Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
ranjang pesakitan


__ADS_3

BRUUKKKK...


"MASSS!!"


Sesa membuang begitu saja sendok di tangannya. Ia bersimpuh meraih suaminya yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


"Mas bangun!!" Sesa menepuk pipi Yuga pelan.


"TOLONG!! PAK DONI TOLONG!!" Teriak Sesa dengan panik.


Doni dan Mbok Lasmi berlari menghampiri Sesa si dapur setelah mendengar teriakan Sesa.


"YUGA!!" Mata Doni langsung tertuju kepada sahabatnya yang sudah tergeletak, tanpa bertanya pun ia sudah tau apa yang terjadi.


"Kita bawa ke rumah sakit!!" Doni langsung memapah tubuh Yuga di bantu oleh Sesa.


"Mbok tolong ambilkan tas dan ponselku!" Pinta Sesa sambil berjalan membantu Doni.


"Iya Mbak" Wanita tua itu juga terlihat panik tapi tidak tau apa yang harus ia lakukan.


-


Doni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Sesa duduk di belakang menemani Yuga yang belum juga membuka matanya.


"Sebenarnya Mas Yuga kenapa Pak Doni?" Tanya Sesa dengan suaranya yang parau karena menangis.


"Sebenarnya sudah tiga hari Yuga dirawat di rumah sakit, karena tidak bisa makan apapun dan juga badannya terlalu lelah karena memaksakan diri menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa segera kembali kesini" Jawab Doni yang masih beberapa kali menoleh ke belakang melihat kondisi Yuga.


"Tadi setelah mendapat telepon dari Mbok Lasmi, kalau Mbak Sesa kepingin makan masakan Yuga. Yuga ngotot untuk keluar dari rumah sakit meski tubuhnya masih lemah" Tambah Doni.


Sesa mengusap lembut wajah Yuga yang berada di pangkuannya. Wajah yang lebih tirus dan pucat. Air mata kepedihan terus saja mendesak keluar. Sesa merasa sangat bersalah kepada suaminya. Karena keegoisannya suaminya menjadi seperti itu.


"Maafkan Sesa Mas, ternyata kamu tidak menepati janjimu untuk kembali karena kamu sedang terbaring di ranjang pesakitan" Lirih Sesa di dalam hatinya.


Mereka telah sampai di rumah sakit terdekat dari rumah Sesa. Yuga langsung mendapat penanganan pertama dari tim medis. Mengingat hari yang sudah larut jadi rumah sakit sudah mulai sepi.


"Maaf Bu, sebaiknya Ibu menunggu di luar saja" Ucap Seorang suster dengan ramah.


"Tapi saya ingin menemani suami saya sus!"


"Kami akan melakukan yang terbaik, jadi nanti Ibu bisa menemani jika sudah di bawa ke ruang rawat" Suster itu menutup pintu ruang UGD.


Wajah cemas Sesa sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ia masih berdiri di depan pintu kaca tempat suaminya mendapat penanganan di dalam. Sesa dapat melihat sedikit dari celah gorden yang terbuka, suaminya itu dikerumuni dokter dan beberapa perawat.


"Ya Allah jagalah suamiku, berikanlah ia kekuatan untuk melewati semua ini" Doa Sesa dalam hati.


"Mbak sebaiknya duduk dulu!!" Ucap Doni menghampiri Sesa.


Sesa menoleh kepada pria jangkung yang tingginya hampir sama dengan suaminya itu. Ia hampir lupa jika Doni juga ada di sana.


Sesa tak menghiraukan ucapan Doni.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak memberi tau kalau Mas Yuga Masuk rumah sakit?" Tanya Sesa kepada asisten suaminya itu.


"Bos tidak mau Mbak Sesa banyak pikiran" Memang seperti itu yang Yuga katakan jika Doni ingin memberitahu Sesa.


"Lalu kenapa kamu tidak mencegah Mas Yuga datang kesini kalau keadaanya lemah begitu?" Doni merasa dirinya menjadi sasaran kemarahan Sesa.


"Saya sudah melarang Mbak, tapi bos khawatir karena kata Mbok Lasmi, Mbak Sesa terus menangis ingin makan mie buatan bos" Jawab Doni masih sabar menghadapi wanita hamil di depannya.


"Lalu apa kenapa papa dan mama tidak membantu mencegah Mas Yuga?" Sesa masih saja memberondong Doni dengan pertanyaannya.


"Kalau soal itu, Om Surya dan Tante Vani tidak tau kalau bos masuk ke rumah sakit lagi"


"Tidak tau? Kok bisa?" Sesa tak habis pikir kenapa suaminya itu menyembunyikan keadaannya yang sedang tidak baik kepada semua orang.


"Karena sejak kepergian Mbak Sesa mereka sengaja mendiamkan bos Yuga untuk memberikannya pelajaran. Jadi selama ini bos hidup sendiri dan hanya dengan saya sebagai sahabatnya tempatnya berkeluh kesah. Maka dari itu juga saya sekarang ada disini karena tidak mungkin membiarkan bos Yuga pergi sendiri dalam keadaan sakit" Jelas Doni.


Sesa berjalan menuju kursi besi panjang di depan ruang UGD. Lututnya lemas mendengar semua penuturan Doni. Sesa kira dengan kepergiannya bisa membuat suaminya menyambut kebahagiaannya yang baru. Tapi Sesa tidak menyangka suaminya juga akan tersakiti seperti dirinya. Selama ini Sesa berpikir bahwa dirinyalah yang paling tersakiti di dalam rumah tangga yang di ambang perceraian ini. Tapi ternyata, akibat dari tindakannya yang tidak berpikir panjang mengakibatkan dua hati saling tersakiti. Belum lagi kelak jika anaknya lahir, maka akan bertambah lagi korban dari keputusannya.


Sebelumnya Sesa memang sudah membulatkan tekad untuk bercerai, karena menurutnya itulah yang terbaik untuk dirinya. Tapi nyatanya, yang terbaik untuknya justru berdampak buruk bagi suami dan calon anaknya.


Sesa menunduk memandang lantai rumah sakit yang berwarna putih itu dengan tatapan kosong. Hingga suara pintu UGD yang terbuka menyadarkan lamunannya.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya? Apa sudah siuman?" Tanya sesa.


"Pasien masih belum sadar, keadaanya masih lemah dan masih perlu istirahat. Lambungnya kosong sama sekali tidak terisi makanan. Beliau juga dehidrasi dan tekanan darahnya menurun. Saya akan melakukan observasi lanjutan setelah ini. Tapi kita akan memindahkan pasien ke raung rawat terlebih dahulu agar lebih nyaman untuk beristirahat. Sementara itu dulu yang saya sampaikan, hasil periksa lanjutannya saya akan sampaikan jika sudah keluar. Permisi Bu, Pak" Dokter itu berlalu pergi setelah menjelaskan keadaan Yuga.


"Terimakasih dokter" Ucap Sesa yang hanya di balas dengan senyuman ramah dokter yang berjalan menjauh.


-


Sesa membawa tangan Yuga ke pipinya. Sesekali mencium punggung tangan itu dengan lembut.


"Maafkan Sesa Mas, maafkan Sesa yang egois ini. Seharusnya Sesa menjadi istri yang baik untuk Mas. Tapi karena kesalahpahaman, dengan bodohnya Sesa tidak mencari kebenarannya dulu, dan malah lebih memilih pergi, tapi justru membuat kita sama-sama sakit. Tapi Sesa sakit karena pikiran Sesa sendiri, sedangkan kamu karena keegoisan Sesa Mas. Sesa minta maaf" Sesa menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Lingkaran hitam sangat jelas terlihat di wajahnya yang putih bersih.


"Mas?" Sesa merasakan pergerakan tangan Yuga di genggamannya.


"Mas Yuga sudah sadar?" Sesa berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar untuk memanggil dokter.


"Pak Doni Mas Yuga sudah sadar tolong panggilkan dokter!! Doni yang sedang duduk dnegan ponsel ditangannya bergegas mencari keberadaan dokter jaga.


-


"Terimakasih dokter" Ucap Sesa setelah dokter memeriksa keadaan Yuga.


"Sama-sama, saya permisi"


Doni melangkah keluar mengikuti dokter untuk memberi ruang kepada Sesa dan Yuga.


Sesa mendekati Yuga yang memandangnya dengan senyuman yang terlihat lemah.


"Sayang, kamu disini?" Suara Yuga gang lirih membuat hati Sesa semakin merasa sedih.

__ADS_1


"MAS!!" Sesa tak menjawab pertanyaan Yuga tapi justru sedikit membentak suaminya.


Yuga sedikit tersentak dengan suara lantang Sesa.


"Kenapa sih harus maksain diri kalau jadinya kaya gini? Ngapain kerja pakai lembur-lembur segala cuma buat balik kesini? Ngapain buru-buru kesini kalau lagi sakit? Nggak mikir kondisi badan kamu apa? Nggak mikir kalau kamu kaya gini bisa bikin khawatir orang lain? Kenapa hah??!!" Sesa meluapkan semua kekhawatirannya yang di bungkus dengan rasa kesal. Kesal karena suaminya tidak mementingkan kondisinya sendiri hanya demi dirinya. Istri yang sudah dengan berani menuntut sebuah perceraian.


Tapi Yuga sama sekali tidak marah dan merasa tersinggung dengan semua kalimat yang terucap dari bibir istrinya. Justru Yuga malah tersenyum karena melihat kekhawatiran di mata istrinya.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu hah?" Ucap Sesa menahan air matanya yang sudah menggenang.


"Kamu tambah cantik kalau lagi marah-marah kaya gitu" Justru ucapan Yuga kali ini malah semakin membuat Sesa kesal.


"Nggak lucu!!" Ketus Sesa masih berusaha menghilangkan air matanya tanpa harus menetes.


"Ya nggak lucu dong sayang, kan Mas ngga ngelawak" Balas Yuga dengan santai. Ia bangun mengambil posisi duduk, tangannya meraih pergelangan Sesa lalu menariknya hingga istrinya itu terduduk di ranjangnya.Yuga meraih dagu Sesa agar menatapnya. Mata berkaca-kaca itu masih enggan menatapnya.


"Hey, lihat Mas" Dengan ragu Sesa menggerakkan bola matanya agar bertemu dengan manik mata tajam suaminya.


"Jangan menangis!! Hati Mas sakit melihat kamu seperti ini" Ucapan Yuga malah membuat air mata yang sedari tadi Sesa tahan menjadi terjatuh.


"Mas jahat!! Tidak puas Mas membuat hatiku sakit sekarang malah membuatku merasa bersalah" Sesa memukul dada Yuga dengan pukulan-pukulan kecil yang sama sekali tidak membuat Yuga kesakitan.


Yuga merengkuh tubuh Sesa ke dalam pelukannya, mengusap lembut rambut istrinya.


"Maafkan Mas sayang, Mas memang jahat. Mas sudah menyakiti kamu begitu banyak, sebenarnya Mas malu untuk memintamu kembali ke sisi Mas, tapi Mas juga tidak sanggup kehilanganmu" Sesa merasakan punggungnya basah. Yuga menangis, lagi-lagi Sesa melihat pria dingin itu menangis.


Tangan Sesa bergerak ke pinggang Yuga. Senyum bahagia terulas di wajah pucat itu. Yuga bahagia Sesa membalas pelukannya. Rasa bahagia membuncah di hatinya karena merasa Sesa sudah mulai membuka hatinya kembali.


"Sayang" Yuga melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.


"Mas sangat lapar, Mas ingin makan rawon" Ucap Yuga lagi.


"Rawon? Pagi buta begini siapa yang jual rawon Mas?" Sesa tidak percaya dengan keinginan suaminya yang aneh itu. Tapi Sesa teringat waktu suaminya sangat ingin makan gudeg kesukaannya, dan rawon juga makanan kesukaannya.


"Apa Mas Yuga ngidam lagi?" Batin Sesa.


"Doni dimana? Biar Doni yang carikan. Mas kepingin banget makan rawon. Mas sudah lapar sekali sayang" Rengek Yuga seperti anak kecil.


"Iya iya sebentar Sesa bilang pak Doni dulu" Sesa meninggalkan Yuga keluar.


Yuga menatap punggung istrinya yang menuju ke arah pintu keluar.


"Mas senang Sa, kamu sudah tidak dingin lagi seperti kemarin, ya walaupun masih galak. Mas sudah tidak tahan kalau kamu panggil Mas dengan kata kamu, kamu, kamu terus. Gatal telinga Mas rasanya" Gumam Yuga dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


-


-


-


Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejakmu😘

__ADS_1


__ADS_2