Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Rumah baru


__ADS_3

"Mbok, saya pamit ya. Mbok sehat-sehat ya, terimakasih sudah banyak membantu saya selama disini. Semoga kita bisa ketemu lagi ya Mbok" Ucap Sesa menahan tangisnya. Walau hanya beberapa bulan saja Sesa bersama Mbok Lasmi, tapi kasih sayang dan perhatian yang di berikan kepada Sesa layaknya seorang ibu itu membuat Sesa menyayangi Mbok Lasmi.


"Pasti Mbak, pasti kita ketemu lagi. Mbak Sesa hati-hati di jalan ya" Mbok Lasmi terlihat melepas kepergian Sesa.


"Kami pergi dulu Mbok" Ucap Yuga.


"Iya Den hati-hati"


Sesa melihat ke belakang, melihat untuk yang terakhir kalinya rumah yang menjadi tempat pelariannya.


"Ayo sayang" Yuga menggenggam tangan Sesa, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menarik koper milik Sesa.


***


Sesa dan Yuga sudah sampai di Jakarta, seperti biasanya Doni yang akan menjemput Yuga di manapun bosnya berada.


"Ke rumah kan bos?" Tanya Doni yang mengemudikan mobil keluar dari bandara.


"Iya" Jawab Yuga santai.


Sesa yang mendengar itu mendadak sedikit gugup, karena jika Yuga mengajaknya pulang ke rumah maka ia akan bertemu den mertuanya. Sesa memikirkan apa yang akan ia katakan nanti tentang kepergiannya kemarin.


Setelah hampir satu jam Doni berkendara, mereka sampai di sebuah rumah sederhana bagi Yuga dan Sesa namun terlihat mewah bagi orang biasa. Rumah dua lantai degan halaman yang luas dipenuhi bunga dan rerumputan hijau yang indah.


Sesa mengernyit bingung, kenapa suaminya membawanya ke rumah yang Sesa tidak tau itu rumah siapa.


"Ayo sayang" Sesa tidak sadar jika Yuga sudah membukakan pintu untuknya.


"Iy iya Mas" Karena terlalu bingung, tanpa berkata apapun Sesa mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah itu.


Sesa tambah bingung ketika Yuga membuka pintu rumah itu dengan sebuah kunci yang di ambil dari sakunya.


"Selamat datang di istana kecil kita sayang" Ucap Yuga seraya membuka lebar pintu utama rumah bergaya modern minimalis itu.


"Maksud Mas?" Sesa benar-benar belum paham maksud Yuga.


Yuga meraih ke dua tangan Sesa lalu menggenggamnya erat.


"Sayang, maafkan Mas karena memilih rumah ini sebagai istana kita tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Sebenarnya rumah ini sudah Mas siapkan sebelum kepergian kamu. Mas ingin memberikan kejutan kecil ini, tapi malah justru Mas yang lebih dulu mendapatkan kejutan dari kamu"


"Lalu apa kamu suka? Atau kamu mau pilih rumah yang lain sesuai keinginan kamu?" Yuga berkecil hati saat melihat Sesa diam saja tanpa memberikan reaksi apapun.


"Sayang, kalau kamu ngga suka nggak papa kok, Mas bisa bel_"

__ADS_1


Greepppp..


Sesa menangis haru menubruk dada bidang suaminya. Sesa menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis di dada yang berotot dan wangi itu.


"Sayang kok kamu nangis, maafkan Mas membuatmu sedih karena mengambil keputusan ini sendiri" Yuga merasa bersalah kepada istrinya.


Sesa menggeleng di pelukan suaminya.


"Sesa suka Mas, suka sekali. Terimakasih Mas, ini rumah impian Sesa sejak dulu" Ucap Sesa dengan suaranya yang tertahan akibat wajahnya yang bersembunyi di dada Yuga.


"Benarkah? Jadi kamu suka.?" Yuga melepaskan pelukan istrinya untuk melihat wajah cantik itu.


Sesa mengangguk senang meski wajahnya basah karena air mata.


"Bagaimana Mas tau kalau Sesa ingin rumah seperti ini?"


"Mas sempat lihat beberapa desain rumah ruangan pribadi kamu di cafe. Dan Mas tidak menyangka kalau impian kita sama. Yaitu tinggal di rumah yang sederhana seperti ini" Yuga menyatukan keningnya dengan Sesa.


"Kenapa Mas ingin tinggal di rumah yang berbeda jauh dengan orang tua kita?" Tanya Sesa lagi.


"Karena Mas ingin rumah yang indah dan penuh kehangatan di dalamnya. Bukan berarti rumah mama tidak ada kehangatan, tapi rumah yang besar akan terasa sepi kalau hanya untuk keluarga kecil kita. Apalagi nanti kalau anak kita sudah besar, mereka akan mencari kesibukan sendiri yang membuat rumah semakin terasa sepi. Rumah terlalu besar itu membuat penghuninya saling berjauhan Sa. Kamu sendiri mengalaminya kan? Kamar kamu dan mama kamu saja jaraknya jauh kaya dari pancoran ke monas.


Lagi-lagi Sesa memeluk suaminya, kali ini dengan senyum yang bahagia. Karena semua yang di ucapkan suaminya tentang pilihan rumah yang sederhana itu sama persis dengan impian Sesa.


"Kenapa lagi hemm?" Yuga mengusap lembut kepala Sesa.


"Terimakasih Mas, Sesa suka. Suka sekali" Yuga tersenyum mendengarnya. Saat melihat berbagai desain rumah di cafe Sesa waktu itu, Yuga langsung tertarik, apalagi dari dulu Yuga mempunyai keinginan membangun rumah sederhana untuk hidup bersama anak istrinya kelak. Dan kebetulan sekali beberapa hari setelah itu Yuga menemukan iklan dari agen properti tentang rumah itu. Tanpa berpikir panjang Yuga langsung membelinya kemudian merenovasi beberapa bagiannya agar sedikit mirip dengan desain yang di simpan Sesa.


"Kita lihat-lihat ke dalam yuk!" Yuga memeluk Sesa dari samping, membawanya berkeliling rumah baru mereka.


Sesa tak bisa berkata-hata lagi setelah melihat semakin dalam sudut rumah dan segala interiornya. Sungguh sesuai dengan impian Sesa dari dulu. Beberapa kali Sesa bahkan sempat meneteskan air mata bahagianya.


"Loh kok nangis lagi sih yank. Kalau kamu ngga suka bilang sama Mas aja. Mas ngga papa kok, dari pada kamu sedih kaya gini" Yuga merasa gelisah karena melihat istrinya terus menangis dalam diam.


"Enggak Mas, Sesa suka kok. Sesa hanya terlalu bahagia. Karena Mas Yuga bisa mewujudkan impian Sesa sejak dulu. Bahkan sampai detail interiornya pun sama persis dengan keinginan Sesa. Terimakasih ya Mas, Sesa senang banget" Lagi-lagi Sesa memeluk suaminya, namun kali ini hanya sekilas.


"Apa ini yang dinamakan jodoh Sa?" Yuga tersenyum misterius kepada Sesa.


"Maksudnya?"


"Buktinya impian kita tentang rumah ini sama"


"Jodoh itu sudah di atur Allah Mas, mau orangnya berbeda 180° kalau jodoh ya jodoh" Ucap Sesa lalu meninggalkan suaminya. Sesa menaiki tangga ke lantai dua. Memasuki salah satunya yang ternyata adalah kamar utama, Sesa bisa menebak itu karena ukuran kamarnya yang luas dan terdapat walk in closet yang tidak terlalu besar seperti di rumahnya. Ranjang king size yang terlihat rapi dengan seprei berwarna cream yang lembut.

__ADS_1


"Kamu suka sayang?" Sesa terkejut karena pelukan Yuga yang tiba-tiba dari belakang.


"Suka Mas. Terimakasih ya?"


"Hentikan ucapan berterimakasih mu itu, Mas bosan mendengarnya" Bisik Yuga di telinga Sesa yang membuat Sesa merinding seketika, karena hembusan napas Yuga yang begitu terasa di kulit Sesa.


"Lepas Mas!!" Sesa tidak ingin Yuga mendengar detak jantungnya yang sudah berdendang di dalam sana.


Bukannya menuruti perintah Sesa, Yuga justru semakin melancarkan aksinya dengan memberikan kecupan-kecupan lembut di bahu dan tengkuk Sesa. Sementara pemilik bahu putih mulus itu sudah menegang dan kaku karena mendapat sentuhan s*nsu*l dari suaminya.


Srrrreetttt..


Yuga memutar tubuh Sesa, meraih tengkuknya lalu menyambut bibir merah muda milik Sesa dengan bibirnya. Yuga memejamkan matanya menikmati benda basah dan kenyal yang selalu membuatnya ketagihan.


Yuga membuka matanya lagi kala Sesa belum juga membalasnya. Yuga melihat bola mata istrinya membulat sempurna, Yuga tersenyum tipis tanpa melepaskan tautannya.


Berlahan Yuga merasakan Sesa mulai membalasnya. Seperti di beri lampu hijau, yuga semakin memperdalam ciumannya. Mereka semakin hanyut dalam h*sratnya. Sementara Yuga semakin buas dengan bibir istrinya. Hingga mulai menc*mbu leher putih dan harum itu.


Sesa melihat mata suaminya sudah berkabut. Sesa tersentak saat Yuga mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang.


Tak mau membuang waktu, Yuga kembali menghujani istrinya dengan ciuman penuh g*irah. Yuga mulai menyusuri leher Sesa m*nj*lat dan meny*s*pnya hingga menimbulkan jejak keunguan di sana.


"Mmaaasss" D*sa*an mulai lolos dari bibir Sesa.


Mendengar suara istrinya yang sangat menggoda justru tambah membakar g*irahnya. Tangan Yuga mulai aktif menyusuri tubuh seksi milik Sesa. Dari paha kemudian naik, menyingkap dress yang di pakai istrinya. Tangannya terus naik hingga sampai di perut Sesa.


Sesa membuka matanya yang terpejam karena Yuga menghentikan sentuhannya secara tiba-tiba.


"Mas lupa kalau ada baby di dalam sayang. Apa bisa?" Yuga dengan ragu menanyakan itu.


"Sesa juga ngga tau Mas" Sesa juga tidak tau mengenai hal itu karena ia juga sama sekali belum berpengalaman.


"Terus gimana dong?" Yuga mulai frustasi.


Sesa hanya menggeleng dengan wajah polosnya.


"Aakkhhhh ****!!" Yuga merasakan ngilu di benda pasukannya karena harus berhenti saat berada di puncak g*irahnya.


"Besok kita ke dokter kandungan. Mas ngga bisa menahan ini terlalu lama!!" Ucap Yuga berjalan ke kamar mandi. Sepertinya dia harus menuntaskannya sendiri di kamar mandi.


-


-

__ADS_1


-


Happy reading😘


__ADS_2