Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Baby Saga


__ADS_3

"Mas sakit" Lirih Sesa.


Suasana di dalam raung observasi itu semakin panik. Yuga dan Sesa adalah pasangan orang tua baru, jadi mereka tidak berpengalaman tentang proses melahirkan.


"Kamu operasi aja ya yank, biar cepat lahir, biar kamu ngga kesakitan terus gini" Yuga mengusap kening istrinya.


"Nggak mau Mas, Sesa maunya normal. Sesa masih kuat kok" Sesa memejamkan matanya.


"Sayang, gimana udah bukaan berapa?" Vani masuk ke ruangan itu dengan wajah panik.


"Baru 5 ma" Jawab Yuga.


"Kamu sabar ya, menunggu proses bukaan memang lama. Kamu berdoa terus, rasa sakit saat ini nanti akan tergantikan dengan rasa bahagia saat anak kalian sudah lahir" Nasehat Vani.


"Iya mama" Sesa menjawab dengan suara yang lirih.


"Aduh Mas, sakit!!" Tangan Sesa semakin kuat mencengkeram tangan Yuga. Dari situ saja Yuga bisa merasakan betapa sakitnya yang di alami Sesa saat ini. Vani mengusap pelan pinggang Sesa, untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya.


Sudah lebih dari satu jam Sesa meringis kesakitan ,Yuga sebenarnya sudah tidak tahan dan tidak tega melihat Sesa seperti ini, Yuga sudah membujuk Sesa berkali-kali untuk operasi saja. Tapi Sesa kekeh ingin melahirkan secara normal.


"Aduh Mas ini sakit banget, aku ngga kuat. Mama sakit!!"


"Cepat Ga panggil dokter, kayaknya udah mau lahir" Perintah Vani panik.


"Iya Ma"


Belum sempat Yuga keluar, dokter Citra sudah lebih dulu datang ke ruangan Sesa.


"Kita periksa dulu ya?" Sesa berbaring menekuk kakinya.


"Sudah bukaan lengkap, kita pindah ke ruang bersalin!!" Para perawat yang membantu dokter Citra mendorong bangkar Sesa menuju raung bersalin. Yuga mengikuti dari belakang dengan rasa cemas.


Semua sudah siap di ruang bersalin, Sesa yang masih terus kesakitan mengeratkan bibirnya menahan diri untuk tidak berteriak.


"Bunda, ikuti arahan saya ya, jangan mengejan jika saya belum beri aba-aba untuk mengejan. Mengerti?" Instruksi dokter Citra.


"Baik dokter" Sesa memekik menahan tertahan.


"Kamu bisa sayang, kamu pasti kuat" Bisik Yuga di telinga Sesa.


"Siap ya Bunda, 1 2 3 dorong!!"


"Uhhhhh" Sesa mengejan seperti perintah dokter.


"Ayo kepalanya sudah terlihat, sekali lagi 1 2 3 dorong!!


" Ayo sayang!!" Yuga semakin memperkuat genggaman tangannya.

__ADS_1


" Akkkhhhh"


"Oek.. Oekk.."


"Alhamdulillah selamat ya Bunda, bayinya tampan seperti Ayahya" Dokter citra memberikan bayinya kepada Sesa lalu di tempelkan ke dada Sesa. Dari awal memang Sesa tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya, setiap periksa Sesa hanya menanyakan kesehatan bayinya saja tanpa mau tau jenis kelaminnya. Ia ingin sebuah kejutan dari Allah. Mau laki-laki atau perempuan Sesa pun bahagia..


"Anak kita laki-laki Sa. Dia laki-laki sepertiku" Bisik Yuga dengan suara parau.


Sesa tidak bisa menahan air matanya, benar kata Mama mertuanya rasa sakitnya tergantikan dengan kebahagiaan yang luar biasa. Yuga pun sama ia bahkan sampai terisak di sampung Sesa. Melihat malaikat kecilnya yang sangat tampan sepertinya.


"Terimakasih sayang, kamu hebat. Mas sangat mencintai kamu" Yuga mencium kening Sesa begitu dalam.


"Saya bersihkan dulu dedek bayinya ya Bu" Salah satu suster mengambil bayi dalam dekapan Sesa.


Sesa sudah di pindahkan ke ruang rawat setelah selesai dengan rangkaian perawatan tang di jalaninya. Kini tinggal menunggu kedatangan bayi mereka yang belum di antar oleh perawat ke ruangannya.


"Permisi, Bunda ini babynya ya. Sudah bersih dan wangi silahkan kalau mau di adzanin" Ucap suster yang mendorong troli yang terdapat bayi mungil di dalamnya.


"Terimakasih suster"


"Sama-sama saya permisi dulu"


"Wah cucu oma ganteng sekali, persis kaya kamu waktu bayi Ga. Ngga ada bedanya sama sekali" Vani terkagum memandangi bayi tampan di depannya.


"Iya bener Ma, jadi ingat dulu waktu Mama melahirkan anak bodoh ini" Surya melirik Yuga yang menatapnya sinis.


"Sadar diri kamu itu Ga!! Kamu mirip siapa kalau bukan mirip Papa. Ya otomatis cucu Papa ya mirip Papalah!!" Pertarungan sengit antara Ayah dan anak.


"Sudah-sudah kalian ini kok malah ribut, kasian babynya terganggu!!" Vani menegur dua pria dalam hidupnya itu.


"Iya Mas sebaiknya kamu segera adzani baby dulu" Yuga sampai lupa jika anaknya belum mendengarkan adzan.


"Iya sayang, Mas lupa" Yuga mendekati anaknya, mencondongkan badannya agar lebih dekat ke telinga mungil itu.


Suara adzan mulai dilantunkan Yuga, Sesa tidak menyangka jika suaminya bisa mengumandangkan adzan semerdu itu. Air mata Sesa mengalir karena rasa bahagianya yang membuncah.


Yuga mengusap ujung matanya yang basah. Entah kenapa setelah menikah dan mempunyai anak perasaannya semakin hari sensitif, apalagi menyangkut istri dan anaknya.


"Halo baby, Tante Naya datang!!" Suara lantang Naya mengagetkan semua orang yang ads di ruangan itu.


"Naya!!" Geram Yuga.


"Hehe maaf kak, habisnya Naya terlalu excited" Naya cengar cengir saja mendapat tatapan tajam dari Yuga.


Sesa malah tersenyum melihat kelakuan adik dan kakak yang sering berdebar karena hal yang tidak penting.


"Pelan-pelan kan bisa sayang, kasian babynya kan jadi terganggu" Vani menasehati anak perawatannya itu.

__ADS_1


"Iya Ma, maaf"


"Cewek apa cowok kak?" Naya menoel noel pipi gembul bayi baru lahir itu.


"Cowok Nay, ganteng kan?" Jawab Sesa.


"Iya ganteng, pipinya gembul"


"Singkirkan tangan kotor mu itu Naya, belum cuci tangan kok pegang-pegang!!" omel Yuga lagi.


"Iya-iya, sensi amat sih ni bapak-bapak baru" Cibir Naya meninggalkan Yuga untuk mencuci tangannya.


"Mau di kasih nama siapa cucu Mama ini Ga?" Sesa menatap Yuga lalu menganggukkan kepalanya.


"Yuga beri nama Sagara hanan wiratama, yang memiliki arti putra pemberani yang memiliki belas kasih seluas lautan. Panggilannya Saga, Sesa dan Yuga" Sesa tersenyum puas dengan jawaban suaminya.


"Bagus namanya kak" Sambar Naya keluar dari toilet.


"Bagus dong, siapa dulu yang kasih nama" Mulai lagi perdebatan tak berfaedah.


"Sudahlah Mas, kamu itu udah tua ngga mau kalah sama adiknya. Mas mau coba gendong nggak?" Tanya Sesa.


"Mas takut yank, bayi sekecil ini takut jatuh kalau Mas gendong" Yuga sebenarnya ingin tapi takut anaknya akan jatuh dari gendongannya.


"Ya enggak lah Ga, sini Mama bantu. Kamu duduk situ" Vani mengambil baby Saga dari tempat tidurnya lalu menempatkannya ditangan Yuga yang sudah siap menggendongnya.


"Pelan-pelan Ma!!"


"Mama juga tau Ga!!" Ketegangan Yuga malah membuat Sesa terkekeh geli, wajah Yuga terlihat lucu sekali di mata Sesa.


"Dasar cikri kamu Ga, sudah jadi Papa kok pegang anak sendiri takut" Surya langsung mendapat tatapan tajam dari Vani setelah mengatakan kiamat itu.


"Papa kamu sedang bercerita tentang dirinya sendiri. Kamu itu memang benar-benar anak Papa Ga, bukan hanya wajah kalian yang mirip tapi kelakuan kalian juga sama. Semoga cucu Mama tidak seperti kalian!!" Vani mengusap-usap rambut tebal milik Saga.


"Memangnya kita kenapa??" Surya dan Yuga serempak bersuara.


Vani hanya mengedikkan bahunya saja sebagai jawaban, sementara Sesa dan Naya tertawa melihat wajah suami dan mertuanya yang masam. Sampai jahitan jalan lahir Sesa terasa ngilu karena tertawa terlalu kencang.


-


-


-


-


Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2