
Yuga tak melepas senyumnya semenjak keluar dari ruang periksa kandungan. Sedangkan Sesa memasang wajah yang tidak bersahabat. Sesa melirik suaminya yang masih senyum-senyum tidak jelas saat sedang menyetir. Sesa mencubit pinggang suaminya karena kesal.
"Awww apa sih yank?" Yuga kesakitan karena cubitan Sesa yang cukup keras.
"Berhenti senyum-senyum kaya gitu. Mas Yuga nyebelin tau!!" Kesal Sesa.
"Loh nyebelin kenapa sayang?" Yuga tidak mengerti apa yang Sesa maksud.
"Kenapa tadi tanya kaya begitu sama dokter? Sesa malu tauuuuuuu huhu!!!" Sesa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Yuga malah terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Kenapa malu sih yank, dokternya aja gak masalah kok Mas tanya kaya gitu. Daripada nanti Mas nggak jadi buka puasa kaya kemarin lagi gimana? Mas udah ngga tahan" Bisik Yuga di akhir kalimatnya.
"Ya tapi ngga sevulgar itu juga Mas!!" Sesa menatap suaminya dengan kesal.
"Nggak usah dipikirin sayang, kan dokter juga bilang kalau itu wajar dan lebih baik tanya dari pada tidak tau dan malah membahayakan calon anak kita" Penjelasan Yuga ini malah semakin membuat pipi Sesa memerah karena mengingat kejadian tadi. Yuga mengajak Sesa untuk periksa ke dokter kandungan ternyata hanya untuk bertanya kepada dokter apakah masih bisa berhubungan suami istri saat sang istri sedang hamil. Sontak saja pertanyaan dari Yuga itu membuat Sesa kehilangan muka didepan dokter dan perawat yang ada di ruangan itu. Sungguh sisi lain dari suaminya yang baru ia ketahui.
"Dasar mesum" Sesa kembali mencubit Yuga di tempat yang sama.
"Ampun sayang!!" Keluh Yuga.
"Loh kok pulang Mas matanya mau ke kantor lagi?" Sesa melihat Yuga mengarahkan mobilnya melewati jalan ke arah rumahnya.
"Iya cuma mampir sebentar kok" Ucap Yuga santai.
"Ohh" Sesa hanya manggut-manggut.
Sesa keluar dari mobil sementara Yuga memarkirkan mobilnya. Rumah sedang sepi karena tadi Mbok Lasmi dan Yanti, asisten rumah tangganya yang baru meminta izinnya untuk pergi ke pasar.
"Sayang ikut Mas yuk" Yuga menuntun Sesa yang berada di dapur untuk mengambil minum.
"Sesa mau minum Mas" Cegah Sesa.
"Bentar aja yank" Yuga tak menghiraukan Sesa, tangannya terus saja menuntun istrinya ke dalam kamar.
"Mau apa sih Ma_"
Yuga sudah membungkam bibir Sesa yang masih ingin bertanya kepada suaminya itu.
Yuga terus mencumbu bibir manis milik Sesa tanpa memberi kesempatan kepada Sesa untuk sekedar mengambil napas. Sesa sempat terkejut namun paham apa yang di inginkan suaminya itu.
Tangan Sesa mulai bergerak melingkar di bahu Yuga. Merasa mendapat sambutan yang baik, Yuga semakin tak terkendali. Matanya berselimut g*irah yang membara seakan menuntut untuk segera di tuntaskan. Yuga menggendong Sesa ala bridal style menuju ranjang tanpa melepaskan tautan mereka.
"Mas akan pelan-pelan sayang, percaya sama Mas" Ucap Yuga dengan suara parau karena menahan g*irahnya. Sesa mengangguk memberikan kepercayaan kepada suaminya.
Pergulatan panas mereka terjadi berulang kali, Yuga seakan tak mengenal lelah setelah beberapa bulan tak menyentuh istrinya.
"Sudah Mas Sesa capek, Mas juga katanya ingin ke kantor lagi" Sesa memejamkan matanya karena badannya terasa remuk, suaminya itu benar-benar menghajarnya tanpa ampun.
"Nggak ah, di rumah sama istri lebih enak" Yuga memeluk Sesa lebih erat. Menghirup aroma tubuh istrinya lebih dalam.
__ADS_1
"Katanya ada masalah di kator, memangnya sudah selesai?"
"Sudah, hanya ulah tikus-tikus berperut buncit yang mencuri makanan. Tinggal memberi mereka umpan yang lebih besar maka mereka akan tertangkap juga. Setelah itu tinggal buang" Yuga memang tidak segan bertindak tegas kepada karyawannya yang berkhianat kepadanya.
"Jangan terlalu kejam sama orang Mas" Sesa mengusap tangan suaminya lembut.
"Justru Mas ini terlalu baik sampai-sampai mereka mencuri di perusahaan Mas"
Cup
Yuga mengecup pipi Sesa.
"Sekali lagi yuk yank" Yuga mulai menciumi pundak polos Sesa.
"Enggak!! Sesa capek Mas!!" Tolak Sesa tegas.
"Sekali saja ya?" Yuga sudah mulai melancarkan aksinya lagi tanpa bisa Sesa cegah. Siang itu menjadi ajang balas dendam Yuga kepada istrinya. Yuga tidak membiarkan Sesa beranjak dari ranjang hingga sore menjelang.
***
Hari bahagia yang di nanti Maya dan Bayu pun tiba. Maya tampak cantik dengan kebaya berwarna putih gading yang pas dengan ukuran tubuhnya. Di sampingnya Bayu juga sangat gagah dengan setelan jas berwarna senada dengan Maya.
Maya merasa bahagia karena di momen pernikahannya kali ini Sesa meminta kedua mertuanya untuk mendampingi Maya, mengingat Maya adalah seorang yatim piatu. Sesa tidak ingin melihat sahabatnya itu berdiri seorang diri tanpa hadirnya orang tua di sampingnya.
"Seneng ya Mas lihat mereka bisa sebahagia itu di atas pelaminan" Sesa menerawang jauh ke depan memandangi sahabatnya dari jauh.
Yuga melihat wajah istrinya dengan sendu.
"Tak apa Mas, yang dulu biarlah berlalu. Yang penting saat ini kita sudah hidup bahagia bersama calon anak kita" Sesa meraih tangan Yuga dan mengarahkannya ke perut Sesa.
"Kalau sekarang bahagianya Mas adalah kalian" Yuga mencium kening Sesa penuh dengan cinta.
"Ya Allah terimakasih karena Engkau sudah memberikan kebahagiaan tiada tara ini kepada hamba. Semoga keluarga kecilku ini selalu dalam lindungan-Mu. Amin" Doa Sesa di dalam hati.
"Selamat ya Maya, akhirnya kamu nyusul juga. Aky bahagia banget" Sesa memeluk sahabatnya itu.
"Makasih Sa, makasih atas semuanya. Karena kebaikan lo gue bisa ngerasain kehadiran sosok orang tua di pernikahan gue" Ucap Maya berkaca-kaca.
"Kita sahabat harus saling membantu kan?"
"Iya Sesa, kita memang sahabat sejati" Maya memeluk Sesa dengan erat.
"Udah ah May, malu di lihatin banyak orang, masa pengantinnya nangis terus" Sesa mengusap air mata Maya dengan tisu yang di bawanya.
"Aku pulang dulu ya, udah pegel nih. Baby udah ngajak istirahat" Pamit Sesa.
"Iya Sa, pulanglah dan lekas istirahat. Sekali lagi makasih untuk semuanya" Ucap Maya yang di angguki Sesa.
***
Malam semakin larut, sudah waktunya bagi orang-orang untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Yuga juga sudah terlelap dari tadi karena terlalu lelah dengan pesta pernikahan Maya. Tapi berbeda dengan Sesa. Ibu hamil itu masih duduk di depan meja riasnya memandangi seluruh wajah dan tubuhnya. Kemudian isakan-isakan lecil keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Yuga mulai bergerak gelisah di dalam tidurnya karena merasa terganggu dengan sebuah suara. Yuga mengerjabkan matanya mencari sumber suara itu. Yuga langsung menyibakkan selimutnya saat melihat istrinya yang sedang menangis.
"Sayang? Kamu kenapa belum tidur? Kok nangis gini ada apa?" Tanya Yuga dengan lembut.
Tangis Sesa malah semakin keras, tanpa menjawab pertanyaan Yuga.
"Sayang, kasih tau Mas dong kenapa kok kamu nangis begini? Mas nggak tau kalau kamu nggak ngomong" Yuga mengusap air mata di pipi Sesa dengan jarinya.
"Mas, sekarang aku gemuk ya?"
"Enggak kok, kamu nggak gemuk" Jawab Yuga jujur. Karena memang Sesa tidak gemuk hanya saja padat di bagian-bagian tertentu dan pipinya yang sedikit chubby.
"Mas bohong, buktinya baju Sesa pada nggak muat!!" Jawab Sesa tak terima.
"Itu karena kamu lagi hamil sayang, gemuk juga gapapa kok"
"Jadi Sesa beneran gemukkan Mas?" Sesa menangis lagi.
"Lho kenapa nangis lagi? Memangnya kenapa kalau kamu gemuk?"
"Ya Sesa takut!!"
"Takut kenapa sayang, yang penting kamu dan baby sehat kan?" Yuga semakin bingung dengan istrinya yang menangis di saat larut malam begini.
"Sesa takut ngga cantik lagi, kalau Sesa nggak cantik pasti Mas Yuga ngga cinta lagi sama Sesa" Bibir Sesa bergetar menahan tangisnya.
"Astaga sayang!!" Yuga menepuk jidatnya karena tingkah lucu istrinya. Yuga tak bisa marah karena Yuga tau istrinya mengalami mood swing selama kehamilannya.
"Dengar Mas, Mas mencintai kamu bukan karena fisik belaka. Mas tulus mencintai kamu apa adanya sayang. Jangan pernah berpikiran seperti itu!!" Yuga masih mengucapkan kata-katanya dengan lembut. Ia juga harus hati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya, karena nanti bisa jadi boomerang untuknya.
"Mas masih mencintai Sesa walau wajah ini buruk rupa?" Tanya Sesa menatap Yuga serius.
"Iya sayang"
"Mas ngga bohong kan?"
"Tidak sayang"
"Ya udah ayo tidur, Sesa capek" Sesa meninggalkan Yuga menuju ranjangnya.
"Sabar, sabar" Yuga mengusap dadanya.
-
-
-
-
Happy readingš
__ADS_1