Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Kebenaran


__ADS_3

***


Meski dengan tubuh yang bergetar ustadz Fadil masih mencoba untuk memeluk dan menenangkan sang istri, yang sempat salah paham akan diri nya.


" Mau sampai kapan kita seperti ini ustadz ? kaki Jenny udah pegel, kalo harus berdiri seperti ini terus. " Akhir nya Jenny membuka suara nya, karna hampir dua puluh menit kedua nya masih dalam keadaan berpelukan di depan kamar mandi.


" Aahh .. iiya, mmaaf." dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ustadz Fadil menjadi salah tingkah.


Entah mengapa meski dengan tubuh yang sempat gemetar, ustadz Fadil merasa nyaman saat memeluk tubuh sang istri. bahkan aroma yang tercium dari tubuh Jenny mampu membuat geleyar aneh dalam tubuh ustadz Fadil.


" Jenny mau ganti baju dulu, ja ..."


" Engga usah ganti baju, gitu aja dek." ujar ustadz Fadil menyela perkataan Jenny yang belum sempat di selesai.


Bahkan saat ini ustadz Fadil menggenggam tangan Jenny, dan dengan berlahan ustadz Fadil membawa Jenny mendekati tempat arah tempat tidur.


" Tidurlah .." ujar ustadz Fadil pada Jenny dengan menudukan Jenny di sisi tempat tidur. sedangkan Jenny Justru saat ini tengah menatap lekat ke arah ustadz Fadil.


" Jangan menatap saya seperti itu dek, saya takut khilaf." kembali ustadz Fadil berujar, diri nya benar - benar takut jika sampai berbuat yang lebih pada Jenny. apalagi hingga saat ini ustadz Fadil mesih belum mengetahui kebenaran tentang kehamilan Jenny.


" Ustadz, boleh duduk sebentar. ada yang akan Jenny katakan pada ustadz." dengan menepuk tempat tidur di samping nya, jenny berujar pada sang suami dengan raut wajah yang terlihat serius.


Melihat wajah sang istri yang terlihat serius, membuat ustadz Fadil menuruti apa yang di katakan oleh Jenny. diri nya akhirnya mendudukan diri di samping sang istri. ada rasa penasaran dengan apa yang ingin di katakan sang istri pada nya saat ini.


" Ada apa dek ?." setelah duduk tepat di samping Jenny, ustadz Fadil pun langsung bertanya pada istri nya itu.


" Apa ustadz jijik dengan tubuh Jenny ?." kali ini tatapan Jenny mengarah ke arah wajah ustadz Fadil. diri nya ingin melihat apa ada kebohongan dalam setiap jawaban dari sang suami.


Mendengar pertanyaan dari sang istri, membuat ustadz Fadil mengerutkan kening nya bingung. bagaimana bisa diri nya merasa jijik dengan tubuh sang istri, tubuh yang tercipta begitu indah, bahkan sangat sulit mencari cela dari tubuh yang terpampang nyata di hadapan nya saat ini.

__ADS_1


" Apa maksud pertanyaan adek ?" bukan nya menjawab pertanyaan sang istri, ustadz Fadil justru memberikan pertanyaan meski dalam keadaan bingung.


" Apa ustadz tidak jijik jika tubuh Jenny sudah di jamah oleh lelaki lain ? seperti yang ustadz tau, Jenny mungkin bukan wanita yang bisa menjaga pandangan serta tubuh Jenny dari lelaki yang bukan mahrom. bahkan dunia malam bagi Jenny adalah sebuah kesenangan dan hiburan. apa ustadz tidak menyesal menikah dengan Jenny ? sedangkan ustadz sendiri adalah lelaki yang selalu menjaga diri dengan baik, dan seharus nya ustadz mendapatkan wanita yang mampu menjaga diri nya dengan baik pula, tidak seperti Jenny." masih dengan tatapan yang sama, Jenny kembali berujar.


Kini ustadz Fadil pun mengerti dengan perkataan sang istri, sebelum menjawab pertanyaan sang istri ustadz Fadil pun menghela nafas nya.


" Jawaban nya adalah jodoh, jadi mengapa menyesal dengan Jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kita. dan dengar baik - baik dek, apa pun keadaan adek saat ini, adek tetaplah istri yang sah bagi saya. tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kelebihan dan kekurangan dalam diri manusia itu memang selalu ada. hanya tinggal bagaimana kita menyikapi dan mensyukuri nya. bagaimana pun keadaan adek di masa lalu, saya tidak mempermasalahkan nya, dan hal itu juga termasuk anak yang ada di kandungan adek saat ini. saya akan terima adek apapun keadaan adek saat ini." dengan membalas tatapan sang istri, ustadz Fadil berucap pada sang istri tanpa ada keraguan sedikit pun.


Mendengar perkataan ustadz Fadil pada diri nya, membuat Jenny langsung menundukan kepala nya. entah mengapa tatapan dan perkataan sang suami mampu membuat jantung Jenny berdegup lebih cepat dari batas normal.


Kini Jenny merasakan rasa bersalah pada suami nya itu. bagaimana tidak, akibat keegoisan diri nya, ustadz Fadil kini harus menjadi korban dalam sebuah pernikahan yang seharus nya tidak terjadi.


Bahkan hingga saat ini, suami nya itu pun tak mengetahui apa pun tentang kebenaran tentang kehamilan palsu nya. walaupun Jenny memang sudah mengatakan nya pada keluarga besar dari sang suami. tapi tetap saja ustadz Fadil hingga saat ini, belum mengetahui nya.


" Ustadz .. sebelum nya Jenny minta maaf, jika apa yang akan Jenny katakan saat ini mungkin membuat ustadz marah dan kecewa pada Jenny."


Jenny menjeda perkataan nya dengan berlahan menarik nafas berat nya, kali ini ada rasa sesak di dadanya saat Jenny harus mengatakan kebenaran nya pada sang suami. ada rasa takut dalam diri Jenny saat ini, takut jika sang suami benar - benar kecewa pada nya.


" Sebenar nyaaa ... Jenny tidak dalam keadaan hamil ustadz, Jenny terpaksa mengatakan jika Jenny hamil pada daddy. karna saat itu, daddy berniat ingin menjodohkan Jenny dengan anak dari rekan bisnis daddy. sebenarnya Jenny memang ingin menolak perjodohan itu tanpa harus mengatakan bahwa Jenny tengah hamil. akan tetapi, daddy pasti tidak akan menerima penolakan Jenny. karna Jenny tau seperti apa daddy Alex, dan Jenny juga tau seperti apa keluarga besar dari Alexander, yang sejak dulu selalu memaksakan kehendak nya tanpa memperdulikan apa pun, apalagi jika itu berkaitan dengan bisnis. Jenny hanya tidak ingin pernikahan Jenny di dasari oleh bisnis, apa lagi pria yang ingin di jodohkan daddy pada Jenny adalah pria yang mungkin akan membuat Jenny semakin jauh dari Allah." dengan perasaan yang bercampur aduk dan meski dengan menundukan kepala nya, akhirnya Jenny mampu mengungkap kebenaran nya pada sang suami.


Sedangkan ustadz Fadil hanya tertegun dengan perkataan istri nya itu, diri nya bingung dengan apa yang Jenny katakan pada nya saat ini. melihat tak ada pergerakan dari sang suami, membuat Jenny dengan berlahan mengangkat kepala nya dan melihat ke arah suami nya itu.


' waduh gawat .. pasti si ustadz gesrek ini bakalan marah ama gue, ehh entar dulu, gue tadi lagi ngatain suami gue sendiri gesrek kan ? dasar bego !! dia kan sekarang suami gue. ye elah jenn .. emang lo mau punya suami gesrek ? amit - amit bayi tuyul ..' ujar Jenny membatin.


Masih dengan menatap sang suami, yang masih mematung di hadapan nya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. ada rasa was - was dalam diri Jenny saat melihat keterdiaman sang suami.


" ustadz .. " Meski dengan ragu Jenny pun mencoba mengeluarkan suara nya , dan kali ini Jenny menyentuh bahu sang suami.


Sedangkan ustadz Fadil sendiri hanya terdiam dengan tatapan kosong. entah apa yang di fikirkan nya saat ini, bahkan sentuhan Jenny pun tak mampu membuat nya tersadar.

__ADS_1


' Aduh ... ini sampaikan sich diam terus. jangan bilang kalo setelah ini gue bakal di cerai dan terus bakal jadi janda. ya Allah ... masa iya baru nikah udah di talak gue, belum juga tiga bulan udah jadi janda aja gue. ' Jenny masih saja membatin, saat sang suami yang tak kunjung mengeluarkan suara nya.


Sungguh saat ini Jenny merasa cemas. jika harus memilih, Maka Jenny akan memilih berhadapan dengan musuh yang menodongkan pistol ke arah diri nya, dari pada harus di hadapakan dengan keadaan yang di hadapi nya saat ini.


Sedangkan ustadz Fadik masih sibuk dengan fikiran nya sendiri, hingga membuat diri nya lupa bahwa saat ini justru sang istri tengah harap - harap cemas dengan keputusan nya.


' Ya Allah ... udah nahan - nahan biar engga kegoda dari satu minggu yang lalu karna takut kebablasan, ehh .. ternyata udah bisa di tancap gas dari awal. ternyata ini yang nama nya kebenaran membawa berkah .. he .. he .. tunggu pembalasan dari kakanda adek sayang. ' kali ini ustadz Fadil yang berujar di dalam hati nya, bahkan kini diri nya berencana membalas perbuatan sang istri.


" Ehem ..." kali ini ustadz Fadil berdehem. bahkan tatapan tajam pun di arahkan nya pada sang istri.


Melihat tatapan dari suami nya itu, membuat Jenny langsung menundukan kepala nya. ada rasa takut dan segan saat sang suami menatap nya dengan tatapan tajam. padahal sebelum nya, Jenny tak pernah merasakan rasa takut pada siapa pun. meski itu tengah berhadapan dengan musuh yang menodongkan pistol ke arah diri nya, bahkan pada sang daddy sekalipun.


" Mmmaafkan Jenny .. ustadz ." meski dengan terbata dan menundukan kepala nya, Jenny membuka suara nya.


" Terus dengan meminta maaf, apa semua nya akan selesai begitu saja ? apa dengan meminta maaf, rasa malu saya yang di fitnah menghamili seorang gadis akan hilang begitu saja di hadapan para santri dan pengajar di pondok ?." masih dengan tatapan yang sama, bahkan kini kedua tangan ustadz Fadil berlipat di dada nya.


" Iiiya .. Jenny tau semua yang Jenny lakukan tidak akan mudah di maafkan, Jenny tau semua tak akan mudah untuk ustadz. Jenny siap menerima apa pun yang ustadz putuskan, baik itu hukuman atau pun perce ..." belum selesai Jenny berkata - kata ustadz Fadil langsung menyele.


" Pasti .. saya pastikan akan memberikan hukuman untuk adek. jadi, mulai malam ini hukuman itu akan di mulai." ujar ustadz Fadil dengan tersenyum penuh arti.


Deg


Melihat senyuman yang menyeringai dari suami nya itu, membuat Jenny menelan salivah nya dengan kasar.


Glek


' Mampu lo Jenn .. ya Allah tolong Jenny ..'


***

__ADS_1


Ayoo ... hukuman apa yang bakal Jenny terima dari ustadz Fadil ?


Lanjut terus yaa .. terimakasih atas dukungan nya. ☺️


__ADS_2