
"Sesa, Maaf ya aku baru bisa dateng sekarang. Kemarin aku ngga bisa keluar kamar rasanya lemes banget. Pantesan dulu Yuga sampai sekarat dua kali" Maya memang sedang merasakan gejala awal kehamilan. Di kehamilannya yang menginjak 3 bulan membuatnya susah beraktivitas dan sering lemas.
"Husshh kamu kok bilang suami aku sekarat sih May!! Gapapa kok lagian lebih enak di rumah dari pada kita ngobrol di rumah sakit" Sesa sudah pulang dari rumah sakit setelah tiga hari menginap di sana.
"Iya maaf, babynya mana Sa? Ayo dong ngga sabar pingin gendong"
"Ada lagi bobok sama Mbok Lasmi, kita lihat ke kamarnya yuk?" Sesa berjalan di ikuti Maya di belakangnya.
"Mbok sudah bangun?" Sesa melihat Mbok Lasmi sedang memangku putra kecilnya.
"Tadi sudah sekarang bobok lagi" Mbok Lasmi berucap setengah berbisik agar tidak mengganggu tidur pulas Tuan kecilnya.
"Ya sudah biar sama saya, Mbok istirahat saja dulu" Sesa mengambil alih gendongan Mbok Lasmi.
"Sama minta tolong Bi Yanti untuk membuatkan minuman untuk Maya ya Mbok!!" Pesan Sesa sebelum Mbok Lasmi meninggalkan kamar berhiaskan gambar-gambar yang lucu itu.
"Iya Mbak, mari Mbak Maya"
"Iya Mbok" Balas Maya ramah.
"Sekarang udah kenceng banget minum susunya May, kemarin waktu di rumah sakit masih bingung dianya" Sesa bercerita sambil memandang wajah tampan dan menggemaskan itu.
"Masyaallah anak kamu ganteng banget Sa, bibit unggul banget nih. Bapaknya aja kaya gitu ya pantes anaknya bisa seganteng ini. Uhh tante gemes sama kamu sayang!" Maya tak hentinya mengagumi ketampanan baby saga. Hingga menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman kecil.
"Bisa aja kamu May" Sejak menikah Maya mulai memperbaiki tutur katanya menjadi lebih lembut dan sopan.
"Namanya siapa Sa, sampai lupa" Tangan Maya memainkan jari-jari kecil milik baby Saga.
__ADS_1
"Namanya Sagara hanan wiratama. Papanya yang kasih nama" Sesa tersenyum lalu mengecup hidung kecil milik putranya hingga bayi kecil itu menggeliat merasa terganggu.
"Bagus banget, tapi namanya cuma beda satu kata sama papanya"
"Iya memang sengaja, katanya biar mirip sama Papanya" Jawan Sesa.
"Terus panggilnya siapa?"
"Panggilnya Saga, Sesa dan Yuga" Sesa melu-malu pengucapan itu pada Maya.
"Hilih jelek tau muka kamu kalau lagi malu-malu gitu" Ledek Maya.
"Apaan sih May. Oh iya kehamilan kamu gimana?" Obrolan ringan itu terus berlanjut hingga lewat jam makan siang. Setelah itu Maya buru-buru pergi karena harus ke kantor suaminya. Mereka sudah janjian akan makan siang bareng katanya. Tinggallah Sesa di kamar itu sedang memberikan Asi untuk putra semata wayangnya.
"Hey sayang!!" Yuga masuk ke dalam kamar sepelan mungkin.
"Loh kok udah pulang?? udah ganti baju juga!!" Sesa terkejut karena suaminya yang sudah tiba di rumah siang-siang begini. Apalagi sudah berganti dengan baju rumahan dan rambutnya yang sedikit basah.
"Sama Mamanya juga kangen" Imbuh Yuga.
"Terus kerjaan kamu gimana kalau kamu tinggal begini, kan udah cuti dari kemarin lahiran"
"Tenang sayang kan ada Doni. Oh iya Mas tadi bawa hadiah dari Doni buat Saga tapi masih di Mobil" Yuga masih saja mengganggu tidur lelap baby Saga dengan ciuman di seluruh wajah mungil itu.
"Kok nggak bangun sih yank, kan Mas pingin main berdua" Yuga mulai kesal karena anaknya tak terusik sama sekali.
"Sudah mabuk Asi dia Mas. Pulas banget boboknya. Kita makan siang dulu yuk, sambil nunggu dia bangun" Sesa membaringkan baby Saga di tempat tidurnya.
__ADS_1
Yuga memberikan kecupan di kedua pipi Saga sebelum melangkah keluar mengikuti Sesa. Yuga tak menyangka, menjadi seorang Ayah akan menyenangkan ini. Bahkan rasa lelah yang di bawanya dari kantor tadi hilang seketika setelah melihat istri dan anaknya.
***
Sementara itu, di balik kebahagiaan yang di rasakan oleh Yuga dan Sesa, ada hati yang sedang menangis. Della lah orangnya, Della memandangi ponselnya dengan deraian air mata. Sebuah postingan di media sosial dari mantan kekasihnya lah yang membuat Della seperti itu.
Di dalam akun media sosial itu Yuga memasang foto Sesa sedang tersenyum sambil menggendong seorang bayi dengan caption. "I wish I could turn back the clock. I'd find you sooner and love you longer."
(Aku berharap aku bisa memutar balik waktu. Aku akan menemukanmu lebih cepat dan mencintaimu lebih lama)
"Secepat itu kamu melupakan aku Ga. Sekarang kalian hidup bahagia di sana, sedangkan aku? Apa ini karma atas keserakahan ku dulu. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan aku malu jika harus berhadapan dengan kalian. Aku kehilangan kekasih dan sahabat-sahabatku di waktu yang bersamaan. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bahkan jika aku mati, aku ragu akan ada orang yang sudi menguburkan jasadku" Della mengusap air matanya yang lagi-lagi turun membasahi pipinya. Jika mengingat kenangannya dulu air matanya seakan tidak pernah kering. Mereka mendesak keluar walau Della sidah mati-matian menahannya.
Hidup Della kini hancur berantakan, hidup sungkan matipun sungkan. Semua uangnya dan asetnya sudah di bawa kabur Riko. Entah di mana sekarang manusia satu itu. Della tidak akan bisa mencarinya jika dia saja tidak punya uang sama sekali. Della sempat ada harapan tentang rumah yang di berikan Kakek Yuga di indonesia. Tapi Riko lebih licik, ternyata laki-laki g*la itu sudah merencanakan semuanya, hingga semua milik Della habis terkuras.
Saat ini Della bekerja di salah satu restoran cepat saji di Paris. Gaji yang tak seberapa jika di ukur di negara itu. Tapi demi menyambung hidup Della rela membanting tulang melakoni pekerjaan apa saja untuk mendapatkan uang. Di sela pekerjaannya Della berusaha mendesain baju dan menjualnya kepada orang-orang yang ia kenal. Tentu saja hanya beberapa orang yang berminat namun Della tak pantang menyerah. Dia yakin kelak usahanya akan membuahkan hasil.
Sebenarnya bisa saja Della pulang ke Indonesia dan mengabaikan ancaman Yuga. Walau Della tau betapa kejamnya Yuga jika amarahnya sudah tak terkendali. Tapi Della sudah merasakan karma atas perbuatannya. Ia tak mau mendapatkan karma untuk yang ke dua kalinya. Ia juga malu untuk bertemu dengan orang-orang yang ada di kehidupannya dulu. Termasuk Yuga dan Sesa.
"Aku sudah memetik hasil dari keserakahan ku. Maka dari itu, kalian hiduplah bahagia di sana. Aku ikhlas" Gumam Della menatap hamparan langit yang tertutup awan tebal.
-
-
-
-
__ADS_1
-
Happy readingš