
"Apaa dok?? Jadi Sesa hamil???" Maya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Betul, tapi untuk lebih pastinya tunggu hasilnya keluar dulu"
"Lalu apa Sesa harus menginap disini dok?"
"Tidak perlu, tunggu cairan infusnya habis dulu baru boleh pulang" Terang Vino.
"Baiklah, terimakasih kalau begitu dokter"
"Sama-sama, saya permisi dulu" Vino sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan Sesa saat ini. Tapi mengetahui kehamilan Sesa sangat memukul keras hatinya. Bukan ia tak suka dengan kehamilan Sesa tapi hatinya semakin di peringatkan untuk menjauh dari wanita yang dia cintai itu.
-
"Sa? Loe udah bangun?" Sesa sudah membuka matanya saat Maya masuk ke dalam bilik rawat Sesa.
"May kenapa kamu bawa aku kesini?"
"Sa, gimana gue ngga panik bawa loe kesini. Loe pingsan dua kali di hadapan gue" Kesal Maya karena Sesa masih bertanya seperti itu kepada Maya.
"Aku gapapa Maya, kamu ngga usah khawatir"
"Gapapa gimana? loe harus jaga kesehatan karena sekarang ada nyawa yang harus loe jaga!"
"Maksudnya?" Sesa sama sekali tidak tau maksud Maya.
"Jadi loe nggak tau kalau loe lagi hamil?" Maya juga bingung ternyata Sesa belum tau masalah ini.
"Ha hamil? Aku hamil May?" Sesa menyentuh perutnya yang masih rata. Matanya mulai kabur karena tertutup air mata yang mulai menggenang.
"Iya Sa, Tapi kita tunggu hasil labnya keluar dulu, biar lebih akurat"
Pandangan mata Sesa kosong menatap ke depan. Bukannya dia tidak menerima jika telah tumbuh kehidupan di dalam rahimnya. Tapi kenapa buah hatinya harus hadir di saat seperti ini. Di saat dia sudah siap melepaskan.
"Nak, mama berjanji akan membuatmu bahagia walaupun kita hanya hidup berdua saja tanpa papa" Batin Sesa.
"Maya"
"Iya Sa?" Maya mengalihkan pandangannya dari ponsel menatap Sesa.
"May, jika benar aku hamil, aku mohon rahasiakan ini dari siapapun ya May. Aku ngga mau perceraian ku harus tertunda jika mereka tau aku sedang mengandung"
"Tapi Sa, sebenarnya Yuga berhak tau" Maya iba kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
Sesa menggeleng lemah
"Enggak May, aku nggak mau Mas Yuga sampai tau" Sesa terisak memeluk Maya yang berdiri di sampingnya.
"Baiklah Sa, aku akan menuruti semua keinginanmu. Asalkan kamu bisa hidup dengan bahagia" Maya mengusap rambut panjang Sesa dengan penuh kelembutan.
-
Sebenarnya Sesa sudah tidak betah berada di UGD hanya menunggu infusnya habis. Sesa merasa bosan dan kegerahan. Maya sudah meminta pindah ruangan namun pihak rumah sakit menolak karena Sesa bukan pasien rawat inap.
"Sa, Pak Arif telepon" Maya menegur Sesa yang sedang melamun sampai-sampai tidak mendengar jika ponselnya berdering.
"Halo Pak Arif?" Jawab Sesa setelah menerima panggilan dari pengacara keluarganya itu.
"Bu Sesa, maaf mengganggu waktunya sebentar. Sesuai permintaan Bu Sesa tadi pagi ingin surat gugatan perceraiannya di urus secepatnya, jadi saya ingin Bu Sesa menandatangani berkasnya sekarang juga. Biar langsung saya serahkan ke pengadilan agama. Karena besok saya harus pergi keluar kota dan kemungkinan lebih dari satu minggu baru bisa kembali. Jadi tidak ada waktu laki selain hari ini Bu. Bagaimana? Apa Bu Sesa bisa bertemu saya di kantor setelah ini?" Penjelasan Arif yang panjang lebar.
"Baik Pak Arif, sebentar lagi saya datang ke kantor Bapak"
"Baik Bu, saya tunggu. Selamat siang"
"Selamat Siang Pak" Sesa meletakkan kembali ponselnya.
"Maya tolong panggilkan perawat sekarang juga. Aku ada janji dengan Pak Arif" Sesa yang melihat infusnya hanya tinggal sedikit, memutuskan untuk meminta perawat mencabutnya.
"Tinggal sedikit doang kok May, tolong May"
"Hemmm tunggu sebentar" Maya membuka gorden penutup bilik berukuran kecil itu.
Setelah melalui perdebatan dengan petugas medis yang bertugas akhirnya Sesa bisa melepas infusnya walau harus menandatangani surat pernyataan dari rumah sakit.
"Sa, kok dokter ganteng yang tadi udah ngga ada lagi ya?" Maya celingukan mencari keberadaan Vino.
"Siapa?" Tanya Sesa tak mengerti.
"Dokter yang tadi tugas di sini namanya dokter vino katanya sih kenal sama loe"
"Oh Vino, dia dokter spesialis tulang. Mungkin tidak bisa selalu di sini" Ucap Sesa menjelaskan sesuai apa yang ia tau.
"Tapi ganteng juga Sa, Kenapa ngga loe gebet aja" Goda Maya bercanda di saat yang salah.
"Siapa yang kamu sebut ganteng?" Suara berat seorang pria mengejutkan dua wanita yang sedang membicarakan satu pria.
"Bayu? Kok bisa di sini?" Tanya Maya heran, karena tadi Bayu bilang sedang rapat di luar.
__ADS_1
"Tentu saja aku mencari kekasihku yang mulai ganjen ini" Lirik Bayu kepada Maya.
"Apaan sih!" Maya mencubit perut rata milik Bayu.
"Oh iya Sa, kenalin ini Bayu pacar aku" Bayu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Sesa.
"Sesa, sahabat Maya" Ucap Maya membalas uluran tangan Bayu.
"Saya sudah banyak mendengar kamu dari Maya" Ucap Bayu.
"Oh ya? terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku dari Maya. Tapi Maaf saya jadi merepotkan kalian"
"Tidak masalah. Saya malah senang jika Maya bisa membantu orang di sekitarnya" Bayu tersenyum melihat Maya yang menganga melihat ke arahnya.
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan rumah sakit. Tujuannya adalah mengantarkan Sesa ke kantor Pak Arif. Tanpa mereka tau, di dalam sana seorang dokter tampan sedang tergesa-gesa menuju UGD karena ingin menemui wanita pujaannya. Tapi yang ia dapat hanya rasa kecewa saat melihat bilik yang tadi di tempati Sesa sudah kosong.
-
Mereka sudah tiba di kantor Arif. Kantor kuasa hukum yang cukup terkenal. Sesa duduk di dalam ruangan yang berdinding kaca itu di temani Maya. Sebenarnya Sesa meyakinkan Maya untuk masuk ke dalam sendirian, namun Maya malah menolak dan lebih memilih mendahului Sesa berjalan ke dalam.
"Silahkan Bu Sesa tanda tangan di sebelah sini" Arif menyodorkan beberapa lembar kertas yang kepala suratnya bertuliskan pengadilan agama. Sesa membubuhkan tanda tangannya tanpa ada rasa ragu di dalam hatinya.
"Ada lagi Pak Arif?" Sesa mendorong kembali kertas itu ke depan Arif.
"Sepertinya sudah cukup Bu"
"Kalau begitu saya langsung pamit saja Pak Arif. Setelah ini segala sesuatunya saya serahkan kepasa Pak Arif sepenuhnya. Saya permisi"
"Baik Bu" Arif mengantar Sesa dan Maya sampai ke depan ruangannya.
***
Sesa kembali ke cafe dengan selamat karena ada Maya dan Bayu yang menjaganya. Sesa duduk di dalam ruangannya. Tangannya mencari sesuatu di dalam laci. Selembar foto yang sudah lama Sesa simpan di dalam sana.
"Mas, aku hamil Mas, kita akan punya anak. Tapi kamu ngga usah khawatir, aku akan menjaganya dengan baik walau tanpa kamu di sisiku" Sesa mengusap wajah tampan Yuga di dalam foto itu.
Sesa memang terlihat kuat di depan Maya. Tapi di saat sendiri begini, mendengar kabar bahwa dia hamil dalam masa perceraiannya adalah sesuatu yang cukup mengguncang hidupnya.
-
-
Jangan lupa like dan komennya yang membangun untuk karya pertamaku ya 😘
__ADS_1