Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Penolakan


__ADS_3

***


Masih berada di kediaman sang uwa, dengan Jenny yang masih berdiri kokoh di depan kamar yang di gunakan Khalifah untuk beristrahat. diri nya seolah - olah pohon yang akar nya tertancap kuat di tanah, yang tak akan roboh hanya karna tiupan angin.


Sedangkan Khalifah sendiri, merasa bahwa saat ini diri nya menjadi tahanan Jenny. bagai mana tidak, diri nya bahkan di larang untuk keluar kamar, hanya untuk sekedar menyapa keluarga nya. tidak hanya itu, keluarga nya pun tak ada yang di perboleh kan untuk masuk ke dalam kamar, dengan alasan akan menggangu waktu beristrahat Khalifah.


Saat waktu menunjukan pukul 20.00 malam, terdengar bunyi suara mobil yang berhenti di depan rumah sang uwa. mendengar itu, uwa pun segera ke luar untuk menyambut tamu nya saat ini. dari arah pintu penumpang keluar lah pria dan wanita paruh baya, sedang kan dari arah kemudi keluar lah seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan setelan koko dan sarung serta peci yang bertengger di kepala nya.


Ketiga nya langsung melemparkan senyuman ke arah abah Asep, yang kini telah berdiri di teras rumah untuk menyambut ketiga nya.


" Assalamualikum ..." ujar ketiga nya serempak mengucapkan salam, saat setelah mendekati abah.


" wa'alaikumus sallam wa rahmatullahi wabarakatuh .. " abah beserta keluarga pun menjawab salam dari tamu mereka. serta tidak lupa untuk saling bersalaman.


" Apa kabar abah, bagai mana kondisi antum dan keluarga sehat ?. " sang tamu bertanya dengan ramah, pada abah saat kedua nya tengah bersalaman.


" Allhamdulilah kiai, ana dan keluarga sehat wa - afiat." ujar abah menjawab pertanyaan tamu nya dengan ramah pula.


" Ayo kiai Fatur , bu nyai , dan gus Fahmi silahkan masuk. " setelah bersalaman abah pun langsung menyuruh ketiga nya untuk masuk ke dalam rumah.


" Terimakasih abah, mari silahkan.." ujar kiai Fatur yang tak kalah ramah pada abah.


Sesampai nya di ruang tamu, ke tiga nya pun langsung di persilah kan untuk duduk di kursi yang telah tersedia di ruangan tersebut.

__ADS_1


" Arum, cepat buatkan minuman untuk tamu kita nak. " ujar abah pada Arum. yang saat ini, ikut bergabung dengan keluarga.


" Baik abah. " ujar Arum patuh, dengan perintah sang abah.


Arum pun segera berdiri dari duduk nya, dan segara pergi ke dapur untuk membuatkan minuman serta cemilan untuk tamu, dengan di bantu kakak ipar nya. melihat Arum berdiri dari duduk nya, ada sepasang mata yang sejak tadi, selalu memperhatikan Arum. bahkan sejak diri nya datang, mata nya tak pernah lepas dari sosok Arum.


Tidak menunggu lama Arum pun datang dari arah dapur, dengan membawa nampan dengan beberapa gelas teh hangat, yang langsung di sodorkan nya pada tamu dengan sopan. begitu pula yang di lakukan oleh sang kakak ipar, yang membawa nampan dengan beberapa cemilan di atas nya.


" Silakan kan di minum dulu kiai, bu nyai, gus Fahmi. " ujar abah mempersilah kan ketiga tamu nya, untuk meminum teh hangat yang di sediakan.


Begitu pula dengan ummi Halimah, diri nya pun dengan ramah mempersilahkan bu nyai yang duduk di samping nya, untuk minum atau sekedar mencicipi cemilan buatan nya. di ruangan tersebut telah berkumpul, ada abah, ummi Halimah, berserta ketiga anak nya, dan tidak lupa ketiga tamu nya.


" Ehem .. maaf abah, apa abah sudah membicarakan masalah perjodohan ini dengan anak abah ?. " ujar kiai Fatur membuka pembicaraan perjodohan yang akan di lakukan kedua belah pihak.


" Allhamdulilah .. " serentak yang ada di ruangan itu mengucapkan hamdalah.


" Baik lah kalo begitu, berati malam ini kita akan langsung saja, melakukan proses Khitbah pada anak abah. bagai mana lee ? apa kamu setuju ?. " ujar kiai Fatur mengarah kan padangan nya pada sang putra, untuk meminta persetujuan.


" Insya Allah Fahmi setuju abi. " gus Fahmi pun langsung menyetujui usulan sang abi.


" Baik lah kalo begitu, ummi tolong panggil kan eneng, dan bawa eneng ke mari. agar calon suami nya bisa melihat wajah calon istri nya." abah meminta sang istri untuk memanggilkan sang keponakan yang saat ini berada di kamar.


" Baik abah. " ummi Halimah segera beranjak dari duduk nya.

__ADS_1


Melihat ummi Halimah yang beranjak dari tempa duduk nya, Fahmi sempat bingung. dan sebelum ummi Halimah melangkah keluar dari ruang tamu, diri nya langsung menghentikan langkah kaki dari ummi Halimah.


" Maaf ummi, ummi akan memanggil kan siapa ? dan eneng itu juga siapa ? bukan kan putri ummi dan abah ada di sini. " ujar Fahmi dengan arah pandangan yang di arahkan nya pada Arum, bertanya pada ummi Halima.


Mendengar itu keluarga abah sempat bingung, akan tetapi mereka langsung menyadari, bahwa selama ini Fahmi belum mengetahui apa - apa tentang eneng.


" Iya Arum memang putri ummi, sedangkan yang akan ummi panggilkan adalah anak gadis keponakan ummi. dia adalah putri dari adik perempuan abah yang ada di kalimantan. dan dia juga yang akan jadi calon istri dari gus Fahmi. " ujar ummi menjelaskan pada gus Fahmi.


Sedangkan gus Fahmi yang mengetahui hal itu langsung memadang ke arah kiai Fatur sang abi, melihat sang putra dengan pandangan yang bingung langsung menanyakan nya.


" Ada apa lee ?." ujar sang abi pada gus Fahmi.


Dengan pandangan yang langsung menunduk , gus Fahmi langsung mengutarakan apa yang ingin di katakan nya.


" Maaf sebelum nya, abah, ummi. bukan maksud saya untuk tidak sopan terhadap abah dan ummi. " terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan perkataan nya.


" Sebenar nya, saat saya di kairo, saya bertemu dengan seorang gadis. seorang gadis yang sangat pemalu, bahkan diri nya selalu menunduk kan pandangan nya, diri nya juga gadis cerdas. dan entah apa yang membuat saya berani mengagumi nya dalam diam, bahkan saya berani menaruh perasaan pada nya. dan tepat dua hari sebelum kepulangan saya ke tanah air, saya memberanikan diri untuk mengirim surat pada nya. bahwa jika Allah mengizin kan, saya akan memberanikan diri untuk datang kepada kedua orang tua nya, dengan niat hati, dan harapan yang besar untuk mengkhitbah nya, menjadi pendamping hidup saya. "


Kembali gus Fahmi menjeda perkataan nya, jelas terlihat diri nya sangat gugup, dengan menundukan kepala nya serta jari - jari yang bertautan. sedangkan semua orang yang ada di ruangan pun hanya terdiam, mencoba mendengarkan apa yang akan selanjutnya Fahmi kata kan.


" Dan ketika saya sudah di tanah air, abi pun menyampai kan perihal perjodohan pada saya. ketika saya mengetahui bahwa gadis yang di jodoh kan dengan saya adalah putri abah dan ummi, saya pun langsung menerima nya. karna selama ini, gadis yang saya kagumi dalam diam adalah Arumi Azzara putri abah dan ummi. dan sekali lagi maaf abah, ummi, saya akan menolak, jika bukan Arumi yang di jodohkan dengan saya. karna saya hanya akan mengkhitbah Arumi Azzara bukan gadis lain." ujar gus Fahmi menolak dengan tegas perjodohan diri nya dan Khalifah.


Entah apa yang di rasakan seorang gadis yang saat ini berada di sebuah kamar di rumah itu, yang jelas diri nya mendengar penolakan dengan nada tegas dari gus Fahmi, bahkan sebelum diri nya bertemu dengan Khalifah.

__ADS_1


***


__ADS_2