
***
Baru saja Khalifah ingin mengatakan sesuatu tentang Jenny, kini terdengar suara dobrakan dari pintu ruang rawat Khalifah yang lumayan keras.
" Brak .."
" Nikahin gue sekarang juga kalo begitu, karna lo memang harus tanggung jawab ."
Kini tepat di hadapan ketiga nya, berdiri sosok Jenny yang mengenakan masker, bahkan masih dengan jarum infus yang merekat pada tangan nya.
" Jenny .." ujar ustadz Fadil.
Setelah mendengar perkataan Jenny, ustadz Fadil pun langsung memandang ke arah Jenny. saat ini otak nya sedang berfikir keras dengan apa yang di katakan oleh Jenny.
Bagaimana bisa diri nya menikahi Jenny yang saat ini dalam keadaan mengandung. apalagi ustadz Fadil buka investor yang menanamkan saham nya di perusahan milik Jenny.
Khalifah yang melihat Jenny yang masih mematung di depan pintu ruang rawat nya, akhirnya dengan cepat diri nya bangkit dari brangkar pasien menuju ke arah Jenny.
" Kemarilah, bagaimana keadaan mu saat ini ?." ujar Khalifah dengan menuntun Jenny untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
" Allhamdulilah teh, Jenny lumayan membaik." setelah kini kedua nya duduk di sova, Jenny pun berujar.
" Syukurlah kalo begitu, huh ... kamu yakin dengan perkataan mu tadi ?." ujar Khalifah bertanya pada Jenny.
" Insya Allah teh, Jenny memang harus menikah saat ini juga. karna daddy pasti tidak akan menyerah untuk menjodohkan Jenny kembali hanya karna bisnis."
" Baiklah .. kapan kamu siap ?."
" Saat ini Juga." ujar Jenny dengan enteng.
" Baik kalo begitu, kita atur saat ini juga." ujar Khalifah yang beranjak dari tempat duduk nya menuju arah nakas untuk mengambil ponsel pinta nya.
" Wait .. wait .. tunggu dulu, kita ini mau nikah benerankan neng ?." kali ini masih dengan raut binggung ustadz Fadil membuka suara nya.
" Emang ada nikah bo'ongan ?" ujar Khalifah mengerutkan kening nya.
" Iya engga ada, tapi bagaimana bisa aa Fadil nikah sekarang neng ? lagian tuan Alex pasti engga bakalan setuju. lagi pula pasti tuan Alex akan mengira kalo aa benar - benar tanam saham, yang ada aa Fadil bakal bonyok lagi sama tuan Alex neng." ujar ustadz Fadil dengan raut wajah Khawatir.
" Ye elah .. anggap aja aa Fadil pejuang cinta. jadi bonyok dikit engga apa - apalah, yang penting belahan hati sah jadi istri." ujar Khalifah dengan mengetik sesuatu pada ponsel pintar nya.
" Pejuang sich pejuang neng, tapi masa iya aa Fadil harus kena tonjokan dari orang sama dalam satu hari berkali - kali. lagi pula neng menurut agama aa engg bisa ..." belum selesai ustadz Fadil berbicara, Khalifah terlebih dahulu menyela.
" Syuuutt ... aa Fadil cukup diam aja, dan insya Allah ini engga akan melanggar syariat islam kok. jadi aa Fadil tenang saja, aa Fadil cuma cukup tahan dikit kalo tuan Alex kembali kasih tambahan lukisan di wajah aa." ujar Khalifah menggoda sang kakak.
" Ya Allah neng .." dengan raut wajah yang memelas, ustadz Fadil berujar.
__ADS_1
" Ya sudah teh, jika ustadz Fadil tak ingin menikah dengan Jenny. kita cari pria lain saja, mungkin di pesantren ada pria yang ingin menikah dan menjadi suami Jenny." dengan duduk bersandar pada sova Jenny berujar pada Khalifah.
" Ya udah kalo gitu, mas Reyhan punya kenalan pengajar engga di pesantren ? ah .. apa perlu eneng yang cari langsung ke pasantren yah ?" ujar Khalifah dengan mengetuk - ngetuk pelan ponsel nya.
" Jangan neng !!!." kali ini dengan serempak ustadz Reyhan dan ustadz Fadil berucap.
" Eh .. kenapa ?." dengan mengerutkan kening nya Khalifah bertanya pada kedua nya.
" Ingat yach neng !! eneng sudah mengkhitbah aa Fadil untuk jadi suami Jenny. jadi kenapa mau di batalin ? dan kenapa mau cari lelaki lain, aa siap kok neng. jangankan kena tonjok, kena tembak tuan Alex pun aa siap. yang penting Jenny nikah sama aa Fadil." kali ini dengan wajah serius ustadz Fadil berujar.
Mendengar perkataan ustadz Fadil, Jenny hanya tersenyum di balik masker yang di kenakan nya saat ini. sedangkan Khalifah saat ini justru menetap ke arah ustadz Reyhan, diri nya ingin mendengarkan penjelasan dari sang suami. karna sejak tadi, suami nya itu lebih memilih untuk diam.
" Emmm ... mas cuma engga pengen kalo eneng jadi pusat perhatian para santri. jika eneng cari langsung ke pesantren." dengan menundukan kepala nya, ustadz Reyhan pun berucap.
" Ye elah ... bilang aja kalo ustadz Reyhan cemburu kan. iya kah ? cie .. cie .."
Mendapat godaan dari ustadz Fadil membuat ustadz Reyhan hanya tertunduk malu, diri nya memang tak rela jika sang istri menjadi perhatian dari lelaki. sedangkan Khalifah hanya tersenyum, diri nya di buat gemas dengan tingkah suami brondong nya itu.
Baru saja Khalifah ingin mendekat ke arah sang suami. akan tetapi suara dobrakan dari pintu kamar rawat nya kembali di terdengar.
" Brak .."
" Ya Tuhan Jenny ... bagaimana keadaan mu nak, apa yang sebenarnya terjadi ?"
Melihat sosok wanita dengah mengenakan pakaian terbuka, dan mendekat ke arah Jenny. membuat ustadz Reyhan dan ustadz Fadil langsung beristigfar secara bersamaan.
" Ya Allah .. induk nya tarsan ternyata." ujar ustadz Fadil bergumam.
" Mommy, apa yang mommy lakukan di sini ?." kali ini dengan nada yang terdengar kurang menyenangkan Jenny berucap.
" Iss .. dasar anak durjana kamu Jenn, mommy jauh - jauh datang ke mari karna mommy khawatir dengan keadaan mu. dan apa yang sebenarnya terjadi ? dan apa yang membuat daddy murka ?."
" Mom, mommy mau Jenny nikahkan ?." tanpa menjawab pertanyaan sang mommy, Jenny justru balik bertanya.
" Hhmm .." meski dengan raut wajah binggung, akan tetapi mommy Jenny tetap menganggukan kepala nya.
" Kalo begitu, mommy telpon daddy sekarang. katakan pada daddy Jenny akan menikah saat ini juga."
" What ? dengan siapa ?."
Mendengar perkataan sang putri membuat sang mommy terkejut. sedangkan Jenny hanya menghela nafas nya karna ikut kaget dengat suara keras sang mommy.
" Dengan siapa Jenn ?." ujar mommy tak sabar, karna sang putri yang masih terdiam.
" Entar mommy juga tau, yang jelas telpon daddy sekarang !!." ujar Jenny pada sang mommy.
__ADS_1
Mendengar perkataan Jenny, meski dengan ragu mommy pun langsung menghubungi sang suami, dan mengatakan apa yang putri nya inginkan. sedangkan Khalifah, ustadz Reyhan dan ustadz Fadil yang diam saja.
**
Setelah menunggu beberapa jam kini di ruangan Khalifah telah berkumpul keluarga dari abah Asep, dan juga tuan Alex beserta sang istri. dan saat sebelum keluarga dari abah datang, Jenny sempat memaksa sang bunda untuk mengganti pakaian yang di kenakan nya agar terlihat lebih sopan.
Kini di ruang rawat Khalifah kembali terjadi ketegangan. bahkan ustadz Fadil pun sempat kembali merasakan bogem mentah dari tuan Alex.
Sedangkan keluarga abah, ummi Halimah memang sempat menetang pernikahan putra nya dengan Jenny. sebenar nya ummi Halimah bukan nya tidak menyukai Jenny, akan tetapi keluarga dari Jenny lah yang membuat Ummi Halimah tidak setuju.
" bagimana ini tuan Alex ? tentang keinginan putra putri kita ?." kali ini abah berujar dengan ramah dan sabar pada tuan Alex, saat di rasa tuan Alex sudah tenang.
Setelah abah dan tuan Alex mendengar keinginan kedua nya untuk menikah hari itu juga dengan alasan kehamilan Jenny dan tanggung jawab ustadz Fadil pada Jenny.
" Tuan Alex bisa kita bicara sebentar ?." sebelum tuan Alex menjawab pertanyaan abah, Khalifa terlebih dahulu menyela.
" Apa yang akan anda bicarakan nona ?." meski dengan raut wajah bingung, tuan Alex tetap bertanya. karna tuan Alex memang mengenal Khalifah sebagai teman dari putri nya.
Mendengar perkataan tuan Alex Khalifah langsung memberi isyarat pada yang lain untuk keluar, kecuali Jenny. melihat isyarat dari Khalifah, tanpa bertanya penghuni kamar pun segera keluar dari ruang perawatan. kecuali Jenny, tuan Alex, dan Khalifah.
Entah apa yang ketiga nya bicarakan, hampir tiga puluh menit ketiga nya berbicara, kini ruang rawat pun terbuka dari dalam.
" Silahkan masuk .." ujar Khalifah mempersilahkan, dengan senyuman manis yang menghiasi wajah nya.
Setelah semua nya masuk, kini arah padangan pun langsung tertuju pada tuan Alex yang masih duduk di sova dengan kepala yang tertunduk.
" Dad, are you okey ?." kali ini mommy Jenny pun langsung mendekati tuan Alex, saat melihat sang suami tertunduk diam.
" Nikahkan mereka pak kiai." ujar tuan Alex lemah, tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
Mendengar perkataan tuan Alex, tentu saja mereka semua terkejut kecuali Jenny dan Khalifah tentu nya. bagaimana bisa tuan Alex yang masih saja menentang pernikahan Jenny setengah jam yang lalu, bahkan diri nya sempat memberikan bogem mentah pada ustadz Fadil, karna tak menyetujui pernikahan kedua nya. tapi kini, dengan mudah nya diri nya menyetujui pernikahan putri nya itu.
" Apa anda yakin tuan ? dan apa saat ini anda baik - baik saja tuan ?." ujar abah yang tampak ragu dengan keputusan tuan Alex, sebab melihat kondisi tuan Alex saat ini, tentu saja diri nya sedang dalam keadaan tidak baik.
" Iya saya yakin pak kiai, bahkan pernikahan kedua nya kalo bisa di adakan saat ini juga." entah setan apa yang merasuki tuan Alex saat ini. nada bicara nya pun terdengar sopan dan ramah pada abah.
" Baiklah kalo begitu, nanti ba'da isya kita akan menikahkan kedua nya di mesjid pesantren." ujar abah dengan tersenyum ramah pada tuan Alex.
" Baiklah pak Kiai, saya menyerahkan semua nya pada pak kiai, karna saya memang kurang memahami hukum pernikahan dalam islam." kali ini tuan Alex pun memberi senyuman pada bibir nya.
Sedangkan Khalifah dan Jenny, hanya tersenyum penuh arti saat melihat tuan Alex yang terlihat sangat sopan dan menghormati abah Asep.
Berbeda dengan penghuni yang lain, mereka menjadi penasaran. apa yang terjadi hingga membuat tuan Alex seperti saat ini. mereka tidak tahu saja, bahwa saat ini tuan Alex sungguh tertekan saat ini.
Bagaimana tidak, Jenny dan Khalifah sukses mengancam diri nya. tidak hanya akan menghancurkan perusahan Alexander, bahkan kedua nya mempunyai data - data rahasia perusahaan. akan tetapi, itu tidak seberapa jika di bandingkan dengan rahasia pribadi nya.
__ADS_1
Sungguh ancamam kedua gadis itu, membuat tuan Alex bagaikan anak ayam yang kehilangan induk nya.
***