
Hari ini adalah jadwal keberangkatan bulan Madu Sesa dan Yuga. Terlihat sekali di mata Sesa kalau dia berat sekali meninggalkan putranya, walau hanya untuk beberapa hari ke depan.
"Sudah sayang kamu jangan terlalu memikirkan Saga. Kalau kamu berat dia bisa merasakannya. Kamu percayakan semua sama Mama dan Mbok Lasmi saja. Kita kan bisa video call setiap saat" Yuga mencoba membuat Sesa merasa tenang akan kecemasannya.
"Tapi Mas, kita masih di sini aja aku udah kangen banget sama Saga" Ucap Sesa sendu. Saat ini mereka berdua sudah berada di bandara. Tinggal menunggu penerbangan yang beberapa menit lagi.
"Mas tau, Mas juga kangen sama anak kesayangan Mas. Tapi Mas percaya kalau Saga akan baik-baik saja meski tanpa kita. Biar Saga juga perasannya tenang. Anak sekecil itu bisa merasakan perasaan orang tuanya loh yank. Makanya kamu tenang ya" Yuga memeluk Sesa yang duduk di sampingnya. Sesa mengeratkan pelukannya pada Yuga lalu mengangguk.
-
Perjalanan panjang sudah mereka lalui, kini mereka berdua sudah sampai di sebuah hotel mewah si kota paris. Vani memang memilih kota romantis itu sebagai tujuan bulan madu anak dan menantunya.
"Hotel ini juga pilihan Mama Mas?" Sesa takjub melihat kamar hotel mewah yang di hiasi banyak bunga mawar merah di dalamnya.
"Iya, semua Mama yang urus" Yuga membuka tirai yang menutupi jendela besar di kamar itu. Pemandangan menara Eiffel di malam hari terlihat jelas dari kamar hotel mereka.
"Wah bagus banget Mas!!" Sesa melangkah membuka pintu balkon. Menghirup udara malam di kota Paris.
"Kamu suka sayang?" Yuga melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Sesa dari belakang. Menghirup wangi rambut istrinya dalam-dalam.
"Suka sekali Mas" Sesa tersenyum bahagia, tangannya mengusap jemari suaminya yang melingkar sempurna di pinggangnya.
"Kita mandi dulu habis itu kita makan malam. Kamu pasti lelah. Kita harus segera istirahat" Yuga memutar tubun Sesa agar menghadapnya.
Cup
Kecupan singkat di bibir Sesa sebelum mereka benar-benar mandi dengan air hangat yang merilekskan badan mereka.
Malam pertama di paris hanya di habiskan untuk istirahat saja, karena mereka terlalu lelah dan masih mengalami jet lag.
Udara dingin di pagi hari membuat Sesa semakin menyusupkan kepalanya ke dada biang milik Yuga. Hal itu tentu saja membuat Yuga mempererat pelukannya kepada Sesa.
"Mas, ini sudah jam berapa? kita mandi terus jalan yuk" Sesa berkata demikian tapi masih memejamkan matanya menikmati kehangatan pelukan suaminya.
"Yakin mau mandi sekarang, ngga mau_"
"Mas aku tau jalan pikiranmu ya!!" Potong Sesa cepat.
"Hahaha kamu sudah hafal ternyata" Yuga tertawa puas.
-
Hari itu mereka lewati dengan menyusuri indahnya kota Paris. Mereka seperti pasangan kekasih yang sedang kasmaran, menurut mereka untuk menikmati suasana romantis seperti itu tidak mengenal batasan usia.
Tangan mereka saling bertautan, seperti takut kehilangan satu sama lain. Melempar canda yang membuat mereka saling tertawa.
__ADS_1
BUGHHH
"Oh, im sorry m__. Della?" Sesa tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berpapasan dengannya. Dana langkah terkejutnya jika wanita itu adalan Della. Sahabat yang sudah lama tidak ia temui, sahabat yang mengasingkan diri dari kehidupannya.
"Maaf, saya permisi" Della berlalu meninggalkan Sesa yang masih terkejut di depannya.
"Della!!" Teriak Sesa mencoba mencegah kepergian Della. Tapi tangan Yuga menahannya.
"Mas itu Della Mas!!" Ucap Sesa panik.
"Iya Mas tau, biarkan dia pergi!!" Yuga masih menahan tangan Sesa.
"Tapi kenapa Mas? kita sudah lama tidak bertemu dengannya" Sesa masih menatap ke arah Della tadi meninggalkannya.
"Sayang biarkan dia pergi, itu sudah menjadi pilihannya untuk menjauh dari kita. Jika dia ingin bertemu denganmu maka dia akan datang sendiri. Kita pergi" Yuga membawa Sesa kembali melanjutkan jalannya. Sementara mata Sesa masih mencari sosok Della di antara banyaknya orang di sekitarnya.
Sementara itu dari kejauhan Della memandang kepergian Yuga dan Sesa. Hatinya perih setelah melihat kembali pria yang di cintanya, namun di sisi pria itu sudah berdiri sosok wanita yang mendampingi hidupnya saat ini. Bahkan Yuga sudah tidak peduli padanya, walau hanya sekedar menyapa. Della mengusap air mata di pipinya, lalu pergi meninggalkan tempat itu setelah memastikan pasangan tadi tidak terlihat lagi.
***
"Mas mau bawa aku kemana sih?" Sesa penasaran karena Yuga menutup mata Sesa dengan kedua telapak tangannya.
"Sebentar lagi sampai sayang"
"Wahhhh bagus Mas, Sesa suka" Sesa memeluk Yuga. Ternyata Yuga telah menyiapkan dinner romantis untuk Sesa. Meja yang di hias indah dengan berbagai bunga dan lilin sudah siap di depan Sesa. Cahaya lampu yang berwarna kuning di tengah taman yang indah menambah kesan romantis malam ini.
"Kita duduk" Yuga menarik kursi untuk Sesa duduki.
Yuga memanggil pelayan untuk mengantarkan makanan mereka. Pasangan di mabuk cinta itu menikmati makan malam di iringi gesekan biola yang memainkan melodi yang indah.
Yuga meneguk minuman setah selesai dengan makanannya. Pria itu berdiri dari duduknya lalu mendekati Sesa, kemudian bersimpuh dengan menekuk satu lututnya sebagai tumpuan. Sesa masih kebingungan dengan apa yang dilakukan suaminya itu
Yuga mengambil sesuatu dari kantung jasnya. Menyodorkannya ke hadapan Sesa sebuah kotak kecil berwarna navy. Dibukanya kotak itu lalu terlihat kilauan indah dari pantulan berlian di dalamnya. Sebuah cincin dengan berlian di bagian tengah beberapa sisinya.
"Sayang, Mas tau cincin ini tidak bisa membayar atas semua kebahagiaan yang telah kamu berikan. Tapi cincin ini mewakili segala rasa terimakasih Mas kepadamu, terimakasih sudah hadir di dalam hidup Mas, terimakasih karena selalu memberi kebahagiaan kepada Mas, terimakasih selalu sabar, merawat dan mencintai Mas dengan tulus, dan yang paling besar terimakasih karena telah sudi mengandung benih Mas di rahim kamu. Terimakasih untuk semua hal yang belum Mas ucapkan. Mas sangat mencintai mu sayang" Yuga mengambil tangan Sesa lalu mencium punggung tangannya. Mengambil cincin indah itu dan memasangkannya di jari lentik Sesa. Cincin yang terlihat indah saat melingkar di jari Sesa.
"Terimakasih Mas" Sesa tidak kuat menahan air matanya karena mendengar untaian kata manis yang keluar dari bibir suaminya.
"Jangan nangis!!" Yuga mengusap air mata Sesa dengan jarinya.
"Aku menangis bahagia" Senyum Sesa mengembang di sela tangisnya.
Acara dinner mereka di akhiri dengan dansa romantis. Kini Sesa dan Yuga tengah menggerakkan badannya ke kiri dan kanan mengikuti alunan musik. Sesa tangan berada di pundak Yuga sementara satu lagi saling menggenggam dengan tangan Yuga. Tangan Yuga menarik pinggang Sesa agar lebih merapat padanya. Tatapan penuh cinta dari mereka berdua dapat tersalurkan dengan hanya saling memandang.
"Kita lanjut di kamar" Bisik Yuga membuat pipi Sesa merona.
__ADS_1
-
Yuga menutup kembali pintu kamarnya. Tak membiarkan Sesa lepas darinya, Yuga menarik kembali pinggang ramping itu. Yuga membawa Sesa ke dalam dekapannya.
"Kamu cantik sekali sayang, selalu cantik di mata Mas" Yuga memberikan kecupan di kening Sesa.
"Kamu selalu bisa membuat Mas jatuh cinta lagi dan lagi dengan pesona mu" Hidung Yuga menyusuri pipi Sesa dari kiri ke kanan lalu membiarkan hidung mereka saling bersentuhan.
Sesa menahan napasnya karena kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya.
"Aku mencintaimu Sesa!!" Suara yang sangat parau menahan h*srat.
"Aku juga men__" Sesa sudah tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat Yuga sudah membungkam bibir Sesa dengan bibirnya.
Bibir Yuga bergerak dengan lembut dan menuntut. Berlahan Sesa bisa mengimbangi permainan suaminya yang mengabsen seluruh rongga mulutnya.
"Ambil napas sayang!!" Suara Yuga terdengar sangat seksi di telinga Sesa saat menahan g*irahnya begini.
Satu tarikan napas Sesa ambil, dan belum sempat membuangnya Yuga sudah menyambar kembali bibir merah itu. Kini permainannya semakin menginginkan lebih. Membimbing Sesa menuju ranjang tanpa melepaskan tautan mereka.
Yuga kembali melepaskan bibir mereka saat sama-sama kehabisan napas.
"Aku juga mencintaimu Mas" Ucap Sesa terengah-engah.
"Mas tau itu sayang. Kali ini Mas tidak akan membiarkanmu tidur sampai pagi!!"
Malam penuh cinta di kota Paris bagi mereka berdua. Memadu kasih tanpa beban dan gangguan dari siapapun.
-
Biar cinta datang terlambat daripada tidak sama sekali.
Cinta tidak dapat memilih akan jatuh ke dalam hati yang mana.
Tidak ada cinta yang salah tapi hanya waktunya saja yang tidak tepat.
Memendam cinta adalah cara terbaik untuk menyakiti dirimu sendiri.
-
-
-
~ END ~
__ADS_1