Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer

Jodoh Khalifah Sang Dokter Militer
Menegangkan


__ADS_3

***


Setelah semua siap mereka pun masuk ke dalam ruang prektek dokter gigi yang sekarang sudah beralih menjadi ruang operasi dadakan. sebelum memulai operasi Khalifah dan rekan - rekan tenaga medis lain nya berdo'a terlebih dahulu meminta kemudahan serta kelancaran dalam operasi tidak lupa juga Mereka mendo'a kan keselamatan pasien. keselamatan pasien adalah penentu dari kebehasilan operasi yang mereka lakukan saat ini.


" Neng apa eneng yakin dengan tindakan yang akan eneng lakukan pada pasien ? ingat .. ! di sini karir kedokteran eneng yang akan di pertaruhkan, apa bila sampai terjadi sesuatu pada pasien ? karna eneng melakukan operasi pada pasien tanpa prosedur operasi pada umum nya. " ujar paman Anton mengingat kan Khalifah saat sebelum tindakan operasi di lakukan. Khalifah memang sempat mengubungi paman nya yang berprofesi sebagai dokter kandungan untuk meminta pendapat sang paman dan berkonsultasi tentang keadaan pasien nya saat ini.


" Insya Allah paman eneng akan bertanggung jawab sepenuh nya dengan tindakan yang eneng lakukan. Karna bagi eneng semua yang eneng miliki adalah milik Allah, yang untuk sementara di titip kan pada eneng. dan jika nanti Allah ingin mengambil nya, maka eneng ikhlas dan ridho. niat eneng hanya ingin menolong sesama, dengan ilmu dan kemampuan dari Allah yang eneng miliki saat ini. eneng akan berusaha semampu eneng, berhasil atau tidak nya biarlah Allah yang menentukan. " ujar Khalifah menjelaskan pada sang paman.


" Baik lah, kalo itu sudah menjadi keputusan eneng. paman hanya mendo'an kan agar eneng dan rekan - rekan medis lainnya di berikan kelancaran, dan kemudahan oleh Allah, serta di beri kan keselamatan pada pasien. " ujar paman Anton yang hanya dapat mendukung keputusan sang keponakan.


Sebenar nya sang paman sempat melarang Khalifah untuk melakukan operasi cesar pada pasien. bukan karna sang paman meragukan kemampuan Khalifah sebagai dokter bedah, hanya saja saat ini Khalifah akan melakukan operasi cesar yang seharus nya di lakukan oleh dokter spealis kandung bukan dokter spealis bedah seperti Khalifah. bahkan ruangan operasi dan tenaga medis yang menjadi rekan Khalifah dalam melakukan operasi pun tidak sesui prosedur. akan tetapi setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Khalifah akhir nya sang paman pun hanya bisa mendukung dengan keputusan sang keponakan.


Dalam ruangan operasi suasana tegang menyelimuti para rekan medis yang membantu Khalifah dalam melakukan operasi. sejati nya ini adalah pengalaman pertama mereka yang mengerikan.


Terutama bagi ketiga dokter pria yang membantu nya. bagai mana tidak ketiga dokter pria itu harus berjuang melawan ketakutan pada diri mereka, agar tidak menimbulkan kesalahan yang fatal saat operasi.


Waktu pun berjalan seakan lambat bagi ketiga dokter pria itu, seakan - akan jam pada dinding tak berputar dan kaki yang gemetar pun mereka rasakan saat Khafalih melakukan sayatan pada bagian perut hingga rahim pasien dengan sayatan horisontal atau melintang di bagian perut dan biasa nya di sebut dengan Pfannenstiel atau Transversal. bahkan saat sayatan terbuka ketiga dokter itu pun sampai menahan nafas mungkin saja bagi ke tiga nya nafas mereka akan mengganggu konsentrasi Khalifah.


Dengan di bantu oleh bidan setempat, saat sayatan terbuka Khalifah pun dengan berlahan berusaha mengeluarkan sang cabang bayi dari rahim sang ibu dan setelah sang bayi berhasil di keluarkan Khalifah langsung memberi kan sang bayi pada bidan agar mendapat kan pertolongan kerena memang keadaan bayi yang lemas dan detak jantung yang lemah. sementar sang bayi di tangani oleh bidan, Khalifah dengan sigap langsung menangani sang ibu agar tidak terjadi pendarahan.

__ADS_1


Setelah hampir 2 jam operasi, para dokter pun berhasil menyelamatkan sang bayi berserta sang ibu. walaupun sang ibu masih belum sadarkan diri setidak nya kondisi nya masih bisa di katakan stabil. bagitu pula dengan sang bayi meski sempat lemas dengan detak jantung yang lemah saat berhasil di keluarkan dari rahim sang ibu.


Berkat doa dan kuasa Allah sang bayi masih mampu bertahan hingga berangsur - angsur detak pada jantung sang bayi pun normal.


" Tolongin gue Ngga .. gue engga bisa jalan, kaki gue lemes banget Ngga .. ini napa ruangan nya jadi muter gini yach ? ehh, gelap Ngga .. " dan tak lama terdengar suara "bruk" Radit langsung pingsan sesat setelah operasi di nyatakan selesai.


" Waduh si Radit pake pingsan segala lagi, gue aja lemes ini, gimana gue mau angkat badan lo. " ujar Angga menggerutu. " Dit ... Radit bangun woy ... ini gimana cerita nya, masa iya prajurit pingsan ?. " sambil menepuk - nepuk pelan pipi Radit yang masih belum sadar.


" Prajurit juga manusia pak, bukan robot yang engga bisa pingsan. " ujar dokter Tomi yang mendekat dan mendengar gerutuan Angga pada Radit.


" Maksud nya engga gitu juga dok, masalah nya ini si Radit pingsan nya bukan pada waktu yang tepat. " ujar Angga sambil merebahkan diri di samping Radit. jangan kan untuk menolong atau sekedar mengangkat Radit dari dingin nya lantai kramik, Angga justru ikut berbaring di lantai bersama dengan Radit. karna apa yang di rasakan oleh Radit sebenar nya Angga pun merasakan nya hanya saja Angga masih mampu mengontrol kesadaran nya hingga tidak sampai pingsan seperti Radit.


" Emang kalo mau pingsan dulu waktu yang tepat dulu ya pak ?. ujar dokter Tomi bingung, masa iya mau pingsan harus nunggu waktu sama tempat.


" Mungkin saya adalah dokter gigi pertama yang praktek nya tidak hanya mencabut gigi pasien saja. " ujar dokter Tomi menambah kan, dengan wajah yang masih terlihat tegang walau pun tidak setegang tadi saat operasi berlangsung.


" Saya juga sebenar nya cuma dokter umum. jadi, saya juga belum pernah mengikuti seminar atau pun praktek langsung, untuk tindakan operasi. kalo pun ada pelatihan, itu hanya simulasi saja. " terdiam beberapa saat.


" Dan saat ini, saya langsung di hadap kan dengan keadaan yang real. kalo operasi biasa, mungkin saya engga akan setakut ini. tapi ini sungguh menguras adrenalin saya sebagai dokter militer. kalo saya di suruh memilih, saya lebih memilih menolong pasien di medan tempur." ujur Angga mengeluarkan semua yang di rasakan nya saat ini. mereka pun kembali terdiam menenang kan fikiran serta fisik yang lemas karna ketegangan.

__ADS_1


Sedang kan Khalifah setelah tindakan operasi selesai, langsung menemui keluarga pasien dan menjelaskan tentang kondisi pasien serta sang bayi yang telah berhasil di keluarkan. Khalifah pun meminta keluarga pasien untuk terus mendoa kan pasien agar kembali segera sadar.


Setelah memberi penjelasan pada keluarga pasien Khalifah pun kembali ke ruangan pasien, akan tetapi ketika Khalifah melewati lorong samping Khalifah melihat ketiga dokter yang membantu nya tadi sedang terbaring di lantai. melihat hal itu Khalifah pun mendekati ke tiga nya.


" Assalamualaikum .. " Khalifah memberikan salam pada ke tiga nya dengan senyuman manis nya yang langka. bahkan mungkin selama ini Khalifah hampir tak pernah tersenyum pada laki - laki yang bukan mahrom. selama ini Khalifah terkenal sebagai atasan yang tegas, serius, pendiam, dan cuek apa lagi dengan kaum adam.


Mendengar ada yang memberikan salam dokter Angga dan dokter Tomi pun menoleh


" wa'alaikumus sallam .. " tentu nya hanya jawaban dokter Angga dan dokter Tomi saja. sedang kan untuk dokter Radit masih di alam nirwana karna masih belum sadar.


Melihat senyuman yang di berikan Khalifah tentu membuat Angga dan Tomi terpana, bahkan tubuh Angga yang sempat lemas kini langsung bersemangat. ibarat kata nich yah kaya tanaman yang layu kekeringan tersiram oleh air. itu lah yang di rasa kan oleh Angga saat ini.


" Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas batuan dokter - dokter, karna telah membantu saya dengan suka rela. dan tanpa bantuan para dokter, saya tidak akan mampu untuk menolong pasien saat ini . sekali lagi terima kasih banyak, terutama untuk dokter Tomi. saya akan bertanggung jawab sepenuh nya. " ujar Khalifah menambahkan dengan ramah dan senyuman manis yang tak luntur dari bibir sang dokter.


" Sama - sama bu letnan .. " ujar Angga sambil membalas senyuman yang tak kalah manis nya kepada sang atasan. kan, jarang - jarang di kasih senyuman sama pujaan hati.


" apa dia bilang suka rela ? yang ada juga gue di paksa. udah maksa pinjem ruang praktek gue, terus gue juga di paksa buat ikutan juga. untung cantik, gue suruh nikahin gue buat tanggung jawab entar. " jeritan hati dokter Tomi. dan dokter Tomi pun hanya membalas dengan senyuman dan anggukan saja pada Khalifah.


" Baik lah kalo begitu, silahkan lanjutkan istrahat nya, Maaf kalo saya sudah mengganggu. seperti nya dokter Radit juga sangat kelelahan. kalo begitu saya permisi assamualaikum .. " setelah mengucapkan salam Khalifah pun meninggalkan ke tiga nya untuk kembali ke ruangan pasien. tanpa Khalifah tau kalo dokter Radit pingsan bukan tidur.

__ADS_1


sedangkan untuk dokter Angga karna rasa kantuk dan lelah yang di rasakan, sang dokter pun memutuskan untuk tidur sambil terus membayangkan senyuman manis sang atasan. sedangkan dokter Tomi setelah kepergian Khalifah sang dokter langsung merebahkan tubuh nya dan langsung tertidur karna bagi nya hari ini adalah hari yang sangat menegangkan.


***


__ADS_2