
***
Setelah menunaikan sholat isya, Khalifah saat ini tengah bersiap - siap memenuhi permintaan sang uwa untuk datang ke rumah nya. walau pun sebenar nya ada perasaan enggan untuk bertemu kembali dengan gus Fahmi yang telah menolak diri nya. akan tetapi, Khalifah juga tidak mungkin mengabaikan permintaan sang uwa. setelah selesai bersiap, khalifah pun keluar dari kamar nya dan turun ke lantai dasar.
" Teh, gue ikut yach ?. " ujar Jenny pada Khalifah, diri nya saat ini duduk di sofa ruang tengah.
Jenny saat ini telah mengubah panggilan nya pada Khalifah dengan panggil teteh, bukan miss seperti yang dilakukan nya selama ini.
" Yakin mau ikut ? entar bisa naik tuch darah, kalo ketemu sama si tom. " Khalifah masih belum berhenti menggoda Jenny.
" Tom ? siapa ?." dengan mengerut kah kening karna bingung.
" Siapa lagi kalo bukan a'a Fadil, si ustad gesrek kesayangan gadis tarsan. kalian kan kalo ketemu persis kaya tom and jerry. he .. he .. he .." Khalifah langsung terkekeh ketika melihat wajah cemberut dari Jenny.
" Iiss ... kesayangan apaan, yang ada kesialan itu baru bener." dengan muka yang cemberut Jenny menimpali perkataan Khalifah.
" Jangan terlalu membenci, tak ada yang tau esok hari, rasa benci itu berubah menjadi rasa cinta. dan jangan terlalu mencintai, karna tak ada yang tau, jika esok rasa cinta itu akan berubah menjadi rasa benci. karna benci dan cinta itu beda tipis, mending kaya kata Fety ferra aja, yang sedang - sedang saja." ujar Khalifah dengan tersenyum.
" Gue kaga benci kok, gue cuma kesel aja sama tuch ustad gesrek. abis nya, tuch ustad gesrek masih aja manggil gue dengan panggilan gadis tarsan, gue kan kesel. " masih dengan raut wajah yang cemberut.
Diri nya kembali mengingat gelar yang di semat kan oleh ustad gesrek itu pada nya, si gadis tarsan mafia yang selalu membuat Jenny semakin bertambah kesal.
" Udah engga usah cemberut gitu, hilang entar cantik nya."
" Iiss .. "
" Ya udah, ayo berangkat."
Kedua nya pun langsung bergegas pergi menuju kediaman uwa Asep. Jenny memperhatikan raut wajah Khalifah yang tidak bersemangat, diri nya memang sempat melarang Khalifah untuk datang dan bertemu dengan pria brengsek itu. ketika Khalifah memberi tahu diri nya, maksud kedatangan a'a Fadil tadi sore.
Jenny pun di buat penasaran akan kedatangan pria yang menolak Khalifah dengan kejam, bahkan saat ini Khalifah di minta untuk bertemu kembali dengan pria itu. itu sebab nya Jenny meminta untuk ikut, jika sampai pria itu kembali menyakiti perasaan teteh nya, maka kali ini jangan salah kan Jenny jika diri nya benar - benar membuat perhitungan dengan pria itu.
" Assalamualaikum ..." kedua nya memberi salam saat berada di depan rumah sang uwa.
__ADS_1
" Wa'alaikumus salam ..." terdengar jawaban salam dari penghuni rumah.
" Masuk neng .." uwa Halimah langsung menghampiri sang keponakan, dan langsung menuntun nya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Saat ini di ruang tamu sudah berkumpul keluarga lengkap dari uwa Asep, dan tak tertinggal pula tamu yang telah hadir di antara mereka. siapa lagi kalo bukan gus Fahmi, yang saat ini tengah menunduk kan kepala nya saat Khalifah dan Jenny datang.
Saat mendengar suara Khalifah yang mengucapkan salam, gus Fahmi secara spontan langsung menundukan kepala nya. entah apa yang di rasakan nya saat ini, jangan kan untuk berbicara, diri nya bahkan tak mampu untuk mengangkat kepala nya saat berhadapan dengan Khalifah.
melihat hal itu uwa pun sempat bingung, pasal nya pertemuan kali ini adalah permintaan gus Fahmi sediri. bahkan gus Fahmi sampai memohon pada abah untuk kembali mempertemukan diri nya dengan sang keponakan. awal nya, abah sempat menolak permintaan gus Fahmi. akan tetapi, atas permohonan yang terus di lakukan gus Fahmi. akhir nya abah pun mengabul kan nya, dan terjadi lah pertemuan itu malam ini.
" Eehhmm ..." uwa Asep pun berdehem untuk membuat gus Fahmi membuka suara nya.
Mendengar deheman yang di lakukan abah, membuat gus Fahmi semakin menundukan kepala nya. jangan kan untuk bersuara, mengangkat kepala nya saja, diri nya tidak mampu. dah hal itu membuat seluruh penghuni rumah yang lain pun di buat bingung. saat diri nya datang ke rumah uwa, Fahmi masih terlihat santai. akan tetapi entah kenapa, sejak kedatangan Khalifah lah diri nya justru terlihat tegang.
" Apa gus Fahmi tidak akan bicara ?." kali ini a'a Fadil lah yang bersuara, diri nya merasa jengah melihat Fahmi yang sejak tadi menundukan kepala nya.
Mendengar perkataan Fadil, gus Fahmi pun dengan perlahan mengangkat kepala nya, terlihat saat ini gus Fahmi sangat lah tegang. dengan kedua tangan yang saling bertautan dan keringat yang membasahi wajah nya.
" A a assalamualaikum neng ... " dengan suara yang gugup dan terbata, gus Fahmi mengucap kan salam pada Khalifah sebagai sapaan.
Kembali terdiam, diri nya bingung apa yang harus di katakan nya pada Khalifah. sebelum nya, Fahmi tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. diri nya belum pernah bingung dalam berkata - kata pada orang lain, apa lagi diri nya kerap menjadi aktifis dakwah dan nara sumber dalam berbagai kegiatan. akan tetapi tidak untuk kali ini, diri nya seolah mati kutu di hadapan gadis yang pernah di tolak nya itu.
Melihat gus Fahmi yang kembali terdiam, benar - benar membuat penghuni rumah jengah. termasuk Jenny, karna Jenny bukan tipe lah wanita yang sabar menunggu.
" Apa lantai lebih indah di pandang di bandingkan lawan bicara anda gus ? dan apa mulut anda perlu saya beri kan sobekan sedikit, agar anda bisa bicara dengan lancar ?." ujar Jenny bersuara dalam keheningan ruang tamu saat ini.
Mendengar perkataan Jenny, membuat seluruh penghuni rumah tertegun. bahkan kini arah pandangan penghuni rumah pun terarah pada diri nya. Jenny adalah tipe gadis yang blak - blakan, diri nya selalu mengutarakan apa yang di rasakan nya.
" Jenn ...." ujar Khalifah menghentikan perkataan Jenny.
" Maaf teh, gue kesel dari tadi cuma buang waktu aja, niat engga sich buat ngomong .. ! " ujar Jenny dengan menahan amarah nya.
Para penghuni rumah yang lain pun hanya mampu terdiam, dengan apa yang Jenny sampai kan. karna apa yang Jenny katakan memang lah benar.
__ADS_1
" Maaf ... maaf kalo saya sudah membuat keadaan menjadi tidak nyaman." Fahmi kembali bersuara di saat mendengar perkataan Jenny.
" Itu tau .. ! " ujar Jenny menimpali perkataan gus Fahmi.
" Jenn ..." kali ini Khalifah melirik Jenny dengan tajam. membuat Jenny langsung terdiam dan duduk kembali.
" Apa gus Fahmi ada perlu dengan saya ?."
kali ini khalifah yang bertanya terlebih dahulu.
" Iya." ujar gus Fahmi.
" Ada apa ? " Khalifah berucap, dengan nada yang dingin kali ini.
Sempat tertegun dengan nada suara Khalifah yang lumayan dingin. tapi kali ini diri nya memang harus benar - benar mengatakan apa tujuan nya ingin menemui gadis di depan nya saat ini.
" Maaf sebelum nya, mungkin kehadiran saya di sini membuat suasana tidak nyaman. sekali lagi maaf .. abah, ummi. tujuan saya datang kemari, yang pertama saya ingin meminta maaf pada eneng, ..."
" Khalifah .. nama saya Khalifah." ujar Khalifah memotong perkataan gus Fahmi.
" Ah .. baik lah neng Khalifah. saya sebenarnya hanya ingin memohon maaf pada neng Khalifah, atas perkataan saya tempo hari, yang mungkin membuat neng Khalifah sakit hati. demi Allah tak ada niat hati saya, untuk sengaja menyakiti hati neng Khalifah saat itu. dan jika .. neng Khalifah sudi memaafkan kesalahan dan kehilafah saya. saya sungguh bersyukur, karna saya adalah hamba Allah yang tidak pernah luput dari salah dan dosa." Fahmi pun menyampaikan niat hati nya pada Khalifah.
Kembali terdiam beberapa saat, melihat semua orang pun terdiam, membuat Fahmi sedikit khawatir.
" Dan untuk masalah perjodohan selanjut nya, saya menyerahkan segala keputusan nya pada abah. insya Allah, saya akan terima apa pun keputusan abah." Fahmi melanjutkan perkataan nya setelah terhenti sejenak. kembali terdiam dengan menundukan kepala nya.
" Maaf sebelum nya gus, jika saya boleh jujur, saya memang sempat merasa sedih dan kecewa, di saat saya mendengar penolakan gus Fahmi secara tegas saat itu, dan bahkan saat itu saja kita belum pernah bertemu. tapi saya menyadari, di dunia ini tak ada satu kejadian pun yang mampu terjadi, selain atas kuasa dan kehendak Allah. oleh sebab itu, saya tidak pernah menyalah kan siapa - siapa atas apa yang terjadi pada diri saya. dan insya Allah saya tidak menyimpan atau sakit hati pada gus Fahmi, jadi gus Fahmi tak perlu meminta maaf pada saya. "
Perkataan Khalifah sungguh membuat seluruh penghuni rumah justru menjadi sangat bersalah pada nya. rasa kagum pada sosok gadis itu pun, membuat seluruh penghuni rumah memandang ke arah nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Uwa, eneng harap kejadian tempo hari, jangan sampai memutuskan tali silaturahmi kita pada keluarga gus Fahmi. dan eneng juga berharap, teteh Arum tidak keberatan menerima khitbah gus Fahmi, sekaligus menjalankan amanah dari aki. " ujar Khalifah yang kali ini memandang ke arah sang uwa.
Mendengar perkataan dari sang keponakan, membuat uwa Asep hanya mampu menganggukan kepala nya saja. sedangkan untuk uwa Halimah dan Arum, langsung berhambur memeluk eret tubuh Khalifah dengan mata yang berkaca - kaca.
__ADS_1
***