu kamar Arum yang terbuka. diri nya yang tak sengaja mendengar pembicaraan Arum, dan langsung menyela.
Mendengar apa yang di katakan Fadil membuat ketiga gadis yang ada di dalam kamar tersebut langsung mengerutkan dahi nya, ketiga nya bingung dengan apa yang di maksud oleh Fadil.
" Kasihan kenapa a'a ?." kali ini Khalifah yang membuka suara nya.
" Ya kasihan neng, Jenny bakal cepat jadi janda. karna a'a Fadil akan cepat jantungan saat Jenny selalu mengancam a'a Fadil dengan senjata nya. " Fadil menjelaskan maksud perkataan nya tadi pada ketiga nya.
" Asstagfirullah ..." ujar ketiga nya secara bersamaan.
" Ehh .. denger ya ustad gesrek siapa juga yang mau jadi bini lo, kalo gue sich ogah ya .. dan kalo pun gue jadi janda, gue juga tetep ogah nikah ama lo." ujar Jenny sinis pada Fadil.
" A'a Fadil kalo modelan cewek kaya gini. Arum saranin, a'a Fadil harus lewat jalur langit. biasa nya langsung tok cer, iya kan neng ?." dengan tersenyum jahil, Arum masih tak henti nya mengoda Jenny.
__ADS_1
Sedangkan Khalifah hanya tersenyum saja melihat ketiga nya.
" Kamu bener Rum, kalo modelan gadis tarsan kaya gini. memang kudu lewat jalur langit, soal nya kalo jalur bumi udah pasti engga bakalan mempan. jalur nya udah ketutup sama tembok berlin, ato tersesat karna kebanyakan jalan." ujar Fadil.
" He .. he .. setuju." Arum pun langsung terkekeh mendengar perkataan kakak kedua nya itu.
" A'a Fadil tenang saja, neng akan bantu doa. biar cepet menembus langit ketujuh." ujar Khalifah dengan tersenyum menatap Jenny yang justru terlihat sangat kesal dengan ketiga nya.
" Bisa engga sich, engga usah ngomongin jodoh gue, lagian gue juga kaga mikirin pernikahan." ujar Jenny yang mengerucutkan bibir nya. membuat ketiga nya kini terkekeh dengan raut wajah Jenny.
" Ini ada apa sich, ribut - ribut sampai terdengar keluar." ujar bunda
" Bundaaa ... Jenny di bully bun .." ujar Jenny, sambil memeluk bunda Nissa dengan manja.
Sejak kedatangan bunda tiga hari yang lalu, Jenny memang sangat lah manja pada bunda. diri nya seperti menemukan sosok seorang ibu pada bunda yang selama ini belum pernah Jenny dapat kan. sedang bunda, diri nya memang sosok ibu yang sangat penyayang. jadi, tidak heran jika Jenny sangat nyaman dengan bunda, meski kedua nya baru pertama kali bertemu.
" Ayo ... kalian apakan putri bungsu bunda ?."
Seluruh anak abah memang memanggil bunda Khalifah dengan panggilan bunda Nissa. walau pun sebenar nya bunda Nissa adalah bibi dari anak - anak abah.
" Tuch kan bun .. masa iya Jenny duluan yang di cari kan jodoh. harus nya, teteh dulu kan bun .. karna Jenny putri bungsu bunda." kali ini serangan balik pun Jenny arah kan pada teteh nya, siapa lagi kalo bukan Khalifah.
' Wah .. cari ribut nich anak' monolog Khalifah dalam hati.
" Sorry ya Jenn .. teteh belum cukup umur, jadi belum boleh cari jodoh. lagian teteh ikhlas lahir batin kalo kamu duluan dari teteh." kali ini Khalifah mengibarkan bendera perang pada Jenny.
" Emang umur eneng berapa ?." kali ini justru Fadil yang bertanya.
" 15 tahun, he .. he .." ujar Khalifah cengengesan, apa lagi kini bunda tengah menatap tajam pada diri nya.
__ADS_1
" Iya, 15 tahun + 15 tahun." ujar bunda dengan sewot.
" He .. he .. bunda masih ingat aja sama umur eneng, kira' in udah lupa ." masih dengan cengengesan yang sama.
" Bunda masih belum pikun neng. jangan mentang - mentang bunda sudah tua ya .. bunda di kira pikun .. ! " bunda pun kini semakin sewot pada Khalifah.
Melihat itu Khalifah melirik Jenny dengan tajam, diri nya benar - benar kesal pada Jenny. karna ulah nya, kini sang bunda pasti akan mengeluarkan jurus seribu celotehan. sedang kan Jenny yang ada di samping bunda, hanya tersenyum mengejek pada Khalifah. diri nya benar - benar tak perduli dengan bendera perang yang di kibarkan oleh Khalifah.
" Bunda cantik, bunda manis, jangan galak - galak ya .. nanti cantik nya hilang." kini Khalifah harus mengeluarkan jurus ampuh nya, untuk menghalau jurus seribu celotehan sang bunda.
" Jangan coba - coba merayu bunda ..! karna itu tidak mempan. dan satu lagi Arum, seharus nya kamu sebagai seorang teteh harus adil pada adik - adik mu. jangan pilih kasih, jika kamu ingin mencarikan jodoh untuk Jenny, maka kamu juga harus mencarikan jodoh untuk eneng. kedua nya harus mendapatkan jodoh secepat nya, dan kalo perlu, pasang iklan perjodohan biar kedua nya banyak yang lamar." ujar bunda yang berlalu pergi dari kamar.
" Ehh .. bunda mau cari jodoh apa mau cari karyawan sich. kok, pakai pasang iklan segala." Fadil pun bingung, diri nya bahkan sampai menggarukan kepala nya yang tak gatal.
" Brisik .. !!" kali ini suara Jenny dan Khalifah pun keluar secara bersamaan.
Mendengar sentakan dari kedua gadis di depan nya, Fadil pun segera ambil langkah seribu. diri nya tidak ingin menjadi sasaran amunkan kedua gadis di depan nya saat ini. sedangkan Arum diri nya tak henti nya terkekeh sejak tadi.
**
Di lain tempat, lebih tepat nya di kediaman gus Fahmi. acara yang sama pun kini telah mulai di gelar, yaitu acara pengajian dan siraman. sedangkan gus Fahmi sendiri kini tengah termenung di dalam kamar.
' Ya Allah .. ampuni hamba, hamba sadar hamba telah berdosa. dan hamba sadar bahwa saat ini engkau sedang menghukum hamba dengan perasaan hamba.
Entah kenapa sejak penolakan nya yang kejam pada Khalifah, membuat diri nya tidak merasa tenang. walau pun diri nya sudah meminta maaf secara langsung pada Khalifah.
Apa lagi saat kejadian di ponpes, diri nya bahkan bagai orang yang linglung akibat rasa khawatir nya pada Khalifah. bahkan saat itu jika Fadil tidak menghentikan nya. mungkin saja, diri nya akan menerobos hutan saat mencari keberadaan Khalifah.
Dan sejak saat itu gus Fahmi selalu di buat khawatir yang berlebihan pada Khalifah, rasa takut kehilangan, rasa takut terjadi sesuatu yang buruk pada Khalifah. bahkan diri nya sampai harus menelpon Fadil setiap hari, hanya untuk menanyakan keadaan pesantren. bukan ponpes nya yang di khawatirkan oleh gus Fahmi, akan tetapi justru pemilik nya lah yang sangat di khawatir kan nya.
__ADS_1
Seharus nya pernikahan ini membuat gus Fahmi bahagia, karna diri nya akan menikahi gadis yang selama ini di kagumi nya itu. akan tetapi, perasaan nya saat ini justru sebalik nya. sebuah rasa yang tak bisa di ungkap kan nya, sebuah rasa yang mungkin akan menjadi dosa, dan sebuah rasa yang hadir akibat kesalahan diri nya.
***